Share

PTSD?

Author: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-09-18 23:25:44

Pagi hari di kediaman utama Maheswara dibalut aura kaku yang mencekam. Di dalam ruang kerja bernuansa kayu jati gelap milik almarhum suaminya, Nenek Utami duduk tegak di balik meja besar. Cahaya matahari pagi yang menembus tirai tipis tidak sedikit pun melunakkan garis tegas di wajah sepuhnya.

Di hadapannya, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, dokter pribadi keluarga Maheswara selama lebih dari dua dekade duduk dengan posisi serba salah, sebuah map kulit tebal berisi rekam medis rahasia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Minum Teh Pukul Dua Pagi, Presdir?

    Cengkeraman tangan Adipati di kedua lengan Citra tidak kunjung mengendur, seolah pria itu lupa bagaimana caranya melepaskan diri dari situasi yang mendadak berubah di luar kendali logika dinginnya. Di bawah pendar temaram lampu koridor, jarak di antara mereka begitu tipis begitu tipis hingga Citra bisa merasakan getaran napas Adipati yang menyapu puncak kepalanya, dan Adipati bisa mendengar dengan sangat jelas degup jantung wanita itu yang bergemuruh liar seperti genderang perang."Kamu..." suara Adipati memecah keheningan, terdengar begitu rendah, serak, dan penuh tuntutan. Pria itu menunduk, menatap manik mata Citra yang membesar karena syok. "Berdiri di depan pintu kamar saya, pada pukul dua pagi, dengan balutan jubah tidur satin yang... entah sejak kapan menjadi standar pakaian patroli malam seorang istri?"Citra meneguk ludahnya dengan kasar. Tenggorokannya terasa kering, tersendat oleh kombinasi antara rasa malu, tertangkap basah, dan aroma maskulin khas Adipati yang terlalu men

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Tertangkap Basah

    Suasana di ruang kerja pribadi Adipati Maheswara pada pukul satu malam seharusnya menjadi tempat paling sunyi dan steril dari segala gangguan emosional. Di ruangan berlapis panel kayu jati tua itu, tumpukan dokumen faksi barat tersusun rapi di atas meja kerja marmer hitam. Namun, keheningan tersebut justru terasa hancur berkeping-keping oleh kehadiran Raka, sang asisten pribadi, yang sejak setengah jam lalu merasa tengah duduk di atas bara api.Adipati tidak fokus.Pria yang biasanya dikenal memiliki tingkat konsentrasi setara baja dan kalkulasi setajam silet itu tampak berulang kali membaca baris kalimat yang sama pada laporan keuangan tanpa menyerap satu pun maknanya. Tatapan mata setajam elangnya terpaku pada kertas, tetapi pikiran bawah sadarnya melayang sejauh beberapa meter ke balik dinding tebal ruang kerja, menembus kamar utama tempat Citra seharusnya beristirahat."Tuan," panggil Raka hati-hati, memecah keheningan sementara jarinya menunjuk sebuah angka di lembar proposal. "U

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Pukul Dua Pagi

    Pukul dua pagi, keheningan di sayap barat kediaman Maheswara terasa begitu menekan. Di dalam kamar utama yang temaram, Citra berbaring gelisah di atas ranjang king-size berbalut seprai satin hitam. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar yang dihiasi ukiran kayu jati klasik, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Pikirannya terus berkecamuk, menolak untuk diajak beristirahat. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah Adipati yang pucat pasi, napas tersengal, dan tubuh yang gemetar hebat akibat serangan trauma siang tadi kembali berputar jelas di kepalanya. Rasa cemas yang mengakar kuat mencengkeram dadanya tanpa ampun. Bagaimanakah kondisi pria itu sekarang? Apakah beban pekerjaan yang menumpuk di ruang kerja mendadak memicu kembali trauma kelam yang baru saja reda? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, menciptakan ketakutan tersendiri yang membuat dadanya terasa sesak. Citra tahu betul watak Adipati. Pria itu adalah benteng pertahanan terakhir ba

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Perhatian Kecil Citra

    Keheningan yang pekat dan sarat akan ketegangan mendominasi ruang kerja Adipati. Lampu gantung kristal di atas kepala mereka memancarkan pendar kuning temaram, menyoroti map merah tebal dan flash drive hitam yang tergeletak di atas meja kerja mahoni. Di hadapan meja itu, Raka berdiri dengan postur tegap, napasnya perlahan merata setelah berjam-jam berkutat dalam ketegangan fisik dan psikologis di sayap timur kediaman Maheswara. Namun, bukan lagi ancaman sabotase atau dokumen suksesi yang memenuhi pikiran Raka saat ini. Perhatiannya beralih sepenuhnya pada sosok pria yang duduk di balik meja kerja tersebut. Melihat Adipati yang kini kembali menegakkan kepala dengan sorot mata setajam elang, rahang yang terkatup tegas, serta aura otoritas dingin yang mengintimidasi, sebuah kelegaan luar biasa menyergap dada Raka. Bayangan Adipati beberapa jam lalu, pria yang ambruk dalam kelemahan fisik, terduduk lemas dengan napas tersengal akibat terjangan trauma masa lalu yang mencengkeram jiwanya

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Kembalinya sang Presdir Dingin

    Suasana di sayap barat kediaman Maheswara terasa jauh lebih senyap, kontras dengan badai yang baru saja diselesaikan Raka di lantai atas. Di kamar utama berukuran luas dengan nuansa kayu jati tua, pencahayaan diredupkan hingga menyisakan pendar temaram dari lampu sudut ruangan. Adipati duduk bersandar di headboard tempat tidur dengan punggung disangga tumpukan bantal beludru tebal. Selimut wol rajut menutupi separuh tubuhnya, menghangatkan fisiknya yang sempat tumbang total akibat serangan trauma mendadak siang tadi. Di sisinya, Citra duduk tenang di atas kursi rotan, baru saja selesai merapikan mangkuk porselen berisi sup herbal yang mengepulkan uap tipis. Gerakan wanita itu efisien dan tanpa suara, menemani Adipati berjam-jam dalam keheningan yang sarat akan rasa lelah. Sepanjang hari ini, Adipati memang memilih mengunci diri dari dunia luar. Tidak ada telepon bisnis, tidak ada laporan korporasi yang diterima, dan tidak ada pintu yang dibuka untuk siapa pun kecuali Citra. Trauma y

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Membusuk Lah di Penjara, Nyonya.

    suara Sartika meluncur pelan, tenang, dan menggema lembut di dalam kamar yang sunyi itu, tanpa ada secercah pun rasa bersalah atas kekacauan berdarah yang terjadi malam ini. "Dulu, saat aku pertama kali melihatmu mengintip dari balik celah ruang kerja Adipati ketika kau masih anak-anak bau kencur, aku sudah tahu bahwa keberadaanmu di sini lambat laun akan menjadi duri dalam daging bagi masa depan anak-anakku."Raka melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, lalu mengunci gerendelnya dari dalam. Tatapannya menatap lurus ke arah wanita yang berdiri di hadapannya, menghidupkan kembali memori kelam masa lalu yang kini menemukan kepingan puzzle terakhirnya."Jadi benar, semua kekacauan ini, pembobolan brankas, manipulasi server, hingga kematian Bimo yang dibungkam di ruang kerjanya adalah skenario busuk yang kau rancang dari balik bayang-bayang," ujar Raka dingin, suaranya mengandung beban amarah yang ditekan hingga batas maksimal. "Kau mengorbankan darah daging keluarg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status