MasukSatu jam setelah mereka meninggalkan pelabuhan, daratan Zixiao lenyap ditelan kabut. Hei Sha kini berada di pelukan Laut Mo Hai. Nama "Lautan Iblis" bukanlah kiasan semata. Air di perairan ini berwarna hitam pekat layaknya tinta, menyerap seluruh cahaya bulan. Ombak yang menghantam lambung besi kapal terdengar seperti raungan ribuan serigala yang kelaparan, mengguncang kapal secara brutal setiap beberapa tarikan napas.Di dalam kabin kapten yang diberikan kepada mereka, situasinya tidak kalah mencekam dari badai di luar. Kabin itu sempit, diterangi oleh dua lentera minyak yang bergoyang liar. Tabib Meilin duduk di lantai kayu, menjaga sebuah tungku arang perunggu agar tetap menyala maksimal.Namun, panas dari tungku itu sama sekali tidak berguna.Di atas ranjang kayu yang dipaku ke lantai, Liying terbaring tanpa bergerak. Hawa beku yang memancar dari tubuhnya semakin tidak terkendali. Dinding kayu di sekitar ranjang telah sepenuhnya dilapisi oleh bunga es setebal dua jari. Napas Li
Hembusan angin malam di pesisir timur membawa serta bau garam yang anyir dan aroma ikan busuk. Jauh dari kemegahan Istana Naga Langit, Pelabuhan Tengkorak Hitam adalah titik paling kotor di seluruh daratan Zixiao. Tempat ini tidak memiliki hukum, hanya diisi oleh para buronan, penyelundup, dan pembunuh yang mencari perlindungan di balik bayang-bayang.Di ujung dermaga kayu yang reyot, sebuah kapal raksasa bersandar dengan angkuh. Lambungnya terbuat dari kayu ulin yang dilapisi oleh pelat besi hitam pekat, dirancang khusus untuk menabrak karang dan membelah ombak. Sebuah bendera robek berkibar di tiang utamanya. Itulah Hei Sha, Hiu Hitam, satu-satunya kapal yang diklaim mampu kembali dari neraka.Chu Renshu melangkah di atas dermaga, membawa tubuh Liying yang dibungkus tiga lapis mantel bulu beruang di dalam dekapannya. Di belakangnya, Xiaoxiao dan Meilin mengikuti dengan langkah waspada. Hawa membunuh sang Kaisar begitu pekat hingga para preman pelabuhan yang biasanya mencari mangsa
"T-Tidak ada penawarnya di benua kotor ini!" rintih pembunuh itu, napasnya tersengal. "Spora itu... membekukan aliran darah. Hanya mineral vulkanik ekstrem yang bisa mencairkannya!"Pintu sel bawah tanah didobrak terbuka. Chu Renshu melangkah masuk, hawa membunuhnya langsung mencekik udara di dalam ruangan. Ia mencengkeram rahang pembunuh itu dengan tangan besarnya, mengangkat wajah pria itu hingga menatap mata kelam sang Kaisar."Di mana benda itu berada?" desis Renshu. "Katakan, atau aku akan meremukkan kepalamu seperti kacang."Pembunuh itu tertawa terbahak-bahak di sela batuk darahnya, menikmati keputusasaan di mata sang tiran. "Kau tidak akan pernah bisa mengambilnya! Penawar mutlaknya adalah Inti Batu Kumala. Benda itu hanya tumbuh di kawah vulkanik wilayah musuh bebuyutan kami... Sekte Batu Hitam."Renshu menyipitkan matanya. "Di mana letak tempat itu?""Di benua seberang!" ejek pembunuh itu. "Kau harus menyeberangi Laut Mo Hai, lautan badai gulita yang menelan armada mana
Tiga hari tiga malam berlalu, dan Istana Naga Langit terasa seperti kuburan masif. Bau tajam dari ratusan jenis herbal yang direbus memenuhi udara di Paviliun Kaca, namun tidak ada satu pun dari ramuan itu yang mampu mengusir hawa dingin di kamar sang Ratu.Di samping ranjang kekaisaran, Meilin duduk bersimpuh dengan kantung mata yang menghitam dan tangan yang gemetar. Di tangannya, sebuah mangkuk perunggu berisi kaldu akar naga api, ramuan penambah panas paling ekstrem dari dunia fana, baru saja diangkat dari tungku. Namun, saat Meilin menyendokkan ramuan mendidih itu dan mendekatkannya ke bibir Liying, uap panasnya langsung membeku, mengubah cairan itu menjadi serpihan es merah bahkan sebelum menyentuh lidah sang Ratu.PRANG!Meilin membanting mangkuk itu ke lantai, menutupi wajahnya yang basah oleh air mata frustrasi. "Tidak berguna... Semuanya sia-sia!" isaknya putus asa. "Racun sialan ini menolak hukum alam. Ramuanku bahkan tidak bisa menembus tenggorokannya!"Chu Renshu berd
"LIYING!"Raungan Renshu membelah keheningan kamar. Pria bertubuh besar itu menerjang melewati kepulan kabut hijau, menggunakan tubuhnya sendiri dan jubah sutranya untuk membungkus Liying, berusaha melindunginya dari paparan udara yang tercemar.Debu spora hijau itu perlahan mengendap, meresap ke dalam kain, kulit, dan lantai layaknya embun pagi. Beberapa partikel yang memancarkan cahaya pendar redup sempat terhirup oleh Liying sebelum Renshu menutupi wajahnya.Sang Ratu terbatuk pelan di dalam pelukan suaminya. "R-Renshu..."Renshu melepaskan pelukannya dengan panik, matanya menyapu seluruh tubuh Liying, mencari luka gores atau tanda-tanda pendarahan. Namun, kulit wanitanya tampak mulus. Tidak ada darah yang keluar dari hidung atau mulutnya. Spora itu tidak meninggalkan jejak fisik yang terlihat oleh mata telanjang."Kau berdarah? Mana yang sakit? Katakan padaku!" sergah Renshu, tangannya yang masih berlumuran darah musuh gemetar saat menyentuh pipi Liying.Liying menggeleng p
Serpihan kayu mahoni melesat membelah udara layaknya ratusan anak panah yang ditembakkan secara serempak. Pintu berukir naga yang tebal itu meledak hancur berantakan, menghantam dinding koridor dengan dentuman yang memekakkan telinga. Ketiga pembunuh dari Sekte Sen Luo Mu yang tengah bersiap menyusup itu terpaksa melompat mundur, jubah kulit kayu mereka berdesir menahan gelombang kejut dari ledakan tersebut.Dari balik kepulan debu dan serpihan kayu yang beterbangan, melangkah keluar sosok monster yang sesungguhnya.Kaisar Chu Renshu berdiri menjulang di ambang pintu. Pria bertubuh besar itu tidak mengenakan zirah perang, melainkan hanya jubah tidur sutra hitam yang mempertegas otot-otot di dada dan lengannya. Di tangan kanannya, ia menggenggam pedang baja hitamnya erat-erat. Mata kelam sang Kaisar menyala oleh amarah yang begitu pekat, menciptakan tekanan udara yang membuat napas ketiga pembunuh itu tercekat sesaat."Kalian berani membawa bau busuk kalian ke ambang pintu Ratu-ku?
Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesop
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra
Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dingin
Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b






