LOGINKetukan di pintu apartemen kecil itu terdengar sangat metodis, seolah-olah pengetuknya sedang menghitung detak jantung Valerie yang berpacu di baliknya. Valerie berdiri mematung di tengah ruang tamunya yang sempit, jemarinya mencengkeram erat pinggiran wastafel dapur. Ia bisa merasakan aura yang merembes melalui celah pintu—sebuah tekanan udara yang berat, dingin, dan membawa aroma ozon yang menyengat, sangat tidak selaras dengan bau debu dan hujan di gang Jakarta.Valerie menatap pantulan dirinya di cermin kecil di atas wastafel. Helaian rambut perak di pangkal kepalanya berpendar redup, kontras dengan rambut cokelatnya yang lain. Itu bukan sekadar perubahan pigmen; itu adalah peringatan dari sel-sel tubuhnya bahwa predator yang paling ia takuti telah berdiri hanya berjarak beberapa sentimeter darinya."Buka pintunya, Valerie," suara Arka Adiwangsa terdengar rendah, menembus kayu pintu tanpa perlu berteriak. Suaranya tidak mengandung ancaman fisik y
Udara di dalam galeri seni "Aethelgard Modern" di pusat Jakarta mendadak terasa tipis, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja tersedot habis oleh kehadiran satu pria. Arka Adiwangsa berdiri mematung, jemarinya masih melingkar di pergelangan tangan Valerie. Kontak fisik itu singkat, hanya sekejap mata dalam hitungan linear manusia, namun bagi Arka, itu terasa seperti hantaman palu godam pada dinding-dinding ingatannya yang terkunci.Ada sengatan statis yang menjalar dari kulit Valerie menuju saraf pusatnya—sebuah frekuensi yang sangat familiar, frekuensi yang memicu rasa haus akan kekuasaan dan kepemilikan yang selama dua puluh tahun ini ia pendam tanpa alasan.Arka menatap mata Valerie. Ia tidak melihat seorang mahasiswi seni biasa. Ia melihat sebuah semesta yang pernah ia kuasai. Ia melihat cahaya yang pernah ia padamkan. Dan yang paling mengerikan, ia merasakan dorongan instingtual untuk menarik wanita ini keluar dari kerumunan, membawanya ke tempat ya
Keheningan di dalam "Singularitas Ego" adalah jenis kesunyian yang sanggup meremukkan jiwa yang paling perkasa sekalipun. Di sana, di tengah ketiadaan putih yang tak berujung, Arka Adiwangsa dan Valerie membeku dalam sebuah monumen kristal yang agung sekaligus mengerikan. Tubuh mereka saling mendekap, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter, dan mata mereka terkunci dalam tatapan abadi yang tidak bisa berkedip.Bagi Arka, ini adalah kemenangan mutlak. Di dalam kesadarannya yang masih terjaga namun tak mampu menggerakkan satu serat otot pun, ia merasa puas. Tidak ada lagi waktu yang mencuri detik-detiknya. Tidak ada lagi musuh yang mengincar permaisurinya. Hanya ada wajah Valerie yang terpahat indah di depan matanya untuk triliunan tahun ke depan. Posesifnya telah menemukan bentuknya yang paling murni: sebuah penjara tanpa pintu keluar.Namun, bagi Valerie, setiap detik dalam kristal itu adalah siksaan neraka. Ia bisa merasakan cinta Arka
Retakan pada cermin di aula Istana Adiwangsa melebar seperti luka yang menganga, memancarkan cahaya emas pucat yang menyakitkan mata. Simbol Malakor yang bergetar di tengahnya mengirimkan gelombang kebenaran yang pahit: dunia statis ini bukanlah hadiah, melainkan sebuah laboratorium pengawetan. Arka Adiwangsa berdiri mematung, pedang entropinya yang hitam pekat mengeluarkan asap yang berdesis pelan saat bersentuhan dengan udara yang membeku.Mata ungu Arka berkilat dengan campuran antara penolakan dan amarah yang murni. Ia menatap simbol anaknya dengan kebencian yang mendalam. Baginya, Malakor bukan lagi seorang putra, melainkan pengganggu yang mencoba mencuri "surga" yang telah ia bayar dengan ribuan tahun penderitaan."Diam, Malakor!" raung Arka, suaranya menggetarkan pondasi istana yang seharusnya tidak bisa hancur. "Aku tidak peduli jika dunia ini adalah baterai! Aku tidak peduli jika aku diperas hingga kering! Selama aku bisa melihatnya, selama
Matahari sore di Jakarta tergantung rendah di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang abadi. Cahayanya menyusup masuk melalui jendela kaca besar Istana Adiwangsa, menyirami lantai marmer dengan kehangatan yang terasa... palsu. Arka Adiwangsa berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya masih melingkar di pinggang Valerie. Ia bisa merasakan detak jantung istrinya yang berpacu cepat, kontras dengan kesunyian mutlak yang menyelimuti seluruh kota di luar sana.Arka perlahan melepaskan dekapannya dan melangkah menuju balkon. Ia menatap ke bawah, ke arah jalanan protokol yang biasanya padat oleh deru mesin dan hiruk-pikuk manusia. Di sana, ribuan mobil berjajar rapi, namun tak satu pun mesin yang menderu. Orang-orang di trotoar terjebak dalam langkah yang tak kunjung mendarat. Seorang ibu sedang tertawa pada anaknya, namun tawa itu membeku dalam bentuk uap udara yang tak bergerak. Burung-burung di langit tampak seperti hiasan gantung yang terpaku pada kanvas biru
Sisa-sisa partikel cahaya dari The White King belum sepenuhnya menguap saat anjungan Aethelgard mendadak bergetar oleh frekuensi yang tidak berasal dari ruang fisik. Suara itu bukan dentuman, melainkan bunyi detak jam raksasa yang bergema langsung di dalam tengkorak setiap makhluk hidup di galaksi. Tik. Tok. Tik. Setiap detaknya terasa seperti pukulan palu yang mencoba melepaskan setiap atom dari tempatnya semula. Arka Adiwangsa berdiri dengan napas tersengal, lengannya masih melingkar erat di pinggang Valerie. Ia menatap ke luar jendela kristal yang pecah, namun ia tidak lagi melihat bintang-bintang Andromeda. Ia melihat garis-garis cahaya panjang yang melengkung dan tumpang tindih—sebuah visualisasi dari aliran waktu yang sedang diperas secara paksa. "Victoria... kau merasakannya?" bisik Arka, suaranya parau. Ia menarik tubuh Valerie lebih dekat, menenggelamkan wajahn







