مشاركة

Chapter 31

مؤلف: Tinta_Jojon
last update تاريخ النشر: 2026-08-11 23:27:06

“Tidak usah banyak bicara. Silakan pergi sekarang juga,” ancam satpam itu. “Kalau tidak, kami akan menyeretmu keluar.”

Raka yang sudah muak hanya menatap satpam itu dengan senyum sinis sebelum akhirnya berbalik.

“Sial, apa-apaan mereka tadi?” gumam Raka. “Sudahlah, lebih baik aku pulang.”

Raka segera menuju motornya dan tanpa membuang waktu langsung tancap gas menuju rumah. Sepanjang perjalanan, ponselnya terus berdering. Namun, karena masih kesal dengan perlakuan satpam tadi, Raka memilih meng
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 31

    “Tidak usah banyak bicara. Silakan pergi sekarang juga,” ancam satpam itu. “Kalau tidak, kami akan menyeretmu keluar.”Raka yang sudah muak hanya menatap satpam itu dengan senyum sinis sebelum akhirnya berbalik.“Sial, apa-apaan mereka tadi?” gumam Raka. “Sudahlah, lebih baik aku pulang.”Raka segera menuju motornya dan tanpa membuang waktu langsung tancap gas menuju rumah. Sepanjang perjalanan, ponselnya terus berdering. Namun, karena masih kesal dengan perlakuan satpam tadi, Raka memilih mengabaikannya.Sesampainya di rumah, Raka memarkirkan motor lalu masuk dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.“Kenapa ponselku terus berbunyi?” gumamnya.Raka merogoh saku celana dan melihat layar ponselnya.“Ternyata Bunda Laras.”Ia segera mengangkat telepon meski masih diliputi rasa kesal.“Halo, Bunda Laras.”“Raka, bagaimana? Apa kau sudah bertemu Pak Doni?” tanya Bunda Laras dari seberang telepon.“Jangankan bertemu, masuk saja aku tidak diperbolehkan,” jawab Raka kesal.“Apa?! Kau tidak boleh mas

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 30

    "Eh, Ririn...” ujar Raka sambil berpura-pura menghentikan motornya.“Kenapa Mas Raka malah putar balik?” tanya Ririn sambil bertolak pinggang.“I-itu... sepertinya aku menjatuhkan belanjaan di jalan,” jawab Raka buru-buru mencari alasan. “Tadi aku membeli martabak untukmu dan Bu Ratna.”“Oh, begitu...” Ririn mengangguk, meski terdengar masih setengah percaya.Ririn tidak menyadari wajah Raka yang penuh memar karena pria itu masih mengenakan helm dengan kaca tertutup.“Iya, benar,” lanjut Raka meyakinkan. “Bagaimana kalau kamu ikut saja? Kita beli lagi.”“Sepertinya seru juga,” ujar Ririn. “Ayo deh, Mas Raka. Sekalian jalan-jalan malam.”Raka dan Ririn akhirnya pergi mencari penjual martabak terdekat. Namun, Raka sengaja memilih jalan yang lebih jauh dan menghindari kawasan yang biasanya terdapat penjual martabak untuk mengulur waktu.Sepanjang perjalanan, Ririn terus bertanya tentang terapi yang dilakukan Raka. Ia memang selalu penasaran dengan kemampuan Raka dan tampak antusias setia

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 29

    “Apa maksud Bunda Laras?” tanya Raka.“Aku memiliki seorang klien yang bergerak di industri perbankan. Anaknya mengalami kelumpuhan yang hingga kini belum diketahui penyebabnya,” jelas Bunda Laras.“Berbagai pengobatan sudah dicoba, tetapi kondisinya tidak juga menunjukkan perkembangan.”“Jadi, Bunda ingin aku mengobati anak dari klien Bunda?” tebak Raka.“Benar, Raka. Aku percaya kemampuan unikmu itu mungkin bisa membantu menyembuhkan anak klienku,” jawab Bunda Laras.Bunda Laras kemudian menjelaskan bahwa ia bekerja sebagai konsultan hukum untuk beberapa perusahaan ternama. Salah satu kliennya, pemilik sebuah bank swasta, tengah mengadakan sayembara bagi siapa pun yang mampu menyembuhkan putrinya. Bagi siapa pun yang berhasil menyembuhkannya, pasti hadiah yang disiapkan cukup besar.“Aku sendiri tidak tahu secara pasti hadiah apa yang ditawarkan,” lanjut Bunda Laras. “Namun, melihat siapa yang mengadakan sayembara itu, hadiahny

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 28

    Saat ketiganya tengah asyik membicarakan Ibu Anin, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari arah tangga. Ibu Anin berlari menuruni tangga dan, begitu mencapai tiga anak tangga terakhir, ia melompat lalu melakukan salto. Anin, Tante Mira, dan Raka sontak terbelalak melihat aksi tersebut.“Ibu! Hati-hati!” teriak Anin cemas karena takut ibunya terjatuh.Begitu berhasil mendarat dengan sempurna di lantai, ketiganya langsung mengembuskan napas lega.“Tenang saja, Anin,” ujar Ibu Anin sambil tersenyum. “Ibu hanya ingin menguji apakah tubuh Ibu sudah benar-benar pulih atau belum.”Ibu Anin kemudian menatap Raka dengan heran.“Anin, kenapa terapis itu sampai babak belur begitu?” tanyanya.“Jangan panggil Mas Raka dengan sebutan terapis, Ibu!” tegas Anin. “Itu semua karena ulah Ibu ketika sedang tidak sadarkan diri.”“Ah... begitu ternyata,” jawab Ibu Anin santai, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.“Kamu ini bena

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 27

    Kurang lebih dua jam berlalu. Tante Mira dan Anin tampak duduk di ruang tamu, menunggu Raka menyelesaikan sesi terapinya."Anin, sepertinya ibumu sangat kesakitan," ujar Tante Mira cemas."Iya, Nek. Mungkin itu efek terapi yang dilakukan Mas Raka," sahut Anin."Tapi kemarin waktu Nenek dipijat Raka, rasanya enak sekali," balas Tante Mira heran."Iya, Nek... aku juga—" Anin mendadak menghentikan ucapannya, menyadari ia baru saja keceplosan."Kamu dipijat Raka juga?" tanya Tante Mira menyelidik."I-iya, Nek..." aku Anin pasrah."Oh, jadi ternyata..." Tante Mira tersenyum penuh arti."Nek... kenapa memandangku seperti itu?" gumam Anin malu."Kamu dan Raka pasti..." Tante Mira manggut-manggut seolah paham betul apa yang terjadi."Tidak... Ini tidak seperti yang Nenek bayangkan!" sergah Anin dengan wajah yang kian memerah.Di tengah percakapan mereka, Raka tiba-tiba tampak menuruni tangga d

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 25

    "Aku akan melaporkanmu atas tindakan pelecehan!" Ancam Ibu Anin tegas.Raka mengira keributan itu sudah selesai dan ia hanya perlu melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan Ibu Anin. Namun, ucapan wanita itu barusan sukses memancing kekesalannya.Raka hendak menyanggah, tetapi Anin dengan cepat menarik lengannya."Sudah, Mas Raka. Tidak perlu dilanjutkan," bisik Anin sambil menatap Ibunya dengan kesal. "Biarkan saja. Ibuku memang keras kepala."Raka menahan langkahnya dan menatap Anin penuh tanya."Tidak apa-apa, Mas. Aku akan tetap membayar Mas Raka," lanjut Anin. "Lebih baik kita pergi saja sekarang."Ibu Anin tersenyum licik. Luka masa lalu membuatnya menyimpan dendam terhadap laki-laki, hingga ia selalu berusaha mengalahkan mereka dengan cara apa pun.Raka memegang kedua bahu Anin dengan lembut, berusaha menenangkan wanita itu."Percaya padaku," ujar Raka lembut. "Semua akan baik-baik saja.""Aku ti

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status