Share

Hana.

Author: Deche
last update publish date: 2026-07-07 12:04:14

Yoko memperhatikan foto yang diperlihatkan Sari. Keningnya terlihat berkerut. “Dari mana Ibu mendapatkan foto ini?” tanya Yoko.

“Saya mendapatkan dari telepon seluler suami saya,” jawab Sari.

Wajah Yoko berubah menjadi kaku, senyumnya menghilang, ia menatap Sari dengan tajam. “Saya mau lihat telepon seluler suami Ibu!” kata Yoko dengan tegas. “Saya ingin tahu rahasia apa saja yang mereka simpan selama ini.”

“Jangan di sini, Pak. Tidak enak dilihat orang lain, lagipula ada Hana. Jangan sampai ia mengetahui tentang masalah ini!” jawab Sari.

Yoko menghela napas panjang. “Baiklah, besok sore kita bertemu lagi di taman ini,” ujar Yoko. “Saya minta nomor telepon Bu Sari.” Yoko mengeluarkan telepon seluler dari saku celana.

Sari mengerut kening. “Untuk apa?” tanya Sari. Baginya, mereka cukup janjian bertemu di taman ini tanpa harus saling menghubungi melalui telepon.

“Untuk menghubungi Bu Sari jika saya ada halangan,” jawab Yoko sambil mengetik layar telepon seluler. Alasan Yoko bisa ia mengerti. Akhirnya, ia memberikan nomor teleponnya kepada Yoko.

Tak lama kemudian, Hana menghampiri Yoko. Ia diikuti oleh pengasuhnya. “Papa, Hana haus. Mau minum,” kata Hana dengan manja.

Yoko mengambil botol minum dari dalam tas lalu memberikan kepada Hana. Hana meminum minumannya. Sari memperhatikan Hana yang sedang minum, wajahnya sungguh menggemaskan. Namun, seketika senyum Sari hilang setelah memperhatikan wajah Hana.

“Kita pulang, yuk. Sebentar lagi magrib,” ujar Yoko ketika Hana sedang minum. Hana menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

Setelah rasa hausnya hilang, Hana memberikan botol minum kepada Yoko. “Hana mau main lagi.” Gadis kecil itu kembali ke area permainan ditemani oleh pengasuhnya.

.

.

Keesokan hari, Sari datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan Yoko. Ia datang sejam lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Ia hendak melihat keadaan suaminya. Sari masuk ke ruang ICU, ia melihat Taufik terbaring di tempat tidur, hingga sekarang suaminya belum juga siuman. Di kanan dan kiri Taufik ada layar monitor yang memantau keadaannya.

Sari sedih melihat suaminya terbaring di tempat tidur dengan tidak berdaya. Namun, jika mengingat penyebab Taufik seperti ini, ia menjadi kesal. Ingin rasanya ia mencabut semua alat-alat bantu yang menempel pada tubuh Taufik, agar Taufik cepat meninggal. Sari menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, agar ia tidak berbuat gila di ruang ICU.

Sari meninggalkan ruang ICU menuju ke taman rumah sakit. Sesampai di taman Yoko belum terlihat. Sari memutuskan duduk di taman menunggu kedatangan Yoko sambil melihat anak-anak yang sedang bermain. Ia duduk termenung sambil memikirkan nasibnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika nanti Taufik sadar dari koma.

Dua puluh menit kemudian Yoko datang. Ia memakai kemeja lengan panjang berwarna abu-abu gelap yang digulung sampai ke siku dan menggunakan celana panjang hitam berbahan wool. Penampilan Yoko nampak rapi seperti karyawan kantoran, ia seperti baru pulang kerja.

Yoko menghampiri Sari. “Saya mohon maaf, saya datang telat. Tadi saya ada urusan yang harus saya selesaikan,” ujar Yoko dengan wajah bersalah. Ia tahu Sari menunggu lama di taman.

Sari menanggapi dengan tersenyum. “Nggak apa-apa, Pak. Saya menunggu sambil memperhatikan anak-anak,” jawab Sari.

“Bu Sari membawa anak?” tanya Yoko.

“Saya belum punya anak, Pak,” jawab Sari dengan sendu.

“Maaf, saya tidak tahu,” ucap Yoko dengan perasaan bersalah. “Kita pergi sekarang. Kendaraan Ibu tinggalkan di sini saja. Kita nak mobil saya saja. Nanti pulangnya, saya antar Ibu ke sini,” kata Yoko. Sari mengangguk setuju. Mereka pun berjalan meninggalkan taman bermain.

Yoko mengendarai mobilnya di tengah kepadatan jalan kota Bandung di sore hari. Mereka menuju ke restoran yang tak jauh dari rumah sakit. Lima belas menit kemudian mereka sampai di restoran yang dituju. Mereka turun dari mobil lalu jalan masuk ke dalam restoran. Yoko memilih duduk yang jauh dari keramaian. Ia dan Sari duduk saling berhadapan.

Seorang pelayan restoran menghampiri mereka lalu menaruh 2 buku menu di atas meja. Yoko mengambil salah satu buku menu. “Bu Sari, pesan saja makanan yang Ibu mau. Saya yang bayar,” ujar Yoko sambil mengambil buku menu.

Sari mengambil buku menu lalu ia memperhatikan daftar menu satu persatu. Harga makan di restoran ini terbilang mahal. Sari menghela napas panjang. “Kenapa Bu Sari?” Terdengar suara Yoko yang bertanya kepadanya. Sari mengangkat wajahnya, Yoko sedang memperhatikanya. Sepertinya helaan napas Sari terdengar oleh Yoko.

Sari menutup wajah sebelah kiri dengan buku menu. “Harga makan di sini mahal-mahal, Pak,” jawab Sari dengan suara pelan agar tidak tedengar oleh pelayan dan pengunjung restoran.

“Biasa aja, Bu,” ujar Yoko. “Emang Ibu belum pernah ke restoran seperti ini?” tanya Yoko hanya sekedar basa-basi.

Sari menjawab dengan menggeleng kepala. Yoko menghela napas mengetahui jawaban Sari. Pekerjaan Taufik adalah  ASN, mobilnya termasuk mobil yang masih baru. Namun, Sari belum pernah makan di restoran seperti ini? Suami macam apa dia?

Setelah selesai memesan makanan, mereka melanjutkan percakapan yang kemarin yang sempat tertunda. “Ibu bawa telepon seluler suami Ibu?” tanya Yoko. Sari menjawab dengan mengangguk.

“Coba saya lihat.” Yoko meminta telepon seluler milik Taufik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Sarapan.

    Sari memperhatikan apa yang dilakukan oleh Yoko. Yoko mendekati Sari, tanpa mengatakan apa-apa ia mengecup bibir Sari dengan lembut . Sari terkejut ketika Yoko tiba-tiba mengecup bibirnya. Namun, Yoko melakukannya tidak lama-lama. “Udah, ah. Jangan lama-lama, nanti nggak jadi pergi ke Jakarta.” Yoko mengecup kening Sari lalu kembali ke posisi semula. Ia memakai sabuk pengaman lalu menjalankan mobilnya. Sari sempat melongo dengan apa yang dilakukan Yoko. Namun, ia menundukkan kepala lalu tersenyum. Ia senang Yoko menciumnya.Pukul 6.30 mereka sudah sampai di Ancol. “Kita cari sarapan dulu,” kata Yoko usai membayar tiket masuk.“Tidak usah cari sarapan. Saya sudah siapkan makanan untuk sarapan kita berdua,” kata Sari.Yoko langsung menoleh ke Sari. “Kamu masak?” tanya Yoko. Sari tersenyum lalu mengangguk.“Kapan masaknya?” tanya Yoko sambil menyetir mobil.“Kemarin sore, Pak,” jawab Sari.“Kenapa masak? Padahal kita beli sarapan saja,” ujar Yoko.“Saya ingin masak untuk Yoko,” jawab Sari

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Pergi ke Jakarta.

    Yoko menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih. Ia menatap rumah yang berukuran minimalis itu. Nomor rumah yang menempel di tembok pagar sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pemiliknya. Yoko pun menelepon pemilik rumah itu.Tanpa menunggu beberapa lama, pemilik rumah itu pun menjawab telepon Yoko. “Hallo.” Terdengar suara merdu Sari di seberang telepon. Rumah yang di datangi Yoko adalah rumah Sari.“Hallo, Sayang. Aku sudah sampai di depan rumah kamu,” sapa Yoko.“Baiklah, Pak. Saya akan segera keluar,” kata Sari lalu menutup telepon.Yoko menaruh telepon di bagian ticket holder di dasboard. Ia memperhatikan ke sekeliling rumah Sari yang terlihat masih sepi, tidak ada satu orang pun yang lewat. Ini pertama kalinya ia datang ke rumah Sari. Sebuah perumahan yang terletak di pinggiran kota Bandung. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Yoko.Yoko kembali menoleh ke rumah Sari. Ia melihat Sari sudah berada di depan rumah, ia sedang mengunci pintu rumah. Yoko turun dari mobi

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Rindu

    Sari cepat-cepat mengumpet di balik tembok agar tidak terlihat oleh Yoko. Ia memperhatikan Yoko dari balik tembok. Wajah Yoko terlihat ceria ketika hendak menjenguk istrinya. Entah mengapa Sari merasa sedih ketika melihat Yoko yang hendak menjenguk Nena. Yoko yang ceria seolah Yoko senang karena hendak bertemu dengan istrinya. Sari cuma bisa menatap Yoko dari balik tembok dengan wajah sedih.Setelah Yoko terlihat jauh barulah Sari keluar dari tempat persembunyiannya. Air matanya menggenang di pelupuk mata. ‘Mengapa Nena bisa mendapatkan cinta dari Taufik dan Yoko? Sedangkan dia, tidak ada satu laki-laki yang mau mencintainya.’Tak terasa air matanya mengalir di pipi. Ia mengusap air mata lalu berjalan gontai meninggalkan rumah sakit. Semenjak pertemuan terakhir dengan Yoko, Yoko belum meneleponnya. Ia merasa Yoko sudah melupakannya dan kembali kepada istrinya. Sari hanya bisa pasrah pada kenyataan yang ia hadapi...Sari baru saja selesai solat. Ia membuka mukenah yang ia pakai lal

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Check Out

    Yoko sedang berbaring di tempat tidur, tubuhnya di tutupi oleh selimut. Ia menoleh ke samping, Sari sedang tidur dengan nyenyak. Perempuan itu letih karena mereka baru selesai bercinta. Mereka bercinta sebanyak 2 kali. Pertama di kamar mandi ketika mereka mandi bareng, yang kedua di ketika mereka hendak tidur.Yoko tahu apa yang mereka lakukan salah, tapi ia mengajak Sari melakukannya karena ia ingin balas dendam kepada istrinya. Ia dan Sari sama-sama menjadi korban permainan cinta Nena dan Taufik. Namun, dalam hal ini yang benar-benar dirugikan adalah Sari. Ketika mereka sedang bercinta Yoko tidak memakai pengaman, padahal Sari sudah mengingatkannya berkali-kali. Namun, ia tetap dengan pendiriannya. Alasannya balas dendam yang mereka lakukan harus setimpal dengan apa yang dilakukan oleh Nena dan Taufik. Jika Nena dan Taufik memiliki anak dari hasil selingkuh, maka ia dan Sari harus memiliki anak dari hasil selingkuh. Ia berjanji kepada Sari, ia akan bertanggung jawab jika Sari sampai

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Kolam Renang.

    Sari merebahkan diri di kursi santai sambil menikmati langit senja yang mula tenggelam. Ia baru saja selesai menghabiskan beberapa potong qroquette dan segelas minuman tropical mango mojito. Suasana di kolam renang sudah mulai sepi, hanya tinggal Yoko dan beberapa orang yang masih berenang. Sari heran melihat Yoko masih kuat berenang, padahal udara sudah mulai dingin. Sari membiarkan Yoko berenang sampai puas, ia melanjutkan scroll media sosial. Baru 5 menit Sari menikmati postingan di media sosial, ia mendengar suara Yoko memanggilnya. Sari mengalihan pandangannya dari telepon seluler. Ia melihat Yoko yang berada di pinggir kolam renang sambil memandang ke arahnya. Ternyata kolam renang sudah sepi tinggal Yoko sendiri yang berada di kolam renang. “Sari.” Yoko sekali lagi memanggil Sari. Sari meletakkan telepon seluler di atas meja lalu menghampiri Yoko. “Ada apa, Pak?” tanya Sari. “Tolong ambilkan handuk!” ujar Yoko. Sari kembali ke tempat duduk lalu mengambil hand

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Kecewa.

    Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, tandanya Sari keluar dari kamar mandi. Yoko menoleh ke arah kamar mandi, ia sudah penasaran dengan penampilan Sari dengan pakaian rumah dan tidak menggunakan kerudung.Ketika Sari menampakkan dirinya, Yoko terkejut melihat penampilan Sari. Sari menggunakan setelan piama lengan panjang dan memakai hijab instan. Yoko menghela napas kecewa dengan penampilan Sari. “Sayang, kenapa hijabnya nggak dibuka?” tanya Yoko.“Nanti saja dibukanya kalau mau tidur,” jawab Sari.“Ya sudah, kalau maunya begitu. Sini tidur di sini.” Yoko menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.“Nggak, ah. Saya duduk di sofa saja.” Sari berjalan menuju sofa lalu duduk di sofa. Lagi-lagi Yoko menghela napas karena kecewa pada Sari.“Sayang, apa nggak pegel duduk terus?” Yoko memperhatikan Sari yang hendak memainkan telepon seluler. Sari diam tidak menjawab pertanyaan Yoko. Sebenarnya punggungnya merasa pegal, ia ingin berbaring tubuhnya, tapi ia nggak be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status