Share

Nona Horny

Penulis: Rainbow Rain
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-05 21:36:00

Valerie keluar ruangan dengan wajah pucat pasi. Ia masih berusaha mengatur napasnya agar stabil. Lila mendekat dan menarik tangannya.

“Bagaimana? Apa yang terjadi?” tanya Lila berbisik.

Valerie berjalan menuju kabin tempatnya. Ucapan Diego benar-benar membuatnya tidak tenang. Dan panggilannya pada Valerie sangat memalukan.

“Valerie, apa dia memecatmu?” tanya Lila penasaran.

Wanita berambut pendek dengan make up tebal itu sangat penasaran. Mendekati Valerie dan terus memburunya dengan pertanyaan.

“Dia bos yang sangat menakutkan.” Valerie berkata spontan.

Lila membelalakkan kedua bola matanya dengan mulut sedikit terbuka. Di saat lainnya menganggap Diego lelaki tampan dengan sejuta pesona, Valerie malah menganggapnya menakutkan.

“Dia …kenapa harus dia?” kesal Valerie.

“Kenapa? Ada apa dengan Tuan Stanford?” tanya Lila penasaran.

Valerie melirik Lila kesal. Kepala bagian itu terlalu ingin tahu. Valerie memalingkan muka dan kembali mengecek agendanya.

“Valerie, kamu belum menjawab pertanyaanku.” 

Pintu ruangan Diego terbuka menimbulkan bunyi keras. Lila berbalik, tersenyum kaku dan pergi saat melihat bosnya mendekati meja Valerie. Sementara Valerie masih menyibukkan diri membolak-balik buku agenda di depannya.

“Apa agenda saya hari ini Nona Horny?” tanya Diego pelan di ujung.

Valerie menarik napas panjang. Sebutan itu membuatnya malu sekaligus kesal. 

“Tuan Stanford, anda—” Valerie menekan suaranya.

Menahan kekesalannya dan tetap bersikap baik dengan menjaga jarak.

“Saya ingin mulai sekarang kamu yang menemani dan mengatur agenda saya nantinya,” perintah Diego.

“T–api ini bukan pekerjaan saya.”

“Dan, sekarang itu menjadi pekerjaanmu!”

Valerie seperti tertimpa batu besar. Ke depannya ia harus bersama Diego dan tidak bisa lepas dari pandangan lelaki tersebut. 

“Anda tidak bisa melakukannya seperti itu.” Valerie berbisik. Ia protes dan tidak nyaman.

“Kenapa tidak bisa? Saya bosnya dan kamu bisa mengundurkan diri jika tidak mau.”

Valerie menghela napas pelan. Perkataan telak Diego membuat Valerie harus menerimanya. Ia tidak akan bisa menghindari lelaki di depannya. Ia akan dihantui rasa malu setiap hari setiap melihat wajah bosnya itu.

Diego duduk di tepi meja mencondongkan tubuhnya menengok apa yang Valerie kerjakan.

“Tuan Stanford, sebentar lagi anda akan meeting bersama para kepala Divisi, tidak seharusnya anda di sini.” Valerie menengok kanan-kiri.

“Ha-ha-ha Nona Horny, kamu terlihat lucu saat ketakutan.” Diego tertawa lebar. 

Pria itu turun dari meja merapikan jasnya. Wajahnya kembali dingin dengan pesona CEO kaya raya yang kental. Berbeda jauh dari beberapa detik sebelumnya.

“Ikut saya sekarang.” Perinta Diego.

“Saya?” Valerie kembali gugup.

“Iya, tidak ada orang lain di sini. Kamu harus menemani saya meeting kali ini. Anda sudah lupa Nona Valerie?”

Valerie langsung mengangguk. Ia beranjak dan membenarkan roknya. Buku catatan tidak lupa di tangan. Diego berjalan tegap sementara Valerie mengikutinya dari belakang.

***

Diego harus memimpin meeting untuk semua divisi di hari pertama bekerja. Ruang meeting lantai dua puluh itu dipenuhi staf dari berbagai divisi.

Suara terdengar riuh membicarakan Bos baru yang tegas, disiplin dan tidak pandang bulu. Sikap dingin dan wajah yang tampan menjadi sorotan. Bahkan gosip beredar jika bos barunya itu sering bersenang-senang di bar bersama wanita.

“Selamat pagi!” Suara berat Diego memecah ruangan.

Saat Valerie masuk bersama Diego, percakapan langsung mereda. Semua berdiri memberi salam. Suasananya terasa hening menegangkan. Tidak ada yang berani membicarakan Diego.

Diego membuka mapnya, namun tidak langsung bicara. Ia memutar pena di jarinya, dan tanpa menoleh, suaranya terdengar rendah tapi jelas.

 “Catat semuanya.”

Valerie mengangguk. “B-baik, Tuan Stanford.”

Meeting dimulai, para kepala divisi menyampaikan laporan bergantian. Suara mereka formal, kaku. Tapi Valerie hanya bisa menangkap sepotong-sepotong, karena di sela-sela penyampaian itu, ia merasakan tatapan Diego menghujam sesekali padanya.

Valerie memalingkan muka. Ia tidak berani melihat… sampai akhirnya ia melihat sosok Diego yang mengagumkan. Sosok tampan yang memiliki aura tegas dan memikat. Sayangnya, Diego menangkap saat Valerie mengaguminya.

“Sial, kenapa dia melihatku?” Valerie bergumam pelan.

Valerie langsung menunduk, pura-pura fokus pada buku catatan. Meeting akhirnya berakhir dan semua staf keluar, ruangan lenyap dari suara langkah dan bisikan. Hanya AC yang berdengung, dan keheningan yang mendadak terlalu panas.

Valerie berdiri cepat, berusaha merapikan buku catatannya. “Saya akan segera merangkum hasil meeting hari ini untuk anda, Tuan Stanford.”

Valerie mencoba berlalu, tetapi suara bosnya menghentikannya.

 “Nona Horny.”

Diego berjalan perlahan menghampirinya, langkahnya santai tapi setiap langkah mengurangi jarak secara berbahaya. Pria itu berhenti tepat di depan sekretarisnya. Dekat sekali.

“Saya sudah memperingatkanmu sebelumnya bukan?” Diego tersenyum tipis.

“Sa–ya hanya—” Valerie gugup.

Akal pikirannya menghilang seketika saat berhadapan dengan bosnya. Tatapannya membuat tubuh Valerie tak mampu bergerak dan lidahnya terasa kelu hanya untuk berbicara.

“Kenapa kamu menatapku seperti itu saat rapat?” suaranya rendah.

Valerie menelan ludah. “Saya… tidak menatap anda, Tuan Stanford.”

Diego menahan tawa. “Nona Horny…” bisiknya, lebih lembut dari sebelumnya, tapi lebih menggoda. “Kamu pikir saya tidak tahu?”

Valerie mundur satu langkah, tapi punggungnya membentur meja besar di belakangnya. Diego mengejar langkahnya tanpa menyentuh hingga mendekat sampai napas mereka hampir bertemu.

“Saya duduk di sampingmu,” lanjut Diego, suaranya seperti gelombang panas. “Kamu menggigit bibirmu. Kamu menarik napas cepat. Kamu bahkan mencoba tidak melihatku sampai akhirnya kamu melirik…” Diego memiringkan kepala, matanya turun ke bibir Valerie. “Dan kamu menatapku lebih lama dari yang kamu sadari.”

Pipi Valerie memerah, tak bisa berkata apa-apa. Semua yang dikatakan Diego memang benar.

Diego menaruh satu tangan di meja, memerangkap sisi tubuh Valerie. Tidak menyentuhnya. Hanya mengurung. Memberi tekanan dahsyat pada atmosfer jantung Valerie.

“Kalau kamu terus seperti itu,” katanya pelan, “Saya akan benar-benar mengira kamu ingin melanjutkan malam itu.”

Valerie protes, tetapi suaranya patah. “Tuan Stanford … ini kantor.”

“Saya tahu.” Diego menurunkan suaranya lagi. “Karena itu, saya menahan diri sejak tadi.”

Jarak mereka hanya tinggal sentimeter. Pandangan Diego menghangat, degup jantung Valerie semakin kencang. Getaran napas yang mulai memuncak terasa hangat.

“Untuk sekarang. Jangan terlihat begitu menggodaku.”

Valerie membuang napas, setengah gugup setengah kesal, matanya berkaca-kaca bukan karena ingin menangis, tetapi karena terlalu banyak sensasi yang ia tekan.

Diego berdiri tegak, wajahnya kembali datar dan profesional seperti tidak ada apa-apa yang terjadi dan melanjutkan ucapannya lirih, “kalau tidak, aku bisa menerkammu saat itu juga. Tidak peduli di kantor atau di mana saja.”

Valerie mengangguk, anggukannya patah-patah karena gugup. Tubuhnya berkeringat dingin mendengar kalimat terakhir yang bosnya katakan. 

“Kerja bagus untuk hari ini,” bisik Diego.

Ia mengambil map hitam di meja dan melangkah pergi dengan senyum tertinggal di bibir. Sedangkan Valerie masih membeku di tempatnya.

Namun, sebelum pintu terbuka sepenuhnya, ia menoleh. Senyum tipis menggigit itu kembali menyapa sekretarisnya.

“Dan Valerie…”

 Tatapannya mengikatnya lagi. “Terima kasih untuk malam liar yang tidak pernah akan kulupakan,”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Masuk Kamar Sembunyi-sembunyi

    “Pulang sekarang,” suara Tuan Sanchez dingin, tangannya langsung menarik tangan Valerie mengikutinya.Diego reflek berdiri, menahan Valerie “Tunggu, kami belum selesai.”“Dia akan segera menikah,” ucap ayahnya Valerie. “Tidak pantas jika dia berdua dengan lelaki lain.” Tatapannya cukup tajam jatuh pada Diego, jelas sekali menunjukkan rasa tidak suka. “Dia menolongku …,” bisik Valerie pada ayahnya.“Menolong? Dia pasti sengaja hanya ingin menjebakmu. Kamu masih ingat apa yang dikatakan Thomas waktu itu?” Ayahnya Valerie langsung melengos melihat Diego, lalu lanjut berkata,”Lelaki ini sering melecehkanmu di tempat kerja.”Valerie terdiam mendengar ucapan tajam ayahnya. Tubuhnya masih terpaku seperti tidak ingin pergi.Ayahnya Valerie kembali menarik tanpa aba-aba. Suasana kafe yang tadi hangat mendadak kacau. Diego mencoba mengejar sampai , tapi mobil hitam itu sudah meluncur pergi.Diego langsung masuk ke mobilnya mengikuti ke mana arah mobil ayahnya Valerie menghilang. Jalanan beruba

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Suapan Manis Diego

    “Di mana kamu, Valerie?” Diego meremas cup coffee kosong di tangan. Ia singgah di sebuah cafe saat perjalanan pulang. Seluruh penjuru Cleveland sudah ia telusuri. Namun, ia sama sekali tidak menemukan jejak Valerie. Rumah orang tuanya yang berada di oakridge street terlihat senyap. Semua tetangga menutup rapat mulutnya.Fokus Diego terpecah saat perjalanan pulang hingga membuatnya salah ambil jalur selatan melewati Indiana polis dan perjalanannya harus menempuh waktu lebih lama untuk sampai Chicago."Saya tidak akan melepaskanmu lagi jika menemukanmu. Saya akan kembali merebutmu dari si brengsek itu!"Pandangan Diego beralih melihat ponselnya dan langsung menelpon Evan. Ia tidak bisa menunggu lama jika semua itu tentang Valerie. Ia memerintahkan asistennya untuk mengawasi Thomas dan ia tidak sabar ingin mengetahuinya.“Bagaimana? Kamu sudah dapat informasi?” tanya Diego tajam. Wajahnya mengeras menunggu jawaban asistennya. ujung sepatunya mengetuk aspal menunjukkan kecemasan.“Thoma

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Kutukan Mertua

    Diego memekik kesal di dalam apartemennya. Ia diusir dari rumah sakit dan tidak bisa masuk lagi. Semua ini karena pengaruh Thomas. Fotonya terpampang jelas di depan pintu utama rumah sakit. Seolah dirinya adalah penjahat.Semua keluarga Valerie percaya pada omongan Thomas tentang Diego. Bahkan scandal tentang pelecehannya pada Valerie muncul dan membuat kedua orang tua Valerie tidak menyukainya. “Thomas, sialan! Saya harus buat perhitungan dengannya.” Diego memukul meja makan di dapur. Gelas kristal di atasnya bergetar, jatuh dan pecah, memecah keheningan pikiran Diego yang kusut. Sementara pecahan kacanya dibiarkan berserakan di lantai dapur.“Valerie… kenapa harus bajingan itu?”Diego meremas rambutnya, berjalan mondar-mandir seperti singa terkurung.“Dia memanfaatkan amnesia Valerie,” ujar Diego kesal. Kini kedua tangannya mengepal, matanya menyipit mengingat bagaimana ekspresi Thomas mengejeknya. “Tidak! Saya tidak akan membiarkannya menang!”Benda tipis milik Diego di meja berg

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Apa Perlu Mengulangi Ciuman Itu?

    Nama Valerie tertera di papan kecil di samping pintu, bibir Diego tersenyum tipis melihatnya. Reflek, tangannya mendorong pintu saat keadaan sudah aman. Valerie duduk setengah bersandar di ranjang. Rambutnya tergerai, wajahnya terlihat pucat. Ia sedang menatap jendela, tubuhnya menegang saat melihat Diego datang. “Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini,” ucap Valerie pelan. “Saya sudah katakan, jangan menggangguku.”Diego menutup pintu tanpa menjawab. Ia melangkah masuk, tatapannya menelusuri wajah Valerie, seolah mencari sesuatu yang seharusnya ada di sana— rasa rindu, kenangan, cinta dan semua ingatan tentangnya.“Kita perlu bicara,” kata Diego pelan. “Sekarang.”Valerie menggeleng cepat. Tangannya mencengkeram selimut. “Tidak. Tolong keluar. Saya tidak ingin bicara denganmu. Kamu tidak bisa memaksaku bajingan!”Diego terkejut mendengar umpatan Valeri. Ia berhenti dan duduk di sisi ranjang. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi Vanila yang dulu begitu membuatnya mabuk dan terikat.

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Larangan

    Diego mengemudi dengan kecepatan tinggi. Ring road utara Chicago terbentang dingin, mobil putihnya melaju tanpa hambatan. Rahangnya mengeras, pandangannya tidak lepas sedetikpun dari jalan. Ia mengambil ponsel dengan tangan kiri, menekan nama Zayn untuk mencari informasi. “Zayn, kamu sudah dapat infonya?” tanya Diego tanpa basa-basi. “Saya sedang menuju Ohio?”Di ujung sana, Zayn menghela napas pendek. “Saya sudah mencobanya, pihak rumah sakit tidak mau memberikan informasi apapun. Bahkan saya sudah mengakses semua kontak dokter dan rumah sakit di Cleveland. Mereka tidak bisa memberikan info apapun.”Diego mencengkeram setir lebih kuat. “Kenapa mereka menyembunyikan Valerie?”“Pihak keluarganya menutup rapat semua tentang Valerie. Mereka minta menjaga privasi dan pihak rumah sakit tidak bisa memberikannya, bahkan pada dokter sekalipun.”“Shit! Apa maunya?!” Diego berteriak. Emosinya memuncak hingga darahnya mendidih. Ia menekan pedal gas, menambah kecepatan laju mobil. “Diego! Ten

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Dia milikku!

    “Diego, kamu sudah minum terlalu banyak.”Zayn menarik gelas whiskey di tangan Diego. Namun, lelaki yang terlihat frustasi itu merebutnya kembali dari tangan Zayn. Ia meneguknya lagi dan kembali menuang whiskey ke dalam gelasnya. Minuman berwarna cokelat pekat itu menjadi tempat pelarian Diego sekarang.“Kamu bisa mati konyol kalau terus minum seperti ini!” Zayn kembali mengambil gelas di tangan Diego.Diego tak bereaksi. Ia beralih mengambil botol whiskey di depannya. Ia meneguknya cepat dan Zayn kembali mengambilnya.“Diego! Apa yang terjadi?” Zayn melihat temannya sangat frustasi.“Bawa ke sini botolnya!” Diego mencoba merebut botol di tangan Zayn.Zayn duduk tenang, tangannya bersedekap, matanya mengikuti tiap gerakan Diego dengan botol whiskey kosong di tangannya. “Dia … mengundurkan diri,” ucap Diego, suaranya terdengar serak. “Dia bilang— menikah.”Zayn menghela napas pelan. “Saya mengerti.”Diego tertawa pendek, “Dia bahkan tidak ingat namaku. Menatapku seperti orang asing, m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status