LOGIN“Kemarin adik ipar makan siang bareng sama seniornya. Akrab juga ya, atau emang udah terlalu akrab?”Kalimat nyeleneh itu sukses menghentikan langkah Geza di lobi Janitra.Sebagai GM perusahaan properti kelas kakap seperti Bhuwana, kehadiran Geza di Janitra sebenarnya adalah sebuah anomali. Karena itu ia selalu membungkus kedatangannya dengan alasan makan siang bersama istri. Setelahnya, ia kerap melipir ke ruangan Suwandi untuk diskusi.Namun di kalangan direksi dan pemangku kepentingan, semua sudah paham. Geza adalah penggerak di balik layar dan punya pengaruh banyak di Janitra. Label licik, manipulatif dan kurang ajar jelas sudah lama melekat padanya—dan Geza tak pernah merasa perlu membantah satu pun.“Ngajak makan siang? Kecolongan start lo, Tala udah makan.” Raga masih ingin bermain-main.Geza hanya menyeringai tipis. Ia malas meladeni kakak tirinya terlalu lama. Sejak kecil mereka tidak pernah akur, dan sepertinya itu tidak akan pernah berubah.“Thanks for the info.”“Congrats
Sejak perayaan ulang tahun di preschool, kado terus berdatangan dari kerabat terdekat, termasuk kiriman dari Dharma dan Ratna. Bahkan, mereka sempat datang langsung ke rumah dengan dalih menjenguk, namun berakhir dengan basa-basi yang dingin dan ancaman halus mengenai status nikah kontrak Tala.Yang tidak Tala duga, Adrian juga ikut memberikan kado. Ia memang selalu baik pada semua orang, tapi ada sesuatu yang membuat hati Tala sedikit hangat melihat caranya memperhatikan Sansa—padahal mereka baru bertemu satu kali.Sebagian kecil dari dirinya sempat merasa senang, bahkan bisa dibilang ‘geer’. Tapi ia buru-buru menepisnya. Ada tembok besar yang jelas berdiri di sana.“Tala.”Panggilan itu membuatnya tersentak dari lamunan. Ia baru sadar sejak tadi menatap bingkisan berwarna merah muda di atas meja.“Titip ya, Ta. Buat Sansa,” ujar Adrian sambil menyodorkan paper bag itu sedikit lebih dekat.“Oh iya, Thank you, Kak. Sampai repot-repot gini.”“Sama sekali gak repot, cuma aku gak tau pre
Geza adalah si manipulatif yang tak punya hati. Begitulah yang selalu ada di benak Tala. Namun interaksi dan perlakuannya pada Sansa selalu membuat Tala goyah, membuat Tala lupa kalau pria itu berbahaya.Dua hari lalu ia begitu bersemangat menyiapkan perayaan ulang tahun untuk Sansa, menyiapkan dekor yang begitu cantik dan semua perintilannya sesuai permintaan Sansa. Ia melakukannya sendiri.Sendiri.Hal yang tak mungkin dilakukan seorang Geza.Ulang tahun Sansa yang kedua jatuh tepat tujuh hari setelah meninggalnya Arka dan Jani. Tak ada perayaan apa pun. Saat itu semua orang masih sibuk berduka dan menghadapi trauma Sansa.Karena itu, tahun ini Geza ingin merayakannya dengan meriah. Selain untuk menyenangkan Sansa, perayaan besar juga bisa menjadi publikasi yang baik bagi keluarga mereka.Sangat manipulatif bukan? Selalu mengambil manfaat dari setiap hal.Sebaliknya, Tala lebih memilih acara yang sederhana dan privat. Baginya, yang terpenting adalah memastikan Sansa benar-benar meni
“Kenapa lagi kalian?” tanya Bastian jengah. Matanya bergantian menatap Geza dan Tala yang sejak tadi hanya saling diam.Di ruang privat restoran sushi itu, ia baru saja menghabiskan hampir tiga puluh menit untuk menjelaskan proses banding Dharma. Sebagian besar istilah hukumnya hanya lewat begitu saja di kepala Tala.“Nggak apa-apa, Mas,” jawab Tala cepat sambil merapikan posisi duduknya. “Ayo dilanjut.”Bastian mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya lebih santai.“Ayah tersayang kalian tuh harus diwaspadai,” ujar Bastian. “Kayaknya dia nggak akan bergantung sama satu jalur. Kalau perlu dia bakal bangun opini, cari amunisi tambahan, lobi orang yang tepat, sampai mainin isu reputasi perusahaan dan keluarga buat menekan posisi kalian.”Tala tidak langsung bereaksi. Namun jemarinya yang memegang gelas sedikit mengencang. Ia hampir lupa bahwa Sansa masih belum sepenuhnya aman. Selama beberapa waktu terakhir semuanya terasa lebih tenang. Sampai-sampai ia mulai percaya kalau Dh
"Ta, gimana rasanya tidur seranjang sama Geza tiap hari? Bikin naluri biologis lo bergejolak nggak?"Pertanyaan paling absurd itu sebenarnya tidak memengaruhi Tala. Hanya saja, cukup mengganggu ketika Geza duduk anteng di sebelahnya—tidak menyebalkan, tidak cari perkara seperti malam ini.Tumben sekali ia tidak melanjutkan perdebatan yang belum usai saat jam makan siang tadi—soal kehadiran Adrian di site. Biasanya Geza akan menyimpan kekesalannya lalu membuka topik yang sama lagi sampai merasa puas. Padahal perdebatan mereka saat itu baru saja memanas sebelum terpotong oleh Sansa yang merengek minta disuapi es krim.“Gimana site udah kondusif?” pria itu buka suara.Tala yang sedang berusaha memfokuskan diri pada laporan progres proyek di laptopnya mengangkat wajah. Selain karena Geza sedang anteng malam ini, aroma sabun sehabis mandi yang masih menempel pada pria itu entah kenapa cukup mengganggu konsentrasinya.Ia pun bergeser sedikit. “Material udah aman.”“Saya tahu.”Tala langsun
Pukul sebelas lewat tiga puluh, Geza masih berada di ruang rapat lantai dua puluh Bhuwana Sedaya Tower, menghadiri pembahasan kerja sama pengembangan kawasan terpadu yang dihadiri tim proyek, konsultan, dan pihak investor.Setengah jam lagi rapat itu akan selesai. Pembahasan inti sudah tuntas, menyisakan obrolan-obrolan ringan yang biasanya muncul menjelang penutupan. Setelahnya, seluruh peserta dijadwalkan makan siang bersama di salah satu steakhouse kawasan Mega Kuningan.Satu pesan masuk dari Sus Lia.Pak, Sansa dari tadi bilang maunya dijemput Om Eja.Geza membacanya sekilas lalu ia membuka agenda di tabletnya. Pukul dua ia harus berada di BSD untuk site visit proyek township terbaru Bhuwana. Secara logika, akan jauh lebih efisien jika ia langsung berangkat dari Mega Kuningan menuju lokasi proyek. Tala pun sedang berada di lapangan, meninjau proyek Janitra yang sempat tertunda akibat kendala pasokan material.Geza akan meminta sopir panggilan saja untuk menjemput Sansa seperti bia
Lorong pengadilan mulai dipenuhi suara langkah kaki dan ucapan selamat yang berseliweran. Putusan itu akhirnya jatuh di pihak Tala. Gugup yang sejak tadi mencengkeram dadanya perlahan luruh, menyisakan lega yang nyaris membuat lututnya lemas. Setidaknya untuk saat ini, ia masih bisa tetap berada di
Malam sebelum sidang putusan, Tala memilih tidur di kamar Sansa. Kebetulan Bude Sinta menginap di rumah Tante Desi, jadi untuk satu malam ini ia tak perlu sekamar dengan Geza. Sekasur tepatnya. Pria itu protes tak mau tidur di sofa karena badannya tak muat sementara Tala juga menolak—sofa itu terla
“Eh, saosnya mana?”“Sodanya gue simpen di sini ya.”“Itu dagingnya gosong, Mas, yang bener bakarnya.”Suara itu saling bersahutan di area taman belakang. Rumah Arka yang selalu sepi selama beberapa bulan ini tiba-tiba jadi ramai. Awalnya yang datang adalah Bude Saras dan bude lainnya—untuk menjeng
Empat hari bergelut dengan bau rumah sakit akhirnya Tala bisa pulang. Dua hari penuh Geza menunggunya di sana. Hari ketiga hanya setengah hari, ia keluar bersama Bastian dan Arvin—entah urusan genting apa yang sedang mereka selesaikan, mereka tampak buru-buru. Di hari terakhir, ia pergi ke kantor s







