FAZER LOGINhai ketemu lagi sama om Eja dan Tata, fyi, yang mereka obrolin ini adalah flashback pas Tala akhirnya nerima tawaran nikah kontrak. Ada di chapter 8, terus nyenggol dikit obrolan mereka pas di apartemen Geza. Si om Eja ini emang hobinya ngomong cuma separo dan ambigu lagi, pas udah jadi pasutri beneran jelaslah Tala bakal lebih lantam lagi nanyain soal yang dulu-dulu, secara kan dulu dia tuh nyebelin banget di mata Tala.
“Hei, mulutnya tolong dijaga,” protes Tala. Ia mengambil kedua benda yang diangsurkan Geza.Sang suami duduk di kloset, sementara Tala berdiri di antara kedua pahanya yang terbuka.Krim cukur dioleskan merata di pipi dan rahang Geza. Mesin menyala dengan dengung halus.Tala menahan dagunya, memiringkan wajah Geza sedikit, lalu menggerakkan mesin dengan sapuan pendek di sepanjang rahang. Saat berpindah ke pipi, ibu jarinya menahan kulit agar tetap tegang.Tatapan mereka sempat bertaut dan dari jarak sedekat itu, Tala baru menyadarinya. Ada kusut di balik tatapan Geza. Bukan sekadar sisa kantuk.“Mas...”“Hm?”Tala mematikan mesin cukur di tangannya.“Kamu lagi banyak pikiran?”Geza mengerjap. “Nggak banyak juga.”“Mikirin apa? Mau cerita?”Geza diam sesaat. Tatapannya turun pada mesin cukur di tangan Tala, lalu mengambil benda itu perlahan, meletakkannya di sisi wastafel, kemudian menarik Tala untuk duduk di pangkuannya.“Papa saya dan Raga belakangan ini terlalu tenang,” ia membuka.Ta
Tala sendiri tak tahu kenapa naluri biologisnya terasa bereaksi kuat malam ini. Mungkin efek Pilates sore tadi. Atau mungkin karena tahu pria di hadapannya ini akan pergi jauh besok hari. “Bantuan yang bikin kacau,” gumam Geza. Baru kemudian Tala menyadari tangan Geza sudah singgah pada buah dadanya. Kimono tidur yang dikenakannya ternyata telah tersibak sejak tadi, menyisakan lingerie hitam yang nyaris tak lagi tersembunyi. Pantas saja reaksi pria itu begitu cepat. Mari bermain gila saja sekalian. Tala membuka kimono itu lalu melemparkannya ke sembarang arah. Kini yang tersisa hanya lingerie berbahan brokat hitam yang lembut sekaligus menerawang. “Shit,” Geza mengumpat pelan. Dengan kedua kaki Tala yang masih melingkari dan tampilan sensual yang seperti itu, jelas saja konsentrasi pria itu langsung buyar total. Geza mengembuskan napas panjang. Tatapannya berpindah dari Tala ke laptop yang masih terbuka, lalu kembali lagi kepada perempuan di pangkuannya. Dilema yang jelas terli
“Variasiin gayanya, deh, Ta. Jangan gitu-gitu melulu,” ujar Jia enteng. “Ganjel pake bantal.” imbuhnya. Tala melirik tajam. “Jangan lupa kakinya naik ke pundak...Uh, mantap.” lanjut Jia tanpa dosa. Matanya mengerling pada Tala. Astaga. Tala sungguh malu mendengarnya, meskipun sebenarnya kalimat-kalimat seperti itu sudah begitu akrab di telinganya. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah ia praktikkan. Masalahnya, mereka sedang berada di ruang ganti studio Pilates—kelas yang sudah Tala ikuti selama sebulan terakhir. Semua demi satu tujuan yang belakangan ini disebut sebagai promil natural. Gaya hidup sehat. Padahal dulu, olahraga semacam ini hampir selalu menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Tala. Paling banter ia hanya mau lari. Untuk urusan begini, Jia memang juaranya. Selain lebih berpengalaman, perempuan itu juga terkenal paling ceplas-ceplos. Dan, sayangnya, paling provokatif. Untung Amika tidak hadir di kelas sore ini. Kalau perempuan itu ikut, satu sesi ruang ga
Lingkungan kantor Bhuwana yang dulu terasa asing sekaligus menyebalkan kini justru begitu familiar. Tala sudah cukup sering mampir ke sana, entah untuk mengantarkan makan siang bagi Geza atau mengurus urusan konsorsium. Namun kali ini ia datang bukan untuk keduanya. Ia hendak menjemput pria itu untuk pulang bersama. Pagi tadi Geza berangkat menggunakan mobil kantor, sementara pekerjaan Tala kebetulan selesai lebih awal.Dengan visitor access card yang sudah disiapkan Geza, Tala melangkah melewati lobi. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan beberapa karyawan perempuan yang dulu pernah dilihatnya saat retreat malam itu.Pandangan mereka kembali jatuh padanya. Sedikit banyak, Tala terusik.Masihkah mereka memandangnya sebagai target?Ah, iya.Kinan sudah kembali.Jelas saja kehadirannya di sini mungkin kembali terasa mengganggu bagi sebagian orang.Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, Tala mendapati Arvin berjalan cepat ke arahnya dengan paper bag kopi di tangan.“Thank you, Mb
Momen yang selalu menjadi momok bagi Tala, kini datang.Kinan resmi menggantikan orang yang sebelumnya menangani kerja sama dengan Janitra. Maka, hari ini menjadi pertemuan pertama mereka dalam urusan proyek—Kinan sebagai perwakilan Bhuwana, sementara Tala hadir mewakili kepentingan Janitra dan Sansa khususnya.Pertemuan itu berlangsung di salah satu tower Bhuwana, ditemani Suwandi dan juga tim Janitra.Setelah sempat melalui tarik-ulur khas negosiasi korporasi, hari ini mereka akhirnya mencapai kata sepakat.Geza sebenarnya sudah beberapa kali menawarkan Tala untuk mundur dari proyek ini. Ia cukup memantau dari jauh dan tidak perlu terlalu proaktif terlibat dalam setiap prosesnya.Namun, setelah hubungan mereka resmi jadi pernikahan sungguhan Tala memilih bertahan. Ia tak mau bersikap kekanak-kanakan hanya karena mantan kekasih suaminya kini duduk di seberang meja.Dengan semua yang sudah mereka lalui, rasanya tak mungkin Geza berpaling begitu saja.Lagipula, Geza tahu bagaimana rasan
Geza masuk ke kamar pukul sebelas, setelah memastikan dapur sudah kembali bersih.Sebenarnya ia bisa saja membiarkannya. Toh besok Bi Yuni juga akan membereskannya. Namun, dapur kotor justru membuat kepalanya pening. Lagipula, ia butuh mengumpulkan energi untuk menghadapi Tala.Membujuk, tepatnya.Istrinya sedang mens, baru kecewa karena hasil tes negatif, ditambah kemunculan Kinan. Paket lengkap untuk membuatnya begitu sensitif.Dan Geza harus menghadapinya.Dua tahun ke belakang, Geza mungkin tak akan terlalu terpengaruh. Seingatnya, Tala juga tidak sesensitif ini. Atau mungkin dulu ia saja yang tidak cukup peka karena hari-hari mereka memang lebih sering diisi adu mulut dan sarkas. Jadi, kalau Tala sedang kesal, Geza akan membalas. Kalau Tala nyolot, ia akan menyolot balik.Selesai.Sekarang? Perempuan yang sama bisa membuatnya pusing hanya dengan membelakanginya.Geza mendekat ke ranjang. Bantal hangat yang tadi sudah ia siapkan suhunya seharusnya sudah pas.“Ta....” panggilnya pel
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men







