LOGINDua hari berlalu sejak pertengkaran hebat itu. Dua hari tanpa Jagara.
Raya menggunakannya sebagai sebuah pelepasan, sebuah upaya sia-sia untuk mencari kembali potongan dirinya yang berserakan di mana-mana.
Ia berkeliling Bali. Ia menyaksikan matahari terbenam yang dramatis di Uluwatu, duduk di atas tebing karang sambil menikmati pertunjukan Tari Kecak yang magis, di mana puluhan pria bertelanjang dada mengiringi cerita Ramayana dengan suara "cak, cak, cak" yang hipnotis.
Tanpa ponsel, tanpa gangguan. Hanya dirinya seorang diri dan keajaiban Bali.
Ia bahkan berkunjung ke beberapa museum di Ubud, membiarkan dirinya terserap dalam seni dan sejarah, mencoba melupakan penderitaan modernnya. Tidak sampai disana, Raya juga menikmati pijatan Bali yang kuat dan menenangkan, mencoba meremas remas-remas ketegangan di otot-ototnya yang sudah terbentuk selama berminggu-minggu.
Kemudian, ia membeli beberapa baju baru, gaun-gaun sederhana yang terasa lebih 'layak' untuk dikenakan, dan berakhir dengan memakan es krim rasa vanilla dengan karamel saat dalam perjalanan pulang ke hotel.
Untuk sesaat, ia hampir merasa damai. Hampir.
Dengan bersenandung kecil, Raya berjalan memasuki koridor hotel yang dihiasi karpet mewah berwarna merah marun.
Sampai pandangannya terkunci pada sosok yang tengah duduk bersandar di depan pintu kamarnya. Punggungnya menyandar di dinding, kepalanya menunduk, namun seketika menoleh ke arahnya saat mendengar gesekan kantung plastik dari belanjaan yang ia bawa.
Sontak, langkah Raya melambat. Apalagi saat sosok itu beranjak bangkit dari posisinya dan menghadap ke arahnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ponsel kamu mati?" pertanyaan pertama datang menyambut Raya, terdengar datar namun ada kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya.
Yang Raya hanya balas dengan lirikan singkat dan mengeluarkan kartu kamar, lalu menempelkannya pada kunci otomatis. Ia berniat tidak menggubris Jagara dan masuk ke dalam kamarnya, sebelum kaki yang beralaskan sepatu kets putih Jagara menghadang jalannya.
Dengan gerakan pelan, Raya hanya membiarkan dan beranjak masuk.
Belum juga menaruh barang-barang belanjaannya, suara Jagara kembali terdengar ketika pintu kamarnya tertutup sempurna, mengunci mereka berdua dalam ruangan yang terasa terlalu kecil.
"Saya minta maaf atas ucapan terakhir saya, Raya."
Atas ucapan manis itu, Raya mendengus.
Jagara terdiam, masih dengan wajah datarnya yang sulit dibaca. "Saya sudah melupakan kejadian yang telah lewat. Saya sudah memaafkan semuanya."
Namun, Jagara tetaplah Jagara. Meski kini penampilan tampan itu berbalutkan merk mahal, hatinya sepertinya tidak ikut berubah. "Saya gak pernah benci kamu, Raya." imbuhnya seolah memahami isi pemikirannya.
Raya terdiam. Kalimat itu seakan memiliki kekuatan magnetik, menariknya mendekat. Dadanya bergemuruh, dipenuhi debaran yang bahkan tak bisa ia namai. Semua kekacauan yang menumpuk—kemarahan, rasa malu, dan letupan emosi yang tidak punya tempat—membuat langkah Raya goyah sesaat.
Ia tidak sadar kakinya menyenggol kaki meja kecil di samping sofa.
“Ah—!”
Tubuhnya terhuyung ke depan. Es krim vanilla di tangannya terlepas, jatuh menimpa karpet mahal dan meninggalkan noda pucat yang mencolok.
Namun sebelum Raya sempat memikirkan kerugian itu, momentum tubuhnya menariknya lebih jauh.
Jagara yang berdiri terlalu dekat hanya sempat terbelalak.
Dan dalam sepersekian detik—
Bibirnya berlabuh di miliknya.
Bibir yang sudah lama tak ia rasakan. Bibir yang terasa asing namun akrab, yang terasa hangat dan memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang menggelayut di benaknya.
Sementara Jagara mematung di tempatnya, matanya yang terkejut terbuka lebar saat merasakan manisnya es krim itu mencair di bibirnya.Hanya singkat. Setelah Raya, dengan kesadaran gilanya, membuka kedua matanya dan berakhir menjauhkan diri.
"Gara, aku..." Raya gelagapan, napasnya tersengal. "Aku... maaf."
Dan ia berniat beranjak dari tempatnya sebelum sambaran tangan Jagara yang kuat menariknya kembali pada posisi semula. Menautkan bibirnya di bibir manis Raya, menciumnya sebentar, lalu melumatnya dengan ganas.
Seakan melampiaskan kerinduan yang sudah tujuh tahun ini ia pendam. Melampiaskannya dengan gigitan kecil di lidah dan bibir Raya yang membuat pemiliknya meringis kecil, sebelum tertawa terkekeh di tempatnya.
Sementara Jagara, masih dengan fokusnya. Ia menarik tubuh Raya mendekat, menempel jadi satu dengannya, sementara langkahnya maju.
Mendekat ke arah kasur king size yang tergeletak menggoda di belakangnya. Mendorong tubuh Raya ke atasnya hingga membuat jeritan kecil Raya keluar. Raya menatap Jagara dengan bibir yang sama bengkaknya dengan dirinya dan basah karna air liur mereka.
Mata Raya turun saat tangan Jagara perlahan membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Gara..." Raya bersuara memperingati, membuat Jagara terkekeh di tempatnya.
"Kenapa? Kamu yang mau buka?" pancing Jagara dengan menampilkan deretan gigi putihnya yang begitu menawan, kelemahan Raya sejak dulu.
Namun, tidak. Raya menggeleng lemah dengan napas naik turun yang tidak teratur. "Ini salah, Gara. Kita gak bisa–”
Dan seketika, wajah Jagara kembali kaku. Tangannya yang sedang berada di tengah kancing ketiga berhenti.
Sebuah tawa kecil, pahit dan tanpa humor, keluar dari bibirnya. Ia menarik tangannya perlahan, lalu duduk dan membelakangi Raya. Menyadari kebenaran pahit dari apa yang Raya ucapkan tadi. Ia menopang kedua tangan di atas pahanya, menunduk, melepaskan napas yang terasa berat dan beracun.
"Pernikahan saya... diundur, Raya," katanya, suaranya serak. "Atau mungkin terancam batal. Saya juga masih belum tahu pastinya."
Mata Raya membulat. Dengan gerakan cepat, ia bangkit dan duduk di sebelah Jagara, jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma aftershave Jagara yang masih familiar. "Maksud kamu? Kenapa?"
Jagara melirik sebentar ke arah Raya, matanya terlihat kosong dan terluka.
Jagara berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan. "Saya melihatnya bertemu pria lain. Mereka makan malam bersama, bercanda, dan... dia memeluknya. Sangat erat."
Dagunya menegang saat mengingatnya. "Dia tidak tahu saya ada di sana. Tapi pemandangan itu sudah cukup. Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan dalam waktu dekat."
“Bisa jadi itu sahabatnya, kan?”
Kemudian lelaki itu tertawa kecil, pahit dan singkat. “Itu mantan kekasihnya.” lelaki itu diam sebentar, dalam keheningan sesaat sebelum kembali bersuara. "Bukannya adil, kalau perselingkuhan dibalas dengan perselingkuhan?"
Raya menelan air liurnya kuat, merasakan dada sesak. Ia tidak tahu harus berkata apa. "Kamu... kamu harus bicara baik-baik sama dia, Gara." ujarnya parau, berniat untuk beranjak menuju kamar mandi, mencari udara segar, sebelum sambaran tangan Jagara yang hangat menghentikan langkahnya.
Wajah Raya menunduk, menatap Jagara yang masih duduk di tempatnya. Jagara mengangkat wajahnya, menatap Raya dengan mata yang berkaca-kaca, penuh dengan keputusasaan dan harapan yang bercampur aduk.
"Setidaknya, kandasnya hubungan kita dulu bukan karna orang ketiga, kan?”
Lalu tatapan Jagara berubah semu, seperti memohon ditengah keheningan malam, “Dan, Raya," katanya, suaranya ambigu namun sarat akan makna, "bukan hanya saya kan yang merasa, kalau hubungan kita... memang belum selesai?"
Baru saja Raya ingin merespon, tarikan tangan kokoh Jagara sudah lebih dahulu membawa tubuh Raya jatuh ke atasnya, kini ia yang berbaring di kasur.
Sementara bibir Jagara kembali menaut bibirnya, kali ini dengan ciuman yang lebih liar, lebih membabi buta, dengan lidah yang ia mainkan di seluruh rongga mulut Raya. Menyecapnya, merasakan rasa yang begitu sempurna dan memabukkan di bibir Jagara.
Tidak berhenti sampai di sana. Jagara sudah lebih dahulu meremas dua gunung yang menonjol menggoda di balik kaosnya, meremasnya kuat hingga ia bisa melihat Raya meringis di atasnya.
Namun ekspresi penuh sensasi itu justru membuat Jagara semakin membabi buta. Ia membuka paksa kaos oblong milik Raya, meninggalkan bra putih yang kontras dengan kulit sawo matangnya yang begitu menggoda.
Ia merindukan ini. Tubuh ini. Aroma Raya. Dan cara Raya merespons semua sentuhannya dengan kepala yang mendongak, menikmati sensasi bibir Jagara di perut ratanya. Hembusan napas Jagura yang begitu memabukkan.
Dan di tengah-tengah itu semua, ponsel yang Jagara letakkan di meja samping kasur bergetar. Membawa kedua kepala itu menoleh ke arah yang sama, dan seketika, tubuh Raya menegang.
Tunangannya menghubungi Jagara.
Kontak dengan emoticon hati itu muncul jelas di layar, membuat Jagara seketika berpaling ke arah Raya. Ia mendapati ekspresi Raya dengan bibir bawahnya yang ia gigit kuat menahan rasa bersalah.
Hal yang sama yang Jagara rasakan, seolah ia ikut merasa bersalah, Jagara mengulurkan satu tangannya dan berakhir membalik ponselnya, agar Raya berhenti menatapnya dengan tatapan penuh dosa seperti itu.
Tangan kokoh Jagara menarik dagu Raya agar menatapnya. Raya diam, menatap Jagara sebentar, sebelum kali ini, ia yang menciumi Jagara lebih dahulu.
Menelusuri leher Jagara yang panas dan turun ke dada bidang dan perut kotak-kotak yang entah sejak kapan terbentuk begitu sempurna di bawah kaosnya.
"Raya..." desahan panjang lolos dari bibir Jagara, menikmati bagaimana Raya memainkan miliknya dengan satu tangannya, sementara matanya melirik saat Raya menatapnya dengan kilat nakal.
Kesadaran Raya kembali perlahan, seperti seseorang yang dipaksa bangun dari dasar laut.Awalnya hanya suara—dengung mesin yang ritmis, halus namun konstan. Entah monitor jantung atau alat medis lain, Raya tak langsung tahu. Kepalanya terasa berat, kelopak matanya kaku, dan tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri. Ia mengerjap sekali. Dua kali. Pandangannya masih buram ketika cahaya putih di atas kepalanya menyilaukan, memaksanya memejam lagi.Napasnya terdengar sendiri di telinga.Ketika akhirnya ia membuka mata lebih lebar, siluet seseorang duduk di samping ranjang mulai terbentuk. Sosok itu diam, terlalu diam, dengan postur tegap dan aura yang—bahkan dalam kondisi setengah sadar—terasa begitu familiar.Raya menegang.Indra pendengarannya kembali sepenuhnya bersamaan dengan detak jantungnya yang mendadak memburu.Jagara.Lelaki itu duduk di kursi samping ranjang rumah sakit, kedua tangannya terlipat di depan dada, rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus tertuju padanya. Tatapan yang
Pagi itu datang tanpa membawa apa pun selain rasa kosong.Raya terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh denyut tumpul di pelipis dan mata yang terasa berat seperti diisi pasir. Ia menatap langit-langit apartemen kecilnya di Jerman cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang berubah sejak malam sebelumnya. Tapi tidak ada. Dadanya masih terasa sesak, napasnya pendek-pendek, dan bayangan wajah Jagara—datar, dingin, penuh jarak—masih berputar tanpa izin di kepalanya.Ia bangun dengan gerakan lambat. Langkahnya menuju kamar mandi pun terasa asing, seakan tubuhnya berjalan sendiri tanpa semangat. Di depan cermin, Raya terdiam. Matanya bengkak, kelopaknya sembap, bagian putihnya memerah. Bekas tangis semalam terlalu jelas untuk disembunyikan. Ia menyalakan keran, membasuh wajah berkali-kali dengan air dingin, berharap bisa menghapus jejak malam yang menghancurkannya. Tapi air hanya membuat kulitnya dingin, tidak menyentuh perasaan.“Harus kerja,” gumamnya pelan, seperti mengingatkan di
Raya tahu ia tidak seharusnya melakukan ini.Sejak awal, langkahnya sudah salah. Kebodohan terbesarnya adalah ketika ia berdiri terlalu lama di depan meja informasi rumah sakit sore tadi, lalu—dengan alasan yang ia buat sendiri—menanyakan alamat tempat tinggal Jagara kepada bagian administrasi. Ia bahkan masih ingat bagaimana jemarinya sedikit gemetar saat mengucapkan nama itu, seolah hanya dengan menyebutnya saja ia telah mengkhianati keputusan yang susah payah ia buat berbulan-bulan lalu.Dan kini, kebodohan itu membawanya berdiri di sini.Di depan sebuah hotel mewah di pusat kota, bangunannya menjulang dengan fasad kaca dan batu gelap yang memantulkan cahaya lampu malam Jerman. Nama hotel itu terpampang elegan di atas pintu masuk, huruf-huruf emasnya berkilau tenang, seolah tidak peduli pada kekacauan yang sedang berputar di dada Raya.Coat hitam panjang milik Jagara masih tersampir di lengannya, satu alasan yang ia miliki untuk bertemu Jagara, mengembalikan coat itu. Ia tahu alasa
“Ga… Gara?”Nama itu keluar nyaris tanpa suara, seperti napas yang tersangkut di tenggorokan. Jagara tidak langsung menjawab. Ia memutus kontak mata lebih dulu, seolah jika ia terus menatap, ada sesuatu di dadanya yang akan runtuh tanpa bisa diperbaiki lagi.Langkahnya mantap, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipanggil oleh masa lalunya. Ia berjalan ke arah kursi periksa dokter gigi, kursi dental berwarna putih dengan sandaran tinggi—lalu duduk tanpa banyak ekspresi. Tubuhnya bersandar ketika sandaran kursi perlahan direbahkan oleh perawat, lampu sorot bulat di atas kepalanya dinyalakan, memantulkan cahaya terang yang menusuk mata.Perawat mengenakan dental bib—pelindung kain tipis—di dada Jagara agar pakaiannya tidak terkena cairan. Tangannya cekatan, profesional, seolah ini hanyalah pemeriksaan biasa. Jagara membiarkan semua itu terjadi tanpa protes. Pandangannya kosong, menatap langit-langit putih, sementara pikirannya penuh oleh satu wajah yang kini berdiri kaku di sa
Jagara selalu menyukai negara ini dari kejauhan.Bukan karena ia pernah berjalan di jalanannya, bukan pula karena kenangan personal yang melekat. Ia hanya menyukai gambaran yang selama ini ia lihat, tentang kota-kota yang tertib, musim dingin yang jujur, dan kesunyian yang tidak memaksa siapa pun untuk berpura-pura bahagia.Kini, untuk pertama kalinya, ia datang.Bukan sebagai turis. Bukan sebagai pebisnis. Dan jelas bukan sebagai pria yang hidupnya baik-baik saja.Dengan hanya sebuah tas tenteng kecil yang isinya tidak lebih dari beberapa helai pakaian dan dokumen penting, Jagara melangkah keluar dari bandara. Tidak ada Baim di belakangnya, tidak ada pengawal yang biasa menjaga jarak satu langkah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar sendirian.Udara menyambutnya dengan dingin yang kasar.Angin menusuk sela-sela coat hitam panjang yang ia kenakan, membuatnya refleks merapatkan kain itu ke tubuhnya. Ia tahu ia salah kostum. Musim dingin di negara ini tidak meng
Jagara benar-benar mengacau.Bar itu penuh cahaya temaram dan suara musik rendah yang bergetar di dada, tapi tak satu pun benar-benar masuk ke kepalanya. Gelas di tangannya sudah berganti entah ke berapa kali, es mencair, alkohol menggerus kesadarannya perlahan. Jas mahalnya tergeletak sembarangan di kursi sebelah, dasinya sudah tak beraturan. Jagara menunduk di meja bar, bahunya naik turun, napasnya berat, seolah setiap tarikan udara adalah beban yang tak sanggup lagi ia pikul.Ponsel di sakunya bergetar berkali-kali yang tentu tak dihiraukan.Getaran itu akhirnya berhenti, lalu kembali menyala—lebih lama kali ini. Baim, yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menghela napas sebelum meraih ponsel itu. Nama 'Mama' terpampang di layar. Jantungnya berdegup tak nyaman.“Gara kamu—” suara Ratna terdengar tajam bahkan sebelum Baim sempat menyapa.“Maaf, Ibu,” Baim memotong dengan sopan, suaranya ditahan agar tetap stabil. Matanya melirik Jagara yang kini benar-benar terkulai di atas mej







