MasukSisa-sisa pasukan Yanze yang formasi dan mentalnya telah hancur lebur kini mundur dengan panik ke satu titik terakhir: Istana Teratai Merah. Kediaman pribadi sekaligus basis kekuasaan absolut milik Putra Mahkota Bojing itu berdiri menjulang di pusat ibu kota, dipisahkan oleh pelataran marmer putih yang luar biasa luas. Namun malam ini, marmer putih itu tidak lagi terlihat; warnanya telah tertutup oleh abu vulkanik dari bangunan yang terbakar dan genangan darah prajurit yang sekarat.Derap langkah kuda yang berat memecah kepanikan sisa-sisa prajurit Yanze di pelataran tersebut. Chu Renshu tiba. Kuda perangnya mendengus kasar, napasnya mengepulkan uap putih di udara malam yang beku. Sang Kaisar Zixiao melompat turun dari pelana. Tubuh tingginya yang dibalut zirah hitam legam kini telah berubah warna; setiap inci pelat baja dan jubahnya sepenuhnya basah oleh darah kental musuh-musuhnya.Di depan anak tangga yang menuju pintu mahoni raksasa Istana Teratai Merah, tiga sosok berdiri menghad
Neraka tidak lagi berada di bawah tanah atau di dalam ruang penyiksaan; malam ini, neraka telah merangkak naik dan berpindah ke jalanan ibu kota Kekaisaran Yanze. Pertempuran yang awalnya terpusat di pelataran gerbang utama kini menjalar cepat layaknya api yang menyambar padang ilalang kering, menelan setiap blok bangunan dan gang sempit. Ribuan kavaleri berat Zixiao merangsek masuk, membelah kota menjadi lautan darah dan membantai sisa-sisa Pengawal Elit Teratai Merah yang mencoba bertahan di balik barikade-barikade kayu.Di atas atap-atap genteng yang melengkung, perang bayangan berskala mematikan tengah terjadi. Udara dipenuhi oleh kepulan asap hitam pekat dari bangunan militer yang dibakar."Menyebar! Ambil posisi di setiap sudut atap menara!" perintah Xiaoxiao dengan suara berbisik yang tajam, memberi isyarat tangan kepada puluhan anggota unit bayangannya. Remaja berusia tujuh belas tahun itu mencabut selusin jarum perak dari balik sabuknya. "Jika ada satu saja anak panah musuh y
Di tengah medan perang yang membeku oleh ketegangan, tangan Liying terangkat tinggi di udara, sebuah gestur tunggal yang akan mengubah arah sejarah kedua kekaisaran untuk selamanya. Angin malam yang berhembus kencang membuat jubah hitam kemerahannya berkibar liar, membingkai wajah sang Ratu yang kini tampak seperti dewi pembalasan tanpa belas kasih.Di atas tembok raksasa ibu kota Yanze, senyum sosiopat di wajah Putra Mahkota Bojing membeku seketika. Ia mengira telah memegang kartu truf yang akan membuat sang Ratu bertekuk lutut. Namun, Liying menolak negosiasi; ia menatap ibunya yang menangis di atas gerbang dengan dingin, menyadari bahwa Selir Lan selalu menjualnya demi keselamatan sendiri. "Dia gila... Pelacur kecil itu benar-benar sudah gila!" desis Bojing tak percaya, cengkeramannya pada rantai yang menahan Selir Lan mengendur sejenak.Di bawah sana, mengabaikan ancaman Bojing, Liying mengangkat tangannya dan memberi sinyal mematikan kepada pasukan artileri Zixiao. BUM! B
Angin musim gugur yang membawa hawa kematian berhembus membelah medan perang. Barisan raksasa pasukan Zixiao akhirnya tiba di depan gerbang ibu kota Yanze. Namun, derap langkah seratus ribu prajurit itu mendadak terhenti, seolah menghantam sebuah dinding kasatmata. Di garis depan, Chu Renshu duduk tegak di atas kuda perangnya. Mata sang Kaisar Zixiao menatap tajam ke atas tembok raksasa ibu kota, melihat tubuh ibu mertuanya digantung dengan rantai besi sebagai perisai daging. Mendengar ancaman sadis Bojing yang menggema dari atas gerbang, urat-urat di leher dan punggung tangan Renshu menonjol ekstrem. Hawa membunuh yang tak terbendung meledak dari tubuhnya. Namun, di balik amarah murni itu, terdapat ketakutan yang jauh lebih besar. Renshu tidak takut pada puluhan ribu pasukan Yanze; ia takut pada hancurnya jiwa wanita yang paling ia cintai.Didorong oleh insting untuk melindungi Liying dari rasa sakit dan trauma, Renshu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap untuk mengh
Pagi pertama kekuasaan Bojing diawali dengan bau darah dan keputusasaan. Laporan dari perbatasan mengonfirmasi mimpi terburuk para jenderal Yanze: Pasukan Zixiao tidak bisa dihentikan. Mereka meratakan setiap pos pertahanan seperti badai yang menghapus jejak debu. Bojing menyadari bahwa pasukan Zixiao terlalu kuat, dan konfrontasi fisik secara langsung melawan monster seperti Chu Renshu adalah sebuah bunuh diri. "Jika pedang tidak bisa menembus zirah mereka, maka kita akan menghancurkan kewarasan ratu mereka," gumam Bojing, duduk di atas takhta emas yang masih menyisakan noda darah ayahnya. Sebuah rencana yang sangat keji dan sakit jiwa terbentuk di otaknya.Bojing bangkit dari takhtanya dan melangkah keluar, diikuti oleh regu Pengawal Bayangan yang kini tunduk mutlak padanya. Ia berjalan menuju Istana Kaca Kusam, paviliun yang selama ini menjadi saksi bisu penindasan terhadap Liying dan tempat tinggal ibunya. Selir Lan, wanita yang sangat gila harta dan selama ini menutup mata
Ibu kota Kekaisaran Yanze selalu diterangi oleh ribuan lampion merah setiap malamnya, sebuah tradisi yang dirancang untuk memamerkan kemakmuran sekaligus menyembunyikan sisi gelap di balik tembok istana yang dingin. Namun, malam ini, cahaya merah dari lampion-lampion itu tidak terasa seperti perayaan, melainkan menyerupai genangan darah yang menggenangi udara. Di dalam Istana Teratai Merah, kediaman yang paling dihindari oleh para dayang karena teror yang bersembunyi di balik kemegahannya, suasana terasa luar biasa mencekam. Putra Mahkota Bojing duduk merosot di atas kursinya. Matanya yang merah dan dipenuhi urat menatap sebuah kotak kayu eboni yang tergeletak terbuka di atas meja di hadapannya. Kotak itu baru saja diantarkan oleh seekor kuda yang kelelahan setengah mati dari perbatasan utara. Di dalamnya, tergeletak dua buah daun telinga manusia yang telah pucat kehabisan darah, ditemani oleh secarik kertas kulit yang memuat pesan singkat namun merobek seluruh ego sang sosiopa
"Ssst! Pelankan suaramu, Xiaoxiao! Kau mau tetangga dengar dan melaporkan kita ke prajurit patroli?!" desis Meilin panik. Ia segera berlari menembus keremangan, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menggeser palang besinya dengan tangan gemetar.Di tengah kepanikan luar biasa kedua adiknya, Chu
Guruh yang tadinya mengamuk buas kini menyusut menjadi rintik gerimis panjang. Badai di luar sana telah menjadi saksi bisu bagaimana batas suci antara langit dan bumi dihancurkan tanpa sisa di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu.Udara dingin sisa hujan mulai menyusup melalui celah jendela kayu,
Guruh menggelegar buas di langit Yanze, menyamarkan deru napas memburu di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu. Cahaya dari satu-satunya lentera minyak yang bergoyang tertiup angin dari celah jendela menyorot wajah tegang Chu Renshu.Prajurit kelas tembaga itu menegang bagai bongkahan es di nerak
"Liying terlalu kaku dan membosankan, Ruolan. Menyentuhnya sama saja dengan menyentuh patung pualam yang dingin. Kau jauh lebih liar dan tahu cara memuaskan seorang pria."Rentetan kalimat menjijikkan itu terdengar jelas di sela-sela gemuruh guruh.Di balik kisi-kisi jendela Paviliun Bambu keluarga







