Share

Sentuhan Panas Ayah Tiri
Sentuhan Panas Ayah Tiri
Author: Marssky

Dibuang

Author: Marssky
last update Last Updated: 2025-09-09 22:18:45

"Hei, bangun!"

Seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan mengguncang putrinya yang masih terlelap dengan kasar.

"Engh…" Anak itu melenguh pelan, matanya mengerjap pelan sebelum akhirnya terbuka. "Ada apa, Bu?" tanyanya sambil mengusap kedua matanya.

"Kemasi barang-barangmu, cepat!" suara ibunya meninggi, terdengar seperti perintah.

"Memangnya kita mau ke mana, Bu?" tanyanya bingung.

Kenapa tiba-tiba disuruh mengemas barang? Apa mereka akan pergi liburan?

Mata gadis kecil itu langsung berbinar. "Apa kita mau pergi liburan, Bu?" tanyanya penuh semangat, wajahnya berubah sumringah.

"Hmm…" Ibunya hanya mengangguk singkat.

Dengan hati riang, anak itu segera turun dari ranjang, melangkah ke arah lemari, dan mengeluarkan tas serta baju-baju yang ingin dibawanya.

"Ibu tunggu di bawah," ujar sang ibu, lalu meninggalkan putrinya yang tengah sibuk membereskan barang-barangnya.

Wanita itu berjalan ke ruang tengah, menghampiri seorang pria yang duduk santai sambil memainkan ponselnya.

"Mobil udah kamu siapin, kan?" tanyanya seraya melingkarkan tangan di leher pria itu dari belakang.

"Udah dong, sayang. Tinggal eksekusi aja," jawab pria itu dengan seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya.

***

"Ibu, aku sudah siap!" seru gadis kecil itu sambil menenteng tas berukuran sedang, lalu berlari kecil menghampiri ibunya.

Ia berdiri di sisi ibunya, meraih tangan sang ibu, kemudian mengapitnya erat dengan wajah sedikit takut. Pandangannya tertuju pada pria asing di ruang itu. "Om ini siapa, Bu?" tanyanya ragu.

"Dia teman Ibu. Dia akan ikut liburan sama kita," jawab ibunya singkat.

Pria itu tersenyum, lalu berdiri mendekat. "Halo, kenalin, Om Fajar. Kamu bisa panggil Om begitu. Nama kamu siapa?" ujarnya sembari mengulurkan tangan.

Anak itu menunduk, enggan menyambut. Wajah pria itu terlihat menyeramkan di matanya.

"Raisa, Om," jawabnya lirih.

"Nama yang indah, seperti orangnya," pujinya, lalu tangannya terulur mengusap pelan rambut Raisa.

"Terima kasih, Om…" Raisa berusaha memberanikan diri menatapnya sebentar.

Fajar mengangguk, kemudian kembali berdiri tegap. "Kita berangkat sekarang?"

"Iya, ayo!" sahut sang ibu, menggenggam tangan Raisa dan menariknya menuju pintu.

"Sini, tas kamu biar Om bawain," kata pria itu sambil meraih tas dari tangan Raisa.

"Ibu nggak bawa tas?" tanya Raisa pelan, menyadari hanya dirinya yang menenteng barang. "Apa kita nggak akan menginap, Bu?"

Ia sempat kecewa. Mungkin itu alasannya sang ibu tak membawa apa-apa. Raisa awalnya mengira mereka akan pergi ke vila di puncak, tempat yang selalu jadi tujuan setiap liburan panjang.

"Tas Ibu sudah ada di mobil," jawab sang ibu cepat.

"Benarkah? Jadi kita akan menginap di vila?" tanyanya dengan wajah berbinar.

"Iya," balas ibunya singkat.

Raisa tersenyum lega. Syukurlah, ibunya menepati janji. Ia sudah membayangkan kelinci-kelinci liar di halaman vila yang biasa menemaninya bermain.

Dulu, setiap liburan panjang, ayah dan ibunya selalu mengajaknya ke sana. Mereka biasa menghabiskan waktu seminggu penuh bersama. Tapi kali ini berbeda. Ayahnya sudah tiada. Tiga bulan lalu, ia meninggal dalam sebuah kecelakaan.

"Ayo, ngapain bengong? Masuk!" suara ibunya memecah lamunannya.

"I-iya, Bu!" Raisa segera masuk ke mobil. Pintu dibuka ibunya, dan ia duduk manis di kursi belakang.

Namun, hatinya terasa tak enak. Tadi, sekilas ia sempat melihat bagasi mobil terbuka. Kosong. Tidak ada satu pun tas di sana, padahal ibunya bilang barang-barangnya sudah dimasukkan.

Raisa menelan ludah. Perasaannya makin tidak tenang, apalagi saat menyadari pria itu terus mengamatinya dari spion tengah.

***

"Kamu mau minum sayang?" tanya ibunya sambil menyodorkan sebotol air pada anaknya yang duduk di kursi belakang.

Dengan senang hati Raisa menerimanya. Kebetulan ia memang haus dan lupa membawa minum sendiri.

"Terima kasih, Bu," ucapnya ceria sambil membuka botolnya

Namun, alisnya perlahan mengernyit. Ini apa, ya? Kok baunya aneh? batinnya ketika mencium aroma dari dalam botol. Air itu juga tampak keruh, tidak jernih seperti air biasa.

"Ini air apa, Bu? Baunya beda… warnanya juga agak aneh," tanya Raisa ragu.

"Udah, diminum aja! Jangan banyak tanya. Itu air jahe, Ibu sengaja buat biar badan kamu hangat. Di sanakan dingin!" bentak ibunya, membuat Raisa terdiam.

Raisa langsung ciut. Ia tahu betul kalau ibunya sedang marah. Dengan terpaksa, ia meneguk air itu sedikit demi sedikit.

Sejak tegukan pertama, Raisa sadar rasanya tidak seperti air jahe yang biasa diminumnya. Ada pahit samar yang menusuk lidah. Tapi ketika ibunya menoleh, menatapnya dengan tatapan tajam, Raisa tak berani membantah. Ia memaksa dirinya menelan sampai habis.

"Ini, Bu… sudah habis," ujarnya pelan, menyodorkan botol kosong itu pada ibunya.

"Anak pinter," puji ibunya sambil mengambil botol itu.

Tiga puluh menit kemudian.

"Kok kepalaku pusing, ya?" gumam Raisa sambil memegang kepalanya.

"Kamu kenapa?" tanya ibunya, kali ini dengan suara seolah khawatir.

"Kepalaku… pusing banget. Rasanya sakit," jawab Raisa parau.

"Kamu ngantuk kali. Sudah, tidur saja. Nanti kalau sudah sampai, Ibu bangunin," bujuknya.

Raisa hanya mengangguk lemah. Kepalanya semakin berat, matanya mengantuk luar biasa. Tak lama kemudian tubuh mungilnya terkulai, dan ia pun terlelap tak sanggup lagi menahan rasa kantuknya.

"Gimana, sudah tidur dia?" tanya pria itu sambil melirik lewat spion.

Wanita itu mengangguk, menatap anaknya yang terlelap di kursi belakang. "Udah," ucapnya datar sambil menoleh ke belakang. Di mana anaknya sudah tertidur lelap. Efek obat tidur dosis tinggi yang ia berikan mulai bekerja.

"Kita bawa ke mana dia sekarang?"

"Ke vila. Di belakang vila ada hutan belantara. Kita buang dia di sana," jawabnya dengan seringai tipis yang tersungging di bibirnya

***

Beberapa jam kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar.

"Ini vilanya?" tanya pria itu.

Wanita itu mengangguk, lalu menyuruh kekasihnya menggendong Raisa yang masih terlelap.

Pria itu melirik sekeliling. "Pantas saja kamu berani bawa anakmu ke sini. Nggak ada warga sama sekali… cuma ada hutan di kanan-kiri."

Hanya vila tua itu yang berdiri sendiri, sepi, tanpa pemukiman. Sunyi membuat bulu kuduknya sedikit meremang.

"Ikut aku!" ujar sang wanita, melangkah ke arah hutan.

Dengan tubuh mungil Raisa dalam gendongannya, mereka menembus pepohonan. Suara ranting patah dan angin menderu tidak membangunkan gadis kecil itu. Obat tidur membuatnya benar-benar tak berdaya.

"Kamu yakin mau ninggalin dia di sini?" tanya pria itu ragu setelah menurunkan Raisa dan menyandarkannya pada sebuah pohon besar di tengah hutan.

"Yakinlah. Biar dia dimakan hewan buas di sini."

Pria itu terkekeh gelisah. "Hahaha… gila kamu ini. Dia anakmu sendiri loh. Kamu yakin tega?"

Wanita itu mendengus dingin. "Kalau aku nggak yakin, nggak mungkin aku rencanain ini. Dia memang anakku, tapi buat apa hidup kalau cuma nyusahin? Lebih baik dia mati, dan warisan dari ayahnya bisa jadi milik kita."

Di bibirnya terukir seringai kejam. Baginya, kehadiran Raisa hanyalah beban. Andai dulu tidak ketahuan hamil, ia sudah menyingkirkan anak itu sebelum lahir. Selama ini ia hanya mempertahankannya karena desakan suami. Tapi kini, setelah suaminya tiada, ia merasa bebas melakukan apa pun.

"Kalau begitu ayo pergi, sebelum hewan buas itu datang dan malah melihat kita," desis pria itu.

Tanpa rasa kasihan, keduanya berbalik meninggalkan Raisa yang masih terlelap, sendirian, di hutan gelap itu, tanpa bekal apa pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Pulang Tanpa Raisa

    “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Hidayat saat melihat ekspresi Alan yang mendadak pucat setelah menerima telepon.Alan tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. “Maaf, Om… Tante… saya harus pulang ke Jakarta sekarang. Tolong sampaikan salam saya untuk Raisa kalau dia sudah bangun,” ucapnya dengan suara tertahan.Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan, “Bilang ke dia, kalau dia tidak mau pulang, tidak apa-apa. Saya tidak keberatan. Saya akan mencoba menyelesaikan masalah saya sendiri. Kalau begitu, saya pamit.”Tanpa menunggu jawaban, Alan berbalik dan melangkah cepat meninggalkan rumah itu.***Di kamar, Raisa baru saja terbangun. Ia melenguh pelan sambil mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk dari sela tirai. “Aku di mana?” gumamnya lirih, kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.Beberapa detik kemudian, ia menyadari bahwa itu adalah kamarnya sendiri.Tiba-tiba matanya membelalak saat ingat

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Tragedi

    Semua orang terdiam kaget mendengar ucapan Alan.“Maksudnya, Mas? Aku harus ikut sama kamu? Tapi—” ucapan Raisa terhenti. Ia langsung menoleh ke arah orang tuanya dengan wajah bingung.“Tidak!” potong Arum dengan suara keras. “Nesya tidak akan pergi dari sini. Dia sudah kami anggap anak sendiri. Mana mungkin kami membiarkan kamu membawanya pergi, sedangkan kami saja tidak benar-benar tahu kamu siapa,” lanjutnya tegas.Hidayat ikut menatap Alan dengan serius. Sementara Raisa hanya bisa duduk diam, merasa suasana kembali tegang.Alan menghela napas kasar, lalu menatap mereka satu per satu. “Saya tahu ini berat buat kalian. Tapi sekarang keadaannya cukup genting. Raisa harus ikut saya, karena—”Kalimatnya terhenti.Alan tampak ragu. Ia sempat melirik ke arah Raisa. Ia sebenarnya tidak yakin harus menyampaikan semuanya di depan Raisa atau tidak. Ia takut kalau kabar itu justru membuat trauma Raisa muncul lagi dan membuatnya semakin menolak pergi.Tapi di sisi lain, kalau ia tidak jujur, b

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Kebenaran yang Kembali Terungkap

    Orang tua Raisa saling memandang sebentar, lalu mengangguk. “Oke, kalau begitu kita bicara di dalam saja,” ucap ibunya.Kedua orang tua Raisa masuk lebih dulu ke dalam rumah, diikuti Raisa dan Alan dari belakang.“Apa maksud kamu, Mas? Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?” bisik Raisa pelan.Alan hanya tersenyum. “Nanti kamu juga akan tahu,” jawabnya santai, lalu tanpa ragu menggandeng tangan Raisa dan membawanya masuk.Raisa langsung terkejut. Jantungnya berdetak cepat. Ia tidak menyangka Alan akan menggandeng tangannya, apalagi di depan orang tuanya. Ia jadi salah tingkah sendiri, takut kalau mereka berpikir yang macam-macam.Kini mereka sudah duduk di ruang tengah. Raisa duduk di antara kedua orang tuanya, sementara Alan duduk sendiri di hadapan mereka, rasanya seperti sedang diinterogasi.Alan mulai merasa gugup saat melihat tatapan ayah Raisa yang terlihat tegas dan cukup menekan.“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan pada kami?” ayah Raisa membuka pembicaraan lebih dulu.Alan

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Bertemu Orang Tua Angkat Raisa

    Alan merebahkan tubuhnya di atas kasur, kedua tangannya terlipat di bawah kepala sementara tatapannya terpaku pada langit-langit kamar. Pikirannya terus saja melayang pada Raisa. Ia diliputi kebimbangan. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk mengajak Raisa pulang?Ia takut orang tua angkat Raisa akan marah. Bagaimanapun, merekalah yang selama ini merawat dan menjaga Raisa setelah kecelakaan itu terjadi.Namun, ada keraguan lain yang mengusiknya. Apakah Raisa mau ikut dengannya? Mengingat dua orang itulah yang menjadi sumber trauma terbesar dalam hidup wanita itu, Alan tak ingin memaksakan sesuatu yang justru akan membuka luka lama.Hembusan napas pelan keluar dari bibir Alan. Dengan gerakan lambat, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidur.Alan menatap lama layar ponselnya. Room chat dengan Raisa masih terbuka, tapi ia belum juga menekan tombol kirim. Ia masih ragu.“Tidak ada pilihan lain,” gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri. Akhirnya ia mengetik d

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Dilema

    “Raisa, lihat saya!” Alan menangkup kedua pipi Raisa, lalu memaksanya menoleh dan menatapnya. “Apa kamu sudah mengingat semuanya?” Raisa justru semakin menangis. Matanya memerah, wajahnya basah oleh air mata. Pemandangan yang terasa begitu menyayat hati Alan. Ia tak suka melihat Raisa menangis. Ia tak ingin wanita yang ia cintai itu terus menderita Tangan Alan masih menangkup wajah Raisa, jempolnya bergetar saat menyeka air mata yang terus mengalir. “Jawab saya,” ucapnya lirih, hampir putus asa. “Apa kamu sudah ingat…” Raisa terisak. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Perlahan, tangannya mencengkeram pergelangan Alan. “Aku ingat semuanya,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku menjijikkan, Mas… aku jahat sama ibuku sendiri. Seharusnya aku tidak melakukan itu!” Raisa berteriak histeris sambil menarik rambutnya sendiri. Melihat itu, Alan langsung menarik Raisa ke dalam pelukannya, menahan kedua tangannya agar ia tak melukai diri sendiri. “Hei,

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Mengingat?

    Bunyi sepatu beradu cepat memasuki ruangan itu. Sarah datang membawa sesuatu yang disuruhkan Alan. Ia langsung memberikan minyak kayu putih dan segelas air minum kepada Alan, lalu duduk di samping Raisa yang belum sadarkan diri.“Apa yang terjadi, Pak? Kenapa Bu Nesya bisa sampai seperti ini? Apa yang Bapak lakukan?”Sarah mencecar Alan dengan banyak pertanyaan. Tatapannya tajam, penuh tuduhan. Ia mencurigai Alan telah berbuat jahat pada bosnya, karena setahunya mereka sempat bertengkar tadi. Ada kemungkinan Alan-lah yang membuat Raisa tak sadarkan diri.Alan tak menghiraukan pertanyaan Sarah. Dengan cepat ia membuka penutup minyak kayu putih, lalu mengarahkannya ke bawah hidung Raisa agar ia menghirup aromanya dan segera sadar.Sarah berdecak kesal. Ia memutar bola matanya dengan malas dan tak lagi bertanya pada pria itu. Ia hanya memperhatikan apa yang dilakukan Alan pada bosnya, memantau, siapa tahu pria itu melakukan hal macam-macam.Tak lama kemudian terdengar lenguhan pelan kelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status