Masuk"Apa biasanya keluarga kaya memang sering bertengkar saat berkumpul?"
Pertanyaan polos Lily hanya ditanggapi Kiello dengan kekehan geli. "Sepertinya begitu. Kami hanya membuat-buat masalah karena tidak punya topik pembicaraan," canda Kiello yang anehnya ditanggapi gadis itu serius. "Kukira mereka begitu hanya dalam drama yang sering muncul di televisi," gumam gadis dengan rambut tergerai indah itu takjub. Saat ini, Kiello dan Lily tengah duduk di taman belakang rumah Benji. Entah yang lain pergi ke mana. Mungkin saja minum teh di ruang tengah sambil melanjutkan perdebatan. "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Bahkan di pernikahan Kak Abia dan Kak Kaisar pun kau sepertinya tidak ada ...," komentar Kiello sambil meneguk jus jeruk di gelas yang tadi dibawanya. Lily yang mendengar itu, sontak menegang kaku sambil menunduk memandangi segelas jus apel di pangkuan. Sebelum menemukan jawaban yang tepat untuk berbohong, Kiello lebih dulu menyambung. "Ah, tentu saja kau takut hadir ke acara itu. Kecantikanmu pasti akan mengalahkan pengantinnya, kau bisa jadi pusat perhatian nanti." Pria itu malah menggombal. Lily terkekeh geli tapi tidak berniat menanggapi. Gadis itu malah meneguk jus di genggamannya. Membuat Kiello semakin tertarik dengan minimnya reaksi gadis cantik itu. "Apakah kau dan Paman Benji bukan saudara kandung?" Lily bahkan malah mengalihkan topik. "Bisa dibilang tidak ada hubungan saudara juga sebenarnya." Tapi Kiello tentu saja dengan senang hati menjawab. "Maksudmu bagaimana?" Kiello merapat dan merangkul bahu Lily. Membuat gadis itu meringis risih namun tidak enak untuk menepis lengan pria itu dari bahu. "Pak Geovano Galendra itu bukan Papa kandungku. Aku anak dari pernikahan Mama sebelumnya. Kalau Kaisar memang anak Pak Geovano, tapi Mama kandungnya adalah istri pertama Pak Geovano. Jadi kami berbeda Mama dan Papa," jelas pria sipit itu panjang lebar. Seketika, Lily menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lumayan rumit, yaa ...," celetuk gadis itu membuat Kiello lagi-lagi terbahak. "Kenapa kau lucu sekali?" tanya Kiello gemas sendiri sambil mencubit pipi gempul Lily. Lily meringis sakit sambil mencebik sebal. "Jangan memegang wajahku! Bibi Abia sudah mendandaniku, nanti make up-ku rusak!" protesnya galak yang justru semakin membuat Kiello ingin mengganggunya. "Bolehkah aku minta nomor handphone-mu? Sepertinya kita cocok berteman." Kiello meminta yang kontan dibalas Lily dengan gelengan santai. "Kenapa? Apa kau sudah punya pacar?" tanya Kiello sedikit kecewa. Lily menggeleng lagi. "Tidak. Aku tidak punya handphone." Dan jawaban polos gadis itu kali ini membuat Kiello terperangah. "Rupanya kau memang benar-benar dari kampung ...," ringis pria itu tidak habis pikir. "Tapi tidak apa-apa. Aku bisa datang menemuimu ke sini. Boleh, kan?" sambung Kiello tidak ingin menyerah. "Boleh saja kalau Bibi Abia mengizinkan." Jawaban polos itu sontak membuat senyum Kiello tersungging kian lebar. Sepertinya dia tidak bohong saat bilang akan sering berkunjung ke rumah Kakak tirinya setelah ini. ***** "Hanghhh! AGHH----Kai-hhh ...." "PELANHH---" PLAK! "Kau benar-benar nakal, Abia! Kau membuatku frustasi!" "Ounghh .... HNGHHH---" PLAK! "Memohonlah jika kau memang ingin aku berhenti!" "Kai---ANGHH ...." PLAK! "Bicaralah! Apa kau hanya bisa melawanku di luar kamar? Kenapa sekarang mulutmu itu hanya bisa memohon untuk disentuh? Huh?!" Lily memejamkan mata erat-erat sambil menutup telinganya dengan bantal. Namun, suara-suara keras dari kamar sebelah itu tetap saja menembus indera pendengerannya. Jeritan Abia benar-benar lantang. Padahal, sebelumnya Lily tidak pernah mampu mendengar kegiatan mereka di dalam sana. Sepertinya, malam ini Benji benar-benar menghabisi istrinya. Suara desahan itu bahkan tidak kunjung berhenti meski jam di dinding telah menunjukkan pukul tiga malam. Lily benar-benar tidak bisa tidur karena terus salah fokus. Apalagi, di malam pertama ia dibawa ke sini, gadis itu sempat tidak sengaja melihat Abia yang juga tengah dihabisi suaminya seperti malam ini. Saat itu, suara sang majikan nyaris tidak terdengar. Tapi kali ini ... suaranya benar-benar jelas dan keras. Jika saat itu saja tubuh Abia luar biasa terlihat berantakan, apalagi sekarang? "Paman Benji benar-benar mengerikan di ranjang ...," gumam gadis itu jadi takut sendiri. Membayangkan beberapa hari lagi pria itu benar-benar akan menghabisinya juga, membuat tubuh Lily seketika merinding. Namun, entah kenapa gadis itu juga merasa penasaran. Lily jelas bukan gadis polos. Ia hidup di tempat kotor dan sering berada di situasi semacam ini. Itu bukan hal tabu baginya, Tante Binta bahkan sudah sering mengajarkannya cara untuk memuaskan pria. Tapi, membayangkan dirinya sendiri yang pada akhirnya akan mempraktikkan semua ajaran itu membuat Lily merasa resah dengan alasan yang entah. Gadis itu bahkan tanpa sadar merapatkan kaki begitu merasakan basah melingkupi tubuh bagian bawah. "Kenapa milikku gatal ...," keluh Lily bingung sambil berbolak-balik gelisah di atas ranjang. Apakah ini yang dimaksud Tante Binta tentang terangsang? Tapi, bagaimana bisa? Lily tidak menonton video tidak senonoh atau pun melakukannya. Lily hanya mendengar Abia dan Benji yang berbagi peluh di kamar sebelah. Bagaimana bisa miliknya terasa luar biasa basah hanya karena hal tersebut? Sepertinya, Lily memang sudah kehilangan akal sehat.Mobil Benji tiba-tiba mogok di jalan menuju rumah ayahnya.Entah apa yang salah dari mobil yang baru diservice beberapa hari lalu tersebut, yang jelas mesinnya mati total di jalan yang sepi. Beruntung ada Geovano yang lewat memang untuk menemuinya ke rumah. Atas usulan Geovano, Benji pun tidak jadi menemui sang istri yang kini telah aman di rumah ayahnya. Pria sipit itu memilih fokus mencari siapa pelaku di balik teror cukup berani di rumahnya sambil menunggu mobil yang diperiksa oleh montir.Namun, belum lama berada di sana, Benji mendapat telepon dari salah satu pembantu di rumahnya. Siska, salah satu pelayan yang selama ini juga sudah lama bekerja padanya, menginformasikan bahwa pelaku telah tertangkap dan diamankan di rumah.Namun, perempuan itu bilang tidak ada yang mengenalinya. Jadi, tanpa pikir panjang, Benji dan Geovano yang sudah kelewat penasaran segera ke rumah Benji untuk mengeceknya.Siapa sangka, sesaat ayah dan anak itu memasuki rumah, pintu tiba-tiba terkunci dari lu
Suasana di kediaman Benjamin Kaisar terasa mencekam. Apalagi setelah Lily diantar ke rumah mertuanya.Kini, sang tuan rumah tidak lagi berusaha menahan amarahnya. Karena sebelum hadirnya Lily di rumah ini, Benjamin Kaisar memang bukan tipe majikan yang disukai para pekerjanya."Sebenarnya untuk apa aku menggaji kalian? Tidak ada yang bekerja dengan becus di sini!"Seperti sore ini, Benji memaki para penjaga baru yang belum genap dua hari bekerja di rumahnya. Tidak terkecuali para pelayan yang juga jadi sasaran kemarahan."Kemarin kalian lihat sendiri, ada yang meneror istriku dengan bangkai tikus dan darah. Barang itu berhasil masuk ke rumah dengan mudah.""Aku sudah memperingati, memerintahkan kalian untuk lebih waspada.""LALU BAGAIMANA BISA TEROR ITU SEKARANG BISA MASUK KAMARKU?!""Apa gunanya aku menambah penjaga? Kalian semua tidak bekerja!" Benji memaki orang-orang yang bahkan tidak tahu harus membela diri dengan kalimat macam apa. Karena bersuara pun rasanya sangat menakutkan,
"Kenapa kau memecat mereka?!"Pagi-pagi sekali, Lily sudah mendapati kabar bahwa Benji sudah memecat lima penjaga yang sudah bekerja bertahun-tahun padanya. Hal yang tentu saja langsung membuat perempuan itu tidak suka."Mereka tidak berguna. Untuk apa aku melihat mereka di sini?" sahut Benji santai sambil memakai dasi guna siap-siap berangkat kerja.Lily yang baru saja kembali dari dapur setelah membantu pembantu yang lain membereskan meja makan, sontak berjalan mendekat dan berdiri di depan suaminya sambil menyorot tajam."Mereka tidak tahu soal paket itu karena biasanya aku memang sering menerima paket, Mas. Kenapa kau marah sekali?" tanya Lily tidak habis pikir.Namun, Benji malah mengabaikannya dan sibuk berkaca."Kau tidak memikirkan para penjaga itu yang mungkin saja susah mendapat pekerjaan baru di luar sana? Kau tidak memikirkan anak istri mereka? Mereka sudah lama bekerja padamu, bagaimana kau bisa begitu mudah memecat mereka, Masss?" rengek Lily sambil menarik lengan suamin
Benji berlari turun dengan handuk yang hanya menutupi hingga pinggang sesaat mendengar teriakan istrinya.Jatung pria itu berpacu kencang karena panik. Namun, melihat Lily yang kini tengah duduk di sofa ruang tengah sambil meringkuk, pria itu jadi sedikit lebih tenang. "Ada apa, Lily? Kenapa kau berteriak?" tanya Benji terkejut sambil berlari menghampiri istrinya.Di saat yang sama, Bu Anin juga keluar dari dapur dan berjalan cepat menuju perempuan itu. "Iya, Nak. Kau kenapa?" tanya Bu Anin ikut khawatir setelah tadi meninggalkan masakannya buru-buru, takut sang majikan kenapa-kenapa.Lily yang masih meringkuk sambil menenggelamkan wajah di balik lipatan lututnya hanya diam dengan tubuh gemetar. Melihat tingkah aneh istrinya, Benji pun segera mendekat dan duduk di samping Lily."Kenapa ada bau darah ya, Tuan?" tanya Bu Anin saat berdiri di dekat sofa yang ada di depan kedua majikannya.Benji yang juga sadar dengan bau anyir yang menyengat tersebut, sontak menatap sekitar cemas."Lil
"Dia ternyata sibuk sekali, yaa ...."Benji bersedekap dada sambil bersandar di sisi tembok teras halaman belakang. Pria sipit itu baru bangun dan tidak menemukan istrinya di sisi ranjang apalagi kamar mandi. Nyawa yang belum sempurna terkumpul membuatnya berlari panik mencari sang istri ke seluruh penjuru rumah.Siapa sangka, perempuan cantik itu tengah berkutat bersama kucing orennya di sini; taman belakang. Tempat favorit Lily di rumah ini. Tempat yang sejak dua tahun terakhir sudah berubah jadi taman bunga, saking rajinnya sang istri berkebun sejak kepergian putri mereka.Entah itu adalah sebuah pelarian yang indah, atau memang hobi baru Lily setelah tidak jadi jurnalis. Benji tidak tahu. Yang jelas, saat ini pria itu terlalu sibuk memandangi istrinya yang tengah berjongkok mencampur sekam padi dan tanah ke dalam pot kecil sebagai media tanam bibit baru. Lengan dan betisnya tampak berkilau terkena sinar matahari, imbas dari mulusnya kulit serta lotion yang selalu ia pakai setiap
"Kenapa belum tidur, Lily ...."Benji menghela napas panjang guna meliris sesak sesaat memasuki ruang tengah rumah yang temaram dan sepi. Hanya ada pencahayaan dari lampu teras serta televisi yang menyala di sana.Menampilkan iklan rokok yang hanya akan muncul di jam-jam tertentu. Jam yang jelas saja sudah menandakan larut malam."Aku menunggumu pulang, Mas ...."Dan di ujung sofa panjang sana, istrinya tengah duduk sambil meringkuk dan memeluk lutut. Terpaan dingin AC membuat tubuh Benji bahkan mulai merinding, namun Lily tampaknya sudah lama duduk di sana dengan terusan putih tanpa lengan tipisnya.Kenapa Lily tidak masuk ke kamar? Apa sang istri memang benar menunggunya pulang? Tapi kenapa dia tidak mengenakan selimuf atau paling tidak jaket?Padahal Lily gampang terserang flu saat kedinginan."Kukira kau tidak akan pulang malam ini, Mas ...." Lily menyapa begitu Benji kini berdiri di depannya tanpa kata."Kenapa tidak pakai jaket atau selimut? Tubuhmu dingin sekali," tanya Benji k







