Share

Kematian

Author: Marssky
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-09 22:24:03

Dua puluh tahun kemudian.

Raisa tumbuh menjadi gadis cantik yang disukai banyak lelaki di kampungnya. Sudah banyak lelaki yang datang melamarnya, tetapi tak ada satu pun yang Raisa terima karena ia belum mau menikah. Padahal jika dilihat dari segi umur, sepantasnya Raisa sudah menikah.

Umur Raisa sekarang sudah beranjak dua puluh enam tahun, tetapi ia belum memikirkan tentang pernikahan. Jika Raisa menikah, siapa yang akan merawat neneknya yang kini sedang jatuh sakit, sementara kakeknya sudah meninggal dua tahun yang lalu?

Mereka hanya tinggal berdua sekarang. Belum tentu setelah Raisa menikah, suaminya mau ikut merawat neneknya. Jadi lebih baik Raisa menundanya lebih dulu. Fokus Raisa sekarang adalah mencari uang untuk membayar pengobatan neneknya.

“Raisa, ayo kita berangkat!” Seorang gadis memanggil Raisa di depan rumahnya. Gadis itu duduk menunggu di atas motor maticnya.

“Nek… Raisa berangkat dulu, ya!” pamitnya sambil menepuk pelan pundak neneknya yang tengah memejamkan mata.

Nenek menganggukkan kepalanya pelan. “Hati-hati, ya, Nduk!” ucapnya dengan suara lirih.

“Kalau nenek haus, airnya sudah aku siapin di samping situ!” tunjuknya pada sebuah gelas berisi air dengan sedotan yang ia simpan di samping neneknya. “Nenek bisa, kan, ambil sendiri?” tanya Raisa, takut sang nenek tidak bisa mengambilnya, apalagi kondisi tubuhnya semakin melemah.

Sebenarnya Raisa tak tega meninggalkan neneknya di rumah sendirian, apalagi dalam kondisi sakit. Tapi Raisa terpaksa melakukannya karena jika ia tidak bekerja, dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk membeli obat neneknya juga kebutuhan sehari-hari?

Melihat anggukan neneknya, Raisa pun kembali pamit. “Ya sudah, Raisa berangkat dulu kalau gitu. Assalamu’alaikum!” ucapnya sambil menyalami tangan neneknya, kemudian keluar dari rumah menghampiri Gendis yang telah menunggunya.

“Gimana keadaan nenek kamu?” tanya Gendis sambil memberikan sebuah helm pada Raisa.

“Masih gitu-gitu aja, nggak ada perubahan,” jawabnya dengan raut wajah sangat sedih.

Raisa sudah berupaya untuk kesembuhan neneknya. Setiap seminggu sekali ia membawa sang nenek check-up ke dokter. Tapi selama setahun neneknya sakit, belum ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau neneknya itu akan sembuh.

Kata dokter, seharusnya Raisa membawanya ke rumah sakit di kota yang peralatannya lebih memadai. Tapi Raisa belum punya cukup uang untuk membawanya. Tabungannya masih sangat sedikit, jadi ia hanya bisa membelikan obat dan berharap akan ada keajaiban yang membuat neneknya sembuh.

“Sabar, ya. Aku yakin nenek bakal sembuh!” ucap Gendis sambil menepuk-nepuk pelan pundak Raisa.

Selama dua puluh tahun berteman dengan Raisa, Gendis sudah banyak tahu tentang kehidupan wanita itu, termasuk cerita ia dibuang oleh ibunya hingga ditemukan oleh kakek dan nenek yang merawatnya sampai sekarang. Banyak cacian yang Raisa dapat di lingkungannya, entah itu dari tetangga atau teman-teman sekolah mereka dulu. Namun, Raisa tetap sabar menghadapinya.

Raisa adalah wanita yang kuat karena mampu bertahan sampai sekarang. Jika itu Gendis, mungkin ia sudah lama meninggalkan kampung itu dan mencari kehidupan baru di tempat lain daripada harus mendengar cacian dan hinaan orang.

“Ayo kita berangkat!” ajak Gendis saat mereka sudah hampir terlambat setelah melihat waktu yang menunjukkan pukul lima sore.

Keduanya bekerja di sebuah warung makan sederhana yang letaknya lumayan jauh dari tempat mereka tinggal, mungkin sekitar satu jam lebih untuk sampai di sana. Warung itu buka dari pukul delapan pagi sampai pukul sepuluh malam. Tapi karena kerjanya per shift, Raisa dan Gendis masuk pada jam enam sore sampai jam sepuluh malam.

Tepat pukul enam sore mereka sampai di warung. Untungnya warung itu baru saja buka, jadi mereka tidak telat. Raisa segera berdiri di depan meja kasir dan menyambut beberapa pembeli yang mulai berdatangan.

Raisa cukup lelah malam ini karena pelanggan yang datang lebih banyak dari biasanya, sehingga mereka harus menambah jam kerja hingga jam sebelas malam.

“Maaf ya, merepotkan kalian. Tenang saja, kalian dapat bonus untuk tambahan kerjanya!” kata pemilik warung.

Raisa dan Gendis bersorak senang karena mereka mendapat tambahan gaji. Lumayan untuk menambah uang makan, apalagi Raisa sedang sangat membutuhkan uang.

“Kalau gitu kalian boleh pulang! Terima kasih atas kerja kerasnya!”

Raisa sampai di rumah tepat pukul dua belas malam. Dengan hati-hati ia membuka pintu dan berjalan pelan, takut membangunkan neneknya yang sudah tidur.

Raisa langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu, Raisa masuk ke kamar neneknya untuk mengecek keadaannya. Saat sampai di kamar, Raisa langsung duduk di samping neneknya. Ia mengambil tangan neneknya lalu mengusapnya dengan pelan.

Namun, ada hal aneh yang Raisa rasakan saat menyentuh tangan neneknya. Tangan itu terasa sangat dingin.

“Nenek…! Nenek bangun…!” Karena khawatir, Raisa mengguncang cepat bahu neneknya, berharap wanita itu akan membuka mata. Namun hasilnya nihil, tak ada pergerakan dari tubuh itu.

Apa yang Raisa takutkan akhirnya terjadi. Neneknya juga meninggalkannya, sama seperti kakeknya.

“Nenek, bangun! Jangan tinggalin Raisa!” Raisa berteriak histeris, memeluk tubuh neneknya yang sudah terbujur kaku.

***

Kring… kring…!

Gendis yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah langsung menghentikan laju motornya saat mendengar panggilan masuk di ponselnya.

“Halo, ada apa, Sa?”

“Hiks… hiks…” Hanya suara tangis Raisa yang terdengar. Gendis langsung khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.

“Kenapa nangis, Sa? Kamu nggak apa-apa, kan?”

Pertanyaan konyol. Sudah jelas pasti terjadi sesuatu dengan Raisa jika ia menangis. Gendis hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Nenek, Ndis… nenek udah nggak ada! Dia udah nyusul kakek, dia ninggalin aku sendirian!” tutur Raisa dengan tangis tak terbendung.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat menyakitkan. Kini ia benar-benar sendirian. Semua orang yang ia sayang telah meninggalkannya. Apa memang hidupnya harus semenyakitkan ini? Setelah dibuang oleh ibunya, kini neneknya juga ikut meninggalkannya. Sepertinya ia memang tidak diizinkan untuk bahagia.

Ia bertahan sampai saat ini karena nenek dan kakeknya selalu meyakinkannya kalau ia tidak sendirian, masih banyak yang menyayanginya. Tapi sekarang neneknya sudah tidak ada. Apa hidupnya akan tetap sama setelah ini?

Gendis segera mematikan panggilan, lalu memutar balik motornya ke arah rumah Raisa. Ia sungguh khawatir dengan keadaan wanita itu. Gendis takut Raisa nekat menyakiti dirinya sendiri, apalagi setelah mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut sahabatnya.

Untung saja ia belum jauh melewati rumah Raisa. Sekitar lima menit perjalanan, Gendis sudah sampai di sana. Ia segera masuk ke dalam rumah, menghampiri Raisa yang suaranya terdengar dari kamar neneknya.

Gendis jatuhkan lututnya di samping Raisa, lalu memeluk gadis itu. “Sabar ya, aku tahu kamu kuat! Nenek sekarang udah nggak sakit lagi. Aku yakin nenek udah bahagia di atas sana karena udah ketemu sama kakek.”

“Aku sendirian sekarang, Ndis. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi!”

“Masih ada aku! Aku sahabat kamu, Sa. Aku nggak bakal ninggalin kamu!” ucap Gendis meyakinkan Raisa bahwa ia akan terus bersama gadis itu.

Gendis sama halnya dengan Raisa, seorang anak yatim piatu. Bedanya, kedua orang tua Gendis sudah meninggal. Sejak umur enam tahun, ia menumpang hidup di rumah tantenya. Memang hidupnya tak semenyakitkan Raisa karena keluarga tantenya memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi Gendis bisa merasakan perasaan Raisa, apalagi saat gadis itu dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.

Gendis sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia akan terus di samping Raisa sampai kapan pun. Meski kelak mereka sama-sama menikah, Gendis akan selalu melindungi Raisa dari belakang. Ia akan menjamin kebahagiaan Raisa karena Raisa sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.

Perlahan, tangis Raisa mulai reda setelah ditenangkan oleh Gendis. Tak mudah baginya mengikhlaskan orang-orang yang disayanginya pergi. Tapi takdir Allah sudah berkata lain. Raisa tidak boleh menyalahkan kuasa-Nya.

“Bantuin aku urusin pemakaman nenek, ya, Dis…” katanya lirih dengan sisa air mata yang masih mengalir di pipinya.

Gendis menganggukkan kepalanya, kemudian melepas pelukannya. “Ya sudah, kamu tunggu di sini. Aku panggilin orang-orang dulu buat bantuin kita,” ucapnya sambil berlari keluar, mengetuk pintu rumah tetangga agar ada yang mau membantu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Lama Tidak Bertemu

    Pagi harinya, Alan dan Raisa baru saja selesai sarapan ketika ponsel Alan di atas meja makan bergetar. Layarnya menampilkan nama Rain. Alan langsung mengangkatnya, sementara Raisa memperhatikan perubahan raut wajah Alan yang mendadak serius mendengarkan penjelasan di seberang telepon."Ada bukti baru yang ketemu di lokasi kebakaran kantor Papa," ujar Alan setelah mematikan ponselnya. Ia menatap Raisa dengan pandangan serba salah. "Rain minta aku ke sana sekarang buat ngecek langsung. Katanya ini penting banget sebelum kita bawa berkasnya ke LPSK nanti."Walaupun perasaan cemas langsung merayap karena harus ditinggal sendirian, Raisa mencoba menahan diri. Ia tahu bukti itu sangat krusial untuk kasus mereka."Nggak apa-apa, Mas. Pergi aja," ucap Raisa, berusaha meyakinkan Alan. "Aku aman di sini. Lagian apartemen ini kan penjagaannya ketat."Alan mengangguk, lalu menepuk pelan bahu Raisa untuk menenangkannya. "Aku usahain gak lama. Inget, kunci pintunya dan jangan sembarangan buka kalau

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   LPSK

    Alan menatap Raisa dengan binar kelegaan yang tak bisa disembunyikan. Keberanian yang terpancar dari mata wanita itu seolah memberi suntikan energi baru bagi Alan yang baru saja kehilangan ibunya. Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Raisa dan meremasnya lembut, menyalurkan seluruh dukungan yang ia punya."Terima kasih, Sa. Kita hadapi ini sama-sama. Aku gak akan biarkan kamu sendirian di depan mereka nanti," ucap Alan mantap.Di seberang meja pembatas, Gendis kembali menangis, namun kali ini air matanya adalah air mata haru dan syukur. "Terima kasih, Raisa... Terima kasih banyak. Aku gak tahu harus balas kebaikan kamu pakai apa lagi setelah semua yang udah aku lakuin.""Kamu cukup bertahan di sini beberapa hari lagi, Gendis. Jaga diri kamu baik-baik sampai Pak Yudha datang bawa berkas penangguhan," balas Raisa dengan senyum tipis, mencoba menguatkan sahabatnya.Pertemuan emosional itu terpaksa berakhir ketika seorang petugas sipir mengetuk pintu, menandakan bahwa waktu kun

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Melawan Rasa Takut

    Alan tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sisa waktu yang mendesak, ia langsung menghubungi Pak Yudha kembali agar mendesak kepala sipir untuk memberikan dispensasi. Berkat koneksi kuat Pak Yudha, surat izin darurat akhirnya turun.Petugas loket pun terpaksa mengizinkan Raisa dan Alan masuk ke ruang kunjungan khusus, memotong proses pemeriksaan sepihak yang sedang dilakukan oleh tim hukum bentukan ibu Raisa.Pintu besi ruang kunjungan terbuka dengan bunyi gemerincing yang berat. Di dalam ruangan bernuansa dingin itu, duduk Gendis di balik meja pembatas. Begitu melihat sosok Raisa melangkah masuk, tubuh Gendis langsung menegang. Matanya membelalak, tidak percaya bahwa sahabat yang dikiranya sudah tewas dalam kecelakaan itu kini berdiri tegak di depannya."Raisa...?" bisik Gendis dengan suara bergetar.Air mata Raisa langsung tumpah. Ia melangkah cepat dan langsung duduk di kursi hadapan Gendis. "Gendis... ini aku."Begitu menyadari bahwa ini bukan mimpi, tangis Gendis langsung pecah.

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Firasat Buruk

    Alan mencengkeram ponselnya dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang mendadak menyengat seluruh tubuhnya. Firasat buruknya terbukti. Ibu kandung dan ayah tiri Raisa benar-benar tidak membuang waktu. Baru saja ia menguburkan ibunya, kini mereka sudah bergerak lagi di belakang layar untuk membungkam Gendis."Nggak bisa dibiarin, Pak," desis Alan dengan suara tertahan, melirik ke arah pintu ruang kerja, memastikan Raisa di luar tidak mendengar percakapan ini. "Gendis itu satu-satunya harapan kita buat bongkar kelicikan mereka dan bebasin Papa. Kita gak boleh kalah cepat.""Saya tahu, Alan. Makanya sekarang saya sedang meluncur ke kejaksaan untuk menahan berkas permohonan mereka," sahut Pak Yudha dari seberang telepon. "Tapi kamu dan Raisa harus segera ke rutan sekarang juga. Gunakan sisa waktu kunjungan reguler siang ini sebelum jam tutup. Surat izin darurat dari saya akan menyusul lewat kurir digital langsung ke kepala sipir yang saya

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Rutan

    Mendengar kata 'rutan', Raisa tertegun. Matanya membelalak, dan untuk beberapa detik, ia kehilangan kata-kata. Kenyataan bahwa sahabat yang paling setia menemaninya kini harus mendekam di balik jeruji besi membuat dadanya terasa sesak karena dirundung rasa bersalah."Rutan...?" bisik Raisa, suaranya mendadak bergetar. "Jadi dia benar-benar ditahan?”Alan mengangguk pelan saat lampu lalu lintas berubah hijau. Ia kembali menginjak pedal gas, membawa mobil melaju perlahan. "Iya, Sa. Waktu semuanya kacau, Gendis juga ikut ditangkap bersamaan dengan ibu dan ayah tirimu karena keterlibatannya waktu itu. Dia divonis satu tahun. Berarti masih ada sekitar tujuh bulan lagi."Raisa mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Amarah dan rasa bersalah bercampur aduk di dalam dadanya. Meskipun ia tahu Gendis ditahan karena sempat membantu ibunya menculik dirinya akibat mendapat ancaman, Raisa sama sekali tidak membenci sahabatnya itu. Ia tahu betul Gendis terpaksa melakukan itu, dan pada akhirnya

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Tak Lagi Aman

    Di dalam mobil hitam legam itu, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat tegang. Sorot mata ibu kandung Raisa menghunus tajam ke arah kaca mobil Alan.Kenyataan bahwa putri kandung yang dikiranya sudah tewas kini berada tepat di depan matanya—dan kembali bersama Alan—membuat dadanya naik turun menahan geram.Ayah tiri Raisa menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil, mengetukkan jarinya di setir dengan ritme yang lambat namun mengintimidasi. Otak liciknya langsung berputar cepat.Siasat mereka kemarin baru saja sukses besar, bahkan sampai menumbangkan ibu Alan. Namun, kemunculan Raisa yang tiba-tiba ini adalah sebuah variabel tak terduga yang bisa mengancam posisi mereka saat ini."Tenang," ucap pria itu dingin, senyum sinisnya kembali terkembang. "Dia memang masih hidup, tapi dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Alan cuma pemuda yang sedang hancur karena kematian ibunya. Mereka berdua tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan kita yang sekarang."Ibu Raisa menoleh, menatap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status