Accueil / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 42- Pria Sebrengsek Itu

Partager

42- Pria Sebrengsek Itu

Auteur: Sora Carita
last update Date de publication: 2026-06-18 21:50:34

"Ta, gimana rasanya tidur seranjang sama Geza tiap hari? Bikin naluri biologis lo bergejolak nggak?"

Pertanyaan paling absurd itu sebenarnya tidak memengaruhi Tala. Hanya saja, cukup mengganggu ketika Geza duduk anteng di sebelahnya—tidak menyebalkan, tidak cari perkara seperti malam ini.

Tumben sekali ia tidak melanjutkan perdebatan yang belum usai saat jam makan siang tadi—soal kehadiran Adrian di site. Biasanya Geza akan menyimpan kekesalannya lalu membuka topik yang sama lagi sampai merasa
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Sebelum Tiga Tahun   143- Istri Sungguhan

    Demi Tuhan, Geza ingin mengumpati orang-orang yang membiarkan Tala mabuk.Senin nanti, ia akan mencecar Rena dan Bastian. Keduanya sudah dititipi untuk mengawasi Tala, memastikan perempuan itu tidak minum terlalu banyak. Nyatanya, Tala tetap lolos dan Geza malah menemukan istrinya di rooftop terbuka, sedang curhat kepada Adrian—mantan crush-nya yang menyebalkan itu—dengan Seno yang sudah mabuk di sampingnya. Sementara orang yang dititipi menjaga Tala masih cukup sadar di lounge, meski mulai tipsy.Setelah mengantar Hanum, Geza sempat menghadapi masalah di kamar Bude Sinta dan Sansa yang mengharuskannya berurusan dengan pihak hotel. Urusan itu membuatnya terlambat kembali ke lounge—dan selama itulah Tala minum terlalu banyak.Geza tidak tahu apa saja yang sudah dibocorkan Tala kepada Adrian. Ia hanya sempat menangkap beberapa kalimat sebelum membawanya pergi.Adrian adalah crush-nya yang dia suka setengah mati.Adrian tampan.Dan entah apa lagi.Huh. Mudah sekali perempuan itu mengobra

  • Sebelum Tiga Tahun   142- Satu Galon Bellini

    “Boleh nggak kalau aku suka kamu? Kalau aku cinta sama kamu?”Tala menatap Adrian dengan mata yang mulai berat, seolah pertanyaan itu sudah terlalu lama ia simpan.“Tapi kamu cuma lihat Kak Sara.” suaranya perlahan melemah. “Jadi aku mesti gimana?”“Ta...”“Aku udah move on, serius.” Tala buru-buru menyela. Ia mengangkat satu jari, lalu satu lagi. “Aku udah pacaran sama satu... dua...tiga.”Ia tertawa puas melihat jarinya sendiri.“Aku juga udah lupain kamu pake Bellini, tahu nggak sih, Kak? Malam itu aku lihat kamu cium Kak Sara. Pulangnya aku minum satu galon Bellini.”Tala menggeleng-geleng, lalu terkikik.“Atau satu jerigen? Atau satu tangki? Pokoknya banyaaaak. Biar aku lupa pernah suka kamu banget. Banget banget.”Sudut bibir Adrian terangkat melihat tingkah dan kalimat Tala yang seperti itu. Lucu.“Tala, nanti lagi kalau kamu mau bicara.”Ia hendak menarik lengan Tala, tetapi perempuan itu buru-buru menepis.“Jangan pegang tangan aku. Aku udah nikah.”Tala mengatakannya dengan

  • Sebelum Tiga Tahun   141- After Party

    Acara akhirnya selesai sekitar pukul sepuluh malam.Bude Sinta sudah lebih dulu naik ke kamar menemani Sansa. Geza memang sengaja memesan beberapa kamar di hotel yang sama untuk keluarga dan orang-orang yang mendampingi Sansa. Kamar dirinya dan Tala berada satu lantai dengan kamar Bude Sinta dan Sansa, serta Bi Yuni dan Sus Lia. Sementara itu Hanum ikut-ikutan ingin menginap jadi Geza menyewa satu suite tambahan.Taman yang beberapa jam lalu dipenuhi suara percakapan kini mulai lengang. Tinggal beberapa pelayan yang membereskan meja, sementara lampu-lampu taman masih menyala. Lingkaran teman kuliah Tala sudah bubar hanya tersisa Adrian, Amika, Fredy dan Seno.“Masih kuat, nggak kalian? After party yuk di rooftop.”Beberapa pasang mata langsung berbinar. Tak ada yang kaget mendengar ajakan Amika. Semua tahu, perempuan itu memang ratu untuk urusan begini. Terlebih, rombongan mereka memang sudah bertambah. Ada Bastian, Arvin, Rena, Sania, dan tentu saja Hanum. Jelas ia makin semangat.“Le

  • Sebelum Tiga Tahun   140- Lemparan Bola Panas

    Tala membelalak kaget.Hei, sejak kapan topik punya anak empat ini ikut menyebar sampai ke lingkungan pertemanannya?”Pelestarian gak tuh. Siamang kali ah.” celetuk Seno.Satu meja langsung terbahak.”Nggak gitu juga sih kak, buat sekarang serius aku nggak siap.” kilah Tala.Bicara soal kesiapan, Tala sendiri sebenarnya tak pernah merasa siap menikah, apalagi menjadi orang tua. Ia hanya mengambil peran itu karena keadaan memaksanya setelah Sansa kehilangan orang tua.Sampai sekarang pun, ia masih gagap menjalani peran sebagai istri maupun ibu. Namun semuanya tetap berjalan. Mungkin bukan karena Tala sudah siap tapi karena Geza sudah lebih dulu siap menanggung bagian yang belum mampu ia tanggung sendiri.Tiba-tiba saja, suami kontraknya itu terasa seperti suami ideal."Duh, kapan, ya, ketemu jodoh yang tiba-tiba datang terus ternyata nggak patriarkis?" Syifa menghela napas dramatis. "Sayangnya gue nggak punya kakak. Nggak bisa dapat jodoh lewat jalur adik ipar kayak Tala.""Ya udah, bli

  • Sebelum Tiga Tahun   139- Melestarikan Manusia

    Tala memilih mengabaikan alasan mengapa Geza bisa bertahan selama itu di Bhuwana. Lagi pula, tak akan ada habisnya kalau ia terus mengulik dan menebak-nebak pria serumit Geza. Lebih baik ia berhenti berpikir. Toh, pada akhirnya mereka akan bercerai.Karena itu, Tala memilih melipir ke meja teman-temannya."Bu Tala, akhirnya ketemu juga. Susah sekali sekarang bisa dapat waktu dari Ibu. Maklum, kesibukan Ibu di Janitra pasti sudah luar biasa."Seno, teman kuliah sekaligus rekan sesama arsitek, menyambutnya penuh candaan."Tolong deh, Sen. Ngolahnya jangan selebay itu." Tala mencebik protes.”Tahu nih Ta, ngolah mulu dia. Mau nyaingin Choky Sitohang lo?” Amika ikut menyambar."Justru karena itu. In this situation, cari kerja tuh susahnya hampir kayak cari jodoh. Kalau punya teman yang sekarang jadi komisaris, ya harus pinter-pinter di-approach, lah." Seno nyengir. "Bener nggak, Bang?"Adrian, yang malam itu tampil begitu sempurna, hanya tertawa kecil.Berada di meja sebelumnya ternyata cu

  • Sebelum Tiga Tahun   138- Dilimpahi Keberuntungan

    Setelah percakapan penuh sindiran itu, Tala belum juga berhasil melepaskan diri dari meja tersebut. Padahal, dari tadi matanya beberapa kali melirik ke arah meja lain, tempat Amika dan teman-teman kampusnya berkumpul. Ia ingin menyapa mereka, sekadar bernapas di tengah suasana yang tidak ada habisnya menguras energi.Kesempatan itu baru muncul ketika seorang pria paruh baya datang menghampiri meja bersama Suwandi.Pria tersebut diperkenalkan sebagai Wibowo, teman kuliah ibu Geza yang sejak dulu dekat dengan keluarga mereka. Berasal dari keluarga pengusaha lama, ia kini mengelola perusahaan keluarga yang jauh lebih besar dan sudah melantai di bursa. Dulu, Wibowo beberapa kali menjadi penyuntik modal ketika Janitra sempat goyah, sehingga hubungan bisnisnya dengan keluarga ibu Geza sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu.Begitu percakapan bergeser ke urusan bisnis, beberapa wanita perlahan menyingkir, memberi ruang bagi para pria untuk berdiskusi. Tala ikut menggeser kursinya.Mungkin i

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   1- Kehilangan yang Tak Terduga

    Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status