Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / bukan imbalan berbentuk uang

Share

bukan imbalan berbentuk uang

Author: Perfect Wife
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-26 23:55:09

"Ini bukan tentang menjadi serakah atau tamak, Arlo," ujar Hazel, suaranya mendatar, namun ada ketukan dingin yang begitu tajam di setiap suku katanya.

Arlo menyela, "Aku tidak menganggapmu seperti itu, tentu saja kamu bukan tipe orang yang seperti itu! Hanya saja pasti ada alasan lainnya, kan?"

Padahal Arlo tidak pernah sekalipun berpikir buruk mengenai Hazel. Tapi entah kenapa Arlo merasa jika Hazel ini selalu berpikir jika Arlo selalu berprasangka buruk padanya.

Hazel menatap jus jeruknya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sekarang, Giliranku!    ditinggal

    Axel terdiam sejenak, kepalanya kembali mencerna apa yang terjadi sebelumnya. Hembusan angin malam yang dingin di atas Bukit Berbintang seolah sedikit menusuk otaknya, meluruhkan kabut emosi yang selama ini menyumbat logikanya. Kali ini Axel sedikit sadar dan menurutnya memancing rasa cemburu Hazel dengan jalan dengan Luna bukan cara yang benar.Ia menatap sosok Luna di sampingnya. Justru jika diingat-ingat kembali dengan kepala dingin, hubungan antara dirinya dan Hazel selalu bertengkar dan lebih renggang jika bersama dengan LuLunaSetiap kali ada kemelut, keberadaan Luna bukannya menjadi penengah, melainkan minyak tanah yang menyiram kobaran api.Bahkan Axel sempat memikirkan pertanyaan Hazel sebelum hubungan mereka benar-benar sehancur ini. Suara serak Hazel yang bergetar menahan tangis malam itu mendadak bergema nyaring di dalam gendang telinganya."Kamu mengenaliku bukan cuma satu atau dua hari saja, Axel! Tapi kamu benar-benar tidak bisa melihat siapa korban sebenarnya di sini?

  • Sekarang, Giliranku!    apa isinya?

    Hazel terkejut karena saat ia menoleh ke sampingnya, Arlo sudah di sana—berdiri begitu dekat hingga hembusan napas hangat pria itu terasa merayapi kulit pipinya. Kehadiran Arlo yang tanpa suara membuat Hazel terpaku, sehingga kedua mata mereka saling bertemu. Cukup lama keduanya bertatapan mata. Manik mata Arlo yang pekat menatap Hazel dengan pendar kehangatan yang amat dalam, seolah mengunci seluruh fokus dunia hanya pada gadis di hadapannya.Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, Hazel mendadak merasakan desiran aneh di dadanya. Denyut nadinya berpacu liar, jauh lebih cepat daripada saat ia dikejutkan oleh ledakan confetti tadi."A-Arlo?" batinnya gugup. Hingga akhirnya Hazel tersadar karena detak jantungnya yang tidak stabil. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke sembarang arah, mengusap leher belakangnya dengan canggung. Hazel langsung salah tingkah dibuatnya. Pipinya merona merah, dan ia pura-pura sibuk merapikan tatanan gaun manekin di dekatnya agar tidak ketah

  • Sekarang, Giliranku!    surprise

    Mobil SUV hitam milik Arlo membelah kepadatan jalan raya dengan kecepatan sedang. Di dalam kabin, atmosfer terasa begitu kontras. Arlo mengemudi dengan santai, sementara Hazel duduk tegak di kursi penumpang dengan wajah merah padam menahan gemas.Hazel terus mendesak Arlo agar mengaku, mencecar pria itu tanpa ampun. "Arlo! Katakan sekarang! Ada apa dengan butikku? Apakah ada kebocoran pipa? Apakah ada supplier yang membatalkan kain sutra kita? Atau... atau Yaya pingsan karena kelelahan?!"Namun Arlo tetap tidak akan memberitahu. Pria itu hanya menatap lurus ke depan, sesekali menyesuaikan pegangannya pada lingkar kemudi, lalu mengulas senyum tipis yang amat misterius. Ketenangan Arlo justru membuat tingkat kepanikan Hazel melonjak ke ubun-ubun. Rasa-rasanya Hazel ingin sekali mencubit lengan tegap pria di sampingnya itu agar mau membuka suara.Hingga akhirnya mereka tiba di butik Hazel. Mobil berhenti sempurna di pelataran parkir yang biasanya terang benderang oleh pendar lampu neon

  • Sekarang, Giliranku!    ada apa

    John terdiam sejenak. Kata 'Luna' yang meluncur dari bibir Hazel bagaikan paku bumi yang menancap tepat di tengah ruang geraknya. Pria paruh baya itu berdiri mematung di tengah ruangan, mulutnya teratup rapat dengan raut wajah yang mendadak linglung dan penuh keraguan. "Kenapa Papa diam? Apa lagi yang Papa inginkan?!" desak Hazel yang sudah tidak tahan lahi.John menggeleng, "Pergilah!" Tanpa melontarkan sepatah kata pembelaan, John pun membiarkan Hazel pergi begitu saja melintasi pintu kayu jati eksekutif tersebut.Begitu pintu ruangan papanya terkatup rapat di belakang punggungnya, Hazel menghembuskan napas panjang yang amat lega. Akhirnya Hazel bisa bebas dari rasa stres luar biasa setelah baru saja menghadapi dua pria paruh baya yang sangat bebal dan keras kepala. Menghadapi konfrontasi bisnis yang rumit rasanya jauh lebih mudah ketimbang meladeni dua orang tua yang matanya sudah tertutup oleh ambisi dan ego masing-masing.Hazel berjalan menyusuri koridor utama kantornya yang

  • Sekarang, Giliranku!    mengesampingkan ego

    Keheningan yang pekat merayap di antara mereka bertiga. Hazel menatap cangkir teh Tuan Baron yang memancarkan sisa-sisa uap tipis, berusaha mengurai benang kusut yang makin membelenggu pikirannya.Lagi-lagi Hazel harus mengesampingkan egonya terlebih dahulu demi menjaga masa depan perusahaannya.Jika ia mengamuk saat ini dan membeberkan semua borok Axel, harga diri Om Baron mungkin akan terluka hebat, dan dampaknya bisa menjalar pada pencabutan suntikan dana di perusahaan peninggalan almarhumah ibunya. Kepentingan bisnis yang rapat dengan urusan asmara memang selalu menjadi kombinasi yang memuaskan untuk membuat kepala Hazel terasa mau pecah.Akhirnya, setelah bercakap-cakap dengan Om Baron dan mendengarkan berbagai bujukan serta wejangan pria paruh baya itu, Hazel memilih mengalah secara taktis. Hazel tidak mau berdebat dan menghabiskan tenaganya untuk berurusan dengan keluarga Axel."Baiklah, Om Baron, Hazel mengerti," ucap Hazel dengan nada suara yang begitu manis, teratur, dan di

  • Sekarang, Giliranku!    diminta berpikir lagi

    Ruangan kerja berukuran luas itu mendadak menghening. Hawa dingin dari pendingin udara terasa menyengat kulit, berbanding terbalik dengan tatapan intens dari dua pria paruh baya yang kini tertuju sepenuhnya pada Hazel.Baron tentu saja ingin tahu alasannya. Sorot mata pengusaha senior itu menuntut penjelasan yang masuk akal dan tak bantah.Hazel menghela napas halus. Jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan meremas pelan. Karena Hazel tak ingin terjadi keributan yang lebih besar, tentu saja Hazel tidak mengatakan kebenarannya 100%, termasuk mengenai Axel yang terus memihak Luna. Jika ia membongkar seluruh kelakuan busuk Axel dan manipulasi Luna di sini, papanya pasti akan langsung murka tanpa arah, dan urusan ini akan melebar ke mana-mana. Bagaimanapun juga, perusahaan Tuan Baron merupakan salah satu penanam saham yang besar dan berpengaruh di perusahaan mama Hazel. Satu tindakan gegabah bisa berakibat fatal bagi warisan almarhumah ibunya.Dengan raut wajah yang tetap tenang d

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status