Se connecter"Sis," panggil Jonathan, pelan. Ia akhirnya mencoba memecah keheningan lebih dulu. Lalu berdeham pelan sebelum menoleh ke arah Siska yang masih berdiri canggung tidak jauh dari pintu masuk."Kamu bisa pake kamar mandi duluan dan langsung istirahat, Sis."Siska yang sejak tadi terlihat sedikit linglung langsung mengangkat wajahnya perlahan."Nggak usah. Kamu duluan aja. Aku mau duduk sebentar sambil lepas aksesoris dulu."Jonathan memperhatikan wajah perempuan itu beberapa detik sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan."Ya udah kalo gitu."Ia lalu berjalan mengambil pakaian ganti di dalam lemari yang sebenarnya milik saudara kembarnya, Johan. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara lagi.Begitu suara pintu kamar mandi tertutup, suasana kembali terasa sunyi.Siska akhirnya berjalan pelan menuju sisi tempat tidur lalu duduk di pinggir ranjang besar itu.Gaun pengantinnya masih terasa berat di tubuhnya sekarang. Kepalanya juga terasa penuh. Semua yang terjadi h
"Baiklah, kalau begitu," ucap Rania. Ia sempat menganggukkan kepalanya perlahan setelah mendengar keputusan terakhir Siska. Ia juga mengusap punggung tangan cucunya dengan lembut, sebelum akhirnya bangkit kembali dari duduknya."Nenek keluar lagi, ya," ucap Rania, pelan. Siska hanya mengangguk pelan, dan Rania berjalan ke luar ruangan. Begitu pintu terbuka, seluruh tatapan langsung tertuju kepadanya lagi. Jonathan yang sejak tadi sempat kembali berdiri di dekat jendela juga segera menoleh ke arahnya. Rania menarik nafas pelan. "Siska udah setuju." Suasana langsung terasa sedikit lebih lega dibanding sebelumnya. Meski begitu, tidak ada satupun yang benar-benar terlihat bahagia penuh sekarang. Semuanya masih terasa berat. Jonathan sendiri hanya menundukkan kepalanya beberapa saat sebelum akhirnya menghembuskan napas pelan."Syukurlah..." gumam Cynthia, sangat pelan.Namun beberapa saat kemudian, Jonathan kembali bicara dengan nada jauh lebih serius."Tapi ada satu hal lagi yang h
"Iya, Nek," jawab Siska, pelan. Rania kini memandang Siska cukup lama setelah mendengar keputusan cucunya tadi.Tatapan perempuan tua itu terlihat penuh pertimbangan. Bukan karena tidak percaya pada Siska, tapi karena ia tau keputusan ini akan mengubah hidup banyak orang sekaligus."Sis," panggil Rania pelan.Siska kembali mengangkat wajahnya perlahan. "Kamu yakin?" tanya Rania, memastikan. Ruangan kembali terasa sunyi. Andini yang duduk di samping Siska ikut diam menunggu jawaban sahabatnya itu.Siska menarik napas panjang lalu menganggukkan kepalanya perlahan."Aku udah mikir sejauh yang aku bisa sekarang, Nek."Rania masih memperhatikan wajah cucunya tanpa memotong ucapannya sedikit pun."Aku juga ngerti konsekuensinya nggak ringan. Dan aku tau pernikahan nggak bisa dianggap main-main."Tatapan Siska perlahan kembali turun ke arah jemarinya sendiri. Sedangkan Andini menatap Siska cukup lama.Sedangkan Siska kembali melanjutkan kalimatnya dengan suara yang jauh lebih pelan. "Tapi
"Uhm..," gumam Siska, pelan. Ia kembali diam cukup lama setelah mendengar penjelasan Rania dan Andini.Tatapannya turun perlahan ke lantai. Kepalanya kini benar-benar terasa sangat penuh. Terlalu banyak kemungkinan yang muncul di pikirannya sekarang.Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya."Kalau misalnya, nanti di tengah jalan Johan dateng, gimana?" tanya Siska, pelan.Rania dan Andini langsung melihat ke arah Siska. Dan pertanyaannya membuat Andini menahan napas pelan. Sedangkan Rania terlihat tetap tenang meski wajahnya sempat menegang."Tadi Jonathan udah ngomong," jawab Rania hati-hati. "Kalo Johan datang dan semuanya memang harus diselesaikan, dia nggak masalah kalo nantinya kalian berpisah secara baik-baik."Siska terdiam lagi. Kalimat itu justru membuat dadanya semakin sesak. Karena itu berarti Jonathan benar-benar menganggap semua ini sebagai jalan keluar sementara. Bukan karena perasaan dan bukan juga karena ego. Murni membantu dirinya dan Johan.Dan
"Hah?!" tanya Gery. Ia menatap Jonathan cukup lama."Terus nanti, kalo Johan dateng gimana?" tanyanya langsung, sambil melihat anaknya yang selalu berfikir diluar nalar. Jonathan menjawab tanpa banyak ekspresi. "Kalo Johan balik, kita bisa selesaiin semuanya secara baik-baik. Cerai pun nggak masalah."Kalimat itu membuat suasana semakin sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar siap mendengar solusi seaneh itu. Tapi di saat bersamaan, semua orang sadar keadaan mereka memang tidak bisa dibilang mudah."Aku cuma mikir jalan cepat dan aman bagi kedua belah pihak," ucap Jonathan, pelan. Solusi yang ia berikan memang bagus. Hanya saja hal itu sepertinya sangat berat bagi Siska. Karena bagaimanapun yang ingin dia nikahi dan ia terima lamarannya itu, Johan. Bukan Jonathan. Andini langsung menggeleng cepat."Gila! ini bukan urusan kecil, Jon!"Jonathan menatap Andini sebentar."Aku tau. Aku cuma menawarkan. Sisanya kedua belah pihak yang memutuskan.""Kita tetap harus mengutam
"Mba," panggil Andini. "Kebesaran nggak sih bagian sini?" tanyanya sambil menunjuk bagian pinggang gaun Siska."Nggak, Kak. Tadi udah kita pasin lagi," jawab salah satu staf.Rania membuka map checklist di tangannya lalu mulai mengecek ulang beberapa detail."Sepatu aman.""Veil aman.""Aksesori aman."Andini tertawa kecil. "Bunda serius amat sih.""Ya harus serius dong, An. Ini kan nikahan Siska," jawab Rania, sambil tersenyum tipis. Mendengar jawaban Rania membuat Siska tertawa pelan."Oh iya, Bu Zaskia jadinya gimana, Bun?" tanya Andini."Dia masih istirahat," jawab Rania. "Kan habis melahirkan, jadi belum boleh terlalu capek.""Terus bajunya? Gimana?" tanya Siska, sambil mengerutkan kening. "Disesuaikan aja dengan baju yang ada katanya. Tadi sih Bunda udah kasih contohnya."Siska mengangguk pelan. "Oh, gitu."Meski Zaskia tidak bisa ikut fitting terakhir itu, ia tetap beberapa kali mengirim pesan dan meminta foto perkembangan gaunnya."Eh bentar," ucap Andini tiba-tiba sambil m
"Nggak!" tegas Satria, lagi. Raya membulatkan matanya. Hancur sudah harapan yang sebelumnya ia pikir sudah mendapatkan titik terang. "Maksudnya nggak gimana, Sat?!" Satria berdecak sebal. "Bukankah Tante tau, kalau Ayah dan aku telah berbaik hati menerima dan memberikan ilmu terbaik kami tentang
"Masuk... " ucap Satria saat mendengar ketukkan dari balik pintu. Setelah ia mendengar Satria memperkenankannya masuk, ia segera melenggang masuk ke dalam ruangan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bob. 'Sepertinya ia berhasil mendapatkan tanda tangan Satria.' batin Bob saat melihat Zaskia
"Yakin?" tanya Satria, memastikan. Andini mengangguk. Ia sangat yakin dengan keputusannya. "Baiklah kalau begitu." tutur Satria pasrah. "Ya udah, Ayah balik ke kantor gih!" perintah Siska. "Kan udah ada aku di sini.""Memang kamu bisa urus Andini sendirian?" tanya Satria, ragu. Siska mengerutk
"Satria... " panggil Zaskia. "Aku tau kamu sudah kembali dan ada di dalam, Sat!" lanjutnya. Ia kembali membuat kegaduhan. Dan kali ini, di kantor. Satria yang pandangannya sudah mulai fokus melihat laptop, beralih ke daun pintu sesaat. Di mana Zaskia dan Dila sedang berselisih karena Dila tidak







