LOGINdimana pun itu Om Eja selalu dapat timses
Dion dan Ainun sudah berangkat sejak lima menit lalu diantar Mira, sementara Pakde Hanto tampak sedang mengasah perkakas di halaman belakang. Tala lega. Setidaknya, sampai Mira datang, ia tidak harus berdua saja dengan Geza.Bukan apa-apa. Ia hanya takut kembali terbujuk oleh Geza seperti sore kemarin, ketika pertahanannya nyaris runtuh. Lebih buruk lagi kalau mereka kembali berdebat.Tala menghampiri Pakde Hanto yang duduk di bangku depan, lalu mengambil tempat di sebelahnya.“Pakde nggak ke kebun?” tanyanya.“Nanti, sebentar lagi,” jawab pria yang usianya hampir tujuh puluh tahun itu.Rambut Pakde Hanto sudah memutih seluruhnya, tetapi fisiknya masih sangat bugar. Ia bahkan masih sanggup menggendong Sansa bolak-balik ke kebun tanpa terlihat kelelahan.“Nduk, udah bikinin suamimu kopi? Tadi Pakde lihat dia sedang bekerja, ya.”Tala mengangguk kecil. Memang tadi Geza sempat membuka tabletnya untuk bekerja. Namun, Sansa keburu menghampiri dan kini keduanya berada di ruang depan.Tala s
“Ta, minyak telon di mana?”Geza mengulang pertanyaannya karena Tala tak kunjung menjawab dan malah tertegun.“Di pouch, di atas travel bag,” jawab Tala akhirnya. Ia tak berniat menanyakan lebih lanjut untuk apa Geza mencari minyak telon sepagi ini saat Sansa masih tidur.Geza mengangguk, lalu kembali pergi. Mungkin kembali ke teras menemanin Pakde Hanto minum teh.Tak lama kemudian, pria itu muncul lagi di dapur.“Ta, baju Kuromi Sansa di mana? Dia udah mandi, tapi kekeh pengen pake baju itu.”Tala langsung tersentak. Ia sampai lupa kalau dirinya belum mengecek Sansa. Tadi, anak itu masih tidur ketika ia meninggalkannya untuk membuat sarapan.Baguslah Geza mengambil alih tugsanya.“Di koper Sansa,” jawab Tala santai.“Nggak ada,” sahut Geza.”Emang udah cari?””Udah.” jawab Geza kekeh.“Ada, kok. Orang itu aku pisah-pisahin biar gampang carinya,” tegas Tala, masih bersikeras dengan jawabannya.Geza mengembuskan napas pendek. “Udah saya cari, Ta. Nggak ada.”“Cari yang bener, sih, Mas
Hari kedua, Geza tampaknya masih belum berniat pulang.Sore kemarin, Tala sudah memintanya kembali ke Jakarta. Rumah itu tidak terlalu besar dan hanya memiliki tiga kamar tidur. Tala sendiri menempati kamar Dion yang hanya diisi kasur single bed—sementara anak itu tidur bersama kakeknya.Jelas tak ada tempat lagi untuk Geza. Alhasil, semalam Geza tidur beralaskan tikar di ruang keluarga. Tala bahkan sudah menyarankannya menginap di hotel di pusat kota, tetapi pria itu tetap bersikeras menolak.Pagi ini, suaminya malah sudah duduk santai di teras sambil minum teh dan berbincang dengan Pakde Hanto. Tak hanya itu, Geza juga ikut membantu memotong ayam kampung yang kemarin dibicarakan Mira.Di luar dugaan, ternyata pria itu bisa mengurus hal-hal semacam itu.Terlepas dari masalah rumah tangga mereka, Mira dan Pakde Hanto menilai Geza secara objektif. Keduanya menerima kehadiran pria itu dengan tangan terbuka. Terlebih, Pakde Hanto hanya menduga Tala dan Geza sedang bertengkar, masalah kla
Hening menyelimuti teras setelah Ainun beranjak masuk.Geza duduk lesehan dengan kaki terjulur ke undakan teras, kedua tangannya bertumpu di belakang tubuh untuk menyangga berat badannya. Di sebelahnya, Tala duduk bersila dengan tangan terlipat di atas lutut. Keduanya sama-sama memandangi hamparan pegunungan hijau di hadapan mereka.Sejak kedatangan Geza tadi, mereka belum benar-benar mengobrol. Mira lebih banyak mengambil alih percakapan, berusaha mencairkan kecanggungan di antara keduanya.Sampai akhirnya, Tala memutuskan untuk membuka suara.“Kamu tahu dari mana aku di sini?”Geza menoleh sekilas sebelum menjawab, “Dari akses panggilan kemarin. Saya minta orang melacak posisinya, sekalian mencari tahu pemiliknya.”Tala sontak menoleh.Dia menyewa hacker?“Harus segitunya?” tanya Tala, sedikit ketus.“Harus. Saya belum minta maaf soal omongan saya malam itu. Saya salah, Ta. Sangat salah. Maafkan saya.""Hmmm." hanya itu respon yang bisa Tala beri."Dan saya juga pengen ketemu kalian
Melihat wajah pria itu yang begitu lelah akibat perjalanan, Mira menawarkan kamar yang selama ini ditempati Tala dan Sansa agar Geza bisa beristirahat. Kini, pria itu tertidur bersama Sansa di kamar tersebut.Sementara itu, Mira sedang mengantar pesanan kue bersama putranya, Dion, ke pusat kota. Hanto—ayah Mira sendiri sudah kembali ke kebun. Siang tadi ia hanya mengantarkan Geza ke rumah. Itu pun tak sengaja katanya bertemu dengan Geza di warung saat pria itu sedang menanyakan alamat.Tala duduk lesehan di teras, menemani Ainun mengerjakan PR.“Tante Tala, kenapa Tante jadi arsitek?” tanya Ainun.“Karena Tante suka gambar,” jawab Tala sambil tersenyum tipis.“Aku nggak suka gambar, tapi pengin jadi arsitek. Bisa nggak, Tante?”Tala terdiam sejenak, menatap anak itu.Dulu, ia justru tak pernah ingin mengambil jurusan arsitektur. Jani-lah yang meyakinkannya bahwa jurusan itu menjanjikan dan bisa menjadi tempat bagi bakat Tala untuk berkembang. Kakaknya itu bahkan bertaruh mati-matian ag
Tepat tiga minggu kemudian, akhirnya ponsel Tala kembali aktif. Bahkan, kali ini Tala yang lebih dulu menghubunginya. Percakapan itu dimulai dengan Sansa yang langsung bercerita panjang lebar tentang segala hal yang ia lakukan selama bersama Tatanya, tak lupa mengungkapkan betapa rindunya ia kepada Om Eja. Tala tak mau bicara sama sekali dengannya. Geza mendengarkan dengan saksama, sesekali menyahut pertanyaan-pertanyaan polos keponakannya itu. Hingga, saat Sansa meminta panggilan video, terdengar suara gemerisik dari seberang, disusul larangan Tala yang samar-samar tertangkap telinganya. Geza langsung menangkap celah itu. “Jadi, Om Eja boleh bicara sama Tata?” bujuknya lagi, setelah permintaan serupa tadi ditolak mentah-mentah oleh Sansa. “Kata Tata, no-no.” Geza mengembuskan napas pelan. Rupanya, Tala benar-benar berusaha menghindarinya, panggilan ini ada hanya karena Sansa. “Om Eja kangen Tata. Ayo, Yaya bilangin, ya.” Tak lama kemudian, suara mungil itu kembali terdengar di
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me







