Share

Bab 190

Author: Millanova
last update publish date: 2026-01-28 22:35:13
Semua mata menoleh dengan kesal. Siapa yang berani mengganggu rapat sakral ini?

Bella melangkah masuk.

Dia berjalan dengan langkah pasti namun anggun, memeluk sebuah map berwarna merah terang di dadanya. Wajahnya tenang, tidak terintimidasi sedikitpun oleh tatapan marah para direksi tua.

"Maaf mengganggu rapat, Pak Arya, Pak Arka," suara Bella jernih dan sopan.

"Siapa kau? Ini rapat tertutup!" bentak Arya.

Bella tidak menatap Arya. Dia berjalan lurus menuju Arka, lalu meletakkan map merah itu te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 340

    Suara napas yang memburu dan erangan tertahan memenuhi ruang bawah tanah yang pengap itu.Arka berdiri tegak di tengah ruangan. Ia memandangi keempat sosok berpakaian mewah yang kini berlutut tak berdaya di atas lantai semen yang dingin, kedua tangan mereka terikat erat oleh cable ties di belakang punggung.Darah masih mengering di sudut bibir Arka, dan tubuhnya yang dibalut pakaian kuli usang itu terasa nyeri akibat pukulan bertubi-tubi sebelumnya. Namun, saat menatap Arya, Maya, Dimas, dan Clara yang kini menatapnya dengan campuran antara teror dan ketidakpercayaan, seulas senyum kepuasan perlahan terukir di wajah Arka.Itu adalah senyum seorang raja yang baru saja merebut kembali kerajaannya dari para pengkhianat."Ternyata benar dugaanku tentang skenario paling busuk yang akan terjadi," suara bariton Arka memecah keheningan yang mencekam. Ia melangkah perlahan, mengitari keempat tawanannya layaknya predator yang sedang mengamati mangsanya. "Instingku memang tidak pernah salah."Ar

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 339

    Dentang keras baja yang beradu dengan besi solid membelah udara bunker.Bunyinya begitu tajam hingga ngilunya merambat ke dasar gigi. Bunga api keemasan memercik liar di udara selama sepersekian detik, menerangi wajah-wajah di sekeliling kursi eksekusi itu.Namun, tidak ada cipratan darah yang menodai lantai semen. Tidak ada jeritan daging yang terkoyak, apalagi raungan kesakitan.Alih-alih pergelangan tangan Arka yang terputus, satu-satunya benda yang jatuh menghantam lantai adalah dua potong tali nilon cable ties hitam yang terbelah dua dengan potongan yang terlampau rapi. Ayunan golok Victor yang dari luar terlihat dipenuhi niat membunuh ternyata dikalkulasi dengan presisi tingkat milimeter untuk satu tujuan tunggal: membebaskan targetnya.Keheningan yang sangat pekat dan ganjil langsung menyergap ruangan itu.Clara, Arya, Maya, dan Dimas membeku layaknya patung lilin. Otak mereka, yang sudah terprogram untuk melihat pertumpahan darah, mendadak mengalami korsleting. Ada jeda sekita

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 338

    Cahaya lampu LED berkekuatan tinggi di langit-langit bunker menyala terang benderang, menciptakan nuansa klinis yang membekukan darah. Sinar putihnya memantul tajam dari atas permukaan meja baja nirkarat di sebelah kanan Arka.Di atas meja itu, persiapan untuk sebuah eksekusi telah ditata dengan terlampau rapi. Sebuah nampan perak kosong berukuran sedang disiapkan bersisian dengan tumpukan handuk putih tebal, sebotol cairan antiseptik, dan seutas karet tourniquet medis untuk menghentikan pendarahan. Itu bukan peralatan interogasi; itu adalah instrumen bedah darurat untuk memastikan Arka tidak mati kehabisan darah sebelum matanya dicungkil keluar.Suara ketukan hak sepatu stiletto memecah keheningan yang menyesakkan tersebut. Clara melangkah maju. Langkahnya pelan, berirama angkuh, menggema di dinding-dinding beton. Ia berhenti tepat di depan Arka, mengembuskan napas hingga aroma parfum Chanel No. 5 miliknya mengudara, bertabrakan secara ganjil dengan bau karat dan debu semen di bunker

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 337

    Mobil kabin ganda itu akhirnya berhenti setelah perjalanan panjang yang mengocok perut.Di balik kain hitam pekat yang menutup matanya, Arka merasakan perubahan udara yang drastis. Hawa dingin menusuk tulang, membawa aroma semen basah, karat, dan samar-samar, jejak asap cerutu Cohiba.Suara pintu geser besi berderit berat, menggema di ruang yang terasa sangat luas.Pintu mobil ditarik kasar. Tangan Victor mencengkeram kerah bajunya, menyeret Arka keluar tanpa ampun. Sepatu bot usangnya terseret di atas lantai beton. Lebam di rusuknya berdenyut hebat akibat bantingan tadi, namun Arka mengunci rahangnya. Tak ada satu pun rintihan yang lolos.Tubuhnya didorong keras hingga terjerembap ke sebuah kursi besi. Victor bekerja dengan efisiensi mesin; melilitkan tambang kasar melingkari dada dan kaki Arka, menguncinya mati pada rangka kursi.Arka mematung. Ia menajamkan pendengaran.Denting gelas kristal yang saling beradu memecah keheningan, disusul tawa pelan. Bukan tawa menggelegar, melainka

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 336

    "Bawa dia masuk, Vic. Tinggalkan saja perempuan dungu itu di tanah."Suara Dimas terdengar sedingin lantai beton, menyayat udara malam yang sudah dipenuhi jeritan serak Nia. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dari intonasinya, hanya sekadar rasa muak yang pekat seakan ia baru saja menginjak bangkai hewan dan ingin segera membersihkan sepatunya.Victor, sang algojo berbadan tegap itu, tidak membuang sedetik pun. Tarikan kasarnya di kerah kaus membuat Arka terhuyung mundur, nyaris kehilangan keseimbangan. Tangan Victor yang besar dan kapalan mencengkeram kedua lengan Arka, memelintirnya ke belakang dengan sudut yang menyakitkan. Bunyi krek pelan dari sendi bahu Arka terdengar samar, disusul jeratan cable ties berbahan nilon tebal yang langsung mengikat dan menggores pergelangan tangannya hingga berdarah.Di tengah dengung tajam di telinganya akibat hantaman pelinggis beberapa menit lalu, Arka masih bisa mendengar isak tangis Nia. Suara perempuan yang selalu menatapnya dengan penuh har

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 335

    Tali cable ties berbahan nilon tebal itu berderit keras, mengunci pergelangan tangan Arka di belakang punggung.Victor menarik kerah belakang kaus usang Arka dengan tenaga kasarnya, memaksa pria yang babak belur itu berdiri bersusah payah. Darah segar menetes dari sudut bibir Arka, menodai karpet merah di bawah kaki mereka.Melihat suaminya diseret bak binatang buruan, pertahanan mental Nyonya Adhiguna yang sedari tadi dijaga mati-matian akhirnya runtuh total. Logika, perhitungan dingin, dan rasa takut menguap, digantikan oleh insting murni seorang istri yang menolak melihat dunianya dihancurkan untuk kedua kalinya.Nia melepaskan gagang pisau daging yang sejak tadi disembunyikan di balik celemeknya, membiarkannya tergeletak di atas meja. Ia menendang kursi plastik yang menghalanginya dan berlari keluar dari area prasmanan."Tidak! Jangan bawa suamiku ke mana-mana!"Jeritan Nia melengking tinggi, membelah udara siang pegunungan yang tegang. Tidak ada lagi logat Sunda yang kental. Tida

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 237

    Tok. Tok.Suara ketukan di pintu terdengar ringan, tidak seberat beban di dada Arka."Masuk," perintah Arka, suaranya parau.Pintu terbuka. Arka sudah bersiap menghadapi wajah manis Bella yang penuh kepalsuan. Dia sudah menyusun kalimat interogasi di kepalanya. Dia sudah siap meledak.Namun, yang m

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 251

    "Pak Arka, maaf mengganggu. Ini laporan audit internal bulan lalu yang Bapak minta kemarin sore. Saya taruh di meja atau perlu saya jelaskan poin-poinnya sekarang?"Suara itu lembut, mendayu, namun penuh percaya diri.Arka tidak menoleh dari layar laptopnya. Ia tahu siapa pemilik suara itu bahkan s

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 234

    Kabut tebal merayap turun dari punggung bukit, menyelimuti pelataran kayu villa dan membatasi pandangan Arka. Udara Puncak malam itu menggigit kulit, mungkin suhunya sudah menyentuh 16 derajat Celcius, tapi Arka justru merasa gerah.Dia berdiri di sudut deck, bersandar pada tiang kayu yang kokoh, m

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 254

    "Duduk dan lihat baik-baik foto ini, Dimas. Tolong, gunakan akal sehatmu dan jangan bicara sebelum kau benar-benar memahaminya."Suara Arka terdengar berat, dingin, dan memotong udara seperti bilah pedang. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja kerjanya, tepat di hadapan Dimas yang baru saja

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status