Se connecterYoko memperhatikan foto yang diperlihatkan Sari. Keningnya terlihat berkerut. “Dari mana Ibu mendapatkan foto ini?” tanya Yoko.
“Saya mendapatkan dari telepon seluler suami saya,” jawab Sari.
Wajah Yoko berubah menjadi kaku, senyumnya menghilang, ia menatap Sari dengan tajam. “Saya mau lihat telepon seluler suami Ibu!” kata Yoko dengan tegas. “Saya ingin tahu rahasia apa saja yang mereka simpan selama ini.”
“Jangan di sini, Pak. Tidak enak dilihat orang lain, lagipula ada Hana. Jangan sampai ia mengetahui tentang masalah ini!” jawab Sari.
Yoko menghela napas panjang. “Baiklah, besok sore kita bertemu lagi di taman ini,” ujar Yoko. “Saya minta nomor telepon Bu Sari.” Yoko mengeluarkan telepon seluler dari saku celana.
Sari mengerut kening. “Untuk apa?” tanya Sari. Baginya, mereka cukup janjian bertemu di taman ini tanpa harus saling menghubungi melalui telepon.
“Untuk menghubungi Bu Sari jika saya ada halangan,” jawab Yoko sambil mengetik layar telepon seluler. Alasan Yoko bisa ia mengerti. Akhirnya, ia memberikan nomor teleponnya kepada Yoko.
Tak lama kemudian, Hana menghampiri Yoko. Ia diikuti oleh pengasuhnya. “Papa, Hana haus. Mau minum,” kata Hana dengan manja.
Yoko mengambil botol minum dari dalam tas lalu memberikan kepada Hana. Hana meminum minumannya. Sari memperhatikan Hana yang sedang minum, wajahnya sungguh menggemaskan. Namun, seketika senyum Sari hilang setelah memperhatikan wajah Hana.
“Kita pulang, yuk. Sebentar lagi magrib,” ujar Yoko ketika Hana sedang minum. Hana menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Setelah rasa hausnya hilang, Hana memberikan botol minum kepada Yoko. “Hana mau main lagi.” Gadis kecil itu kembali ke area permainan ditemani oleh pengasuhnya.
.
.
Keesokan hari, Sari datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan Yoko. Ia datang sejam lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Ia hendak melihat keadaan suaminya. Sari masuk ke ruang ICU, ia melihat Taufik terbaring di tempat tidur, hingga sekarang suaminya belum juga siuman. Di kanan dan kiri Taufik ada layar monitor yang memantau keadaannya.
Sari sedih melihat suaminya terbaring di tempat tidur dengan tidak berdaya. Namun, jika mengingat penyebab Taufik seperti ini, ia menjadi kesal. Ingin rasanya ia mencabut semua alat-alat bantu yang menempel pada tubuh Taufik, agar Taufik cepat meninggal. Sari menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, agar ia tidak berbuat gila di ruang ICU.
Sari meninggalkan ruang ICU menuju ke taman rumah sakit. Sesampai di taman Yoko belum terlihat. Sari memutuskan duduk di taman menunggu kedatangan Yoko sambil melihat anak-anak yang sedang bermain. Ia duduk termenung sambil memikirkan nasibnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika nanti Taufik sadar dari koma.
Dua puluh menit kemudian Yoko datang. Ia memakai kemeja lengan panjang berwarna abu-abu gelap yang digulung sampai ke siku dan menggunakan celana panjang hitam berbahan wool. Penampilan Yoko nampak rapi seperti karyawan kantoran, ia seperti baru pulang kerja.
Yoko menghampiri Sari. “Saya mohon maaf, saya datang telat. Tadi saya ada urusan yang harus saya selesaikan,” ujar Yoko dengan wajah bersalah. Ia tahu Sari menunggu lama di taman.
Sari menanggapi dengan tersenyum. “Nggak apa-apa, Pak. Saya menunggu sambil memperhatikan anak-anak,” jawab Sari.
“Bu Sari membawa anak?” tanya Yoko.
“Saya belum punya anak, Pak,” jawab Sari dengan sendu.
“Maaf, saya tidak tahu,” ucap Yoko dengan perasaan bersalah. “Kita pergi sekarang. Kendaraan Ibu tinggalkan di sini saja. Kita nak mobil saya saja. Nanti pulangnya, saya antar Ibu ke sini,” kata Yoko. Sari mengangguk setuju. Mereka pun berjalan meninggalkan taman bermain.
Yoko mengendarai mobilnya di tengah kepadatan jalan kota Bandung di sore hari. Mereka menuju ke restoran yang tak jauh dari rumah sakit. Lima belas menit kemudian mereka sampai di restoran yang dituju. Mereka turun dari mobil lalu jalan masuk ke dalam restoran. Yoko memilih duduk yang jauh dari keramaian. Ia dan Sari duduk saling berhadapan.
Seorang pelayan restoran menghampiri mereka lalu menaruh 2 buku menu di atas meja. Yoko mengambil salah satu buku menu. “Bu Sari, pesan saja makanan yang Ibu mau. Saya yang bayar,” ujar Yoko sambil mengambil buku menu.
Sari mengambil buku menu lalu ia memperhatikan daftar menu satu persatu. Harga makan di restoran ini terbilang mahal. Sari menghela napas panjang. “Kenapa Bu Sari?” Terdengar suara Yoko yang bertanya kepadanya. Sari mengangkat wajahnya, Yoko sedang memperhatikanya. Sepertinya helaan napas Sari terdengar oleh Yoko.
Sari menutup wajah sebelah kiri dengan buku menu. “Harga makan di sini mahal-mahal, Pak,” jawab Sari dengan suara pelan agar tidak tedengar oleh pelayan dan pengunjung restoran.
“Biasa aja, Bu,” ujar Yoko. “Emang Ibu belum pernah ke restoran seperti ini?” tanya Yoko hanya sekedar basa-basi.
Sari menjawab dengan menggeleng kepala. Yoko menghela napas mengetahui jawaban Sari. Pekerjaan Taufik adalah ASN, mobilnya termasuk mobil yang masih baru. Namun, Sari belum pernah makan di restoran seperti ini? Suami macam apa dia?
Setelah selesai memesan makanan, mereka melanjutkan percakapan yang kemarin yang sempat tertunda. “Ibu bawa telepon seluler suami Ibu?” tanya Yoko. Sari menjawab dengan mengangguk.
“Coba saya lihat.” Yoko meminta telepon seluler milik Taufik.
Yoko menghela napas panjang lalu memegang keningnya. Kepalanya terasa sakit mendengar perkataan Sari. “Maafkan saya, Pak. Saya hanya menyampaikan saja,” ucap Sari lalu ia menyelempangkan tali tas ke bahunya kemudian ia berdiri. “Sudah magrib, saya pamit pulang dulu. Terima kasih atas hidangannya yang lezat.”Yoko mengangkat wajahnya. “Saya antar Ibu kembali ke rumah sakit.” Yoko bangun dari tempat duduk lalu ia berjalan menuju ke kasir. Sari mengikuti Yoko.Setelah membayar makanan, mereka pun berjalan menuju ke mobil. Yoko membuka kunci mobil dengan remote, tetapi Sari tidak masuk ke mobil. “Pak, biar saya naik ojek ke rumah sakit,” kata Sari sekali lagi.“Saya sudah janji akan mengantar Ibu kembali ke rumah sakit.” Yoko pun masuk ke mobil. Terpaksa Sari masuk ke dalam mobil.Selama di perjalanan Yoko diam, ia fokus menyetir mobil. Sari merasa tidak enak kepada Yoko. Ia pun memutuskan untuk melihat ke samping mobil daripada melihat Yoko yang sedang marah...Pada suatu malam ketika
Sari mengeluarkan telepon seluler dari dalam tas, tetapi ia tidak langsung memberikan kepada Yoko. Ia ragu untuk diberikan kepada Yoko. Sari memegang telepon seluler dengan kedua tangannya, ia menutup bibirnya, pelipisnya berkeringat dan tangannya gemetaran.Yoko melihat gerak-gerik Sari seperti ada yang disembunyikan kepadanya. “Kenapa?” tanya Yoko. “Bu Sari bilang saya boleh melihat telepon seluler Pak Taufik.”Sari menarik napas panjang lalu memberikan telepon seluler kepada Yoko. Yoko langsung mengambil telepon seluler itu dan membuka layarnya. Ia menggulir layar telepon seluler, sepertinya yang ia cari tidak ketemu. “Suamimu sudah menghapus semua pesan yang dikirim ke istri saya,” ujar Yoko.“Mereka mengirim pesan menggunakan aplikasi lain.” Sari menyebut nama aplikasi novel online, Yoko langsung membuka aplikasi yang dikatakan Sari. Ia pun menemukan percakapan antara Taufik dan istrinya.“Sialan!” Wajah Yoko memerah membaca percakapan Taufik dan Nena dan melihat foto mereka yang
Yoko memperhatikan foto yang diperlihatkan Sari. Keningnya terlihat berkerut. “Dari mana Ibu mendapatkan foto ini?” tanya Yoko.“Saya mendapatkan dari telepon seluler suami saya,” jawab Sari.Wajah Yoko berubah menjadi kaku, senyumnya menghilang, ia menatap Sari dengan tajam. “Saya mau lihat telepon seluler suami Ibu!” kata Yoko dengan tegas. “Saya ingin tahu rahasia apa saja yang mereka simpan selama ini.”“Jangan di sini, Pak. Tidak enak dilihat orang lain, lagipula ada Hana. Jangan sampai ia mengetahui tentang masalah ini!” jawab Sari.Yoko menghela napas panjang. “Baiklah, besok sore kita bertemu lagi di taman ini,” ujar Yoko. “Saya minta nomor telepon Bu Sari.” Yoko mengeluarkan telepon seluler dari saku celana.Sari mengerut kening. “Untuk apa?” tanya Sari. Baginya, mereka cukup janjian bertemu di taman ini tanpa harus saling menghubungi melalui telepon.“Untuk menghubungi Bu Sari jika saya ada halangan,” jawab Yoko sambil mengetik layar telepon seluler. Alasan Yoko bisa ia meng
Foto-foto perempuan itu memenuhi galeri telepon seluler Taufik. Baik sedang bergaya sendiri ataupun sedang berdua dengan Taufik. Bahkan ada video Taufik dan perempuan itu yang sedang bercanda di dalam kamar hotel. Video itu sangat vulgar karena pakaian yang mereka gunakan sangat minim. Ia merasa iri dengan perempuan itu karena ia belum pernah melakukan hal itu bersama suaminya.Sari menggulir layar ke bawah, ternyata terdapat banyak foto-foto Taufik yang membuatnya ingin muntah. Bahkan foto-foto itu dibuat di kamar mandi rumah mereka. Sari menghela napas panjang, ternyata banyak yang Taufik lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Bahkan banyak foto-foto perempuan itu yang membuatnya ingin muntah. Ternyata mereka saling mengirimi foto-foto yang tidak senonoh.Sari mengakhiri menggulir galeri foto, ia tidak kuat lagi melihat foto-foto mereka yang membuatnya muak dan ingin muntah. Bahkan ia tidak menemukan satu pun foto dirinya di galeri telepon seluler Taufik. Sari merasa sedi
David menghentikan pekerjaannya setelah mendengar pertanyaan lalu ia menjawab, “Memang suami Ibu mengalami kecelakaan tunggal, tetapi suami ibu tidak sendirian si mobil. Ada orang lain di dalam mobil selain suami Ibu.”Tubuh Sari seketika seperti tersengat listrik mendengar jawaban David karena setahu Sari suaminya pergi sendiri. ‘Siapa yang berada di mobil A Taufik? Apakah dia teman kantor A Taufik?’ tanya Sari kepada dirinya sendiri.Tak lama kemudian pintu pun terbuka, seorang laki-laki berdiri di depan pintu. David langsung menoleh ke pintu. “Ah, Pak Yoko sudah datang. Silahkan masuk, Pak!”Sari ikut menoleh ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Seorang laki-laki berpakaian rapih masuk ke ruangan. Ia perhatikan wajah laki-laki itu, sepertinya ia pernah lihat. Ternyata laki-laki itu adalah laki-laki yang pernah pernah datang ke ruang IGD untuk menemui David. ‘Mau apa dia ke sini?’ tanya Sari di dalam hati.Laki-laki itu berdiri di belakang kursi yang berada di sebelah tempat du
Sari duduk termenung di ruang tunggu rumah sakit. Matanya menatap pintu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat. Dua jam yang lalu ia mendapat telepon dari polisi. “Suami Ibu mengalami kecelakaan tunggal di tol Cipali. Kondisinya dalam keadaan kritis. Kami akan membawa suami Ibu ke rumah sakit umum di kota Bandung.”Dua puluh menit yang lalu mobil ambulans yang membawa Taufik sudah sampai di rumah sakit yang dituju. Namun, Sari belum diperbolehkan melihat keadaan Taufik. Perawat rumah sakit menyuruhnya menunggu di ruang tunggu. Hingga sekarang belum ada perawat yang keluar memanggilnya.Sari menghela napas panjang lalu menoleh ke samping. Tak jauh dari tempat ia duduk ada seorang laki-laki berpakaian rapih. Wajahnya terlihat gelisah sambil sesekali menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.“Keluarga Nena Kurniasih.” Terdengar suara seorang suster memanggil keluarga pasien.“Ya.” Laki-laki itu langsung berdiri dari tempat duduk lalu menghampiri suster yang sedang berdiri d







