Accueil / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 99. Racun di Hulu Sungai

Partager

99. Racun di Hulu Sungai

Auteur: Donat Mblondo
last update Date de publication: 2026-07-08 07:01:25

Malam beringsut menelan perbatasan selatan Yanze, membawa serta hawa dingin ekstrem yang menusuk tulang. Di dalam Benteng Baja Utara, Komandan Jenderal Yanze duduk di depan perapian besar di ruang komandonya, menyesap arak beras yang hangat. Ia sangat percaya diri. Gerbang benteng yang terbuat dari baja padat telah dikunci dari dalam menggunakan lima lapis palang besi seukuran pilar kuil.

​"Biarkan anjing-anjing Zixiao itu mendirikan kemah di luar sana," ucap sang Jenderal kepada wakilnya, tert
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Sentuh Aku, Renshu!   101. Pesan Kematian untuk Teratai Merah

    ​Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Benteng Baja Utara, kebanggaan militer Yanze, jatuh tanpa ada satu pun korban jiwa dari pihak Zixiao. Asap hitam dari panji naga merah Yanze yang dibakar mengepul ke angkasa, segera digantikan oleh kibaran angkuh panji Naga Langit yang ditancapkan di puncak menara tertinggi.​Liying keluar dari kereta baja komandonya, melangkah ke atas tanah yang bersimbah campuran darah hitam dan merah. Sang Ratu menolak menggunakan tandu atau digendong. Sepatu bot kulitnya menginjak genangan darah tanpa keraguan sedikit pun. Wajahnya sedingin pusaran es abadi, matanya menatap benteng yang telah ditaklukkannya dengan kalkulasi yang kejam.​"Shao," panggil Liying, suaranya jernih dan tajam menembus kesibukan prajurit Zixiao yang sedang membersihkan medan perang.​Sang mata-mata yang kini merangkap sebagai komandan intelijen segera berlari mendekat dan berlutut satu kaki. "Hamba siap menerima perintah, Yang Mulia Ratu."​"Kumpulkan seratus perwira ber

  • Sentuh Aku, Renshu!   100. Reuni Berdarah Sang Prajurit Tembaga

    Gerbang baja raksasa itu berderit mengerikan, terdorong paksa ke dalam hingga akhirnya ambruk menghantam tanah dengan dentuman yang menggetarkan bumi.​Jalan menuju perut Benteng Baja Utara kini terbuka lebar. Renshu melangkah masuk melangkahi puing-puing gerbang, diikuti oleh gelombang pasang tentara Zixiao. Saat obor-obor dinyalakan, pemandangan di dalam benteng membuat prajurit Zixiao yang paling tangguh sekalipun menahan napas ngeri.​Tidak ada pertempuran. Tidak ada perlawanan. Di halaman benteng, di atas menara pengawas, hingga di dalam barak-barak, lima belas ribu prajurit Yanze bergelimpangan bagaikan boneka rusak. Wajah mereka kaku, bibir mereka membiru, dan darah hitam pekat menggenang dari hidung dan mulut mereka. Racun modifikasi Meilin telah membunuh mereka dalam kesunyian yang mencekik.​Renshu berjalan lurus tanpa memedulikan lautan mayat di sekitarnya. Tujuannya hanya satu: aula komando utama.​Di dalam ruangan yang hangat oleh perapian itu, Komandan Jenderal Yanze ter

  • Sentuh Aku, Renshu!   99. Racun di Hulu Sungai

    Malam beringsut menelan perbatasan selatan Yanze, membawa serta hawa dingin ekstrem yang menusuk tulang. Di dalam Benteng Baja Utara, Komandan Jenderal Yanze duduk di depan perapian besar di ruang komandonya, menyesap arak beras yang hangat. Ia sangat percaya diri. Gerbang benteng yang terbuat dari baja padat telah dikunci dari dalam menggunakan lima lapis palang besi seukuran pilar kuil.​"Biarkan anjing-anjing Zixiao itu mendirikan kemah di luar sana," ucap sang Jenderal kepada wakilnya, tertawa meremehkan. "Gudang bawah tanah kita menyimpan gandum dan daging kering yang cukup untuk memberi makan lima belas ribu prajurit selama empat bulan penuh. Kita tidak perlu melepaskan satu anak panah pun. Saat badai salju pertama turun tiga hari lagi, mereka akan kelaparan, kedinginan, dan kita hanya perlu keluar untuk menyapu mayat-mayat mereka."​Sang wakil mengangguk setuju, tersenyum menjilat. "Taktik bertahan Anda tidak tertandingi, Jenderal."​Di luar benteng, di tengah kegelapan malam y

  • Sentuh Aku, Renshu!   98. Pawai Penakluk Dunia

    Bumi bergetar seolah merintih di bawah tekanan yang tidak wajar. Di bentangan dataran tandus yang memisahkan wilayah Zixiao dan perbatasan selatan Yanze, sebuah gelombang pasang berwarna hitam legam bergerak perlahan namun pasti menelan cakrawala. Seratus ribu Prajurit Naga Langit berbaris dalam formasi tempur absolut. Zirah hitam mereka memantulkan cahaya matahari musim gugur yang pucat, menciptakan lautan baja yang mendidih oleh haus darah. Panji-panji perang bersulam naga perak berkibar liar ditiup angin, membawa hawa kematian yang pekat menuju tanah kelahiran musuh bebuyutan mereka.​Di pusat lautan baja tersebut, bergemuruh sebuah kereta perang raksasa yang ditarik oleh delapan ekor kuda perang berlapis zirah. Kereta itu bukanlah kereta kayu biasa yang dihiasi sutra emas, melainkan sebuah benteng berjalan yang dilapisi pelat baja tebal, dirancang khusus untuk menahan gempuran batu ketapel maupun hujan panah api.​Di dalam lambung kereta baja yang disulap menjadi tenda komando itu

  • Sentuh Aku, Renshu!   97. Terompet Perang Penakluk Dunia

    ​Keheningan absolut mencekik puncak altar penobatan. Seluruh pejabat dan jenderal Zixiao menahan napas, menatap Ratu mereka yang berdiri mematung memandangi jubah berdarah tersebut. Di masa lalu, konfrontasi dengan kekejaman Bojing selalu berhasil membuat Liying terpojok dalam ketakutan dan keputusasaan. Traumatik manipulasi yang ditanamkan sang Putra Mahkota Yanze selalu menjadi belenggu tak kasatmata yang merantai jiwa Liying.​Namun hari ini, di bawah langit Zixiao, Liying bukan lagi gadis rapuh yang dikurung di Paviliun Kaca Kusam.​Alih-alih jatuh menangis atau berteriak histeris, Liying meremas surat dari Bojing itu hingga hancur di dalam genggamannya. Matanya yang tadinya bergetar perlahan berubah. Kesedihan dan rasa bersalahnya membeku, bertransformasi menjadi pusaran es yang sangat gelap dan mematikan. Liying menatap jubah berdarah ibunya bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan kejernihan seorang pembunuh berdarah dingin.​Melihat wanitanya diam membeku, utusan Yanze itu

  • Sentuh Aku, Renshu!   96. Surat Darah dari Masa Lalu

    Alun-alun utama Istana Longjing dipenuhi oleh lautan manusia yang berbaris rapi di bawah langit musim gugur yang cerah. Ratusan ribu Prajurit Naga Langit dengan zirah hitam mengkilap berdiri tegak lurus, membentuk formasi persegi yang membentang hingga ke batas cakrawala. Di atas anak tangga pualam tertinggi yang mengarah ke Kuil Leluhur, altar upacara penobatan ganda telah disiapkan dengan kemegahan yang melampaui sejarah Zixiao selama berabad-abad.​Asap dupa cendana mengepul ke udara, membawa aroma sakral yang menyapu sisa-sisa bau amis darah dari kudeta beberapa hari lalu.​Chu Renshu berdiri menjulang di puncak altar. Sang penguasa absolut Zixiao itu mengenakan jubah kekaisaran berwarna hitam legam yang ditenun dengan benang emas murni. Mahkota Naga Langit, sebuah mahkota emas berat yang dihiasi batu obsidian hitam, telah terpasang kokoh di atas kepalanya. Wajahnya yang bersudut tajam menatap lautan pasukannya dengan ketenangan seorang tiran yang tak terbantahkan.​Di sisinya, Li

  • Sentuh Aku, Renshu!   6. Cengkeraman sang ular berbisa

    Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dingin

  • Sentuh Aku, Renshu!   5. Jejak Dosa dan Sang Ular Emas

    Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b

  • Sentuh Aku, Renshu!   4. Suaka di balik gubuk reot

    "Ssst! Pelankan suaramu, Xiaoxiao! Kau mau tetangga dengar dan melaporkan kita ke prajurit patroli?!" desis Meilin panik. Ia segera berlari menembus keremangan, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menggeser palang besinya dengan tangan gemetar.Di tengah kepanikan luar biasa kedua adiknya, Chu

  • Sentuh Aku, Renshu!   3. Tanda kepemilikan sang prajurit

    Guruh yang tadinya mengamuk buas kini menyusut menjadi rintik gerimis panjang. Badai di luar sana telah menjadi saksi bisu bagaimana batas suci antara langit dan bumi dihancurkan tanpa sisa di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu.Udara dingin sisa hujan mulai menyusup melalui celah jendela kayu,

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status