/ Romansa / Sentuhan Panas Editorku / Ancaman sang Mantan

공유

Ancaman sang Mantan

작가: Risya Petrova
last update 최신 업데이트: 2025-11-28 17:56:05

Meysa ternganga. Jantungnya langsung berdebar kencang. 'Hah? Tinggal berdua dengan Wildan?! Pria yang sudah punya istri dan anak? Pria yang sudah jadi pria terlarang bagiku?!' serunya panik dalam hati.

"Aku ... aku tidak bisa, Pak," Meysa memprotes segera. "Aku punya urusan di Jakarta. Aku harus mengurus ...."

"Urusan apa, Meysa?" Wildan akhirnya angkat bicara, menoleh padanya. "Urusan pindah dari rusun bobrokmu? Kamu akan segera punya banyak uang. Tinggal satu bulan di Puncak untuk mengubah hidupmu, itu namanya investasi masa depan. Kita butuh fokus 100%," ucap Wildan, nada suaranya seolah sedang menjelaskan pada anak kecil yang keras kepala.

"Tapi, Pak Adam," Meysa mengabaikan Wildan dan kembali menatap CEO. "Aku dan Wildan ... kami tidak cocok. Kami sering berdebat soal integritas dan idealisme. Kami tidak akan bisa bekerja sama dalam satu atap."

Pak Adam tertawa kecil. "Itulah yang saya harapkan. Creative friction! Energi dari perdebatan kalian justru yang menciptakan hook terlarang di novelmu. Itu bagus! Saya sudah siapkan akomodasi terbaik. Ada dua kamar terpisah, tentu saja. Anggap saja ini adalah tuntutan profesional yang harus kalian jalankan. Besok pagi, Wildan akan menjemputmu, dan kalian berangkat."

Keputusan itu mutlak. Meysa menoleh ke Wildan, mencari secercah penolakan, tetapi Wildan hanya menatapnya dengan pandangan tenang, seolah berkata, 'Terimalah, ini adalah aturan mainnya.'

"Jadi, sudah beres ya. Sampai jumpa di bulan depan, saat Season 2 kalian siap untuk diedit. Go, Meysa and Wildan!" Pak Adam mengakhiri pertemuan itu sembari mengingibaskan kedua tangannya seolah mengusir mereka berdua dari ruangan.

Meysa keluar dari ruangan CEO dengan kepala berdenyut. Ia baru saja diikat dalam sebuah kontrak kolaborasi paksa di satu atap dengan editor arogan yang berstatus sebagai suami orang.

"Aku tidak percaya ini. Ini gila, Wildan," bisik Meysa saat mereka kembali berjalan menuju lift.

Wildan tersenyum sinis yang samar. "Selamat datang di dunia bisnis, Meysa.”

***

Sore itu, kepala Meysa terasa dipenuhi angka-angka besar nominal keuntungan uang yang beberapa jam lalu digambarkan oleh Fiona–direktur di PenaKata, rencana franchise untuk Kehangatan Rudal Paman Mantanku, dan janji kerja sama ‘seumur hidup’ dengan Wildan.

Entah sudah berapa kali ia harus menghela napas, berusaha menekan sisi idealisnya demi menjadi penulis yang realistis. Ia sudah setuju, ia akan mengejar uang!

Meysa melangkah keluar dari lobi gedung dengan langkah gontai. Udara sore Jakarta yang lembap menerpa wajahnya. Ia mengambil napas lega, berharap bisa segera memanggil taksi dan melupakan tekanan seharian.

Tiba-tiba, sebuah suara yang ia kenal dan dibencinya kini memanggilnya dari samping pilar besar yang menaungi pintu keluar.

“Meysa. Ternyata kamu di sini.”

Meysa tercekat. Jantungnya langsung berdegup sangat kencang.

Di sana berdiri Dimas. Mantan kekasihnya yang obsesif. Ia mengenakan jaket baseball yang biasa dipakai, dengan tatapan mata yang tajam dan sedikit mengancam.

“Dimas? Kenapa kamu di sini?” Meysa menyuarakan ketidaknyamanannya, berusaha menjaga jarak.

“Tentu saja mencarimu, Sayang. Kenapa? Kamu menghindariku? Kamu sudah sukses sekarang, ya? Sampai-sampai mengabaikan teleponku.” Dimas melangkah mendekat, auranya yang posesif membuat Meysa refleks mundur.

“Aku sudah bilang, jangan hubungi aku lagi. Hubungan kita sudah selesai, Dimas. Aku sibuk bekerja. Tolong, pulanglah.”

Dimas tersinggung. Wajahnya mengeras, dan ia melangkah semakin dekat, meraih pergelangan tangan Meysa dengan kasar dan mencengkeramnya. “Bekerja? Dengan siapa? Editor barumu itu? Kenapa kamu berpakaian rapi begini, Meysa Sayang? Kamu sudah melupakan semua yang pernah kita miliki, hanya demi pria lain dan uangmu itu?”

Rasa sakit dan panik menjalar di lengan Meysa. “Lepaskan aku, Dimas! Ini menyakitkan! Lagi pula kamu yang duluan meninggalkan aku, selingkuh dengan Gina."

Tiba-tiba, bayangan tinggi dan tegap muncul dari belakang. Suara berat dan dingin menusuk ketegangan seperti pisau es.

“Lepaskan tanganmu, sekarang!

Dimas menoleh kaget.

Di sana, Wildan berdiri, baru saja keluar dari gedung PenaKata. Ekspresinya datar, tetapi matanya yang tajam menatap Dimas dengan dingin dan mengancam. Wildan tidak perlu berteriak, otoritasnya terasa nyata.

Dimas tertegun sejenak. Ia melepaskan pergelangan tangan Meysa. Wildan melangkah mendekat, Meysa segera berlindung di belakang punggungnya yang tegap.

Wildan memancarkan aura yang jauh lebih berbahaya dari Dimas, bukan karena emosi, melainkan karena kontrol mutlaknya.

Dimas menyeringai getir, tatapannya beralih ke Wildan, lalu ke Meysa yang gemetar di belakangnya. “Aku pastikan akan mengingatmu, Editornya. Ingat, kalian belum selesai denganku!”

Dimas akhirnya pergi dengan langkah cepat, menghilang di keramaian trotoar, tetapi tatapan mengancamnya pada Wildan dan Meysa terasa seperti janji buruk.

Wildan tetap berdiri tegak, membiarkan punggungnya menjadi perisai bagi Meysa.

Setelah dipastikan Dimas sudah jauh, ia menoleh sedikit ke belakang, hanya untuk memastikan Meysa baik-baik saja, sebelum kembali memandang ke arah jalan raya, seolah-olah mengusir bayangan Dimas sepenuhnya.

Setelah yakin Dimas sudah benar-benar pergi, Wildan berbalik menatap Meysa yang kini berwajah pucat karena ketakutan. “Siapa dia, Mey?”

Bersambung

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sentuhan Panas Editorku   Epilog - Bulan madu Meysa dan Wildan

    Epilog,Deburan ombak di Pantai Uluwatu terdengar seperti musik latar yang menenangkan bagi siapa pun, tapi bagi Meysa, itu adalah suara inspirasi. Di sebuah resor mewah yang bertengger di atas tebing, Meysa duduk bersila di atas daybed empuk. Alih-alih menikmati kelapa muda atau memandangi laut biru yang membentang luas, jarinya justru menari-nari lincah di atas keyboard laptop."Sedikit lagi ... satu paragraf lagi …," gumamnya dengan dahi berkerut serius.Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi layar laptopnya. Meysa mendongak dan mendapati Wildan berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Pria itu memegang sebuah jam tangan dengan ekspresi yang sangat kental seperti seorang ... editor."Waktu istirahat sudah lewat lima belas menit, Meysa Haryani Atmadja," suara berat Wildan menginterupsi.Meysa meringis, memberikan senyum paling manis yang ia punya. "Tanggung, Wil! Adegan ini lagi se

  • Sentuhan Panas Editorku   TAMAT

    Dua hari setelah badai di dermaga itu berlalu, udara pagi terasa jauh lebih ringan bagi Meysa. Meskipun proses hukum terhadap Mira Atmadja dan Lia Zanetti masih berjalan panas di luar sana, Meysa merasa beban di pundaknya mulai terangkat satu per satu. Namun, masih ada satu kepingan teka-teki yang mengganjal hatinya, Siapa pria yang membawanya ke panti asuhan dan memberikan peringatan keras demi keselamatannya?Di dalam mobil mewah milik Surya Atmadja, suasana terasa hening namun tidak lagi mencekam. Meysa duduk di kursi belakang, tangannya digenggam erat oleh Wildan. Kehangatan telapak tangan suaminya itu selalu menjadi jangkar bagi Meysa agar tidak hanyut dalam kegelisahan."Kamu gugup?" bisik Wildan pelan, hanya untuk telinga istrinya.Meysa menoleh, memberikan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. "Sedikit. Aku cuma nggak nyangka kalau jawaban dari pertanyaanku selama dua puluh tahun ini ada di depan mata."Surya yang duduk di kursi depan menoleh sebentar. Wajah pria itu t

  • Sentuhan Panas Editorku   Ketahuan!

    Malam semakin larut, namun udara di sebuah dermaga pribadi di pinggiran Jakarta terasa jauh lebih membekukan dari pada rintik hujan yang tersisa. Lia Zanetti berdiri gelisah, merapatkan jaket mantelnya sambil sesekali melirik jam tangan. Pukul 11.05 malam.Suara deru mobil mewah memecah kesunyian. Sebuah sedan putih berhenti beberapa meter dari tempat Lia berdiri. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan keanggunan yang dingin melangkah keluar. Dia adalah Mira Atmadja, istri Surya Atmadja.Lia tersenyum sinis, mengangkat amplop cokelat di tangannya. "Ternyata Anda benar-benar datang, Nyonya Mira. Saya pikir Anda akan lebih memilih tidur nyenyak di mansion mewah Anda."Mira menatap Lia dengan pandangan merendahkan. "Cukup omong kosongnya, Lia. Berikan dokumen itu dan sebutkan hargamu. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni penulis picisan seperti kamu."Lia tertawa, langkahnya maju mendekati Mira. "Picisan? Mungkin. Tapi dokumen di tangan saya ini adalah tiket menuju pe

  • Sentuhan Panas Editorku   Nama asli Meysa

    Di sisi lain kota, Surya Atmadja berdiri di balkon rumah utamanya. Rumah megah itu kini terasa sangat luas dan hampa. Ia menatap taman yang diterangi lampu temaram, membayangkan seorang gadis kecil berusia dua tahun berlari-lari di sana dua dekade lalu."Tuan, semua sudah siap," suara Baskara menginterupsi lamunannya. "Pengamanan di sekitar apartemen Meysa sudah diperketat tanpa mereka sadari. Saya juga sudah menugaskan tim untuk memantau pergerakan Lia Zanetti."Surya berbalik, wajahnya yang berwibawa tampak sangat lelah. "Dia sangat mirip dengan Sheila, Baskara. Cara dia membela dirinya tadi di depan Adam ... itu benar-benar jiwa Sheila yang ada padanya.""Nona Meysa adalah wanita yang kuat, Tuan. Dia sudah melewati banyak hal sendirian," ujar Baskara tenang."Itu yang membuatku sedih," desis Surya. "Dia harus menderita di panti asuhan dan bekerja keras sebagai SPG, sementara orang yang menyebabkan kecelakaan itu mungkin sedang bersantai di suatu tempat."Surya mendekati mejanya, me

  • Sentuhan Panas Editorku   Orang dalam?

    Malam merangkak pelan menyusuri jalanan Jakarta yang masih basah. Di dalam taksi yang membawa mereka menjauh dari gedung PenaKata, Meysa menyandarkan kepalanya di bahu Wildan. Matanya terpejam, tapi pikirannya berputar hebat. Kejadian di ruangan Pak Adam tadi terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Bagaimana mungkin hidupnya yang selama ini terasa 'kosong' mendadak dipenuhi oleh silsilah keluarga konglomerat yang paling berpengaruh di industri literasi?Wildan menggenggam tangan Meysa, sesekali mengusap ibu jarinya di punggung tangan istrinya itu. Ia bisa merasakan denyut nadi Meysa yang masih cepat."Masih pusing?" tanya Wildan lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara deru mesin taksi dan rintik hujan yang kembali turun.Meysa membuka matanya sedikit, menatap pantulan lampu jalanan pada jendela mobil. "Rasanya aneh, Wil. Tiba-tiba dipanggil 'Anggita'. Rasanya seperti aku sedang memakai kostum orang lain. Aku merasa ... aku bukan Meysa, tapi aku juga belum siap jadi Anggita.

  • Sentuhan Panas Editorku   Puluhan tahun yang lalu

    "Cukup," suara Meysa keluar pelan, namun getarannya sanggup membungkam perdebatan dua raksasa industri penerbitan di depannya. "Tolong, cukup."Ia menarik nafas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Matanya menatap Surya Atmadja dengan sorot yang sulit diartikan, campuran antara rindu yang tak disadari dan penolakan yang nyata."Pak Surya ... atau Paman ... saya butuh waktu untuk bernapas. Selama dua puluh empat tahun, saya percaya saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali bayangan saya sendiri. … Saya tumbuh di panti asuhan yang atapnya bocor, saya bekerja jadi SPG sampai kaki saya mati rasa, dan saya dicaci maki saat naskah saya ditolak berkali-kali. Dan sekarang, dalam satu malam yang gila, Bapak bilang saya adalah pewaris tunggal keluarga Atmadja?"Meysa kemudian beralih pada Pak Adam, yang masih tampak syok. "Dan Pak Adam ... terima kasih atas kejujuran Bapak menunjukkan hasil DNA ini. Setidaknya sekarang saya tahu saya bukan anak buangan yang tidak diinginkan.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status