เข้าสู่ระบบ
"Mas, mau kemana? Kenapa pakai setelan kantor?"
Nessa menatap suaminya dengan begitu heran, padahal ia sudah melepas gaun pengantinnya dan menggantinya dengan lingerie putih berbahan satin yang menonjolkan lekuk tubuhnya.
"Ah… iya, malam ini Mas ada meeting penting,” jawab Reino, nadanya tergesa, kemejanya belum sempat ia rapikan sambil melirik jam di pergelangan tangan.
“Tapi… ini kan malam pertama kita.”
Suara Nessa merendah, matanya bergetar menahan kecewa. “Apa Mas nggak bisa minta izin, walau sebentar?”Reino terhenti sejenak. Helaan napasnya terdengar pelan, tapi langkahnya tetap seakan ingin pergi. Sementara Nessa berdiri mematung, merasakan dada yang perlahan menghangat oleh rasa tidak diprioritaskan.
Reino menatap wajah Nessa, lalu mengusap pucuk rambut Nessa dengan lembut. Nessa menyandarkan kepalanya pada lengan Reino, sesekali mengusap dada bidang milik Reino berharap bisa sedikit membangkitkan gairah Reino, namun Reino malah menyingkirkan tangan Nessa.
''Maaf sayang, tapi metting ini nggak bisa aku lewatkan karena ini proyek yang sangat besar, lusa aku janji akan bawa kamu honeymoon ke Itali,'' sanggah Reino yang langsung meraih tas kantornya.
Nessa hanya terdiam, raut wajahnya tidak bisa disembunyikan kalau ia teramat kecewa. Malam pertama yang seharusnya hangat dan membahagiakan justru berubah menjadi malam yang sunyi untuk sebuah awal pernikahan.
Setelah Reino pergi, Nessa berjalan mengelilingi kamar Reino. Foto-foto yang terpajang didinding tak lepas dari pandangannya, namun tiba-tiba tatapannya berubah menjadi penuh tanya saat ia menemukan sebuah benda yang berhasil membuatnya terheran-heran.
''Ini kan rattel toy, mainan yang biasa buat bayi? Buat apa Mas Reino beli mainan ini?'' gumam Nessa yang tampak memperhatikan mainan tersebut.
Nessa mempotret mainan bayi itu lalu mengirimkannya pada Reino melalui pesan singkat. Ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong, hatinya terasa hampa dan sunyi, ditambah rasa penasaran mengenai mainan bayi yang tergeletak di meja rias.
Wajahanya tampak kesal, terlihat ingin marah namun ia hanya seorang diri di rumah, tak ada yang bisa dijadikan pelampiasan amarahnya.
Dengan langkah kesal, Nessa meninggalkan kamar. Ia menuruni lorong menuju dapur, berharap menemukan sesuatu yang bisa sedikit meredakan pikirannya, sekadar mencari makanan untuk mengganjal perut.
''Sepertinya semangkuk ramen, bisa membuat moodku jadi lebih membaik,'' gumam Nessa yang kini sudah berada di dapur.
Nessa menyalakan kompor, merebus air ke dalam panci kecil. Aroma bumbu ramen menguar menusuk rongga hidung, hingga membuatnya tak bisa menahan rasa ingin bersin.
Nessa membuka laci lemari yang ada di dapur, untuk mencari sendok juga garpu. Namun, sekali lagi ia dibuat tercengang ketika ia menemukan sendok kecil berbahan silikon yang biasa dipakai untuk bayi.
''Tadi rattel toy, sekarang sendok bayi sebenarnya punya siapa sih?'' gumam Nessa, wajahnya tampak kesal lantaran terlalu banyak teka-teka di dalam rumah Reino.
Ia teringat saat pertama kali bertemu Reino, di perusahaan milik ayahnya. Nessa jatuh cinta pada pandangan pertama, ia juga merasa semua kriteria pria idamannya ada pada Reino.
Tujuh bulan Nessa menjalin hubungan dengan Reino, ia ingat betul berapa kali ia dan Reino menghabiskan waktu bersama, semua bisa terhitung dengan jari. Reino selalu sibuk dengan pekerjannya bahkan hingga kini saat malam pertama, Reino lebih mengutamakan pekerjaan.
Lantas temuan benda-benda itu menimbulkan pikiran negatif. Nessa mulai berprasangka buruk, menerka-nerka dengan segala tuduhan yang terbesit dihatinya.
''Pesanku ternyata belum di balas juga, aku kira setelah menikah akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Mas Reino. Ternyata sama saja,'' gumam Nessa, meletakan semangkuk ramen yang baru saja selesai dimasak.
Malam pertamanya hanya ditemani semangkuk ramen, tangannya aktif memainkan ponsel melihat-lihat foto pernikahnnya dengan Reino. ia juga melihat foto kedua orang tuanya, dimana rasa rindu itu hadir saat melihat dua wajah kedua orang tua yang selama ini selalu bersamanya.
Tapi malam ini ia berada jauh, tak lagi tinggal dengan kedua orang tuanya dan memutuskan untuk tinggal berdua di rumah peninggalan orang tua Reino.
''Ayah, mamah... kangen banget rasanya jauh dari kalian, rumah ini sepi aku sendiri di rumah ini, Mah,'' gumam Nessa, dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Nessa lantas mencari kontak mamahnya dan berniat akan menelponnya, ''Jangan-jangan.... aduh Nessa kamu bodoh! Nanti yang ada mereka khawatir.''
Berkali-kali Nessa memukul keningnya, merutuki kebodohannya. Ia pun mengurungkan niatnya dan meletakan kembali ponselnya.
Ceklek....
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka,Nessa spontan bangkit dari kursinya dan bergegas hendak melihat siapa yang baru saja membuka pintu. Ia juga mengambil gagang sapu untuk bekal senjata darurat, takut jika ternyata orang jahat yang datang masuk.
Perlahan ia melangkah ke arah ruang tamu yang begitu gelap, langkah kakinya semakin pelan ketika melihat seorang pria memakai jaket jeans, tengah berdiri hendak menutup pintu.
Tanpa aba-aba, Nessa langsung menghujani pria misterius itu dengan gagang sapu yang kebetulan berada di dekatnya.
Bugh! Bugh!
“Rasakan ini! Berani-beraninya kamu asal masuk rumah orang, siapa kamu?!” bentaknya, napas tersengal penuh emosi.
Ia memukuli punggung pria itu berkali-kali, memanfaatkan seluruh tenaga yang masih tersisa. Pria itu sempat terhuyung, namun bukannya kabur, ia justru menoleh cepat.
Dalam satu gerakan, tangannya menangkap gagang sapu itu dan menepisnya hingga terlepas dari genggaman Nessa. Sapu itu terpelanting ke lantai, berputar beberapa kali sebelum berhenti.
Tengah malam, suara mobil yang berhenti di halaman membuat Nessa langsung terbangun. Ia bangkit dengan cepat dan menyingkap tirai. ternyata suara mobil itu milik Reino yang baru saja pulang.Perasaan Nessa langsung berubah panas. Ia merapikan rambutnya, lalu mengambil kemeja oversize yang jatuh longgar di tubuhnya. Ia juga membuka beberapa kancing bagian atas sengaja untuk menggoda. Ia ingin membuat Reino memperhatikan dirinya, bukan sekadar lewat dan tidur begitu saja.Nessa berdiri di depan cermin sebentar, memastikan tampilannya pas. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat siapa pun menahan napas.Langkah kaki Reino pun mulai terdengar mendekat di lorong, lalupintu kamar terbuka.Ceklek.Reino muncul dengan wajah yang hampir ambruk karena lelah. Meski begitu, matanya sempat terpaku pada penampilan Nessa.Nessa mendekat, membantu meletakkan tas kerja Reino di meja dan menggantung jasnya dengan rapi. Ia beberapa kali memberikan perhatian kecil, menyentuh lengan suaminya, berhara
Nessa masuk melangkah cepat ke kamar, tanpa mempedulikan Reino yang masih berada di dalam mobil. Ucapan Reino perihal ingin menunda momongan, membuat Nessa merasa sedikit sakit hati. Padahal tujuan utama pernikahannya ingin segera memiliki seorang anak, namun keinginannya bertentangan dengan kenginan Reino.''Nessa, ayolah… kamu jangan kekanak-kanakan. Cuma karena aku ingin menunda punya anak, kamu langsung merajuk seperti ini?” suara Reino meninggi, mencoba terdengar tegas padahal jelas ia sedang kehilangan kesabaran.''Aku kekanak-kanakan? Justru Mas Reino yang aneh, malam pertama kita, Mas Reino kerja aku maklumi, sekarang Mas Reino minta untuk menunda punya anak, apa harus aku turuti juga? Harus aku maklumi juga?'' cerocos Nessa yang mulai meledak emosinya.Reino menyisir rambutnya secara kasar, tarikan napasnya begitu berat. ''Nessa, aku lagi nggak mau ribut.''''Tapi aku mau kejelasan, Mas!'' Air mata yang ia tahan akhirnya tumpah.Alih-alih menenangkan, Reino justru meraih tas
"Mas Reino?"Nessa terdiam menatap suaminya yang kini berdiri dihadapannya. Ia tampak gugup seperti pertama kali bertemu, bahkan lidahnya pun terasa kelu."Apa yang kamu lakukan di apartemen ini? Bersama Pak Thomas?" tanya Reino dengan mata penuh selidik dan rasa curiga."A—aku... Aku sama Bima," jawab Nessa yang tampak gugup."Bima? Tapi untuk apa kamu kemari? Apa yang sudah Bima janjikan?" cecar Reino.Nessa menghela nafas kasarnya, ia meminimalisir perasaan gugup yang sejak tadi menyergap. Ia tak ingin sampai Reino berfikiran macam-macam tentangnya."Awalnya aku dikejar tiga pria asing bertubuh kekar, lalu tiba-tiba Bima menolongku, dan dia membawaku ke apartemennya ini," ujar Nessa berusaha menjelaskan dengan jujur."Apartemennya? Apartemen ini milik, Pak Thomas," ujar Reino seraya menunjuk kearah Thomas.Manik mata Nessa membulat sempurna. Ia menatap Thomas dengan penuh kebingungan. Ia masih ingat betul bagaimana Bima memperkenalkan Thomas sebagai pengawal pribadinya. Namun sekar
''Apa mereka tahu apartemenmu ini?'' tanya Nessa yang tampak panik.Bima menggeleng pelan, buru-buru, ia mengintip dari celah lubang pintu yang dibuat khusus. Nessa yang semakin panik lantas bersembunyi dibelakang Bima dari jarak yang cukup jauh. Ia masih trauma dengan ketiga pria bertubuh kekar itu,Saat pintu mulai terbuka, tampak berdiri seorang pria bersetelan jas hitam berdiri tegak di depan pintu. Bima menghela nafas kasarnya saat tahu pria yang ada dihadapannya ialah pengawal pribadinya.''Kau rupanya? Apa ada kabar penting hari ini?'' tanya Bima.Belum sempat pengawal pribadi bima menjawab, Nessa maju kedepan menggeser pelan tubuh Bima, menatap wajah pengawal serta Bima secara bergantian.''Siapa dia? Akrab sekali rupanya? Jangan-jangan dia bos dari ketiga pria itu,'' ujar Nessa yang langsung menyerang dengan tuduhan.''Dia Thomas, pengawalku, kau tunggu saja didalam,'' titah Bima.Nessa kembali masuk, rasa nyeri di lutut membuatnya tak bisa untuk terlalu lama berdiri. Ia lant
''Bima?''Nessa tercengang saat tahu pria yang sejak tadi menutupi wajahnya dengan masker hitam itu ternyata Bima. Ia tak menyangka akan bertemu Bima, ia juga bingung dengan penampilan Bima yang terkesan sangat misteriusBima terus menatap Nessa tanpa berkedip sedikitpun. Bima merasa ada yang berbeda dari Nessa."Kau sedikit lebih lumayan tanpa kacamata,'' Celetuk Bima.Nessa memundurkan tubuhnya yang dirasa terlalu dekat, ''K...kamu sedang apa di tempat ini? Kenapa juga pakai masker?"Bima menghela nafas kasarnya, lalu tak sengaja manik matanya melihat luka yang cukup parah di salah satu lutut Nessa.''Lututmu berdarah, sebaiknya segera diobati,'' ujar Bima.Nessa menundukan kepalanya melihat kearah lututnya yang memang benar ada luka disana. Karena terlalu panik dan takut hingga ia tak merasakan rasa sakit dari luka itu.Nessa lantas keluar dari gang sempit itu hendak kembali mencari taksi, tapi Bima menarik lengan Nessa, agar berjalan melewati jalan pintas.''Kalau kau kembali ke
Manik mata Nessa melebar. Jantungnya serasa berhenti sesaat ketika pria yang ia yakini sebagai Reino menoleh.“Ma… maaf, Mas. Saya salah orang… permisi,” ucapnya gugup sebelum buru-buru kabur dari toko itu.Langkahnya terburu, tetapi pikirannya tetap tertinggal di sana. Ia yakin betul ia tidak salah lihat. Postur tubuh, potongan rambut, bahkan garis rahang yang sempat terlihat dari samping, sangat jelas baginya kalau itu Reino. Tapi kenapa secepat itu Reino menghilang? Pikirnya.Nessa mengembuskan napas panjang, rasa lelah mendadak menyergap. Keinginannya untuk jalan-jalan di mall lenyap begitu saja. Ia merogoh ponselnya dan mengetikan pesan pada temannya untuk pamit pulang.“Bisa gila aku mikirin Mas Reino. Pesan-pesanku nggak dibalas, padahal baru juga nikah. Kok rasanya mentalku yang goyah duluan,” gumamnya sambil cemberut, berusaha menepis rasa gelisah yang mengganggu sejak tadi.Ia pun merasa lelah bahkan sudah tidak selera lagi untuk berjalan-jalan di mall. Ia lantas merogoh pon







