Share

Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung
Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung
Author: Silas

Bab 1

Author: Silas
Baru ketika pramugari mendorong troli minuman lewat, Rian tiba-tiba teringat kalau aku ada di sana.

Dengan penuh perhatian, dia memutar tutup botolnya hingga terbuka, lalu meletakkannya di depan Sherly.

Setelah itu, dia menyodorkan sebotol air mineral ke arahku.

"Alya, aku nggak tahu kamu mau minum apa, jadi aku ambilin air putih aja, ya."

Dia ingat Sherly suka jus semangka. Namun, tidak tahu pacarnya sendiri mau minum apa.

Hidungku mendadak perih.

Rasa senang yang tadi sempat membuncah karena nilai ujianku yang di luar dugaan, lenyap begitu saja dalam sekejap.

Aku tidak mengambil botol itu. Cuma memanggil pramugari, lalu membeli sebotol jus semangka untuk diriku sendiri.

Tangan Rian yang masih terulur menyodorkan air itu membeku di udara.

Sebersit ketidaksenangan melintas di wajahnya.

"Alya, bukannya kamu yang ngotot minta liburan kelulusan ini?"

"Aku benaran nggak ngerti, kenapa beberapa hari ini kamu terus-terusan cemberut."

Tiga tahun lalu, supaya aku mau masuk SMA yang sama dengannya, dia berjanji akan membawaku liburan ke Kanawa begitu kami lulus.

Maka selama tiga tahun penuh, aku membayangkan kami berdiri di tepi laut bersama. Mengendarai skuter listrik kecil, mengejar matahari terbit berdua.

Namun, sekarang? Seolah-olah aku yang memaksa ingin datang.

Bahkan, tepat sebelum keberangkatan, aku baru tahu Rian juga mengajak Sherly.

Hari pertama kami tiba di pantai, Rian mengambil buku panduan wisata yang kugambar sendiri dengan tangan.

Sherly langsung mendekat, wajahnya tampak serba salah. "Tempat yang mau dikunjungi banyak banget, deh. Sepatuku nggak cocok buat jalan sejauh itu."

Dan begitu saja, Rian membatalkan seluruh rencana yang sudah kususun.

Buku panduan yang kususun dengan begadang selama beberapa malam, dia lempar begitu saja ke tempat sampah.

"Alya, kalau lagi liburan tuh yang santai aja."

"Nggak usah sekaku itu."

Lalu, kami pergi ke Pantai Pink. Spot paling ikonik di Kanawa.

Sherly bertanya dengan pipi sedikit memerah. "Alya, aku boleh foto bareng Rian, nggak? Kalau sendirian, aku nggak tahu harus pose gimana. Malu banget."

Belum sempat aku menjawab, sebuah kamera polaroid sudah diletakkan ke tanganku oleh Rian.

"Alya, nggak usah pikirin aku. Yang penting Sherly keliatan cantik di fotonya."

Aku tersenyum getir. Aku bahkan sudah tak punya tenaga untuk menolak.

Dulu, aku sampai berlatih memotret berminggu-minggu. Hanya demi satu foto berdua di tepi laut, foto yang akan kuunggah untuk mengumumkan hubungan kami pada dunia.

Namun sekarang, di Pantai Pink ini, kamera di tanganku justru mengabadikan pacarku bersama orang lain.

Suara Sherly membuyarkan lamunanku.

Dengan cekatan, Sherly menyambar botol air itu sebelum sempat menggantung canggung di udara, lalu menepuk lengan Rian dengan nada setengah menegur.

"Rian, Alya pasti lagi bete gara-gara nilainya nggak bagus."

"Kamu 'kan pacarnya. Kenapa nggak bisa lebih pengertian sedikit, sih?"

"Cepetan minta maaf!"

Sherly memang selalu pengertian seperti itu.

Maka, sejak dia tinggal di rumahku waktu SMA, kami berdua seolah selalu jadi bahan perbandingan.

Dia manis, penurut, pandai mengambil hati, disukai semua orang. Sementara aku, di bawah bayangannya, tak lebih dari si pembuat onar yang tak punya satu pun kelebihan.

Padahal, Ayah dan Ibu pernah bilang mereka paling suka sifatku yang bebas dan apa adanya. Karena itulah mereka memberiku nama kecil Alya.

Namun, sejak Sherly datang, kalimat yang paling sering kudengar berubah menjadi.

"Alya, kamu nggak bisa, ya, meniru Sherly sedikit saja?"

Bahkan Rian, yang tumbuh bersamaku sejak kecil, bukan pengecualian.

Dia berdiri, lalu menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.

"Maaf ya, Sherly. Aku tadi kelepasan terlalu senang, sampai nggak jaga sikap."

Dia memang minta maaf. Namun, kata-katanya justru ditujukan untuk Sherly.

Untuk sesaat, aku sampai bingung. Sebenarnya, dia minta maaf untuk apa?

Sherly menghampiri, lalu berjongkok di samping kursiku.

"Alya, udah, jangan dengerin dia."

"Paling-paling kamu ngulang setahun. Nanti kami tunggu di Universitas Nusa Bangsa, kok."

Rian langsung menyahut, mendukung kata-katanya.

"Iya, Alya. Meskipun dasarmu emang agak kurang, kalau belajar setahun lagi, pasti bisa masuk Universitas Nusa Bangsa."

"Nanti aku sama Sherly bakal bimbing kamu belajar, kok."

Aku tidak menyahut. Hanya menunduk, menggulir layar ponsel dalam diam.

Nilai ujianku kali ini jauh melampaui perkiraan, 60 poin lebih tinggi dari ujian simulasi terakhir.

Dengan nilai segini, semua jurusan di Universitas Nusa Bangsa pun bisa kupilih.

Namun sekarang, aku tidak ingin lagi bersama mereka.

Aku tidak mau lagi jadi bahan perbandingan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 9

    Rian berdiri di depan gedung perkuliahan, terlihat jauh lebih murung dari biasanya.Ketika melihatku, matanya berbinar."Alya!""Aku sudah mencarimu berkali-kali. Akhirnya ketemu juga."Saat berbicara, nada suaranya terdengar sedikit sengau, seolah menahan rasa sedih. Dia maju, ingin menggenggam tanganku. Namun, aku mundur beberapa langkah."Rian.""Kamu ini mau apa, sih? Sudah cukup belum dramanya?"Aku pernah menyukai Rian selama bertahun-tahun. Tidak pernah sekali pun aku berkata kasar padanya.Sekarang dia membeku di tempat."Alya ... kamu bilang apa tadi?""Kamu tahu nggak, seberapa besar aku merindukanmu?""Aku terus menunggumu di Universitas Nusa Bangsa. Kenapa kamu malah daftar di sini?"Aku melirik jam. Sudah hampir masuk kelas.Aku sudah tidak punya kesabaran lagi. Aku langsung berkata terus terang. "Karena aku nggak mau lihat kamu sama Sherly.""Aku muak melihatmu. Puas?"Setelah bicara begitu, aku berjalan melewatinya, menuju gedung perkuliahan.Tiba-tiba dia berlari meng

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 8

    Medali di tanganku jatuh ke tanah.Aku terus mundur. Kakiku menginjak batu hingga tubuhku kehilangan keseimbangan, lalu aku jatuh terduduk di tanah. Ayah dan Ibu mendekat, ingin membantuku berdiri. Namun, kenangan-kenangan buruk itu ....Kenangan yang hampir berhasil kulupakan kembali menyerang bersamaan dengan nyeri yang menusuk di dada."Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!"Tangan Ayah dan Ibu membeku di udara. Kepahitan memenuhi mata mereka. "Alya ....""Kamu kenapa, Nak? Ini Ibu, lho."Air mata terus mengalir dari sudut mataku. Aku terisak.Kata demi kata, kuucapkan semua momen saat aku diabaikan, saat perasaanku dianggap tak penting."Di hatiku, Ibu sudah bukan ibuku sejak lama.""Aku nggak punya Ibu yang cuma ingat selera orang lain.""Aku nggak punya Ibu yang nggak pernah lihat usahaku, yang selalu merasa aku kalah dari orang lain dalam segala hal."Aku menoleh ke Ayah yang berdiri di samping, diam, tetapi air matanya mengalir deras."Aku juga nggak punya Ayah yang selalu me

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 7

    Begitu turun dari pesawat, aku baru saja menyalakan ponsel.Ponselku langsung seperti terkena virus, ratusan pesan bermunculan.Ditambah panggilan tak terjawab dari berbagai orang.Ibu meninggalkan pesan di chat.[Alya, kamu ini kok keras kepala banget, sih.][Nilaimu sebaik ini, kenapa nggak bilang ke kami?][Alya, kamu di mana? Kapan kamu bisa bikin Ibu tenang, sih?]Rian juga mengirim banyak pesan.[Alya, kamu ternyata dapat nilai setinggi ini! Bagus banget! Kita bisa ke Universitas Nusa Bangsa bersama!][Udah, jangan ngambek lagi. Bibi jadi khawatir, nih. Cepetan pulang, ya.][Beberapa hari lagi kita daftar ke kampus bareng, ya.]Aku mengernyit sambil membaca semua pesan itu, lalu langsung memblokir dan menghapus semuanya. Aku melangkah keluar dari bandara. Angin Kota Samudra menyambut wajahku.Membawa keberanian yang baru lahir, aku akan menyongsong masa depan yang benar-benar milikku.Saat keluar dari bandara, aku sedang mencari rute ke kampus di aplikasi navigasi.Seorang wanit

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 6

    Napas Rian tercekat. Dia langsung merebut ponsel itu.Menatap angka di layar dan kode verifikasinya, berulang kali.Lalu mengeluarkan ponselnya sendiri, membandingkannya.Dia menatap Ibu, bibirnya bergerak-gerak, tetapi tak satu pun kata pembelaan keluar.Karena aku memang benar-benar dapat nilai setinggi itu. Dan dia memang benar-benar bilang aku harus mengulang."Bibi ...."Ibu mengangkat tangan, memotong kata-katanya, lalu berbalik pergi.Di jalan, Ibu terus-menerus meneleponku.Rian juga berjongkok di sudut aula pesta, mengirim banyak pesan untukku.Saat itu aku sedang berada di dalam pesawat. Tidak tahu apa-apa.Sesampainya di rumah, Ibu langsung membuka pintu dengan tergesa-gesa.Dia berteriak memanggil namaku di seluruh rumah. Namun sekeras apa pun, tidak ada yang menyahut.Ayah menyusul di belakang. Tiba-tiba keduanya terpikir sesuatu, lalu berlari naik ke lantai atas.Kamar masih terlihat seperti biasa.Hanya saja, di tempat sampah terlihat jelas tumpukan foto dan polaroid yan

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 5

    Brak! Ponsel di tangan Ibu terjatuh ke lantai. Ibu membeku di tempat.Ayah juga kaget melihat reaksi Ibu.Ayah memungut ponsel itu, lalu bertanya lagi dengan nada tak percaya."Bu Indri, apa mungkin ada kekeliruan?""Sherly aja cuma dapat 670. Mana mungkin Alya dapat nilai setinggi itu."Bu Indri makin bingung.Dia tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang tua yang begitu tidak peduli pada anaknya? Baru tahu nilainya sekarang, itu pun karena orang lain yang memberi tahu.Bahkan setelah tahu pun, reaksi pertama mereka bukannya senang, melainkan tidak percaya sama sekali."Ayah Alya, saya sangat yakin. Alya kali ini tampil luar biasa.""Dia benar-benar dapat 686 poin."Ayah langsung kehilangan seluruh tenaganya. Dia jatuh terduduk di kursi.Di atas panggung, pembawa acara memanggil mereka naik untuk memberikan sambutan sebagai orang tua Sherly. Seluruh lampu di aula pesta menyorot ke wajah mereka.Namun saat ini, wajah mereka berdua sudah pucat pasi.Di bawah tatapan semua orang, mer

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 4

    Upacara kelulusan selesai. Semua orang berjalan kembali.Bahkan baru setelah Sherly mengingatkan, Ayah, Ibu, dan Rian akhirnya teringat padaku."Alya, kamu kok pergi-pergi sendiri, sih."Aku tidak menjawab. Aku langsung masuk ke mobil tanpa menggubris mereka. Duduk di baris paling belakang.Mereka tidak peduli. Begitu masuk mobil, langsung bersemangat membahas universitas dan jurusan."Sherly, kamu sama Rian bareng di Universitas Nusa Bangsa, ya. Ada dia yang jagain kamu, kami jadi tenang."Sherly mengangguk dengan pipi merah.Soal pilihan jurusan, Ayah dan Ibu beda pendapat sampai sempat berdebat.Akhirnya, mereka memutuskan untuk mendengarkan pilihan Sherly sendiri."Sherly itu pintar, punya pendirian, nggak seperti Alya. Sherly nggak pernah bikin kami khawatir."Aku tidak berkata sepatah pun dari tadi.Hampir sampai rumah, baru mereka menyadari keberadaanku di baris paling belakang.Ibu bertanya, "Alya, kamu mau gimana?"Belum sempat aku menjawab, Rian sudah buka suara lebih dulu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status