Share

Mulai Bergerak

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-06-25 23:34:01

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca sebuah restoran sederhana di pinggiran kota, menyinari meja kayu tempat Hazel dan Arlo duduk berhadapan. Suasana tempat ini jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, memberikan privasi yang amat mereka butuhkan.

Semalam setelah acara lamaran, Hazel langsung menghubungi Arlo dan mengajaknya untuk bertemu esok hari untuk membahas beberapa hal penting.

Arlo menyesap kopi hitamnya, lalu menopang dagu dengan satu tangan sembari menatap Hazel jenaka. "Jadi... ba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    Terngiang-ngiang

    Sinar matahari pagi menerobos mulus melewati celah tirai kamar Hazel, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas sprei putih. Hazel terbangun dari tidurnya yang nyenyak, mengusap matanya perlahan sembari menguap lebar. Kebetulan hari ini adalah hari libur, jadi Hazel bisa sedikit lebih santai tanpa perlu terburu-buru berdandan rapi demi mengejar fingerprint kehadiran di kantor atau jam buka butik.Namun, mengabaikan fakta bahwa fisiknya sudah cukup beristirahat, benak Hazel justru langsung riuh. Hanya saja Hazel masih terngiang-ngiang akan kejadian dengan Arlo semalam. Bayangan tatapan mata pekat pria itu saat memegang jemarinya, kejujuran suaranya yang berat, dan hadiah kalung berlian biru langka yang kini tergeletak manis di atas meja riasnya mendadak berputar ulang tanpa permisi.Bahkan saat ini wajahnya kembali memerah ketika teringat kejadian itu. Hazel menutupi pipinya yang panas dengan kedua telapak tangan, menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal."Astaga, Hazel... S

  • Sekarang, Giliranku!    ditinggal

    Axel terdiam sejenak, kepalanya kembali mencerna apa yang terjadi sebelumnya. Hembusan angin malam yang dingin di atas Bukit Berbintang seolah sedikit menusuk otaknya, meluruhkan kabut emosi yang selama ini menyumbat logikanya. Kali ini Axel sedikit sadar dan menurutnya memancing rasa cemburu Hazel dengan jalan dengan Luna bukan cara yang benar.Ia menatap sosok Luna di sampingnya. Justru jika diingat-ingat kembali dengan kepala dingin, hubungan antara dirinya dan Hazel selalu bertengkar dan lebih renggang jika bersama dengan LuLunaSetiap kali ada kemelut, keberadaan Luna bukannya menjadi penengah, melainkan minyak tanah yang menyiram kobaran api.Bahkan Axel sempat memikirkan pertanyaan Hazel sebelum hubungan mereka benar-benar sehancur ini. Suara serak Hazel yang bergetar menahan tangis malam itu mendadak bergema nyaring di dalam gendang telinganya."Kamu mengenaliku bukan cuma satu atau dua hari saja, Axel! Tapi kamu benar-benar tidak bisa melihat siapa korban sebenarnya di sini?

  • Sekarang, Giliranku!    apa isinya?

    Hazel terkejut karena saat ia menoleh ke sampingnya, Arlo sudah di sana—berdiri begitu dekat hingga hembusan napas hangat pria itu terasa merayapi kulit pipinya. Kehadiran Arlo yang tanpa suara membuat Hazel terpaku, sehingga kedua mata mereka saling bertemu. Cukup lama keduanya bertatapan mata. Manik mata Arlo yang pekat menatap Hazel dengan pendar kehangatan yang amat dalam, seolah mengunci seluruh fokus dunia hanya pada gadis di hadapannya.Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, Hazel mendadak merasakan desiran aneh di dadanya. Denyut nadinya berpacu liar, jauh lebih cepat daripada saat ia dikejutkan oleh ledakan confetti tadi."A-Arlo?" batinnya gugup. Hingga akhirnya Hazel tersadar karena detak jantungnya yang tidak stabil. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke sembarang arah, mengusap leher belakangnya dengan canggung. Hazel langsung salah tingkah dibuatnya. Pipinya merona merah, dan ia pura-pura sibuk merapikan tatanan gaun manekin di dekatnya agar tidak ketah

  • Sekarang, Giliranku!    surprise

    Mobil SUV hitam milik Arlo membelah kepadatan jalan raya dengan kecepatan sedang. Di dalam kabin, atmosfer terasa begitu kontras. Arlo mengemudi dengan santai, sementara Hazel duduk tegak di kursi penumpang dengan wajah merah padam menahan gemas.Hazel terus mendesak Arlo agar mengaku, mencecar pria itu tanpa ampun. "Arlo! Katakan sekarang! Ada apa dengan butikku? Apakah ada kebocoran pipa? Apakah ada supplier yang membatalkan kain sutra kita? Atau... atau Yaya pingsan karena kelelahan?!"Namun Arlo tetap tidak akan memberitahu. Pria itu hanya menatap lurus ke depan, sesekali menyesuaikan pegangannya pada lingkar kemudi, lalu mengulas senyum tipis yang amat misterius. Ketenangan Arlo justru membuat tingkat kepanikan Hazel melonjak ke ubun-ubun. Rasa-rasanya Hazel ingin sekali mencubit lengan tegap pria di sampingnya itu agar mau membuka suara.Hingga akhirnya mereka tiba di butik Hazel. Mobil berhenti sempurna di pelataran parkir yang biasanya terang benderang oleh pendar lampu neon

  • Sekarang, Giliranku!    ada apa

    John terdiam sejenak. Kata 'Luna' yang meluncur dari bibir Hazel bagaikan paku bumi yang menancap tepat di tengah ruang geraknya. Pria paruh baya itu berdiri mematung di tengah ruangan, mulutnya teratup rapat dengan raut wajah yang mendadak linglung dan penuh keraguan. "Kenapa Papa diam? Apa lagi yang Papa inginkan?!" desak Hazel yang sudah tidak tahan lahi.John menggeleng, "Pergilah!" Tanpa melontarkan sepatah kata pembelaan, John pun membiarkan Hazel pergi begitu saja melintasi pintu kayu jati eksekutif tersebut.Begitu pintu ruangan papanya terkatup rapat di belakang punggungnya, Hazel menghembuskan napas panjang yang amat lega. Akhirnya Hazel bisa bebas dari rasa stres luar biasa setelah baru saja menghadapi dua pria paruh baya yang sangat bebal dan keras kepala. Menghadapi konfrontasi bisnis yang rumit rasanya jauh lebih mudah ketimbang meladeni dua orang tua yang matanya sudah tertutup oleh ambisi dan ego masing-masing.Hazel berjalan menyusuri koridor utama kantornya yang

  • Sekarang, Giliranku!    mengesampingkan ego

    Keheningan yang pekat merayap di antara mereka bertiga. Hazel menatap cangkir teh Tuan Baron yang memancarkan sisa-sisa uap tipis, berusaha mengurai benang kusut yang makin membelenggu pikirannya.Lagi-lagi Hazel harus mengesampingkan egonya terlebih dahulu demi menjaga masa depan perusahaannya.Jika ia mengamuk saat ini dan membeberkan semua borok Axel, harga diri Om Baron mungkin akan terluka hebat, dan dampaknya bisa menjalar pada pencabutan suntikan dana di perusahaan peninggalan almarhumah ibunya. Kepentingan bisnis yang rapat dengan urusan asmara memang selalu menjadi kombinasi yang memuaskan untuk membuat kepala Hazel terasa mau pecah.Akhirnya, setelah bercakap-cakap dengan Om Baron dan mendengarkan berbagai bujukan serta wejangan pria paruh baya itu, Hazel memilih mengalah secara taktis. Hazel tidak mau berdebat dan menghabiskan tenaganya untuk berurusan dengan keluarga Axel."Baiklah, Om Baron, Hazel mengerti," ucap Hazel dengan nada suara yang begitu manis, teratur, dan di

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status