Share

05| Yang Belum Usai

Auteur: sidonsky
last update Dernière mise à jour: 2025-12-10 10:06:49

Dua hari berlalu sejak pertengkaran hebat itu. Dua hari tanpa Jagara. 

Raya menggunakannya sebagai sebuah pelepasan, sebuah upaya sia-sia untuk mencari kembali potongan dirinya yang berserakan di mana-mana. 

Ia berkeliling Bali. Ia menyaksikan matahari terbenam yang dramatis di Uluwatu, duduk di atas tebing karang sambil menikmati pertunjukan Tari Kecak yang magis, di mana puluhan pria bertelanjang dada mengiringi cerita Ramayana dengan suara "cak, cak, cak" yang hipnotis. 

 Tanpa ponsel, tanpa gangguan. Hanya dirinya seorang diri dan keajaiban Bali.

Ia bahkan berkunjung ke beberapa museum di Ubud, membiarkan dirinya terserap dalam seni dan sejarah, mencoba melupakan penderitaan modernnya. Tidak sampai disana, Raya juga menikmati pijatan Bali yang kuat dan menenangkan, mencoba meremas remas-remas ketegangan di otot-ototnya yang sudah terbentuk selama berminggu-minggu. 

Kemudian, ia membeli beberapa baju baru, gaun-gaun sederhana yang terasa lebih 'layak' untuk dikenakan, dan berakhir dengan memakan es krim rasa vanilla dengan karamel saat dalam perjalanan pulang ke hotel.

Untuk sesaat, ia hampir merasa damai. Hampir.

Dengan bersenandung kecil, Raya berjalan memasuki koridor hotel yang dihiasi karpet mewah berwarna merah marun. 

Sampai pandangannya terkunci pada sosok yang tengah duduk bersandar di depan pintu kamarnya. Punggungnya menyandar di dinding, kepalanya menunduk, namun seketika menoleh ke arahnya saat mendengar gesekan kantung plastik dari belanjaan yang ia bawa.

Sontak, langkah Raya melambat. Apalagi saat sosok itu beranjak bangkit dari posisinya dan menghadap ke arahnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Ponsel kamu mati?" pertanyaan pertama datang menyambut Raya, terdengar datar namun ada kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya. 

Yang Raya hanya balas dengan lirikan singkat dan mengeluarkan kartu kamar, lalu menempelkannya pada kunci otomatis. Ia berniat tidak menggubris Jagara dan masuk ke dalam kamarnya, sebelum kaki yang beralaskan sepatu kets putih Jagara menghadang jalannya.

Dengan gerakan pelan, Raya hanya membiarkan dan beranjak masuk. 

Belum juga menaruh barang-barang belanjaannya, suara Jagara kembali terdengar ketika pintu kamarnya tertutup sempurna, mengunci mereka berdua dalam ruangan yang terasa terlalu kecil.

"Saya minta maaf atas ucapan terakhir saya, Raya."

Atas ucapan manis itu, Raya mendengus. 

Jagara terdiam, masih dengan wajah datarnya yang sulit dibaca. "Saya sudah melupakan kejadian yang telah lewat. Saya sudah memaafkan semuanya."

Namun, Jagara tetaplah Jagara. Meski kini penampilan tampan itu berbalutkan merk mahal, hatinya sepertinya tidak ikut berubah. "Saya gak pernah benci kamu, Raya." imbuhnya seolah memahami isi pemikirannya.

Raya terdiam. Kalimat itu seakan memiliki kekuatan magnetik, menariknya mendekat. Dadanya bergemuruh, dipenuhi debaran yang bahkan tak bisa ia namai. Semua kekacauan yang menumpuk—kemarahan, rasa malu, dan letupan emosi yang tidak punya tempat—membuat langkah Raya goyah sesaat.

Ia tidak sadar kakinya menyenggol kaki meja kecil di samping sofa.

“Ah—!”

Tubuhnya terhuyung ke depan. Es krim vanilla di tangannya terlepas, jatuh menimpa karpet mahal dan meninggalkan noda pucat yang mencolok.

Namun sebelum Raya sempat memikirkan kerugian itu, momentum tubuhnya menariknya lebih jauh.

Jagara yang berdiri terlalu dekat hanya sempat terbelalak.

Dan dalam sepersekian detik—

Bibirnya berlabuh di miliknya.

Bibir yang sudah lama tak ia rasakan. Bibir yang terasa asing namun akrab, yang terasa hangat dan memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang menggelayut di benaknya. 

Sementara Jagara mematung di tempatnya, matanya yang terkejut terbuka lebar saat merasakan manisnya es krim itu mencair di bibirnya.Hanya singkat. Setelah Raya, dengan kesadaran gilanya, membuka kedua matanya dan berakhir menjauhkan diri.

"Gara, aku..." Raya gelagapan, napasnya tersengal. "Aku... maaf."

Dan ia berniat beranjak dari tempatnya sebelum sambaran tangan Jagara yang kuat menariknya kembali pada posisi semula. Menautkan bibirnya di bibir manis Raya, menciumnya sebentar, lalu melumatnya dengan ganas. 

Seakan melampiaskan kerinduan yang sudah tujuh tahun ini ia pendam. Melampiaskannya dengan gigitan kecil di lidah dan bibir Raya yang membuat pemiliknya meringis kecil, sebelum tertawa terkekeh di tempatnya.

Sementara Jagara, masih dengan fokusnya. Ia menarik tubuh Raya mendekat, menempel jadi satu dengannya, sementara langkahnya maju. 

Mendekat ke arah kasur king size yang tergeletak menggoda di belakangnya. Mendorong tubuh Raya ke atasnya hingga membuat jeritan kecil Raya keluar. Raya menatap Jagara dengan bibir yang sama bengkaknya dengan dirinya dan basah karna air liur mereka. 

Mata Raya turun saat tangan Jagara perlahan membuka satu persatu kancing kemejanya.

"Gara..." Raya bersuara memperingati, membuat Jagara terkekeh di tempatnya.

"Kenapa? Kamu yang mau buka?" pancing Jagara dengan menampilkan deretan gigi putihnya yang begitu menawan, kelemahan Raya sejak dulu.

Namun, tidak. Raya menggeleng lemah dengan napas naik turun yang tidak teratur. "Ini salah, Gara. Kita gak bisa–”

Dan seketika, wajah Jagara kembali kaku. Tangannya yang sedang berada di tengah kancing ketiga berhenti. 

Sebuah tawa kecil, pahit dan tanpa humor, keluar dari bibirnya. Ia menarik tangannya perlahan, lalu duduk dan membelakangi Raya. Menyadari kebenaran pahit dari apa yang Raya ucapkan tadi. Ia menopang kedua tangan di atas pahanya, menunduk, melepaskan napas yang terasa berat dan beracun.

"Pernikahan saya... diundur, Raya," katanya, suaranya serak. "Atau mungkin terancam batal. Saya juga masih belum tahu pastinya."

Mata Raya membulat. Dengan gerakan cepat, ia bangkit dan duduk di sebelah Jagara, jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma aftershave Jagara yang masih familiar. "Maksud kamu? Kenapa?"

Jagara melirik sebentar ke arah Raya, matanya terlihat kosong dan terluka. 

Jagara berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan. "Saya melihatnya bertemu pria lain. Mereka makan malam bersama, bercanda, dan... dia memeluknya. Sangat erat."

Dagunya menegang saat mengingatnya. "Dia tidak tahu saya ada di sana. Tapi pemandangan itu sudah cukup. Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan dalam waktu dekat."

“Bisa jadi itu sahabatnya, kan?”

Kemudian lelaki itu tertawa kecil, pahit dan singkat. “Itu mantan kekasihnya.” lelaki itu diam sebentar, dalam keheningan sesaat sebelum kembali bersuara. "Bukannya adil, kalau perselingkuhan dibalas dengan perselingkuhan?"

Raya menelan air liurnya kuat, merasakan dada sesak. Ia tidak tahu harus berkata apa. "Kamu... kamu harus bicara baik-baik sama dia, Gara." ujarnya parau, berniat untuk beranjak menuju kamar mandi, mencari udara segar, sebelum sambaran tangan Jagara yang hangat menghentikan langkahnya.

Wajah Raya menunduk, menatap Jagara yang masih duduk di tempatnya. Jagara mengangkat wajahnya, menatap Raya dengan mata yang berkaca-kaca, penuh dengan keputusasaan dan harapan yang bercampur aduk. 

"Setidaknya, kandasnya hubungan kita dulu bukan karna orang ketiga, kan?”

Lalu tatapan Jagara berubah semu, seperti memohon ditengah keheningan malam, “Dan, Raya," katanya, suaranya ambigu namun sarat akan makna, "bukan hanya saya kan yang merasa, kalau hubungan kita... memang belum selesai?"

Baru saja Raya ingin merespon, tarikan tangan kokoh Jagara sudah lebih dahulu membawa tubuh Raya jatuh ke atasnya, kini ia yang berbaring di kasur. 

Sementara bibir Jagara kembali menaut bibirnya, kali ini dengan ciuman yang lebih liar, lebih membabi buta, dengan lidah yang ia mainkan di seluruh rongga mulut Raya. Menyecapnya, merasakan rasa yang begitu sempurna dan memabukkan di bibir Jagara.

Tidak berhenti sampai di sana. Jagara sudah lebih dahulu meremas dua gunung yang menonjol menggoda di balik kaosnya, meremasnya kuat hingga ia bisa melihat Raya meringis di atasnya. 

Namun ekspresi penuh sensasi itu justru membuat Jagara semakin membabi buta. Ia membuka paksa kaos oblong milik Raya, meninggalkan bra putih yang kontras dengan kulit sawo matangnya yang begitu menggoda.

Ia merindukan ini. Tubuh ini. Aroma Raya. Dan cara Raya merespons semua sentuhannya dengan kepala yang mendongak, menikmati sensasi bibir Jagara di perut ratanya. Hembusan napas Jagura yang begitu memabukkan.

Dan di tengah-tengah itu semua, ponsel yang Jagara letakkan di meja samping kasur bergetar. Membawa kedua kepala itu menoleh ke arah yang sama, dan seketika, tubuh Raya menegang.

Tunangannya menghubungi Jagara. 

Kontak dengan emoticon hati itu muncul jelas di layar, membuat Jagara seketika berpaling ke arah Raya. Ia mendapati ekspresi Raya dengan bibir bawahnya yang ia gigit kuat menahan rasa bersalah.

Hal yang sama yang Jagara rasakan, seolah ia ikut merasa bersalah, Jagara mengulurkan satu tangannya dan berakhir membalik ponselnya, agar Raya berhenti menatapnya dengan tatapan penuh dosa seperti itu.

Tangan kokoh Jagara menarik dagu Raya agar menatapnya. Raya diam, menatap Jagara sebentar, sebelum kali ini, ia yang menciumi Jagara lebih dahulu. 

Menelusuri leher Jagara yang panas dan turun ke dada bidang dan perut kotak-kotak yang entah sejak kapan terbentuk begitu sempurna di bawah kaosnya.

"Raya..." desahan panjang lolos dari bibir Jagara, menikmati bagaimana Raya memainkan miliknya dengan satu tangannya, sementara matanya melirik saat Raya menatapnya dengan kilat nakal. 



Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   109| Tidak Mau Ambil Resiko

    Taksi biru itu berhenti tepat di depan lobi utama Kinara Motors. Mesin masih menyala, jarum jam di dashboard berdetak pelan seiring Raya yang belum juga membuka pintu. Ia duduk diam di kursi belakang, punggungnya bersandar, pandangannya kosong menembus kaca depan yang memantulkan gedung tinggi berlapis kaca itu.Tangannya bertumpu di pangkuan, jemarinya saling bertaut erat. Ia menghela napas panjang—menahannya sejenak di dada—lalu mengembuskannya perlahan, seolah berusaha menurunkan gemuruh yang masih tersisa sejak pertemuannya dengan Ratna pagi tadi. Ada rasa berat yang belum sepenuhnya luruh, menggantung di antara tulang rusuknya.Setelah merasa cukup stabil, Raya akhirnya turun. Dua plastik bening berisi makanan ia tenteng dengan hati-hati, langkahnya pelan namun pasti memasuki lobi Kinara Motors yang selalu tampak hidup. Kilau marmer, derap langkah para karyawan, dan suara samar percakapan bisnis menjadi latar yang kontras dengan isi kepalanya yang riuh.Belum sempat Raya membuka

  • Sehangat Dekapan Mantan   108| Dua Pilihan

    Suasana coffee shop yang berada di lantai utama lobi rumah sakit pagi itu cukup ramai. Aroma kopi bercampur dengan wangi disinfektan yang samar. Para pengunjung berlalu-lalang, beberapa mengenakan jas dokter, sebagian lain keluarga pasien dengan wajah lelah yang tak sempat disembunyikan.Raya memilih posisi duduk yang agak menjauh dari pusat keramaian. Meja kecil di sudut dekat jendela kaca besar, cukup tersembunyi untuk percakapan yang tak ingin didengar orang lain. Raya menegakkan posisi duduknya. Punggungnya lurus, bahunya sedikit tegang. Kedua tangannya tertata rapi di atas paha, jemarinya saling bertaut untuk menahan getaran halus yang tak bisa sepenuhnya ia kendalikan. Jas dokternya rapi, nametag masih tergantung di saku dada, seolah ia sedang bersiap menghadapi pasien—bukan ibu dari lelaki yang paling ia cintai.Di hadapannya, duduk berseberangan, Ratna sudah lebih dulu menegakkan tubuhnya. Sikapnya tenang, terlatih, nyaris terlalu terkendali. Tak ada sisa amarah meledak-leda

  • Sehangat Dekapan Mantan   107| Tamu Tak Diundang

    Raya duduk di kursi penumpang mobil hitam Jagara, tubuhnya masih terasa dingin meski mesin mobil telah lama menyala. Mereka belum bergerak. Masih di depan rumah besar itu, rumah yang barusan mengukir luka baru di dada Raya.Jagara berdiri di luar sesaat, lalu kembali masuk. Tangannya sigap menarik tisu dari dashboard, mengusap wajah Raya dengan gerakan yang terlalu hati-hati, seolah takut sentuhan kecil saja bisa membuat wanita itu runtuh. Air masih menetes dari ujung rambut Raya, membasahi jas yang kini menutupi bahunya.“Kamu tidak apa-apa?” Entah sudah pertanyaan keberapa.Raya sendiri sudah berhenti menghitung. Yang ia tahu, sorot mata Jagara penuh kecemasan, rasa panik yang ditahan, amarah yang dikurung rapat-rapat agar tak meledak. Ibu jari lelaki itu mengusap pipi Raya berulang, seakan memastikan bahwa wanita di hadapannya benar-benar nyata, tidak hancur.Sesak di dadanya terasa menyakitkan. Namun Raya tetap memaksakan senyum kecil. Ia menatap wajah Jagara, wajah yang selalu be

  • Sehangat Dekapan Mantan   106| Makan Malam

    Sejak pagi buta, Raya sudah terjaga.Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar, sementara tubuhnya terasa berat seolah belum benar-benar kembali dari mimpi yang tak selesai. Detak jantungnya berpacu, cepat dan tak beraturan, seiring ingatan yang berulang-ulang menyeretnya pada sebuah notifikasi yang kemarin siang sempat ia lihat sekilas di ponsel Jagara.Satu nama yang membuat dadanya langsung sesak.Mama.Pesan itu singkat, rapi, dan terasa dingin meski ditulis dengan kata-kata yang tampak biasa.Haruskah Mama tahu kabar perpisahan kamu dan Kirani dari media? Makan malam di rumah malam ini. Ada yang ingin Mama tanyakan.Raya ingat betul bagaimana jarinya sempat gemetar saat membaca baris demi baris itu dari balik bahu Jagara. Tidak ada nada marah yang kentara, justru itulah yang membuatnya semakin menyesakkan. Pesan yang terdengar seperti undangan, tapi terasa lebih mirip panggilan sidang.Sore itu juga, Jagara tak butuh waktu lama untuk memutuskan. Ia menatap layar ponselnya

  • Sehangat Dekapan Mantan   105| Pesan Masuk

    Lift bergerak turun dengan dengung halus, membawa Raya dan Jagara menuju parkiran basement. Di dalam ruang sempit berlapis kaca itu, tangan mereka saling bertaut. Raya tersenyum kecil, matanya memantul pada bayangan mereka berdua. Ia sudah berganti pakaian kerja, setelan rapi yang membuatnya tampak segar meski jadwal padat menanti. Untungnya hari ini ia mendapat shift siang. Hal itu yang membuat Jagara bersikeras mengantarnya lebih awal, dengan alasan yang terdengar santai namun tak bisa dibantah: sekalian ia ingin langsung ke kantor.Pintu lift terbuka perlahan. Jagara menarik tangan Raya dengan lembut, menuntunnya keluar menuju area parkiran bertanda VIP. Deretan mobil mewah berjajar rapi, sebagian besar asing di mata Raya. Yang dikenalnya hanya mobil hijau tua Jagara dan sebuah sedan hitam yang terparkir tak jauh. Raya sudah melangkah ke arah mobil hijau itu ketika sebuah kilatan lampu menarik perhatiannya. Sebuah Jeep Wrangler hitam, gagah, berdiri di ujung parkiran.Jagara meli

  • Sehangat Dekapan Mantan   104| Gagalnya Rencana

    Sebenarnya, begitu banyak permasalahan yang ada di kepala Raya saat ini. Ia ingin menceritakan desas-desus yang mulai beredar di rumah sakit, tentang bagaimana beberapa kolega menatapnya dengan pandangan aneh, tentang seorang pasien yang bahkan bertanya apakah ia benar seorang selingkuhan. Ia ingin meluapkannya semua, membagi beban itu pada Jagara. Tapi kemudian, ia ingat perjuangan yang sejauh ini sudah lelaki itu berikan untuk melindunginya, ancaman Ardava, konfrontasi dengan Kirani, bahkan pembatalan pertunangan yang pasti mengguncang dunianya. Mengingat semua itu, Raya memilih menutup mulutnya rapat-rapat. Ia yakin, permasalahan yang kini sedang dihadapi lelaki itu jauh lebih besar dan berat.Tapi lihat bagaimana Jagara sekarang memperlakukannya. Dengan gerakan lembut yang hampir tidak percaya, lelaki itu meletakkan sepasang sandal rumah berwarna pink muda di hadapan Raya, sebuah kontras yang mencolok dengan pria berwibawa sepertinya.Mereka baru saja tiba di apartemen utama Ja

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status