Accueil / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 152- Kurang Digendong Doang

Partager

152- Kurang Digendong Doang

Auteur: Sora Carita
last update Date de publication: 2026-08-19 16:28:07

Pagi datang, dan saat membuka mata, Tala mendapati Geza sudah lebih dulu terjaga. Pria itu berbaring menyamping, menatapnya lurus.

“Udah baikan?” tanya Tala sambil mengusap matanya.

“Lumayan.” balas Geza, suaranya sedikit sengau terlihat pilek.

“Semalam aku udah kontak Rena. Jadwal kamu juga udah diatur. Jadi hari ini istirahat aja,” ujar Tala.

Geza mengangguk pelan.

“Aku berangkat lebih pagi hari ini. Nanti Bi Yuni bikinin sarapan. Mau sup lagi atau bubur?” tanya Tala.

“Bubur bikinan kamu. Yan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Sebelum Tiga Tahun   153- Soal Trust Issue

    Tala terkekeh canggung. Entah kenapa, rasanya Geza sengaja membiarkan pembicaraan itu mengarah ke sana.“Nggak ada hubungannya kali, Vin. Nggak ngaruh. Kerjaan ya kerjaan, buat skala perusahaan kalian yang segede itu ya tetep bakal banyak,” balas Tala diplomatis.“Kata siapa nggak berpengaruh?” Geza menyahut tenang.“Kamu seberpengaruh itu buat saya.”“Mas Geza!”Arvin yang sejak tadi memperhatikan keduanya langsung terkekeh. “Tuh, kan, Mbak. Saya tuh selalu berdoa semoga kalian langgeng dan bahagia terus.”Ia mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan ekspresi dramatis.“Soalnya kalau kalian nggak bahagia, taruhannya nyawa saya sama satu tim, Mbak. Kami yang bakal kena imbasnya.”Tala terdiam. Jangan-jangan ini juga bagian dari trik Geza? Meminta bala bantuan untuk mengubah keputusan cerainya? Huh. Menyebalkan.“Mas, please deh. Yang profesional,” tegur Tala, menyorot Geza sebal.“Of course. Profesional, sesuai kemauan kamu.” Geza mengangkat alis tipis. “Sesuai kesepakatan. Sesuai

  • Sebelum Tiga Tahun   152- Kurang Digendong Doang

    Pagi datang, dan saat membuka mata, Tala mendapati Geza sudah lebih dulu terjaga. Pria itu berbaring menyamping, menatapnya lurus.“Udah baikan?” tanya Tala sambil mengusap matanya.“Lumayan.” balas Geza, suaranya sedikit sengau terlihat pilek.“Semalam aku udah kontak Rena. Jadwal kamu juga udah diatur. Jadi hari ini istirahat aja,” ujar Tala.Geza mengangguk pelan.“Aku berangkat lebih pagi hari ini. Nanti Bi Yuni bikinin sarapan. Mau sup lagi atau bubur?” tanya Tala.“Bubur bikinan kamu. Yang kayak bikinan Mbak Jani,” jawab Geza.“Oke. Nanti aku bikinin sebelum berangkat.”Tala baru hendak bangkit ketika tangan Geza terulur, menahan pergelangan tangannya.“Ta, di sini aja.”Tala menoleh. “Aku kerja.”“Kerjaan kamu bisa diatur.” Geza melepas tangannya perlahan, lalu bersandar pada headboard. “Minta tolong Sania atur jadwal kamu hari ini.”Nada suaranya terdengar santai, tetapi tatapannya seolah tak menerima banyak ruang untuk dibantah.“Nggak bisa, Geza. Nanti Bi Yuni bisa bantu kam

  • Sebelum Tiga Tahun   151- Singa Demam

    Pulang dari Janitra, Tala mendapati Sansa sudah tertidur pulas. Kata Sus Lia, Geza langsung masuk kamar begitu pulang sekitar pukul tujuh dan melewatkan makan malam. Pria itu juga terlihat kurang fit, hanya sempat meminta Sus Lia menemani Sansa sampai tidur.Tala akhirnya berdiri di depan pintu kamar Geza. Ia sempat ragu, tak tahu akan mendapat respons seperti apa setelah belakangan ini mereka menjaga jarak.“Geza, kamu nggak makan?” panggilnya.Hening.Tala mengetuk sekali lagi. Tetap tak ada sahutan. Akhirnya ia membuka pintu sendiri. Terserah kalau nanti Geza marah.Di atas ranjang, Geza meringkuk di balik selimut, hanya sebagian wajahnya yang terlihat.“Za?” panggil Tala pelan.Tak ada respons. Tala melangkah mendekat, lalu menarik sedikit ujung selimut.Tubuh pria itu menggigil. Wajahnya pucat, napasnya berat, dan dahinya terasa panas saat punggung tangan Tala menyentuhnya.“Ya ampun, Geza...” Tala spontan menarik tangannya. “Kamu sakit?”Bibir pria itu bergerak lemah.“Ta... hau

  • Sebelum Tiga Tahun   150- Galaunya Jelek

    Malam itu, Geza masih duduk di kursi makan ketika Tala selesai mencuci piring sisa makan malam. Sudah dua bulan mereka berada dalam dinamika seperti ini—tetap bisa berbicara jika ada yang perlu dibicarakan, tetapi selebihnya hanya hening dan jarak canggung.Tala mengeringkan tangannya, lalu duduk di seberang pria itu. Geza masih sibuk dengan ponselnya, wajahnya tenang dan sikapnya formal seperti biasa.Ada sesuatu yang memang harus mereka bicarakan. Soal Janitra. Jadi mau tak mau Tala membuka percakapan.“Soal Janitra... kamu yakin bisa beresin semuanya dalam sepuluh bulan ini?”Geza mengangkat pandangan dari ponselnya. “Kenapa nanya gitu?”Tala mengetuk-ngetukkan ujung jarinya di meja sebelum akhirnya melanjutkan maksudnya.“Kemarin Raga datang ke ruangan aku. Dia minta dikasih kesempatan dan mau berdiri di pihak kita.”Geza mengangguk pelan, seolah kedatangan Raga memang sudah masuk dalam perhitungannya.“Perusahaan Mbak Nadira makin goyah. Jelas dia mulai bergerak sendiri di luar k

  • Sebelum Tiga Tahun   149- Mudah Harusnya

    “Bunda Yaya cantik banget, Tata. Ayah Yaya juga ganteng… kayak Om Eja.”Sansa menunjuk foto di layar tablet Tala. Di sana terpampang foto pernikahan Jani dan Arka.Tala tersenyum kecil.Di usianya yang baru empat tahun, Sansa mulai mengerti bahwa Ayah dan Bundanya sudah tidak ada. Kata Tala, mereka sekarang berada di tempat yang tenang.“Yayanya mana, Tata? Kok nggak ada?”“Yaya masih jauh,” jawab Tala lembut. “Ayah sama Bunda Yaya kan baru menikah.”Sansa mengangguk-angguk, lalu menatap foto itu lagi.“Tata…”“Iya?”“Kalau Yaya peluk fotonya… Bunda tahu nggak?”Tala tersenyum tipis. “Tahu.”“Kalau Yaya bilang ‘Yaya kangen’?”“Bunda juga tahu.”Sansa mengangguk puas.“Berarti Yaya nggak sendirian, ya, Tata?”Seketika mata Tala memanas, ia langsung menarik Sansa ke dalam pelukannya.“Nggak. Yaya nggak pernah sendirian.”Sansa hari ini begitu cerewet sekaligus pengertian. Geza tidak menyukai sesuatu yang kotor atau berantakan, dan ajaibnya, Sansa tumbuh menjadi anak yang sangat tertib. T

  • Sebelum Tiga Tahun   148- Alasan Mempertahankan

    Geza terdiam beberapa detik mendengar jawaban Tala. Tatapannya tak beranjak dari wajah perempuan itu.“Why?” tanyanya pelan.“You really don’t love me?”“Kamu yang nggak cinta aku,” sahut Tala pelan.Geza mengembuskan napas kasar. Ada frustrasi yang akhirnya lolos dari ketenangannya.“Apa yang saya tunjukkan selama ini nggak cukup buat bikin kamu paham kalau saya secinta itu sama kamu?”Itulah kalimat yang selama ini ingin Tala dengar dari mulut Geza—validasi yang begitu jelas, tanpa ruang untuk disalahartikan. Namun kini justru kalimat itu membuatnya semakin gelisah, terlebih saat Geza mengatakannya dalam situasi seperti ini, ketika Tala sedang berusaha diyakinkan.Membuat kalimatnya makin terasa ambigu, apakah ini ketulusannya atau bentuk manipulasinya agar Tala setuju. Sebagaimana dulu, ketika Geza memainkan situasi dan emosinya sampai Tala bertindak impulsif dan menyetujui pernikahan kontrak mereka.“Za, mungkin yang kamu rasain ke aku bukan cinta.” Suaranya melemah.“Mungkin itu k

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status