Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 16. Ujian Kewarasan di Atas Batu

Share

16. Ujian Kewarasan di Atas Batu

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-05-27 11:27:37

Renshu tidak membiarkan Liying duduk terlalu lama di atas rumput yang lembap dan berbalut tanah kotor. Dengan satu gerakan mulus dan tanpa peringatan, pria bertubuh besar itu merengkuh pinggang serta lipatan lutut sang Putri. Ia mengangkat tubuh mungil Liying dengan sangat mudah, seolah sedang mengangkat sehelai bulu angsa, lalu mendudukkannya di atas sebuah batu pualam datar yang berada di sudut taman bambu.

​Batu itu permukaannya sangat dingin karena embun malam, namun hawa panas yang memanca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Renshu!   17. Predator yang Terpancing

    ​Pertanyaan provokatif Liying menggantung di udara malam, beradu dengan gemerisik halus daun-daun bambu yang tertiup angin. Sepasang mata jernih sang Putri mengunci tatapan Renshu, memancarkan tantangan yang begitu berani, seolah ia sengaja mengulurkan lehernya ke rahang seekor binatang buas hanya untuk melihat apakah binatang itu berani menggigitnya.​Renshu tidak langsung menjawab. Namun, keheningan pria itu jauh lebih menakutkan daripada bentakan kasarnya saat latihan.​Cengkeraman tangan Renshu di sisi pinggang Liying mendadak mengeras. Telapak tangan yang dipenuhi kapalan keras itu menekan sutra tipis kemeja Liying hingga gadis itu bisa merasakan panas tubuh Renshu menembus langsung ke kulitnya. Napas sang prajurit terdengar semakin pendek dan berat, memburu di balik ceruk leher Liying yang terekspos.​Melihat reaksi Renshu yang begitu tersiksa, Liying justru merasa seolah mendapatkan suntikan kekuatan baru. Rasa takutnya pada dunia luar, pada kelicikan Yuchen, bahkan pada bayang

  • Sentuh Aku, Renshu!   16. Ujian Kewarasan di Atas Batu

    Renshu tidak membiarkan Liying duduk terlalu lama di atas rumput yang lembap dan berbalut tanah kotor. Dengan satu gerakan mulus dan tanpa peringatan, pria bertubuh besar itu merengkuh pinggang serta lipatan lutut sang Putri. Ia mengangkat tubuh mungil Liying dengan sangat mudah, seolah sedang mengangkat sehelai bulu angsa, lalu mendudukkannya di atas sebuah batu pualam datar yang berada di sudut taman bambu.​Batu itu permukaannya sangat dingin karena embun malam, namun hawa panas yang memancar dari tubuh dua insan di atasnya seolah mampu melelehkan es di puncak gunung sekalipun.​Tanpa banyak bicara, Renshu melangkah maju. Ia menekuk satu kakinya, berlutut tepat di antara kedua paha Liying yang dibiarkan sedikit terbuka di pinggir batu. Posisi ini secara fisik menempatkan Renshu di bawah, bersimpuh di kaki majikannya. Namun aura dominasi yang menguar dari sang prajurit dipadu dengan intimnya kedekatan tubuh mereka menjadikan Renshu sebagai predator, sekaligus pihak yang paling tersi

  • Sentuh Aku, Renshu!   15. Meminta Pertanggungjawaban

    Malam ini, angin bertiup lebih tenang di taman bambu. Cahaya bulan purnama menyusup melalui celah-celah dedaunan, menyoroti sosok Renshu yang berdiri kokoh dengan kemeja tanpa lengan dan ranting bambu di tangannya.​Liying melangkah memasuki area latihan dengan napas yang sudah diatur sedemikian rupa. Di balik celana latihannya, lebam-lebam sisa semalam masih berdenyut, namun di tangannya yang berbalut perban tipis, ia menggenggam erat cepuk porselen berisi salep racikan Meilin.​"Fokus, Liying. Jangan biarkan matamu tertipu oleh gerakan lenganku, tapi perhatikan arah bahuku," instruksi Renshu tajam, sepenuhnya kembali ke mode instruktur tanpa ampun.​"Baik," jawab Liying patuh, memasang kuda-kudanya.​"Menghindar!"​Renshu melesat maju. Ranting bambunya berdesing membelah udara, mengincar pinggang kiri sang Putri.​Sesuai rencana, Liying membaca gerakan itu dengan sempurna. Namun, alih-alih menghindar sepenuhnya, gadis itu dengan sengaja melambatkan tarikan kakinya sepersekian detik.

  • Sentuh Aku, Renshu!   14. Penolakan Sang Putri

    Matahari siang menyengat atap Paviliun Kaca Kusam, namun di dalam kamar tidurnya, Liying merasa sekujur tubuhnya seperti baru saja digilas roda kereta kuda.Setiap kali ia menggeser posisinya di atas kursi rias, ringisan tertahan lolos dari bibirnya. Sabetan ranting bambu Renshu semalam benar-benar meninggalkan jejak yang luar biasa menyiksa. Paha bagian dalam, pinggang bawah, dan betisnya berdenyut nyeri. Liying bahkan harus berjalan dengan langkah yang sangat pelan dan diatur sedemikian rupa agar Dayang Chun tidak curiga."Tuan Putri, Nona Meilin dari Paviliun Pengobatan meminta izin menghadap. Beliau membawa ramuan tonik pesanan Anda," lapor Dayang Chun dari balik tirai.Mendengar nama itu, wajah pucat Liying sedikit tercerahkan. "Suruh dia masuk. Dan Chun, tinggalkan kami berdua. Aku butuh Nona Meilin untuk memeriksa urat nadiku secara tertutup.""Baik, Tuan Putri."Begitu pintu kayu berukir itu ditutup dari luar, Meilin yang mengenakan pakaian abu-abu khas asisten tabib istana se

  • Sentuh Aku, Renshu!   13. Sabetan Ranting dan Tarian Menghindar

    ​Pagi di Paviliun Kaca Kusam terasa lebih lambat dan menyiksa dari biasanya. Sinar matahari yang menembus kisi-kisi jendela menyinari wajah Liying yang sedikit pucat. Di balik selimut sutranya, sekujur tubuh gadis itu terasa remuk redam.​Saat Dayang Chun masuk membawakan air cucian muka, Liying buru-buru menarik lengan gaun tidurnya hingga menutupi punggung tangan.​"Tuan Putri, apakah Anda masih demam? Wajah Anda terlihat lelah," tegur Dayang Chun dengan nada khawatir.​Liying berdeham pelan, memaksakan senyum anggun di bibirnya. "Aku hanya kedinginan, Chun. Angin malam tadi sangat menusuk. Siapkan gaun musim gugur berlengan paling panjang dan berkerah tinggi hari ini. Aku tidak ingin masuk angin lagi menjelang kunjunganku ke kediaman Ibu."​Dayang Chun mengangguk patuh tanpa curiga. Berkat gaun sutra berlengan ekstra panjang itu, perban tipis yang membalut telapak tangan Liying tersembunyi sempurna. Sepanjang hari, Liying menahan ringisan nyeri setiap kali harus memegang cangkir te

  • Sentuh Aku, Renshu!   12. Candu di Balik Perban

    Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.​Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut.​"Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri.​"Lakukanlah," bisik Liying.​Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.​Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status