LOGIN"T-Tidak ada penawarnya di benua kotor ini!" rintih pembunuh itu, napasnya tersengal. "Spora itu... membekukan aliran darah. Hanya mineral vulkanik ekstrem yang bisa mencairkannya!"Pintu sel bawah tanah didobrak terbuka. Chu Renshu melangkah masuk, hawa membunuhnya langsung mencekik udara di dalam ruangan. Ia mencengkeram rahang pembunuh itu dengan tangan besarnya, mengangkat wajah pria itu hingga menatap mata kelam sang Kaisar."Di mana benda itu berada?" desis Renshu. "Katakan, atau aku akan meremukkan kepalamu seperti kacang."Pembunuh itu tertawa terbahak-bahak di sela batuk darahnya, menikmati keputusasaan di mata sang tiran. "Kau tidak akan pernah bisa mengambilnya! Penawar mutlaknya adalah Inti Batu Kumala. Benda itu hanya tumbuh di kawah vulkanik wilayah musuh bebuyutan kami... Sekte Batu Hitam."Renshu menyipitkan matanya. "Di mana letak tempat itu?""Di benua seberang!" ejek pembunuh itu. "Kau harus menyeberangi Laut Mo Hai, lautan badai gulita yang menelan armada mana
Tiga hari tiga malam berlalu, dan Istana Naga Langit terasa seperti kuburan masif. Bau tajam dari ratusan jenis herbal yang direbus memenuhi udara di Paviliun Kaca, namun tidak ada satu pun dari ramuan itu yang mampu mengusir hawa dingin di kamar sang Ratu.Di samping ranjang kekaisaran, Meilin duduk bersimpuh dengan kantung mata yang menghitam dan tangan yang gemetar. Di tangannya, sebuah mangkuk perunggu berisi kaldu akar naga api, ramuan penambah panas paling ekstrem dari dunia fana, baru saja diangkat dari tungku. Namun, saat Meilin menyendokkan ramuan mendidih itu dan mendekatkannya ke bibir Liying, uap panasnya langsung membeku, mengubah cairan itu menjadi serpihan es merah bahkan sebelum menyentuh lidah sang Ratu.PRANG!Meilin membanting mangkuk itu ke lantai, menutupi wajahnya yang basah oleh air mata frustrasi. "Tidak berguna... Semuanya sia-sia!" isaknya putus asa. "Racun sialan ini menolak hukum alam. Ramuanku bahkan tidak bisa menembus tenggorokannya!"Chu Renshu berd
"LIYING!"Raungan Renshu membelah keheningan kamar. Pria bertubuh besar itu menerjang melewati kepulan kabut hijau, menggunakan tubuhnya sendiri dan jubah sutranya untuk membungkus Liying, berusaha melindunginya dari paparan udara yang tercemar.Debu spora hijau itu perlahan mengendap, meresap ke dalam kain, kulit, dan lantai layaknya embun pagi. Beberapa partikel yang memancarkan cahaya pendar redup sempat terhirup oleh Liying sebelum Renshu menutupi wajahnya.Sang Ratu terbatuk pelan di dalam pelukan suaminya. "R-Renshu..."Renshu melepaskan pelukannya dengan panik, matanya menyapu seluruh tubuh Liying, mencari luka gores atau tanda-tanda pendarahan. Namun, kulit wanitanya tampak mulus. Tidak ada darah yang keluar dari hidung atau mulutnya. Spora itu tidak meninggalkan jejak fisik yang terlihat oleh mata telanjang."Kau berdarah? Mana yang sakit? Katakan padaku!" sergah Renshu, tangannya yang masih berlumuran darah musuh gemetar saat menyentuh pipi Liying.Liying menggeleng p
Serpihan kayu mahoni melesat membelah udara layaknya ratusan anak panah yang ditembakkan secara serempak. Pintu berukir naga yang tebal itu meledak hancur berantakan, menghantam dinding koridor dengan dentuman yang memekakkan telinga. Ketiga pembunuh dari Sekte Sen Luo Mu yang tengah bersiap menyusup itu terpaksa melompat mundur, jubah kulit kayu mereka berdesir menahan gelombang kejut dari ledakan tersebut.Dari balik kepulan debu dan serpihan kayu yang beterbangan, melangkah keluar sosok monster yang sesungguhnya.Kaisar Chu Renshu berdiri menjulang di ambang pintu. Pria bertubuh besar itu tidak mengenakan zirah perang, melainkan hanya jubah tidur sutra hitam yang mempertegas otot-otot di dada dan lengannya. Di tangan kanannya, ia menggenggam pedang baja hitamnya erat-erat. Mata kelam sang Kaisar menyala oleh amarah yang begitu pekat, menciptakan tekanan udara yang membuat napas ketiga pembunuh itu tercekat sesaat."Kalian berani membawa bau busuk kalian ke ambang pintu Ratu-ku?
Malam beringsut menyelimuti Istana Naga Langit. Angin musim semi yang biasanya membawa aroma bunga plum kini terasa tidak nyaman, membawa serta embun yang luar biasa tebal. Di bawah komando langsung Jenderal Gao, pertahanan istana benar-benar tak tertembus. Tiga ratus Prajurit Elit Naga Langit berjaga di setiap lorong, gerbang, dan atap istana. Obor menyala terang di setiap lima langkah, memastikan tidak ada satu pun sudut yang tertinggal dalam bayangan.Di tembok pelataran luar Paviliun Kaca tempat Ratu Liying beristirahat, dua orang prajurit veteran tengah berpatroli. Mereka adalah petarung tangguh yang selamat dari pembantaian di gerbang Yanze. Tangan mereka terus memegang gagang pedang, mata mereka menatap tajam menembus kegelapan."Kau mencium bau itu?" bisik prajurit pertama, mengendus udara.Prajurit kedua mengerutkan kening. "Bau apa? Hujan?""Bukan. Baunya seperti lumut busuk dan daun mati."Tepat saat kata-kata itu diucapkan, dari arah tembok luar setinggi sepuluh meter, tig
Sejak malam perjamuan berdarah yang berubah menjadi pengumuman kehamilan tersebut, Istana Naga Langit berubah wujud. Tempat itu bukan lagi sekadar pusat pemerintahan Kekaisaran Zixiao, melainkan sebuah benteng absolut yang dirancang khusus untuk melindungi satu wanita dan dua nyawa baru di dalam rahimnya.Kaisar Chu Renshu, sang tiran yang tidak pernah takut menghadapi seratus ribu pasukan musuh di medan terbuka, kini dihantui oleh paranoia yang melumpuhkan. Ia melipatgandakan jumlah prajurit penjaga istana menjadi tiga kali lipat. Setiap hidangan yang akan masuk ke kamar Liying harus dicicipi oleh tiga koki berbeda dan diperiksa langsung oleh Meilin. Bahkan udara di dalam kamar utama disaring menggunakan dupa herbal khusus.Di dalam peraduan kekaisaran yang hangat, Liying duduk bersandar di atas tumpukan bantal beralas sutra emas. Ia memperhatikan suaminya yang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu dengan rahang mengeras, memberikan instruksi bernada ancaman kepada Jenderal Gao.
Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesop
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra
Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dingin
Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b







