LOGINUsai makan malam itu, Dara segera membereskan piring bekas makan mereka, membawanya ke wastafel untuk mencucinya.
Rendra berdiri daei kursinya, pamit untuk mandi. “Aku harus mandi dulu Sayang, udah lengket banget badan aku rasanya. Nanti kita nonton film horor ya?” dia mendekat, mengecup kening Dara.“Iya, Bi. Kamu mandi dulu aja. Udah bau banget ini,” godanya sambil tertawa.Rendra membalas dengan tertawa kecil, lalu mengecup pipi Dara sebelum benarSuasana di apartemen Irvan berubah drastis dalam tiga hari. Meja makan yang biasanya bersih kini penuh dengan berkas-berkas, laptop, dan secangkir kopi yang sudah dingin sejak pagi. Irvan duduk dengan mata merah, lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas.Nina berjalan mendekat dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat.“Mas, ada pesan masuk.”Irvan mengangkat wajah lesu. “Apa lagi?”Nina menunjukkan ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya foto foto Irvan sedang makan malam dengan seorang wanita cantik di restoran mewah. Wanita itu tertawa, tangannya menyentuh lengan Irvan dengan akrab.“Masih mau nikah sama playboy ini?” tulis pesan itu.Irvan membaca, lalu menghela napas panjang. “Sayang, itu cuma klien. Klien dari luar kota. Kami makan malam bisnis, nggak lebih.”Nina menatapnya. Bukan curiga, tetapi lebih kepada iba.“Mas, aku nggak percaya in
Keesokan paginya, Irvan baru saja tiba di kantornya ketika sekretarisnya, Rina, menyambut dengan wajah pucat.“Pak Irvan, ada berita buruk,” kata wanita itu.Irvan mengerutkan kening. “Ada apa?”Rina menunjukkan layar ponselnya. Sebuah portal berita online menampilkan judul yang sangat mencolok.“Proyek Apartemen Mewah Irvan Pratama Diduga Bermasalah: Izin Lingkungan Dipertanyakan”.Irvan membaca cepat. Isinya tuduhan tanpa bukti yang jelas, tetapi ditulis dengan gaya seolah-olah itu adalah fakta. Nama perusahaannya disebut berkali-kali, disandingkan dengan foto proyek yang sedang berjalan.“Ini fitnah,” gumamnya.Namun, sebelum dia sempat bereaksi, ponselnya berdering. Dari seorang investor.“Pak Irvan, ada apa dengan berita ini? Saya dapat telepon dari rekan-rekan.”Irvan menenangkan. “Itu berita bohong, Pak. Saya akan klarifikasi—”Kemudian
“Sial!”Arkha membanting ponselnya ke kursi penumpang. Dia memukul setir dengan kedua telapak tangan, membuat klakson melengking sebentar, memecah keheningan malam.Beberapa pejalan kaki menoleh, tapi cepat-cepat berpaling begitu melihat ekspresi Arkha. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menonjol, matanya menyala dengan api kemarahan yang mengerikan.“Rendra,” desisnya, meludahkan nama itu seperti racun. “Pasti Rendra yang suruh. Dia memang seneng banget bikin aku emosi.”Dia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Amarah tidak akan membantu. Dia harus berpikir jernih.Ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari Ben.“Gimana?” suara Ben di seberang.“Nomorku diblokir sama Dara. Aku nggak bisa hubungi dia.”Ben tertawa kecil. “Udah kuduga. Rendra pasti tahu.”“Iya. Sekarang gimana?”Keheningan di seberang beberapa saat. Lalu Ben berka
Dara berlari, memeluk suaminya erat. “Nggak akan, Bi. Nggak akan pernah.”Mereka berpelukan di tengah ruangan, meja makan dengan makanan setengah tersentuh jadi saksi. Rendra memeluknya balik, erat, seolah takut jika dilepas, Arkha akan datang dan merenggutnya.“Maaf,” bisik Rendra sambil mengusap lembut rambut Dara. “Maaf aku marah-marah.”“Maafin aku juga, Bi. Harusnya aku cerita dari awal,” bisik Dara.Rendra melepas pelukan, menatap Dara. “Janji, mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kamu cerita. Sekecil apa pun. Bahkan kalau Arkha cuma lewat di depan apartemen.”Dara tersenyum tipis di sela air mata. “Iya. Aku janji.”Mereka kembali berpelukan, kali ini lebih lama. Di luar, malam semakin larut.“Kita hapus nomornya,” kata Rendra. “Blokir semua kontak. Nggak ada lagi akses dia ke kamu dan sebaliknya. Aku nggak sanggup kalau harus ngelihat dia deketin kamu. Nggak akan.”
Malam itu, Dara berusaha keras melupakan pertemuan singkat dengan Arkha. Dia ingin percaya bahwa itu hanya badai kecil yang bisa ia lewati. Fokusnya kembali pada hal yang paling berarti saat ini. Dirinya sendiri, kesehatannya, dan program kehamilan yang tengah ia jalani dengan penuh harap.Rendra duduk di seberang meja makan. Suasana hangat menemani mereka—nasi goreng buatan Dara, dua gelas jus alpukat, dan canda ringan yang mengisi sela-sela suapan. Untuk sesaat, semuanya terasa normal. Bahagia.Lalu ponsel Dara berdering.Getaran itu mengganggu ketenangan, meninggalkan bekas di permukaan kayu. Rendra, dengan refleks seorang suami yang terbiasa melayani, mengulurkan tangan.“Biar aku aja yang ambil hape kamu, Sayang,” katanya, santai.Dara mengangguk tanpa curiga, menyuap nasi goreng berikutnya.Rendra meraih ponsel itu. Layar menyala, memperlihatkan sebuah nama yang membuat jantungnya berhenti berd
Arkha berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan kemeja biru muda yang sengaja dia pilih untuk bertemu Dara. Warna itu, dia tahu, adalah favorit Dara. Dia mulai berlatih ekspresi wajahnya.Dia menunduk sedikit, mata berkaca-kaca, bibir bergetar. Ekspresi penyesalan sempurna yang dia latih berhari-hari di depan cermin.“Kamu bisa melakukan ini, Arkha,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Dia perempuan yang hatinya lemah. Dia akan luluh.”Di meja rias, sebuah kotak cincin terbuka. Bukan cincin pernikahan mereka yang dulu, itu sudah menjadi kenangan. Cincin itu baru dibelinya. Cincin soliter dengan berlian besar, simbol bahwa dia bisa memberikan lebih dari Rendra.Ponselnya bergetar. Pesan dari Ben.[Dia lagi sendirian di apartemen. Rendra baru berangkat ke klinik. Lakukan sekarang atau kita tidak punya kesempatan sama sekali].Arkha tersenyum. Waktu yang sempurna.Dia mengambil kotak cin







