Teilen

Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun
Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun
Gura

Bab 1

Gura
Senyum di wajah Shofia seketika sirna saat melihat Terry mendapatkan buket bunga itu.

Dia merasa lebih geram daripada aku, lalu berbisik dengan gigi terkatup di telingaku.

"Terry ini sengaja banget! Sebelum resepsi, aku udah bilang ke semua tamu kalau buket bunganya buat kamu!"

Aku memotong kalimatnya dengan lembut.

"Shofia, hari ini hari besarmu, hal-hal kecil kayak gini nggak penting."

"Tapi kamu udah nunggu delapan tahun buat nikah sama Lukas. Sekarang kamu lagi hamil anaknya, kalau nggak cepat-cepat resepsi ...."

"Nggak apa-apa."

Aku menoleh dengan tenang, lalu menatap Lukas yang sedang duduk di meja tamu.

Terry yang sedang memegang buket bunga itu duduk tepat di sampingnya.

Jarak mereka yang begitu dekat, sudah melampaui batas yang seharusnya dijaga oleh seorang sekretaris.

Para tamu adalah teman-teman yang mengenal baik aku dan Lukas, mereka semua melemparkan tatapan penuh selidik sekaligus simpati kepadaku.

Shofia makin geram dan menggenggam tanganku dengan tegang.

"Andin, aku baru selidiki Terry. Dia itu cewek matre kelas kakap yang emang spesialis goda pria kaya! Dia udah berbulan-bulan berusaha dekati pacarmu! Kamu harus hati-hati ...."

"Shofia, kamu itu pengantin paling cantik hari ini, jangan cemasin aku."

Aku balas menggenggam tangan Shofia sambil tersenyum tipis kepadanya.

"Lagian, aku nggak berencana buat nikah sama Lukas lagi, aku bahkan nggak kasih tahu dia kalau aku hamil."

Perkataanku terlalu mengejutkan, hingga membuat Shofia membelalakkan mata menatapku dengan tidak percaya.

Setelah terdiam cukup lama, dia baru teringat untuk melanjutkan prosesi pernikahan.

Begitu pernikahan selesai, Shofia memelukku erat.

"Andin, kalau kamu butuh bantuan, kasih tahu aku ya. Aku dukung apa pun keputusan yang kamu ambil."

"Keputusan apa?"

Setelah dia pergi, Lukas berjalan tenang ke arahku, "Kalian tadi lagi ngobrolin apa?"

Dia refleks mengulurkan tangan untuk merangkul bahuku, tapi aku sedikit memiringkan tubuh untuk menghindar.

"Bukan apa-apa."

Dia sepertinya tidak keberatan dengan penolakanku dan terkekeh pelan.

"Kamu marah? Bunga itu 'kan emang Terry yang dapat duluan. Dia 'kan masih muda dan pengen banget nikah. Ambil buket bunga juga cuma buat cari keberuntungan aja. Bukannya kita udah sepakat buat nunggu kesempatan berikutnya?"

Dia mendekat sambil mengusap rambutku dan membujukku dengan sabar.

"Kenapa sih harus peduli banget sama buket bunga Shofia? Nanti pas kita nikah, aku bakal siapin buket bunga yang jauh lebih cantik! Kamu mau berapa pun bakal aku kasih!"

Aku meremas telapak tanganku dalam diam, lalu menatap langsung ke matanya.

"Kalau gitu, apa kita bisa nikah bulan ini? Shofia sama aku udah punya janji waktu kecil, siapa pun yang nikah duluan, yang lain bakal nyusul. Kita bakal jadi pendamping pengantin satu sama lain buat saksiin kebahagiaan itu."

Suasana seketika terasa membeku.

Tangan Lukas yang sedang mengelusku terhenti di udara, lalu beberapa detik kemudian dia tertawa kecil.

"Omongan waktu kecil kayak gitu kok kamu anggap serius?"

"Aku ini CEO Grup Argam, pernikahan nggak bisa diadain buru-buru kayak gitu. Jangan tergesa-gesa ya, aku janji itu bakal jadi pernikahan yang paling sempurna!"

Rasa pahit mulai merayap di dalam hatiku.

Setiap kali terjadi konflik, dia selalu menjanjikan "kesempatan berikutnya" dan pernikahan di masa depan itu.

Delapan tahun sudah berlalu, tapi aku tetap tidak kunjung mendapatkan hari di mana janji itu terwujud.

Aku pun memutuskan untuk pulang dan tidak akan terus menunggu lagi.

Kendaraan melaju dalam keheningan sampai akhirnya berhenti di depan vilaku.

Lukas melepas sabuk pengaman, seolah mengira ketegangan di antara kami sudah mencair. Dia refleks mendekat untuk mencoba menciumku.

Aku mengangkat tangan dan menahannya di bagian bahu.

"Aku capek, Lukas."

Dia terpaku dan menatap mataku selama beberapa detik. Akhirnya, dia menepuk bahuku dengan pelan.

"Hei, jadi pendamping pengantin emang capek banget, istirahat lebih awal gih."

"Terry bilang dia nggak dapat taksi dan masih di gedung acara. Aku mau balik buat jemput dia sebentar, kalau nggak, dia bakal sendirian di sana, nggak aman."

Aku mengangguk tenang, tapi Lukas tidak segera bergerak.

Dia seolah sedang menungguku untuk menyuruhnya berhati-hati seperti biasa, atau mengeluh karena dia meninggalkanku sendirian di rumah selarut ini.

Namun, aku hanya membuka pintu mobil dan turun.

Sambil melihat mobilnya menjauh, aku menghapus air mata yang menyengat mataku, lalu menelepon orang tuaku yang berada di Eropa.

"Ayah, Ibu, aku setuju buat jalanin pertunangan dan nikah sama Deon ...."

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun   Bab 8

    Setelah jamuan makan itu, ayah tidak pernah lagi pergi ke restoran tersebut.Lukas pun sekali lagi kehilangan jejak tentang keberadaanku.Namun, dia tetap tidak menyerah. Dia terus berkeliaran di sekitar perkebunan tempatku menunggu kelahiran bayiku.Aku baru bertemu dengannya lagi satu tahun kemudian.Aku yang sudah melahirkan anakku sedang duduk bersama Shofia di sebuah kafe sudut jalan, tepat di samping jendela.Lukas yang berada di jalanan melihatku melalui jendela, matanya seketika memancarkan kegembiraan. Tanpa pikir panjang, dia langsung menerjang masuk ke dalam kafe."Andin!"Aku menatap matanya dalam-dalam, senyum di wajahku perlahan memudar."Tuan Argam, sudah lama tidak bertemu."Sikap dingin dan jarak yang aku tunjukkan terasa seperti siraman air es yang memadamkan sebagian besar kegembiraan serta harapannya.Sementara itu, Shofia yang duduk di sampingku menatapnya dengan waspada."Bisa kita bicara berdua? Lima menit aja." Suara Lukas terdengar serak, dia melirik perutku ya

  • Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun   Bab 7

    Karena sibuk resepsi, aku sama sekali tidak menyadari keributan yang terjadi di sudut itu. Perhatianku sepenuhnya tercurah untuk menyapa tamu-tamu yang ramai dan mengurus berbagai tetek bengek upacara.Prosesi bahkan belum selesai, tapi aku sudah merasa kelelahan dan pinggangku pun mulai terasa sakit.Untungnya, Deon selalu bersikap lembut dan sopan saat merangkul, menemaniku menghadapi berbagai tamu maupun urusan yang mendadak.Setelah acara berakhir, Deon melepaskan sepatu hak tinggiku. DIa dengan lembut memijat kedua kakiku.Aku menatap pria lembut yang baru kutemui beberapa kali ini, hanya rasa terima kasih dan rasa bersalah yang memenuhi hatiku."Makasih ya. Nanti habis lahiran, aku bakal jelasin semuanya ke orang tua kita sesuai janji,terus aku bakal akhiri pernikahan ini sama kamu."Gerakan Deon tiba-tiba terhenti, beberapa detik kemudian dia mendongak dan melemparkan senyum tampan ke arahku."Nggak perlu buru-buru. Ini 'kan aku sendiri yang tawarin bantuan ke orang tuamu, jadi

  • Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun   Bab 6

    Deon Argam?Lukas seolah terpaku di tempat seperti dipaku ke lantai.Seluruh darah di dalam tubuhnya terasa mendidih.Tubuhnya terus bergetar hebat, dan pandangannya mulai kabur."Apa?"Petugas yang tadi menahan Lukas menatapnya dengan heran, "Pria itu pengantin pria yang sebenarnya. Udah kuduga! Mana ada pengantin pria yang masuk ke aula telat begini!""Satpam! Cepat ke sini, ada penipu yang ngaku sebagai pengantin pria dan menyelinap ke pesta!"Petugas itu berdiri menghalangi Lukas sambil memanggil petugas keamanan melalui radio panggil dengan panik.Namun, Lukas tidak memedulikan teriakan di telinganya sama sekali.Dia terus menatap tajam ke arahku, juga pada lenganku yang menggandeng Deon.Tidak!Tidak mungkin!"Andin!"Dia mendorong petugas itu dengan kasar, tidak memedulikan apa pun dan hendak menerjang ke arahku.Sebuah bayangan menghalanginya dengan lebih cepat.Itu adalah Shofia, wajahnya menunjukkan ekspresi kemarahan yang luar biasa."Pergi!"Lukas membentaknya pelan, mencob

  • Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun   Bab 5

    Lukas tertegun sejenak.Dari mana dia bisa punya undangan?Tapi tunggu, dia kan pengantin prianya, buat apa butuh undangan!Lukas pun mengerutkan alisnya dengan tidak sabar."Aku pengantin pria di pernikahan ini!""Pengantin pria? Maaf, boleh saya tahu nama Tuan siapa?"Petugas itu membuka daftar tamu dengan bingung untuk memeriksanya, tapi tangan Lukas segera menahannya."Namaku Lukas Argam, CEO Grup Argam! Siapa lagi Tuan Argam yang bisa menikahi Andin, putri dari Keluarga Tardi yang terhormat, kalau bukan aku?"Nada bicaranya terdengar dingin dan tidak terbantahkan.Petugas itu ikut terintimidasi oleh keyakinannya, lalu menatap Lukas dengan panik."Anda pengantin pria, Tuan Argam? Mohon maaf, mari saya antar Anda masuk ke aula sekarang."Lukas melangkah masuk ke ruang pernikahan dengan wajah masam, merasa kesal sekaligus jengkel melihat kerumunan tamu dan dekorasi aula yang indah.Pernikahan ini seharusnya dia yang mengurus semuanya.Lamaran, gaun pengantin, menu makanan, penentuan

  • Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun   Bab 4

    Seminggu kemudian, Lukas yang akhirnya selesai mengurus urusan bisnisnya membuka kolom percakapan denganku.Antarmukanya masih menampilkan pesan terakhir yang dia kirimkan. [Aku udah bilang, aku nggak mau nikah terburu-buru. Kamu pikirin baik-baik dulu, kalau udah nggak maksa lagi, aku baru pulang.]Lukas mengernyit melihat tak ada balasan dariku.Dia sangat mengenalku. Meskipun setelah bertengkar atau perang dingin, aku selalu menjadi orang pertama yang menghubunginya dan bertanya kapan dia akan pulang.Namun kali ini, dia sudah pergi selama seminggu dan aku tidak mengirimkan satu pun pesan.Perasaan tidak tenang mulai muncul di dalam hatinya.Tepat pada saat itu, asistennya tiba-tiba mengangkat ponsel dan berteriak."Pak Lukas, lihat! Ini foto yang diposting Nona Shofia di Instagram! Hari ini adalah hari pernikahan Nona Andin Tardi! Keluarga Tardi juga mengundang banyak tamu!"Lukas segera merampas ponsel itu, melihat foto yang menampilkan aku mengenakan gaun pengantin sambil memegan

  • Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun   Bab 3

    Aku membereskan segalanya sebelum pergi dengan tenang, bahkan menjual rumah kami dengan harga miring.Saat menyerahkan kunci kepada agen properti, aku menemukan dokumen proyek perusahaan Lukas di ruang kerja.Setelah ragu sejenak, aku memutuskan untuk mengantarkannya kepada Lukas.Baru saja sampai di depan pintu kantornya, aku sudah mendengar suara tawa dari dalam. Tidak hanya ada Terry dan Lukas, tapi juga teman-teman Lukas.Saat aku hendak mengetuk pintu, suara salah satu teman Lukas terdengar."Lukas, teman-teman yang lain udah tahu kalau kamu sama Andin berantem di pernikahan kemarin, mereka semua diam-diam tanya ke aku, apa kalian udah putus?"Terry melihatku di ambang pintu, nadanya terdengar penuh sesal tapi tatapan matanya sangat menantang:"Pak Lukas, ini semua salahku, aku nggak punya pengalaman karena baru pertama kali datang ke pernikahan. Makanya aku rebut buket bunganya dan bikin Bapak berantem sama Nona Andin."Suara Lukas menyusul kemudian:"Nggak ada hubungannya sama k

  • Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun   Bab 2

    Mereka merasa sangat terkejut sekaligus bahagia mengetahui aku sedang hamil.Mereka bilang, anak ini adalah keturunan bangsawan, jadi mereka tidak akan membiarkannya menyandang status sebagai anak haram. Mereka pasti akan memberikan masa depan terbaik untuknya.Ayah dan ibu juga mengatakan kalau Deo

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status