เข้าสู่ระบบBab 154
Hongwu menghela napas panjang, napas yang seakan mengeluarkan segala beban yang dipikulnya selama bertahun-tahun. Dia berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela yang terbuka, membiarkan cahaya matahari terbenam yang berwarna keemasan menyinari siluet tubuhnya yang tegap namun kini tampak begitu lelah dan manusiawi. Angin sore yang lembut menerpa jubahnya, menggerakkan kain itu pelan seakan ikut merasakan ketenangan yang perlahan menyelimuti ruangan itu."Aku tahuBab 160Hari-hari setelah upacara pengangkatan berlalu dengan perlahan namun penuh perubahan. Istana yang dulu terasa dingin dan jauh, kini berubah menjadi tempat yang lebih terang dan hidup — setidaknya bagi sebagian besar penghuninya.Lianhua menjalani hari-harinya dengan tenang. Tak ada lagi tuntutan yang membebani, tak ada lagi perintah yang membuatnya gemetar. Pagi harinya ia habiskan di taman kecil yang kini penuh dengan bunga melati yang baru saja ditanam, menatap kelopak-kelopak putih yang mulai mekar perlahan. Siang hari ia duduk di meja kerjanya, melukis dengan tenang, sementara Jasmine, Mei Mei dan Liling selalu berada di dekatnya — tak lagi sebagai pelayan biasa, melainkan teman setia yang selalu siap mendengarkan atau sekadar menemaninya dalam keheningan.Hongwu datang dan pergi sesuai tugasnya, namun tak pernah melewatkan waktu untuk mampir ke Sayap Timur. Kadang ia membawa buku-buku langka dari perpustakaan kekaisaran, kadang makanan lezat yang disiapkan khusus untuknya
Bab 159Upacara berakhir dengan anggun, namun tidak berlebihan. Hongwu tidak menuntut pengakuan yang berlebihan dari siapa pun, namun apa yang ia ucapkan sudah cukup untuk mengubah segalanya. Saat kami berjalan keluar dari Aula Agung, para pejabat dan pelayan membungkuk hormat dengan kepala tertunduk — bukan karena takut, melainkan karena mereka kini melihat sesuatu yang nyata dan tak tergoyahkan di hadapan mereka.Langkah kami berjalan beriringan di sepanjang koridor yang kini terasa berbeda. Dulu lorong ini adalah jalan yang kulalui dengan hati berdebar, takut salah langkah, takut salah bicara. Namun hari ini, setiap langkahku terasa ringan dan mantap, seakan tanah di bawah kakiku kini berubah menjadi tempat yang benar-benar milikku. Hongwu memegang tanganku erat, tidak melepaskannya sedetik pun, seakan ingin memastikan bahwa semua yang baru saja terjadi bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang abadi."Kau tenang sekali," bisiknya pelan saat kami melewati halaman utama di mana matah
Bab 158 Jam menunjukkan tengah hari saat ketukan pelan terdengar kembali di pintu kamarku. Kali ini bukan Hongwu, bukan pula ketiga sahabatku. Suara di luar terdengar sopan namun penuh keresahan. "Nyonya Lianhua?" suara pelayan yang kukenal sebagai pelayan kepala bagian upacara. "Izinkan hamba masuk. Waktu sudah tiba. Para pelayan dan penata rias sudah menunggu untuk menyiapkan Yang Mulia sebelum upacara dimulai." Aku menarik napas panjang, menyentuh kotak merah tua yang masih terbuka di atas meja. Jepit rambut giok berbentuk bunga melati itu berkilau lembut di bawah cahaya siang. "Masuklah," jawabku pelan namun mantap. Pintu terbuka, dan empat orang pelayan masuk dengan tertib, membawa bakul berisi pakaian, perhiasan, dan alat rias. Mereka menunduk rendah, tak berani menatap mataku secara langsung — perubahan sikap yang begitu cepat, mengingat belum lama berselang aku hanyalah seseorang yang tak mereka hiraukan. "Kami dise
Bab 157 Aku masih berdiri di dekat jendela, tangan menyentuh kaca dingin, membiarkan pandanganku menyusuri halaman istana yang perlahan mulai dipenuhi orang-orang yang bergegas menuju Aula Besar. Di dalam hati, ada ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya — namun di samping itu, ada juga kekhawatiran yang samar, seakan aku baru saja melangkah masuk ke dalam pusaran yang tak bisa lagi kuhentikan. Belum lama, langkah kaki yang kukenal terdengar mendekat — cepat, mantap, dan penuh kegembiraan yang tertahan. Pintu terbuka tanpa diketuk, dan Hongwu berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit memburu seakan ia berjalan terlalu cepat, matanya bersinar terang seperti bintang yang jatuh ke bumi. "Kau sudah kembali?" tanyaku terkejut, melangkah maju menyambutnya. "Bukankah baru saja kau berangkat?" Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia melangkah mendekat, meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat di dalam tangannya yang besar dan
Bab 156 Cahaya fajar yang pucat perlahan menyelinap masuk melalui celah jendela, menyentuh permukaan lantai kayu yang dingin. Ruangan itu masih hening, namun keheningannya berbeda dari malam sebelumnya — kini terisi oleh ketenangan yang baru, bukan lagi kesepian yang panjang. Aku terbangun perlahan, dan hal pertama yang kulihat adalah Hongwu yang masih tertidur di sampingku. Wajahnya yang biasanya kaku dan berwibawa kini tampak begitu tenang, jauh dari beban takhta dan segala intrik istana. Cahaya pagi yang lembut menyentuh wajahnya, menonjolkan garis-garis lelah yang tersembunyi di antara rahang dan matanya yang tertutup. Untuk sesaat, ia bukan Kaisar yang ditakuti oleh ribuan orang — ia hanyalah seorang pria yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat. Aku bergerak pelan, berusaha tidak membangunkannya, namun tangannya yang terulur di pinggangku seketika mengerat lembut, seakan naluriah takut kehilangan. Matanya perlahan terbuka, dan sejenak ia
Bab 155 Kami masih berpelukan di bawah cahaya matahari terakhir yang perlahan memudar menjadi ungu lembut di langit. Angin malam mulai berhembus pelan melalui celah jendela, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di taman bawah — aroma yang begitu akrab, begitu menenangkan, seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang kami yang akhirnya sampai di titik ini. Hongwu melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya tetap bertumpu di bahuku, matanya menatapku lekat-lekat seakan takut jika ia berpaling sedetik pun, aku akan lenyap seperti bayangan yang selama ini ia kejar. "Makanan seharusnya sudah tiba," katanya pelan, suaranya kembali lembut dan hangat. "Tadi aku perintahkan dapur untuk menyiapkannya sendiri. Bukan hidangan mewah yang biasa disajikan di jamuan istana, melainkan makanan yang kau suka — makanan yang pernah kau sebutkan dulu, saat kita masih berbicara di taman tanpa siapa pun yang tahu." Aku tersenyum mendengarnya. "Kau ingat?"







