Share

Bab 237

Author: Nabila Ara
last update Last Updated: 2026-02-22 23:57:17

“Papa, jangan pergi…”

Suara Ririn terdengar lirih, namun tetap dipenuhi dengan desakan yang membuat Arthur semakin muak. Pelukan dari belakang itu terasa seperti jerat yang menahan langkahnya.

Tubuhnya menegang.

Rahangnya mengeras.

Ia bisa merasakan napas Ririn yang menyentuh punggungnya dan hal itu justru membuat darahnya semakin mendidih.

Arthur tidak suka tubuhnya di sentuh oleh orang lain kecuali orang yang sangat disayangnya.

Arthur menutup matanya sejenak.

Dalam hitungan detik, bayangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 237

    “Papa, jangan pergi…”Suara Ririn terdengar lirih, namun tetap dipenuhi dengan desakan yang membuat Arthur semakin muak. Pelukan dari belakang itu terasa seperti jerat yang menahan langkahnya.Tubuhnya menegang.Rahangnya mengeras.Ia bisa merasakan napas Ririn yang menyentuh punggungnya dan hal itu justru membuat darahnya semakin mendidih. Arthur tidak suka tubuhnya di sentuh oleh orang lain kecuali orang yang sangat disayangnya.Arthur menutup matanya sejenak.Dalam hitungan detik, bayangan Rose langsung hadir di benaknya. Wajah lembut istrinya. Mata jernih yang selalu menatapnya penuh kepercayaan dan cinta. Senyum hangat yang tak pernah lepas dari sang istri, bahkan saat hidup begitu keras memperlakukannya.Dan saat itu juga, rasa bersalah berubah menjadi kemarahan yang besar.Dengan satu gerakan tegas, Arthur melepaskan pelukan Ririn. Ia berbalik. Tatapannya dingin, keras, dan tak lagi menyisakan sedikit pun empati pada Ririn walau wanita itu adalah menantunya sendiri.“Jangan se

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 236

    "Ririn, kamu...."Arthur tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat pemandangan di depannya. Tatapannya langsung berubah dingin. Di depannya, Ririn menyambutnya dengan lingerie seksi bewarna merah, bahkan lingerie itu hanya menutupi sepulu persen dari tubuhnya. Sepasang bukit kembar miliknya bahkan tampak jelas di balik kain jaring-jaring yang sangat tipis itu.Rambutnya Ririn gerai dengan make up yang tebal dan bibir merah seperti warna lingerie yang ia pakai.Sungguh sangat tidak pantas untuk seorang istri yang berpenampilan terbuka di depan pria lain yang menjadi Papa mertuanya."Ternyata sakit hanya alasan kamu agar aku datang ke sini," ucap Arthur dengan tatapan dinginnya.Ririn tersenyum, ia berjalan mendekati Arthur.Di depan Arthur, ia sentuh dada bidang Arthur dan langsung di tepis oleh pria itu."Tidak seharusnya kamu melakukan ini, Ririn. Di Singapura, suami kamu sangat mengkhawatirkan kamu. Kamu membohongi Zumi, suami kamu sendiri.""Aku tidak bohong pada Zumi, saat i

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 235

    Tolong aku, Pa.Tanpa membalas pesan itu, Arthur langsung menelpon Zumi."Kamu kenapa, Zumi?" tanya Arthur saat sambungan telepon terhubung."Pa, tolong aku untuk cek kondisi Ririn di apartemenku yang di daerah Senopati, Tadi dia ada hubungi aku jika sedang sakit, tapi dia tidak bisa pergi ke rumah sakit karena badannya sangat lemas. Aku sudah hubungi dia lagi tapi Ririn tidak menerima telponku, Pa. Aku khawatir dengan dia karena di apartemen itu dia tinggal sendirian. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mengecek kondisinya. Papa bisa tolong aku kan, Pa?" tanya Zumi. Suara pria tu tampak bergetar dan Arthur yakin karena sedang mengkhawatirkan kondisi istrinya.Arthur menghela napas. "Baiklah, Zumi. Tolong kirimkan pasword apartemen kamu. Jaga-jaga jika saat sudah sampai di depan apartemen kamu, malah nggak dibukakan oleh Ririn," ucap Arthur.Mendengar nama Ririn disebut oleh sang suami, sontak membuat Rose menegakkan tubuhnya yang tadinya sedang bersandar di bahu Arthur."Sia

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 234

    "Pa, ponsel Papa berdering terus dari tadi. Coba deh di angkat dulu, siapa tahu penting Pa," ucap Rose.Arthur yang sedang berada di dalam walk in closet untuk mengambilkan baju ganti untuk Rose, akhirnya keluar sembari membawa satu set baju rumahan untuk Rose.Mereka memang baru selesai mandi setelah jalan-jalan sore bersama Dave dan Julia.Arthur sudah selesai memakai baju kaos dengan celana pendek, ia memang meminta Rose untuk menunggu di sofa saja. Seperti yang ia bilang tadi pagi jika hari ini Arthur benar-benar ingin memanjakan Rose."Siapa yang menelpon, Sayang?" tanya Arthur sembari memberikan baju untuk Rose.Rose menggeleng karena ia memang tidak melihat ponsel Arthur. "Nggak tahu. Aku nggak lihat siapa yang menelpon. Sudah dua kali berdering itu, aku nggak enak mau angkatnya. Siapa tahu klien Papa kan," jawab Rose.Arthur tersenyum lalu ia mengecup pipi Rose. "Lain kali kamu boleh angkat kok, Sayang. Kalau kamu mau periksa ponsel aku juga nggak papa. Aku membebaskan kamu un

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 233

    "Papa, aku bosan. Kita jalan-jalan yuk. Dari tadi pagi kita di kamar saja. Apa kata Bi Arum dan yang lain, hampir sepanjang hari kita di kamar terus. Sarapan dan makan siang saja di kamar. Aku malu sama mereka, Pa." Rose merengek pada Arthur agar suaminya itu mengajaknya jalan-jalan. Tidak harus jauh, jalan-jalan santai di kompleks saja ia sudah senang. Apalagi Rose tahu jika Dave dan Julia menginap di rumah yang baru dibeli mereka. Ia juga ingin mengajak Julia untuk jalan-jalan santai di kompleks."Kita nonton film saja biar nggak bosan ya. Jalan-jalan juga bisa buat lelah, Sayang."Rose cemberut. "Sekurang-kurangnya kalau jalan-jalan itu aku bisa menggerakkan tubuhku, Pa. Sejak tadi aku lebih banyak baring. Badanku sakit semua kalau tidak bawa aktivitas. Jalan kaki nggak melelahkan kok, Pa. Lagian aku ini hanya hamil bukan sakit, Pa. Boleh ya kita jalan-jalan santai sekalian ajak Tante Julia ya, Pa. Tante Julia dan Om Dave belum kembali ke Bali kan?" tanya Rose.Arthur tersenyum m

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 232

    Pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Pagi pertama setelah Artur dan Rose sah menjadi pasangan suami istri.Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai kamar, menerangi ruangan yang masih dipenuhi aroma bunga dari sisa dekorasi pernikahan semalam. Di atas ranjang besar itu, Rose masih terlelap dalam pelukan hangat Arthur. Tangan pria itu melingkar protektif di pinggang sang istri, seolah tidak ingin melepaskannya sedikit pun.Arthur terbangun lebih dulu.Perlahan ia membuka matanya, menatap wajah Rose yang masih tertidur dengan damai di pelukannya. Bibir Arthur tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang memenuhi dadanya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sekuat ini sebelumnya.“Istriku…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.Tangannya bergerak lembut, menyibakkan rambut Rose yang menutupi sebagian wajah gadis itu. Ia mengecup kening Rose dengan penuh kasih, lalu tanpa sadar mengusap perut sang istri dengan sangat hati-hati.“Selamat pagi, kesayangan Papa…” gumamnya lembut.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status