MasukSetelah jamuan makan itu, ayah tidak pernah lagi pergi ke restoran tersebut.Lukas pun sekali lagi kehilangan jejak tentang keberadaanku.Namun, dia tetap tidak menyerah. Dia terus berkeliaran di sekitar perkebunan tempatku menunggu kelahiran bayiku.Aku baru bertemu dengannya lagi satu tahun kemudian.Aku yang sudah melahirkan anakku sedang duduk bersama Shofia di sebuah kafe sudut jalan, tepat di samping jendela.Lukas yang berada di jalanan melihatku melalui jendela, matanya seketika memancarkan kegembiraan. Tanpa pikir panjang, dia langsung menerjang masuk ke dalam kafe."Andin!"Aku menatap matanya dalam-dalam, senyum di wajahku perlahan memudar."Tuan Argam, sudah lama tidak bertemu."Sikap dingin dan jarak yang aku tunjukkan terasa seperti siraman air es yang memadamkan sebagian besar kegembiraan serta harapannya.Sementara itu, Shofia yang duduk di sampingku menatapnya dengan waspada."Bisa kita bicara berdua? Lima menit aja." Suara Lukas terdengar serak, dia melirik perutku ya
Karena sibuk resepsi, aku sama sekali tidak menyadari keributan yang terjadi di sudut itu. Perhatianku sepenuhnya tercurah untuk menyapa tamu-tamu yang ramai dan mengurus berbagai tetek bengek upacara.Prosesi bahkan belum selesai, tapi aku sudah merasa kelelahan dan pinggangku pun mulai terasa sakit.Untungnya, Deon selalu bersikap lembut dan sopan saat merangkul, menemaniku menghadapi berbagai tamu maupun urusan yang mendadak.Setelah acara berakhir, Deon melepaskan sepatu hak tinggiku. DIa dengan lembut memijat kedua kakiku.Aku menatap pria lembut yang baru kutemui beberapa kali ini, hanya rasa terima kasih dan rasa bersalah yang memenuhi hatiku."Makasih ya. Nanti habis lahiran, aku bakal jelasin semuanya ke orang tua kita sesuai janji,terus aku bakal akhiri pernikahan ini sama kamu."Gerakan Deon tiba-tiba terhenti, beberapa detik kemudian dia mendongak dan melemparkan senyum tampan ke arahku."Nggak perlu buru-buru. Ini 'kan aku sendiri yang tawarin bantuan ke orang tuamu, jadi
Deon Argam?Lukas seolah terpaku di tempat seperti dipaku ke lantai.Seluruh darah di dalam tubuhnya terasa mendidih.Tubuhnya terus bergetar hebat, dan pandangannya mulai kabur."Apa?"Petugas yang tadi menahan Lukas menatapnya dengan heran, "Pria itu pengantin pria yang sebenarnya. Udah kuduga! Mana ada pengantin pria yang masuk ke aula telat begini!""Satpam! Cepat ke sini, ada penipu yang ngaku sebagai pengantin pria dan menyelinap ke pesta!"Petugas itu berdiri menghalangi Lukas sambil memanggil petugas keamanan melalui radio panggil dengan panik.Namun, Lukas tidak memedulikan teriakan di telinganya sama sekali.Dia terus menatap tajam ke arahku, juga pada lenganku yang menggandeng Deon.Tidak!Tidak mungkin!"Andin!"Dia mendorong petugas itu dengan kasar, tidak memedulikan apa pun dan hendak menerjang ke arahku.Sebuah bayangan menghalanginya dengan lebih cepat.Itu adalah Shofia, wajahnya menunjukkan ekspresi kemarahan yang luar biasa."Pergi!"Lukas membentaknya pelan, mencob
Lukas tertegun sejenak.Dari mana dia bisa punya undangan?Tapi tunggu, dia kan pengantin prianya, buat apa butuh undangan!Lukas pun mengerutkan alisnya dengan tidak sabar."Aku pengantin pria di pernikahan ini!""Pengantin pria? Maaf, boleh saya tahu nama Tuan siapa?"Petugas itu membuka daftar tamu dengan bingung untuk memeriksanya, tapi tangan Lukas segera menahannya."Namaku Lukas Argam, CEO Grup Argam! Siapa lagi Tuan Argam yang bisa menikahi Andin, putri dari Keluarga Tardi yang terhormat, kalau bukan aku?"Nada bicaranya terdengar dingin dan tidak terbantahkan.Petugas itu ikut terintimidasi oleh keyakinannya, lalu menatap Lukas dengan panik."Anda pengantin pria, Tuan Argam? Mohon maaf, mari saya antar Anda masuk ke aula sekarang."Lukas melangkah masuk ke ruang pernikahan dengan wajah masam, merasa kesal sekaligus jengkel melihat kerumunan tamu dan dekorasi aula yang indah.Pernikahan ini seharusnya dia yang mengurus semuanya.Lamaran, gaun pengantin, menu makanan, penentuan
Seminggu kemudian, Lukas yang akhirnya selesai mengurus urusan bisnisnya membuka kolom percakapan denganku.Antarmukanya masih menampilkan pesan terakhir yang dia kirimkan. [Aku udah bilang, aku nggak mau nikah terburu-buru. Kamu pikirin baik-baik dulu, kalau udah nggak maksa lagi, aku baru pulang.]Lukas mengernyit melihat tak ada balasan dariku.Dia sangat mengenalku. Meskipun setelah bertengkar atau perang dingin, aku selalu menjadi orang pertama yang menghubunginya dan bertanya kapan dia akan pulang.Namun kali ini, dia sudah pergi selama seminggu dan aku tidak mengirimkan satu pun pesan.Perasaan tidak tenang mulai muncul di dalam hatinya.Tepat pada saat itu, asistennya tiba-tiba mengangkat ponsel dan berteriak."Pak Lukas, lihat! Ini foto yang diposting Nona Shofia di Instagram! Hari ini adalah hari pernikahan Nona Andin Tardi! Keluarga Tardi juga mengundang banyak tamu!"Lukas segera merampas ponsel itu, melihat foto yang menampilkan aku mengenakan gaun pengantin sambil memegan
Aku membereskan segalanya sebelum pergi dengan tenang, bahkan menjual rumah kami dengan harga miring.Saat menyerahkan kunci kepada agen properti, aku menemukan dokumen proyek perusahaan Lukas di ruang kerja.Setelah ragu sejenak, aku memutuskan untuk mengantarkannya kepada Lukas.Baru saja sampai di depan pintu kantornya, aku sudah mendengar suara tawa dari dalam. Tidak hanya ada Terry dan Lukas, tapi juga teman-teman Lukas.Saat aku hendak mengetuk pintu, suara salah satu teman Lukas terdengar."Lukas, teman-teman yang lain udah tahu kalau kamu sama Andin berantem di pernikahan kemarin, mereka semua diam-diam tanya ke aku, apa kalian udah putus?"Terry melihatku di ambang pintu, nadanya terdengar penuh sesal tapi tatapan matanya sangat menantang:"Pak Lukas, ini semua salahku, aku nggak punya pengalaman karena baru pertama kali datang ke pernikahan. Makanya aku rebut buket bunganya dan bikin Bapak berantem sama Nona Andin."Suara Lukas menyusul kemudian:"Nggak ada hubungannya sama k







