MasukUdara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa lebih mencekik daripada badai semalam.
Liying melangkah masuk, menutup pintu ganda di belakangnya rapat-rapat. Ia menatap Selir Lan, ibunya sendiri yang kini berdiri dengan mata menyalang, menyorot tajam pakaian katun kasar yang membalut tubuh sang Putri.
"Jawab aku, Liying!" desis Selir Lan, melangkah maju dengan gemerincing tusuk konde emasnya yang bergetar marah. "Kau menghilang semalaman di tengah badai, membolos dari jamuan minum teh keluarga Feng, dan kini pulang dengan pakaian gembel? Apa kau sudah gila?!"
Liying mengangkat dagunya. Jika ini adalah Liying kemarin pagi, ia pasti sudah berlutut sambil menangis tersedu meminta maaf. Namun, dekapan Renshu semalam telah menanamkan secercah keberanian, atau mungkin keputusasaan yang memberontak, di dalam dadanya.
"Jamuan teh itu tidak pernah ada, Ibu," jawab Liying dingin. "Aku pergi ke Paviliun Bambu untuk memberi Yuchen kejutan. Tapi kejutan itu justru berbalik padaku. Aku memergoki pria brengsek itu sedang bergumul liar di atas ranjang bersama Fang Ruolan."
Selir Lan tertegun sesaat. Matanya sedikit melebar, namun sedetik kemudian, raut wajahnya kembali mengeras. Alih-alih memeluk atau menghibur putrinya yang dikhianati, sang ibu justru mendengus kasar.
"Lalu kenapa?!" bentak Selir Lan, suaranya membuat Liying terkesiap. "Hanya karena Tuan Muda Feng meniduri wanita lain, kau lari menembus hujan seperti pelacur buangan?! Dengarkan aku, Liying! Di Kekaisaran Yanze, pria berkuasa wajar memiliki selir atau wanita penghibur! Tugasmu hanyalah menjadi istri sahnya dan mengamankan posisiku di istana ini. Kau pikir aku tidak menutup mata melihat Kaisar tidur dengan puluhan wanita lain?!"
Dada Liying seakan dihantam batu godam. Nafasnya tercekat. "Ibu... dia mengkhianatiku sebelum kami bahkan menikah. Dia merendahkanku! Dan Ibu menyuruhku menelan ludahku sendiri demi..."
"Demi keselamatan kita!" Selir Lan mencengkeram kedua bahu Liying dengan kuku-kukunya yang panjang. Namun, saat tatapan Selir Lan turun ke perpotongan leher Liying yang tidak tertutup kerah kain katun itu, wajah wanita paruh baya tersebut seketika memucat seperti mayat.
Mata Selir Lan melotot horor melihat jejak kemerahan dan keunguan di kulit porselen putrinya. Itu bukan ruam alergi. Sebagai wanita yang lama hidup di harem, ia tahu persis bekas apa itu.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Liying, membuat tubuh mungil gadis itu terhuyung dan jatuh berlutut di atas lantai kayu berlapis karpet. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar.
"Anak keparat..." Selir Lan gemetar hebat, mundur menjauhi Liying seolah putrinya adalah wabah penyakit. "Pakaian pelayan siapa yang kau pakai ini, hah?! Dan tanda apa di lehermu itu?! Kau... kau memberikan keperawananmu pada laki-laki rendahan di luar sana?!"
Liying memegangi pipinya yang memanas. Ia tidak menangis. Matanya justru menatap ibunya dengan nyalang. "Ya. Dan dia jauh lebih terhormat daripada bangsawan mana pun di istana ini."
"Kau membunuh kita berdua, Liying!" jerit Selir Lan histeris, menjambak rambutnya sendiri. "Jika keluarga Feng tahu kau sudah tidak suci, mereka akan membatalkan pertunangan ini! Tapi itu belum seberapa..." Selir Lan tiba-tiba menunduk, mencengkeram rahang Liying dengan kasar, menatapnya dengan kepanikan absolut. "...bagaimana aku harus menyembunyikan kenyataan ini dari kakak tirimu?!"
Mendengar gelar itu disebut, darah Liying berdesir dingin.
"Pagi ini, Kasim Kepala mengirimkan pesan." Suara Selir Lan kini berubah menjadi bisikan putus asa yang diiringi derai air mata ketakutan. "Putra Mahkota Bojing akan datang siang ini untuk makan siang di paviliun kita. Dia bilang... dia ingin melihat adik kesayangannya karena semalam mendengar kau sakit."
Tubuh Liying membeku. Bojing. Monster sosiopat itu.
"Dia selalu mengincarmu, Liying. Dia memandangmu layaknya anjing kelaparan melihat daging!" isak Selir Lan, merosot ke lantai. "Jika dia melihat tanda di lehermu, jika dia tahu ada pria rendahan yang berani menyentuh 'barang incarannya', Bojing akan menguliti pria itu hidup-hidup, lalu menyiksamu di ruang bawah tanahnya sampai mati!"
Liying menelan ludah, rasa ngeri menjalar dari tengkuk hingga ke tulang ekornya.
Melihat ibunya meratap menyedihkan di atas lantai sambil menjambak rambut, sesuatu di dalam diri Liying yang selama ini rapuh akhirnya mengeras menjadi baja. Air matanya telah habis tadi malam di dalam kereta kuda. Tangisan tidak akan menyelamatkannya dari Bojing, dan jelas tidak akan melindungi nyawa Renshu.
Liying mengusap kasar darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Ia berdiri perlahan, menatap dingin pada wanita yang melahirkannya itu.
"Berhenti menangis, Ibu," potong Liying tajam.
Nadanya begitu sedingin es hingga membuat isakan Selir Lan terhenti seketika. Sang ibu mendongak, menatap putrinya dengan tatapan tak percaya. Seumur hidupnya, Liying tidak pernah membantah.
"Kau... kau berani memerintahku?"
"Jika Ibu ingin kepala kita berdua tetap menempel di leher saat fajar menyingsing besok, maka berdirilah dan bersikaplah layaknya Nyonya Paviliun ini!" desis Liying tertahan, memastikan suara mereka tak terdengar sampai ke luar pintu. "Kakak Bojing menyukai mangsa yang lemah dan ketakutan. Semakin Ibu gemetar, semakin iblis itu tahu ada rahasia yang kita sembunyikan."
Selir Lan terbungkam. Ia belum pernah melihat kilat intimidasi yang begitu pekat di mata Liying. Kilat yang entah bagaimana... mengingatkannya pada kekejaman Kaisar Jianhong.
Tanpa membuang waktu, Liying melangkah cepat menuju meja riasnya yang terbuat dari kayu gaharu. "Panggilkan Dayang Chun. Suruh dia memanaskan air, dan bawakan gaun sutra musim gugur berlapis kerah tinggi. Warna hijau gelap, agar perhatiannya tidak fokus pada leher dan wajahku."
"Tapi ini bukan musim gugur, Liying! Udaranya sedang terik, kau akan berkeringat dan Bojing akan curiga!" bantah Selir Lan panik.
"Biarkan dia mengira aku sedang demam parah karena menerobos hujan semalam! Bukankah Kasim bilang aku sakit?" balas Liying tangkas.
Tangan gadis itu bergerak cekatan meraih kotak kosmetik kekaisarannya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin perunggu. Tanda kepemilikan Renshu di leher dan tulang selangkanya terlihat sangat kontras, ibarat noda darah di atas salju putih.
Menggunakan tangannya yang masih sedikit gemetar, Liying meraup bedak mutiara putih yang paling tebal. Ia mulai mendempul lehernya secara agresif, melukis ilusi kesucian di atas kulit yang telah direnggut paksa dari takdirnya. Ia tidak boleh ketahuan. Tidak boleh. Jika Renshu mati karena kebodohannya, Liying tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Satu jam kemudian, aroma tajam dari dupa cendana dibakar berlebihan untuk menyamarkan bau keringat dingin di Paviliun Kaca Kusam. Liying duduk bersimpuh di balik meja teh, mengenakan gaun sutra hijau berkerah tinggi yang nyaris mencekik lehernya. Wajahnya dipucatkan dengan bedak, memberikan kesan sakit yang meyakinkan.
Tepat ketika lonceng istana berdentang menandakan masuknya waktu siang, sebuah seruan melengking dari kasim di halaman depan menghentikan detak jantung Liying.
"Yang Mulia Putra Mahkota Bojing tiba!"
Pintu ganda paviliun didorong terbuka. Langkah sepatu bot bersol tebal menggema pelan, memecah keheningan lantai kayu. Di ambang pintu, berdirilah Bojing. Pria dengan wajah rupawan bak dewa itu mengenakan jubah emas yang menyilaukan. Namun di balik ketampanannya, ia memiliki sepasang mata ular yang langsung mengunci sosok Liying, seolah ingin menelanjanginya hidup-hidup.
"Adikku yang malang..." Bojing tersenyum miring, senyum yang menjanjikan siksaan batin yang panjang. "Kudengar semalam, bunga teratai kecilku ini diam-diam pergi menembus hujan?"
Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut."Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri."Lakukanlah," bisik Liying.Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga
Ujung pedang kayu yang berlumuran darah itu bergetar di depan dada Renshu. Liying masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, napasnya tersengal, menolak untuk menundukkan pandangannya.Keheningan yang pekat mengambil alih taman bambu. Angin malam seolah menahan napasnya. Hawa membunuh dan tekanan intimidasi yang sedari tadi dipancarkan oleh Renshu menguap tak berbekas, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada.Perlahan, Renshu mengangkat tangan kanannya. Bukannya membalas serangan atau membentak seperti sebelumnya, jemari besar yang dipenuhi kapalan itu dengan sangat lembut menggenggam bilah pedang kayu Liying. Ia menurunkannya perlahan, menjauhkan beban berat itu dari cengkeraman tangan sang Putri yang sudah hancur."Latihan malam ini selesai," ucap Renshu pelan. Suara baritonnya kini terdengar sangat serak dan dalam.Liying mengerjap. Begitu pedang kayu itu terlepas dari tangannya, seluruh sisa tenaga di kakinya seolah menguap. Tubuhnya terhuyung ke depan. Nam
Hitungan ke-seratus akhirnya terlampaui. Napas Liying memburu, terdengar kasar dan menyakitkan memecah kesunyian malam. Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, membuat helaian rambutnya menempel berantakan di wajah pucatnya.Kedua lengannya terasa seperti terbuat dari timah panas. Pedang kayu di genggamannya bergetar hebat. Namun, belum sempat gadis itu mengambil napas panjang, bayangan Renshu tiba-tiba melesat ke arahnya."Angkat pedangmu! Musuh tidak akan menunggu napasmu teratur!" bentak Renshu.Prajurit itu tidak lagi menggunakan ranting bambu. Kali ini, ia memegang pedang kayunya sendiri dan mengayunkannya lurus ke arah bahu Liying. Meski Renshu sudah menahan sembilan puluh persen tenaganya, tekanan angin dari ayunan pedang pria bertubuh besar itu tetap terasa mengerikan bagi seorang pemula.Mata Liying membelalak panik. Insting bertahannya mengambil alih, namun karena kelelahan yang ekstrem, otaknya gagal memproses posisi kuda-kuda yang benar. Ia mengangkat pedang kayun
Angin malam berembus dingin menyapu taman bambu yang tersembunyi di sudut Istana Yanze. Suara gemerisik daun yang bergesekan seolah menjadi satu-satunya saksi bisu dari transformasi yang akan mengubah sejarah kekaisaran.Liying melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia telah menanggalkan jubah sutra mewahnya, menggantinya dengan setelan kain katun gelap yang ringkas dan mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi. Di dadanya, tekad menyala begitu terang. Dalam imajinasi naifnya, latihan malam ini akan dipenuhi oleh gerakan-gerakan pedang yang elegan, indah layaknya tarian, didampingi oleh Renshu yang akan memandunya dengan penuh kelembutan.Namun, imajinasi itu hancur berkeping-keping di detik pertama ia menginjakkan kaki di tanah lapang.Renshu berdiri membelakanginya, menyatu dengan kegelapan. Postur pria itu tak lagi menunduk hormat seperti seorang pelayan, apalagi memancarkan kehangatan gairah seperti semalam. Hawa di sekitarnya terasa membekukan tulang. Saat pria itu berbalik, sep
Tangan Renshu baru saja menyusup lebih jauh ke balik sutra jubah Liying. Napas mereka memburu, berpadu dalam gairah yang nyaris meledak di bawah bayangan pohon bambu raksasa. Bibir Renshu turun, bersiap untuk memberikan tanda kepemilikan baru di atas tulang selangka sang Putri.KRAK!Bunyi ranting patah yang sangat keras memecah keheningan malam, disusul oleh suara bisikan panik yang berdesis dari balik semak-semak lebat tak jauh dari mereka."Aduh, Xiaoxiao! Jangan dorong-dorong! Nanti kita ketahuan, bodoh!""Ssst! Kak Meilin yang menginjak rantingnya! Mundur sedikit, aku mau lihat Kak Renshu—"Seketika, atmosfer gairah yang pekat itu menguap tanpa sisa. Dalam sepersekian detik, otot-otot Renshu yang tadinya menegang karena hasrat berubah menjadi baja pelindung. Insting pembunuhnya menyala terang. Pria itu menyentakkan tubuh Liying ke balik punggung lebarnya untuk melindunginya, sementara tangan kanannya mencabut pedang dari sarungnya dengan suara desingan logam yang mematikan."Siap
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra Mahkota Bojing yang menyentuh kerahnya siang tadi terus merayap di kulitnya, seolah ada ribuan lipan berbisa yang menggerayangi lehernya. Rasa mual yang pekat mengaduk-aduk isi perutnya hingga ia sulit bernapas. Ia telah mandi menggunakan kembang tujuh rupa dan menggosok kulitnya dengan kain kasar hingga memerah, namun ia tetap merasa kotor. Sangat kotor.Sentuhan Bojing siang tadi telah merobek paksa sebuah kotak pandora di dalam kepalanya, melepaskan kembali ingatan paling mengerikan yang selama lima tahun ini ia kubur dalam-dalam.Ingatan Liying terlempar mundur ke sebuah malam musim dingin saat ia masih berusia lima belas tahun.Saat itu, ia nekat menyelinap keluar mencari anak kucingnya yang hi







