Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 100. Reuni Berdarah Sang Prajurit Tembaga

Share

100. Reuni Berdarah Sang Prajurit Tembaga

Author: Donat Mblondo
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-08 07:07:28

Gerbang baja raksasa itu berderit mengerikan, terdorong paksa ke dalam hingga akhirnya ambruk menghantam tanah dengan dentuman yang menggetarkan bumi.

​Jalan menuju perut Benteng Baja Utara kini terbuka lebar. Renshu melangkah masuk melangkahi puing-puing gerbang, diikuti oleh gelombang pasang tentara Zixiao. Saat obor-obor dinyalakan, pemandangan di dalam benteng membuat prajurit Zixiao yang paling tangguh sekalipun menahan napas ngeri.

​Tidak ada pertempuran. Tidak ada perlawanan. Di halaman
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuh Aku, Renshu!   101. Pesan Kematian untuk Teratai Merah

    ​Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Benteng Baja Utara, kebanggaan militer Yanze, jatuh tanpa ada satu pun korban jiwa dari pihak Zixiao. Asap hitam dari panji naga merah Yanze yang dibakar mengepul ke angkasa, segera digantikan oleh kibaran angkuh panji Naga Langit yang ditancapkan di puncak menara tertinggi.​Liying keluar dari kereta baja komandonya, melangkah ke atas tanah yang bersimbah campuran darah hitam dan merah. Sang Ratu menolak menggunakan tandu atau digendong. Sepatu bot kulitnya menginjak genangan darah tanpa keraguan sedikit pun. Wajahnya sedingin pusaran es abadi, matanya menatap benteng yang telah ditaklukkannya dengan kalkulasi yang kejam.​"Shao," panggil Liying, suaranya jernih dan tajam menembus kesibukan prajurit Zixiao yang sedang membersihkan medan perang.​Sang mata-mata yang kini merangkap sebagai komandan intelijen segera berlari mendekat dan berlutut satu kaki. "Hamba siap menerima perintah, Yang Mulia Ratu."​"Kumpulkan seratus perwira ber

  • Sentuh Aku, Renshu!   100. Reuni Berdarah Sang Prajurit Tembaga

    Gerbang baja raksasa itu berderit mengerikan, terdorong paksa ke dalam hingga akhirnya ambruk menghantam tanah dengan dentuman yang menggetarkan bumi.​Jalan menuju perut Benteng Baja Utara kini terbuka lebar. Renshu melangkah masuk melangkahi puing-puing gerbang, diikuti oleh gelombang pasang tentara Zixiao. Saat obor-obor dinyalakan, pemandangan di dalam benteng membuat prajurit Zixiao yang paling tangguh sekalipun menahan napas ngeri.​Tidak ada pertempuran. Tidak ada perlawanan. Di halaman benteng, di atas menara pengawas, hingga di dalam barak-barak, lima belas ribu prajurit Yanze bergelimpangan bagaikan boneka rusak. Wajah mereka kaku, bibir mereka membiru, dan darah hitam pekat menggenang dari hidung dan mulut mereka. Racun modifikasi Meilin telah membunuh mereka dalam kesunyian yang mencekik.​Renshu berjalan lurus tanpa memedulikan lautan mayat di sekitarnya. Tujuannya hanya satu: aula komando utama.​Di dalam ruangan yang hangat oleh perapian itu, Komandan Jenderal Yanze ter

  • Sentuh Aku, Renshu!   99. Racun di Hulu Sungai

    Malam beringsut menelan perbatasan selatan Yanze, membawa serta hawa dingin ekstrem yang menusuk tulang. Di dalam Benteng Baja Utara, Komandan Jenderal Yanze duduk di depan perapian besar di ruang komandonya, menyesap arak beras yang hangat. Ia sangat percaya diri. Gerbang benteng yang terbuat dari baja padat telah dikunci dari dalam menggunakan lima lapis palang besi seukuran pilar kuil.​"Biarkan anjing-anjing Zixiao itu mendirikan kemah di luar sana," ucap sang Jenderal kepada wakilnya, tertawa meremehkan. "Gudang bawah tanah kita menyimpan gandum dan daging kering yang cukup untuk memberi makan lima belas ribu prajurit selama empat bulan penuh. Kita tidak perlu melepaskan satu anak panah pun. Saat badai salju pertama turun tiga hari lagi, mereka akan kelaparan, kedinginan, dan kita hanya perlu keluar untuk menyapu mayat-mayat mereka."​Sang wakil mengangguk setuju, tersenyum menjilat. "Taktik bertahan Anda tidak tertandingi, Jenderal."​Di luar benteng, di tengah kegelapan malam y

  • Sentuh Aku, Renshu!   98. Pawai Penakluk Dunia

    Bumi bergetar seolah merintih di bawah tekanan yang tidak wajar. Di bentangan dataran tandus yang memisahkan wilayah Zixiao dan perbatasan selatan Yanze, sebuah gelombang pasang berwarna hitam legam bergerak perlahan namun pasti menelan cakrawala. Seratus ribu Prajurit Naga Langit berbaris dalam formasi tempur absolut. Zirah hitam mereka memantulkan cahaya matahari musim gugur yang pucat, menciptakan lautan baja yang mendidih oleh haus darah. Panji-panji perang bersulam naga perak berkibar liar ditiup angin, membawa hawa kematian yang pekat menuju tanah kelahiran musuh bebuyutan mereka.​Di pusat lautan baja tersebut, bergemuruh sebuah kereta perang raksasa yang ditarik oleh delapan ekor kuda perang berlapis zirah. Kereta itu bukanlah kereta kayu biasa yang dihiasi sutra emas, melainkan sebuah benteng berjalan yang dilapisi pelat baja tebal, dirancang khusus untuk menahan gempuran batu ketapel maupun hujan panah api.​Di dalam lambung kereta baja yang disulap menjadi tenda komando itu

  • Sentuh Aku, Renshu!   97. Terompet Perang Penakluk Dunia

    ​Keheningan absolut mencekik puncak altar penobatan. Seluruh pejabat dan jenderal Zixiao menahan napas, menatap Ratu mereka yang berdiri mematung memandangi jubah berdarah tersebut. Di masa lalu, konfrontasi dengan kekejaman Bojing selalu berhasil membuat Liying terpojok dalam ketakutan dan keputusasaan. Traumatik manipulasi yang ditanamkan sang Putra Mahkota Yanze selalu menjadi belenggu tak kasatmata yang merantai jiwa Liying.​Namun hari ini, di bawah langit Zixiao, Liying bukan lagi gadis rapuh yang dikurung di Paviliun Kaca Kusam.​Alih-alih jatuh menangis atau berteriak histeris, Liying meremas surat dari Bojing itu hingga hancur di dalam genggamannya. Matanya yang tadinya bergetar perlahan berubah. Kesedihan dan rasa bersalahnya membeku, bertransformasi menjadi pusaran es yang sangat gelap dan mematikan. Liying menatap jubah berdarah ibunya bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan kejernihan seorang pembunuh berdarah dingin.​Melihat wanitanya diam membeku, utusan Yanze itu

  • Sentuh Aku, Renshu!   96. Surat Darah dari Masa Lalu

    Alun-alun utama Istana Longjing dipenuhi oleh lautan manusia yang berbaris rapi di bawah langit musim gugur yang cerah. Ratusan ribu Prajurit Naga Langit dengan zirah hitam mengkilap berdiri tegak lurus, membentuk formasi persegi yang membentang hingga ke batas cakrawala. Di atas anak tangga pualam tertinggi yang mengarah ke Kuil Leluhur, altar upacara penobatan ganda telah disiapkan dengan kemegahan yang melampaui sejarah Zixiao selama berabad-abad.​Asap dupa cendana mengepul ke udara, membawa aroma sakral yang menyapu sisa-sisa bau amis darah dari kudeta beberapa hari lalu.​Chu Renshu berdiri menjulang di puncak altar. Sang penguasa absolut Zixiao itu mengenakan jubah kekaisaran berwarna hitam legam yang ditenun dengan benang emas murni. Mahkota Naga Langit, sebuah mahkota emas berat yang dihiasi batu obsidian hitam, telah terpasang kokoh di atas kepalanya. Wajahnya yang bersudut tajam menatap lautan pasukannya dengan ketenangan seorang tiran yang tak terbantahkan.​Di sisinya, Li

  • Sentuh Aku, Renshu!   27. Wajah Polos Sang Penyusup

    Matahari siang bersinar terik, memanggang atap-atap genteng emas ibu kota kekaisaran. Di depan gerbang ganda Paviliun Kaca Kusam, Chu Renshu berdiri tegap bagaikan patung batu penjaga kuil. Zirah kulitnya memantulkan cahaya, sementara wajah kerasnya tak menunjukkan emosi apa pun.​Namun, di balik t

  • Sentuh Aku, Renshu!   25. Pergumulan Terpanas di Taman Bambu

    Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.​Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesop

  • Sentuh Aku, Renshu!   19. Amarah Tak Bersuara di Taman Bambu

    Angin malam berembus kencang, menampar dedaunan bambu hingga menciptakan suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan menakutkan. Di tengah taman yang remang, udara terasa begitu pekat dan mencekik, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram leher siapa pun yang berani melangkah masuk.​Li

  • Sentuh Aku, Renshu!   18. Kunjungan Musuh dalam Selimut

    Matahari menjelang siang bersinar terik, memantulkan cahaya keemasan di atap Paviliun Kaca Kusam. Di beranda yang menghadap ke taman teratai, teh melati kualitas terbaik telah diseduh, mengepulkan aroma wangi yang seharusnya menenangkan.​Namun bagi Yan Liying, aroma itu tidak mampu menutupi bau ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status