Compartilhar

Chapter 98

Autor: Tinta_Jojon
last update Data de publicação: 2026-09-22 21:53:22

Raka membeku. Ia menatap Maharani selama beberapa detik, berusaha menebak apa sebenarnya yang sedang ada di dalam kepala wanita di hadapannya.

"Kenapa diam?" tanya Maharani ketika Raka tidak kunjung memberikan jawaban.

"Kamu... serius bilang begitu?" Bukannya menjawab, Raka justru balik bertanya.

"Kenapa nggak?" Maharani menjawab santai. "Kita punya kondisi yang sama, dan aku juga sudah lama nggak melakukannya."

Raka mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya.

"Kamu benar-benar wanita
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 99

    "Tu-tunggu." Raka terdengar gugup. "Tanggung jawab apa?"Tawa kecil terdengar dari belakangnya."Tadi kamu bilang nggak mau melakukannya karena masih menganggapku orang asing, kan?" ucap Maharani menggoda.Raka tetap berdiri membelakangi Maharani. Entah kenapa, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Bahkan dalam beberapa situasi canggung bersama wanita lain sebelumnya, ia masih bisa mengendalikan dirinya dengan cukup baik."I-iya. Terus kenapa?" tanya Raka.Suara langkah kaki perlahan terdengar mendekat. Belum sempat Raka bereaksi, sepasang tangan tiba-tiba melingkar di perutnya. Maharani memeluknya dari belakang."Setelah apa yang barusan kamu lihat..." Maharani sengaja menggantung kalimatnya beberapa saat. "Masih pantas menganggapku orang asing?"Raka bisa merasakan kehangatan tubuh Maharani dari balik pakaiannya. Kedekatan itu membuatnya semakin sulit mempertahankan ketenangan."Maharani, lepaskan." Raka mencoba melepaskan kedua tangan Maharani dari perutnya.Namun, Maharan

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 98

    Raka membeku. Ia menatap Maharani selama beberapa detik, berusaha menebak apa sebenarnya yang sedang ada di dalam kepala wanita di hadapannya."Kenapa diam?" tanya Maharani ketika Raka tidak kunjung memberikan jawaban."Kamu... serius bilang begitu?" Bukannya menjawab, Raka justru balik bertanya."Kenapa nggak?" Maharani menjawab santai. "Kita punya kondisi yang sama, dan aku juga sudah lama nggak melakukannya."Raka mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya."Kamu benar-benar wanita yang sulit ditebak, ya." Raka menggeleng pelan. "Kamu masih mau dengar jawabanku?""Iya," jawab Maharani singkat."Karena kamu orangnya suka blak-blakan, aku juga bakal jawab langsung ke intinya." Raka menatapnya mantap. "Nggak. Aku nggak mau!"Maharani mengangkat sebelah alis."Kenapa?" Ia sengaja membusungkan dadanya. "Memangnya aku kurang menarik?"Raka tertawa singkat mendengar pertanyaan itu. Namun, beberapa detik kemudian ia kembali memperhatikan wanita di hadapannya dengan lebih serius."

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 97

    "Karena kalau dilanjutkan, aku yakin akhirnya cuma akan jadi penyesalan," jawab Raka. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bicara soal profesionalisme?"Maharani masih menatap Raka dengan kesal. Namun, setelah mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya perlahan melunak."Kamu benar juga." Maharani tertawa pahit. Tanpa diminta, ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang terapi."Kamu mau ke mana?" tanya Raka."Aku cuma mau duduk." Maharani tidak menatapnya. "Aku juga mau kamu duduk sekarang."Raka tidak membantah setelah melihat perubahan sikap Maharani. Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya."Jadi bagaimana? Kamu udah percaya dengan alasanku?" tanya Raka. "Selain karena alasan tadi, aku juga udah berjanji kepada mendiang ayahku untuk merahasiakan kemampuan ini."Maharani menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya sembari menganggukkan kepala pelan, tetapi beberapa saat kemudian tatapannya kembali jatuh ke lantai."Ada apa, Maharani?" tanya Raka melihat sikap Maharani yang se

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 96

    "Oke, tunggu sebentar." Raka menuangkan minyak pijat secukupnya ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya perlahan. "Kamu bisa tengkurap sekarang."Maharani menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi tengkurap yang nyaman dengan kedua tangan menopang dagu."Maaf, Maharani. Sebelum kita mulai, aku harus membuka resleting jubah terapinya," ujar Raka."Buka saja, nggak apa-apa." Maharani menjawab santai tanpa sedikit pun terlihat canggung. "Yang penting kamu bisa tetap profesional.""Sejauh ini aku masih bisa profesional," jawab Raka tenang.Raka meraih resleting di bagian belakang jubah terapi Maharani lalu membukanya perlahan. Semakin resleting itu turun, semakin terlihat kulit punggung Maharani yang mulus dan sangat terawat. Nyaris tidak terlihat noda sedikit pun pada kulitnya.Namun, Raka tidak membiarkan pandangannya berlama-lama. Ia kembali memusatkan perhatian pada terapi yang akan dilakukan."Aku mulai, ya?" ujar Raka memberi aba-aba."Hmmm," jawab Maharani

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 95

    Raka terdiam mendengar permintaan Maharani. Ia bahkan sempat melirik Kiera untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.Kiera hanya mengangguk singkat, membenarkan apa yang baru saja didengarnya. Raka pun kembali menatap Maharani."Anda serius?" tanya Raka."Iya, aku serius." Maharani mengangguk. "Tapi bisa nggak kamu ubah gaya bicaramu itu? Aku nggak suka bicara terlalu formal."Raka menatap Maharani beberapa saat. Ia cukup kesulitan menebak karakter wanita di hadapannya. Sosoknya terlihat dingin dan tegas, tetapi justru tidak menyukai formalitas. Benar-benar perpaduan yang tidak biasa."Kenapa?" Maharani mengangkat sebelah alis ketika melihat Raka hanya diam. "Ada masalah?""Nggak kok," jawab Raka akhirnya. "Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Kemampuan yang aku punya bukan untuk membuktikan sesuatu. Aku menggunakannya untuk membantu orang yang memang punya keluhan."Maharani sedikit mengernyit. Ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang seperti Raka. Tidak ada sedikit pun kesombon

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 94

    Pintu kaca Panti Pijat Cakra Sehat terbuka. Ririn yang menyadari kedatangan dua wanita itu langsung mengenali salah satunya."Mas Raka, itu Kak Kiera datang," seru Ririn.Kiera masuk lebih dulu dengan senyum lebar. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.Raka yang sedang berdiri di depan meja resepsionis segera menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya semula tertuju pada Kiera, sebelum akhirnya beralih kepada wanita yang berjalan di belakangnya.Wanita itu tampak dewasa dan anggun dengan setelan jas berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Sepasang anting kecil di telinganya sesekali berkilau terkena cahaya matahari sore yang menerobos dari balik pintu kaca.Tatapan wanita itu bertemu dengan Raka.Wajah cantiknya tidak memperlihatkan banyak ekspresi. Langkahnya teratur dan penuh ketenangan. Matanya sempat menyapu seluruh ruang tunggu sebelum kembali berhenti pada Raka.Raka segera mengalihkan perhatiannya kepada Kiera yang berjalan mendekat."

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status