LOGINTala masih memutar cincin baru pemberian Geza. Kali ini, cincin itu benar-benar dipesan khusus untuknya—bukan cincin lungsuran yang dulu disiapkan Geza untuk pernikahannya dengan Kinan, lalu berakhir di jari Tala saat mereka nikah kontrak.Ah, menyebalkan sekali kalau mengingat bagian itu.Satu hal yang harus diakui Tala, Geza masih piawai menebak ukuran cincin. Ukurannya benar-benar pas. Desainnya pun sesuai selera Tala—tak jauh berbeda dari cincin milik Kinan yang pernah ia kenakan, tapi kali ini jauh lebih ringkas dengan detail yang lebih elegan. Tala suka ini. Sangat.Sebuah lengan tiba-tiba melingkar dari belakang, memeluknya santai sementara satu tangan lainnya menggenggam sebotol wine.Tala mendongak dari kursi santainya di teras vila. Di hadapannya, laut malam terbentang tenang di bawah langit gelap yang masih dihiasi bintang. Ia bahkan belum mandi atau berganti pakaian. Gaun yang dikenakannya saat dinner masih melekat di tubuhnya.“Wine?” tawar Geza.Tala menoleh sedikit, lal
“Mas, apaan sih?”Terus terang, Tala masih terpaku pada kelakuan Geza barusan. Matanya bahkan masih tertuju pada laut gelap tempat cincin itu menghilang.Betulan pria ini sedang mengerjainya?Geza masih diam. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melempar cincin pernikahan ke tengah laut.“Mas!” Tala mulai kesal. “Itu cincin nikah!”“Saya tahu.”“Terus kenapa dibuang?! Maksud kamu apa, sih?”Nada Tala mulai berubah. Ada curiga yang perlahan menyusup di balik kebingungannya.Jangan-jangan benar dugaannya tadi. Jangan-jangan semua yang Geza katakan sepanjang malam ini hanya permainan untuk membalas penolakannya.Geza mengusap punggung tangannya pelan.“Dua tahun lalu saya pernah minta kamu jadi istri saya karena kepentingan. Menjebak kamu lebih tepatnya.” aku Geza pelan.Ia berhenti sejenak, membiarkan Tala mencerna pengakuan itu.“Sekarang saya mau minta sekali lagi.”Jantung Tala berdegup semakin cepat.Lalu Geza berlutut.Begitu saja.Tanpa aba-aba, tanpa satu pun kat
“Kalau lihat ke arah sana, itu Orion,” salah satu staf menunjuk ke langit. “Tiga bintang yang berjajar itu bagian dari Orion’s Belt.”Sebuah teleskop sudah disiapkan di atas tripod, diarahkan ke langit malam.Tala mendongak mengikuti arah yang ditunjukkan.Malam itu, sesi stargazing digelar di ujung jetty yang menjorok ke laut. Lampu-lampu di sepanjang dermaga diredupkan agar tidak mengganggu pandangan, menyisakan penerangan seperlunya untuk langkah kaki. Di hadapan mereka, laut membentang gelap tanpa banyak cahaya di kejauhan.“Kalau yang terang itu?”“Sirius. Salah satu bintang paling terang yang bisa kita lihat dari Bumi.”Tala mengangguk-angguk antusias. Sesekali ia berpindah posisi untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih baik, rambutnya yang terurai ikut diterpa angin laut.Staf tersebut kemudian mengajak mereka bergantian melihat melalui teleskop. Beberapa objek langit yang sebelumnya hanya tampak sebagai titik kecil terlihat jauh lebih jelas melalui lensa.Tala bahkan beberap
Jabatan tangan itu hanya berlangsung sebentar. Detik berikutnya, Geza membalik tangan Tala, menariknya perlahan menuju bibir, lalu mengecup punggung tangannya lama. Tatapannya terangkat pada Tala, menyimpan binar yang sukses membuat jantung perempuan itu bertalu-talu.Pria yang selama ini sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar tipenya ternyata justru mampu membuatnya jatuh sejauh ini.Tala selalu terbiasa menurunkan ekspektasi, membangun tembok denial, menyisakan kemungkinan terburuk sebagai bentuk perlindungan diri. Barangkali perasaannya akan berakhir sama seperti dulu dengan Adrian—hanya menjadi miliknya sendiri, tanpa pernah benar-benar sampai kepada orang yang ia cintai. Sebab jatuh lebih dulu selalu terasa seperti mengambil risiko paling besar.Namun kali ini berbeda. Perasaannya disambut. Dan yang paling membuatnya takut sekaligus bahagia, pria yang menyambutnya adalah Geza.Geza menurunkan tangan Tala, tetapi belum juga melepaskannya. Ia justru meraih satu tangan lainnya,
Berbeda dengan dinner jebakan—castaway picnic yang sepenuhnya diatur diam-diam oleh Amika dan akhirnya hanya diisi keheningan karena Tala dan Geza sama-sama masih sibuk menjaga gengsi—dinner kali ini terasa jauh berbeda.Itinerary malam ini memang masih milik Amika, tetapi Geza sudah mengubah suasananya menjadi jauh lebih romantis dan personal.Tala yang baru tiba langsung menyadari perbedaannya. Matanya menyapu meja makan yang ditata privat di tepi pantai, tak jauh dari vila. Sebuah meja kecil berlapis taplak putih berdiri di atas hamparan pasir, diterangi beberapa lilin dalam lentera kaca yang cahayanya bergoyang pelan diterpa angin laut.Dua kursi ditempatkan berhadapan, dengan beberapa bunga tropis putih yang ditata sederhana di tengah meja. Sebotol wine, peralatan makan yang tersusun rapi, serta hidangan yang mulai disajikan satu per satu melengkapi meja itu.Wine lagi? Jelas.Namun kali ini Tala tidak akan mati-matian menahan diri seperti saat castaway picnic kemarin. Gelas di h
Waktu sudah berlalu cepat sejak mereka terdiam dalam posisi saling memeluk. Berbaring di atas dada lebar Geza sungguh membuat Tala lupa diri. Pertemuan antar kulit tanpa sehelai benang jelas memantik banyak listrik statis yang menjalar di sepanjang sarafnya. Apalagi saat tangan besar pria itu kembali bergerak, mengusap lembut puncak dadanya."Mas, udah..." Tangan Tala bergerak menahan usapan itu, berusaha menyisakan sedikit benang kendali di antara mereka.Usapan itu berhenti. Geza menurunkan posisi tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. Senyum tipis terbit di bibirnya.”Takut nerkam saya lagi?” tanya pria itu sambil terkekeh.”Kamu ya, yang nerkam aku.” balas Tala.“Kan kamu yang mancing.”Geza menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Tala sebelum mencuri kecupan singkat.Dengan posisi menyamping seperti ini, Tala bisa dengan mudah memindai setiap lekuk wajah Geza yang memesona. Tatapan mereka bertemu cukup lama sebelum tangan Geza naik mengusap rambutnya.“Mau makan sekarang?” tanyanya
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan







