ホーム / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 35. Batas Kewarasan Sang Predator

共有

35. Batas Kewarasan Sang Predator

作者: Donat Mblondo
last update 公開日: 2026-06-01 23:35:17
Sisa hari itu dihabiskan Liying dengan mengurung diri. Begitu Xiaoxiao dan Dayang Chun membersihkan pecahan cangkir di aula, Liying langsung membersihkan dirinya berulang kali. Ia menggosok tubuhnya dengan kasar untuk menghilangkan sisa aroma dupa Yuchen yang terasa masih menempel.

​Ia butuh malam segera turun.

​Saat gelap akhirnya menyelimuti istana, Liying berganti pakaian katun gelap dan menyelinap ke taman bambu. Namun malam ini, udara di taman terasa berat dan mencekik.

​Tidak ada pedang ka
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sentuh Aku, Renshu!   70. Surat Darah dari Teratai Merah

    Langit di atas Benteng Nanzhou mendung pekat, seolah alam pun tahu bahwa masa tenang yang singkat itu telah berakhir. Angin selatan bertiup membawa debu kering menyapu halaman utama Markas Militer saat suara terompet peringatan berbunyi nyaring dari atas menara pengawas.​Tempo kedamaian mereka melesat hancur dalam sekejap. Pintu gerbang utama dipaksa terbuka untuk memberi jalan bagi sekelompok penunggang kuda yang datang dengan arogansi tinggi. Mereka mengenakan zirah berwarna merah gelap berlambang naga, warna kebesaran Istana Teratai Merah.​Di balkon lantai dua markas, Putri Liying berdiri menatap kedatangan rombongan itu dengan rahang mengeras. Di sisinya, Chu Renshu menatap tajam ke arah bawah, tangannya secara instingtif beristirahat di atas gagang pedang bajanya.​Gubernur Militer Wei dan beberapa perwiranya bergegas turun ke halaman utama untuk menyambut. Sebagai warlord yang bermain dua kaki, Gubernur Wei berusaha mempertahankan senyum diplomatisnya.​"Utusan dari Ibu Kota,

  • Sentuh Aku, Renshu!   69. Racun Industri dan Warisan Sang Jenderal

    Aroma belerang dan herbal pahit yang menyengat menenggelamkan bau anyir darah di paviliun sayap utara. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kertas, menerangi Meilin yang sedang menggerutu pelan. Jari-jari telaten wanita itu mengoleskan pasta tulang berwarna hitam pekat ke bahu kiri Xiaoxiao yang masih memar keunguan."Tahan sedikit," tegur Meilin tajam, menekan perban kain dengan sedikit tenaga. "Sudah kubilang bahu kirimu ini butuh waktu untuk pulih setelah dislokasi paksa. Kau malah keluyuran semalaman memimpin operasi pembersihan!""Aku hanya memakai tangan kananku untuk menjentikkan jarum semalam, Kak Meilin," kekeh Xiaoxiao, adik bungsu Renshu itu, sama sekali tidak terlihat kesakitan meski bahunya dibebat ketat. "Lagipula, para prajurit garda depan Nanzhou yang melakukan tebasannya. Aku hanya berdiri di atas atap dan mengawasi."Pintu kayu bergeser terbuka, menampilkan sosok Liying yang melangkah masuk. Aura sang Putri tak lagi memancarkan keputusasaan seperti di ibu kota;

  • Sentuh Aku, Renshu!   68. Rantai Baja di Leher Penguasa

    ​Bau amis darah segar menguar kental, memenuhi setiap sudut Aula Utama Markas Militer Nanzhou. Mayat tanpa kepala milik Wakil Jenderal Zheng masih terkapar di lantai batu, darahnya menggenang merendam ujung sepatu Gubernur Wei yang kini berlutut gemetar. Seluruh perwira tinggi di ruangan itu menahan napas, tak ada satu pun yang berani mengangkat wajah menatap prajurit pembawa maut di sisi meja, maupun sang Putri Kekaisaran yang berdiri dengan aura dominasi absolut.​Liying menatap Gubernur Wei dengan sorot mata sedingin es abadi. Tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan palsu. Liying butuh kendali mutlak, malam ini juga.​"Serahkan stempel militer Nanzhou, Gubernur Wei," titah Liying, suaranya memotong keheningan layaknya pedang baja.​Gubernur Wei tidak memiliki pilihan. Tangan pria paruh baya itu gemetar saat ia merogoh kerah zirahnya, menarik sebuah stempel perunggu berbentuk kepala harimau, lalu menyerahkannya dengan kepala tertunduk. Stempel itu adalah nyawa seluruh pasukan per

  • Sentuh Aku, Renshu!   67. Tunduk pada Sang Putri

    Udara di dalam Aula Utama Markas Militer Nanzhou terasa sangat padat dan mencekik. Mata Gubernur Militer Wei menatap gulungan dokumen di atas meja, lalu perlahan beralih menatap Liying. Urat-urat di pelipis pria paruh baya itu berkedut samar. Di balik wajahnya yang tegang, Gubernur Wei berniat licik membunuh Liying untuk merebut dokumen tersebut. Ia melirik sekilas ke arah wakil jenderal kepercayaannya yang berdiri di sisi kanan singgasana, memberikan isyarat tak kasatmata agar pria itu bersiap memerintahkan pasukan untuk menyergap. ​Namun Liying yang cerdik sudah memprediksinya. Gadis itu tidak melewatkan satu kedipan mata pun dari sang Gubernur. Sebelum wakil jenderal itu sempat mengangkat tangannya untuk memberi aba-aba, suara tawa pelan Liying memecah ketegangan. Tawa yang terdengar sangat dingin dan meremehkan. ​"Kau sedang menimbang apakah lebih menguntungkan membunuhku dan merebut dokumen ini sekarang, bukan?" tebak Liying lugas, membuat Gubernur Wei mematung seketika. "Say

  • Sentuh Aku, Renshu!   66. Gerbang Benteng Nanzhou

    ​Setelah menempuh perjalanan yang menyiksa fisik melewati sisa-sisa badai dan mayat-mayat pembunuh bayaran, kelompok kecil itu akhirnya keluar dari hutan dan tiba di Benteng Nanzhou. Pemandangan di hadapan mereka sama sekali tidak menyerupai keanggunan Istana Yanze. Tembok batu hitam yang kokoh menjulang tinggi menantang langit, dipenuhi bekas sabetan senjata dan noda darah peperangan masa lalu. ​Kota militer ini dipimpin oleh Gubernur Militer Wei, seorang warlord independen yang tidak tunduk penuh pada Bojing. Di tempat ini, hukum kekaisaran hanya sekadar anjuran; kekuatan militer dan emas adalah satu-satunya dewa yang disembah. ​Kuda-kuda mereka melangkah pelan mendekati gerbang utama yang dijaga ketat oleh puluhan prajurit bersenjata tombak berat. Hujan telah reda, menyisakan udara sore yang lembap dan berdebu.​Liying turun dari kudanya. Ia melangkah memimpin kelompok tersebut. Liying datang dengan pakaian compang-camping namun auranya mendominasi. Jubah hitamnya berlumuran lu

  • Sentuh Aku, Renshu!   65. Ciuman Darah dan Tarian Setara

    Bibir mereka masih menyatu dalam pagutan lapar saat sebuah desingan tajam membelah udara hutan yang sunyi.​Insting tempur Chu Renshu yang sangat tajam bereaksi secepat kilat. Pria tegap itu melepaskan pinggang Liying, memutar tubuh gadis itu ke belakang punggungnya, dan menangkap sebuah pisau lempar beracun hanya beberapa inci sebelum logam mematikan itu menembus leher wanitanya.​Suasana panas yang memabukkan seketika menguap, digantikan oleh hawa membunuh murni.​Dari balik bayangan pepohonan pinus dan semak belukar yang rimbun, belasan bayangan berkelebat cepat. Pasukan elit Yanze akhirnya melacak jejak mereka di tengah hutan. Sepuluh orang pembunuh bayaran berpakaian merah gelap, warna khas Istana Teratai Merah milik Bojing, muncul mengepung mereka, pedang dan rantai baja terhunus memantulkan sisa cahaya matahari. ​Renshu menjatuhkan pisau lempar itu ke tanah. Tangan kanannya dengan mulus menarik pedang bajanya dari sarung. Luka robek di punggungnya yang baru saja diperban Liyi

  • Sentuh Aku, Renshu!   64. Luka Sang Prajurit

    Sinar matahari pagi menyusup perlahan menembus celah rimbunnya kanopi hutan selatan, mengusir sisa-sisa badai yang mengamuk semalaman. Udara terasa beku dan pekat oleh aroma tanah basah serta dedaunan pinus.​Liying membuka matanya perlahan. Hawa panas yang menemaninya sepanjang malam kini telah men

  • Sentuh Aku, Renshu!   63. Api Unggun dan Pakaian Basah

    ​Hutan belantara selatan menyambut pelarian mereka dengan kekejaman alam yang tak kenal ampun. Pepohonan purba yang menjulang tinggi seolah menjadi jeruji penjara kayu yang mengurung mereka dalam kegelapan. Malam pertama mereka di hutan belantara selatan itu diiringi oleh hujan lebat yang mengguyur

  • Sentuh Aku, Renshu!   62. Titik putar

    "Kita tidak kembali ke jalan yang sama. Kita membelah hutan belantara ini seratus delapan puluh derajat," ucap Liying, menunjuk ke arah rimbunnya hutan gelap yang membentang di sisi kiri mereka. Hutan yang sama sekali tidak memiliki jalur setapak. "Kita menuju ujung paling selatan Yanze."​Mata Mei

  • Sentuh Aku, Renshu!   61. Jalan Buntu

    Hujan badai mengguyur tanpa ampun, menghantam bumi bagai ribuan jarum es yang dijatuhkan dari langit gelap. Derak guruh bersahut-sahutan membelah malam, menenggelamkan suara ringkikan kuda yang kelelahan.​Sudah dua hari dua malam mereka memacu kuda tanpa henti. Beristirahat hanya untuk memberi min

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status