로그인Sekitar delapan orang duduk mengelilingi meja bundar itu. Dharma, anak kedua dari enam bersaudara, duduk bersama adik-adiknya serta pasangan masing-masing, termasuk Hilman, adik keempatnya. Sementara kakak tertua dan adik paling bungsu bersama anggota keluarga lainnya memilih meja terpisah.Tala mengenali beberapa wajah dari urusan Janitra. Mereka adalah orang-orang yang selama ini ikut menikmati keuntungan dari perusahaan, tetapi justru paling mudah menyudutkannya ketika arah Janitra mulai berubah.Tak heran, baru duduk beberapa menit saja Tala sudah merasa seperti sedang menghadapi meja sidang—bedanya, para “hakim” kali ini datang lengkap bersama pasangan masing-masing.Seorang tante sudah lebih dulu melempar senyum penuh arti."Sudah hampir dua tahun, ya? Kok belum ada kabar baik?"Tala tersenyum kaku. "Iya, Tante. Belum waktunya mungkin.""Sudah periksa, Ta?" tanya yang lain. "Kalau memang mau promil, lebih baik dipersiapkan dari sekarang. Jangan sampai seperti almarhum orang tua
”...yang di meja itu Tante Dewi. Yang baru datang itu Tante Suri,” Sandra menunjuk dua perempuan berusia sekitar awal empat puluhan yang merupakan mantan istri Dharma.Dharma sendiri sudah hampir enam puluh, tetapi masih tampak gagah dan berwibawa. Tak heran jika setelah ibu Geza meninggal, ia sempat menikah beberapa kali dengan perempuan yang jauh lebih muda. Hebatnya, ia masih bisa tetap akur dengan para mantan istrinya.Ratna pun hampir seusia dengan kedua perempuan yang ditunjuk Sandra.”Mereka masih bisa akur, ya,” kata Tala.Kini hanya Tala dan Sandra yang tersisa di meja. Sandra tak lagi leluasa bergerak dengan perutnya yang besar, sementara Geza mengajak Sansa berkeliling menyapa para undangan.”Karena nikahnya Om Dharma tuh punya tujuan, Ta. Jadi nggak semata-mata nikah doang. Sama Tante Dewi buat bangun kerja sama perusahaan kontraktornya, sama Tante Suri buat suntikan modal. Tapi emang nggak ada yang bertahan lama sih. Cuma sama Tante Ratna aja yang kehitung lama dan bertah
Sansaya Manisha Rajendra—nama itu tak pernah berhenti disebut sepanjang siang hingga malam ini. Di hari spesialnya, energi bocah itu masih saja penuh. Dengan dress princess yang lebih sederhana, Sansa berlari ke sana kemari, menyapa setiap tamu dengan senyum manisnya."Tala pintar banget ngurus Sansa.""Tala hebat. Padahal gadis, tapi tahu caranya ngurus toddler.""Nggak nyangka Sansa bisa pulih secepat ini. Kalian emang cocok banget. Makasih, ya, Tala dan Geza, udah jagain ponakan kami."Begitulah pujian yang terus Tala terima dari keluarga besar, terutama dari pihak keluarga ibu Geza. Anehnya, berada di tengah mereka justru membuat Tala merasa nyaman dan senang. Membuat energi sosialnya tak cepat redup. Bukan karena pujian yang terus mengalir, melainkan karena pembawaan keluarga itu sendiri—hangat, terbuka, dan apa adanya.Kalau mengingat masa-masa awal mengurus Sansa, rasanya Tala hampir gila.Ia benar-benar clueless soal pengasuhan anak. Semua dipelajarinya sedikit demi sedikit—mul
Acara sore tadi cukup menguras energi sosial Tala. Kini ia sudah berganti gaun yang lebih sederhana, tetapi tetap elegan. Gaun hitam panjang dengan potongan bersih dan detail satin di bagian pinggang membuatnya terlihat anggun tanpa terasa semeriah kostum Queen sebelumnya. Pilihan siapa lagi kalau bukan Geza.Pria itu sendiri sudah berganti tuxedo hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu. Potongannya pas di tubuh, membuat sosoknya terlihat semakin rapi dan menawan.Ini memang hanya ulang tahun anak empat tahun. Namun bagi Tala, semuanya terasa terlalu berlebihan. Dua sesi acara—sore untuk Sansa dan teman-temannya, malam untuk keluarga serta kolega. Dan di keduanya, selain Sansa, sudah pasti Geza dan Tala ikut menjadi pusat perhatian.Tala mengembuskan napas, menatap Geza yang masih berdiri di depan cermin, sibuk merapikan tuxedo hitamnya."Geza, aku rasa ini tuh lebih nurutin maunya kamu deh daripada ngerayain ulang tahun Sansa."Geza hanya meliriknya lewat cermin."Kamu suka bang
Dari balik jendela suite yang Geza sewa, Tala mengintip sejenak ke arah taman di bawah.Di sana, hamparan rumput hijau dipenuhi rangkaian mawar putih, peony merah muda, dan hydrangea yang membingkai setiap sudut. Sebuah kastel berwarna gading berdiri megah di tengah taman sebagai latar panggung, sementara lampu-lampu gantung kristal berkilau lembut di antara pepohonan yang mulai diterpa angin sore."...Ini ulang tahun anak empat tahun atau resepsi kerajaan?" gumamnya.Ia menunduk melihat gaun panjang berwarna champagne yang dikenakannya. Roknya mengembang anggun dengan detail bordir bunga, sementara mahkota mungil bertengger di atas sanggul sederhana. Tak jauh berbeda, Geza berdiri beberapa langkah di belakangnya mengenakan setelan putih gading lengkap dengan bow tie hitam. Tidak benar-benar berdandan seperti raja, tetapi cukup membuat siapa pun langsung memahami tema yang mereka usung hari itu.Sementara itu, pusat perhatian sesungguhnya sedang sibuk bercermin."Wah..."Sansa memutar
Berbeda dengan keluarga besar dari pihak Dharma yang mayoritas menetap di Jabodetabek, keluarga mendiang ibu Geza tersebar di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta hingga beberapa kota lain, bahkan ada yang menetap di luar negeri. Karena itu, perayaan ulang tahun Sansa menjadi salah satu momen langka yang mempertemukan mereka kembali di Jakarta.Salah satunya Bude Sinta, yang siang itu baru tiba dari Jepang. Tala sengaja menjemputnya langsung ke bandara sesuai permintaan Geza. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu. Selama itu pula, mereka hanya sesekali bertukar kabar atau melakukan panggilan video setiap kali Bude Sinta ingin melihat Sansa."Talaa..." Bude Shinta langsung merengkuhnya dalam pelukan hangat. "Aduh, Bude kangen banget."Tala tertawa pelan, balas memeluk wanita paruh baya itu."Gimana setahun ini?" Bude Sinta mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. "Geza nggak nakal kan? Nggak bikin kamu sedih kan? Kok Bude belum pernah denger kamu ngadu ke Bude?"Tala hanya ters
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men







