Home / Zaman Kuno / Sepuluh Selir Ratu Arischa / Bab 28 Pernikahan paksa

Share

Bab 28 Pernikahan paksa

Author: Penulis Hoki
last update Last Updated: 2026-01-13 00:34:54

Salju hitam turun semakin lebat di Perbatasan Utara, menutupi kabel-kabel raksasa yang melintang di atas tanah. Di tengah badai digital itu, pasukan elit istana yang dipimpin oleh Valerius akhirnya berhadapan dengan barisan pertahanan "Kerajaan Sampah" milik Kael.

Valerius berdiri di depan pasukannya, pedang panjangnya berpendar biru tajam. Di seberangnya, dari balik kabut data, muncul sesosok pria dengan jubah kulit serigala yang compang-camping. Namun, aura yang dipancarkannya begitu kuat hin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 61 Sisi monster

    Hari-hari berikutnya menjadi pola baru yang aneh dan mengerikan. Arlan tidak lagi mengurung Lia di kamar. Dia mengurung Lia di dalam pekerjaan.Arlan memberi Lia satu set komputer canggih tepat di sebelahnya. Dia memberikan tugas-tugas rumit optimasi render, perbaikan AI, desain quest tingkat tinggi.Lia awalnya menolak. Tapi Arlan tahu kelemahannya."Kalau kau tidak menyelesaikannya dalam satu jam, aku akan mengurangi jatah baterai 'Kael'," ancam Arlan santai sambil menyeruput kopi.Lia terpaksa bekerja. Dan yang mengerikan adalah... dia menikmatinya. Bagian otak Lia yang mencintai tantangan logika tidak bisa dimatikan. Saat dia berhasil memecahkan masalah kode yang rumit, ada kepuasan instan yang muncul, dan Arlan ada di sana untuk merayakannya."Jenius," puji Arlan saat Lia berhasil mengompresi data sebesar 50%.Arlan berdiri di belakang kursi Lia, memijat bahu wanita itu. Sentuhannya posesif."Lihat? Kita tim yang hebat," bisik Arlan. "Kau yang mendesain arsitekturnya, aku yang me

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 60 Adam dan hawa digital

    Tiga hari berlalu sejak Robot Kael dibawa pulang sebagai pajangan. Arlan belum mengaktifkannya lagi. Dia membiarkan robot itu berdiri mati di sudut ruang kerja, seperti gargoyle penjaga yang bisu.Malam ini, Arlan tidak menyentuh Lia di ranjang. Dia menyeret Lia ke depan meja kerjanya yang penuh dengan monitor menyala. Layar-layar itu menampilkan barisan kode rumit yang bergerak cepat dengan struktur inti dari patch terbaru Aridonia."Duduk," perintah Arlan, menepuk paha kirinya sendiri.Lia berdiri kaku. "Aku bisa duduk di kursi lain.""Duduk di pangkuanku, Lia. Atau kita bahas nasib chip memori Kael lagi?"Ancaman itu selalu berhasil. Dengan rahang mengeras, Lia duduk di pangkuan Arlan. Pria itu segera melingkarkan satu lengan kekarnya di pinggang Lia, mengunci posisinya, sementara tangan kanannya tetap menari di atas keyboard."Lihat ini," bisik Arlan di telinga Lia, dagunya bertumpu di bahu wanita itu. Aroma musk dan kopi yang kuat menguar dari tubuh Arlan. "Ada bug di algoritma d

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 59 Robotic kael

    Malam itu, mereka tidak langsung tidur. Arlan membawa Lia kembali ke ruang kerja pribadinya di penthouse. Di sudut ruangan yang luas itu, terdapat meja kerja khusus yang diterangi lampu sorot putih terang, kontras dengan pencahayaan hangat di sisa ruangan.Di atas meja itu, tergeletak kepala robot Kael.Lia berdiri di ambang pintu, kakinya terasa berat. Melihat kepala Kael terpisah dari tubuh, tergeletak di atas meja logam di antara obeng dan kabel, adalah pemandangan yang membuat perutnya mual."Masuklah," Arlan melambai dari kursi kerjanya. Dia mengenakan kacamata pembesar di satu mata, pinset di tangan kanan. "Aku butuh bantuanmu untuk detail terakhir."Lia berjalan mendekat seperti orang yang berjalan menuju tiang gantungan. Cincin berlian merah di jarinya berkilau dingin di bawah lampu sorot, mengejeknya."Apa yang kau lakukan?" bisik Lia."Matanya," jawab Arlan tanpa menoleh. Dia menunjuk sebuah koper beludru hitam yang terbuka di samping kepala robot itu.Di dalam koper itu, be

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 58 Cincin tunangan

    "Senyum," desis Arlan tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang ramah.Lia memaksakan sudut bibirnya naik. Itu senyum yang kaku, rapuh, dan menyedihkan. Tapi bagi orang-orang di sana, itu terlihat sebagai senyum pemalu dari seseorang yang baru pulih.Arlan membawa Lia melewati koridor panjang menuju ruang rapat utama. Kaca-kaca transparan menampilkan pemandangan kota di bawah kaki mereka."Lihat itu, Lia," Arlan menunjuk ke luar jendela sambil berjalan. "Semua ini... gedung-gedung ini, jaringan data yang mengalir di bawah tanah... semuanya milikku. Dan sebentar lagi, milikmu juga.""Aku tidak menginginkannya," gumam Lia pelan."Kau akan belajar menginginkannya," balas Arlan santai. "Kael hanya bisa memberimu kastil pixel dan emas virtual. Aku memberimu kekuasaan nyata."Mereka sampai di depan pintu ganda ruang rapat. Sekretaris Arlan, seorang wanita muda yang tampak gugup, membuka pintu itu.Di dalam, duduk lima orang pria tua dengan setelan jas mahal. Investor utama."Ah, Tuan Arlan!" Sa

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 57 Nyonya masa depan

    Tawa Arlan perlahan mereda, menyisakan gema yang memantul di dinding-dinding steril laboratorium itu. Dia tidak melepaskan tatapannya dari wajah Lia yang pucat pasi. Dia menikmati ketakutan itu bukan karena dia ingin menyakiti Lia, tapi karena ketakutan itu berarti Lia mengakui kekuasaannya."Kenapa diam, Sayang?" tanya Arlan lembut, langkah kakinya bergema saat dia berjalan memutari podium tempat kerangka robot itu digantung. "Kau tidak ingin menyapa... teman lamamu?"Lia menahan napas, dadanya sesak seolah oksigen di ruangan itu telah disedot habis. Matanya terpaku pada wajah robot itu. Itu benar-benar wajah Kael. Arlan telah meniru setiap detailnya dengan presisi yang mengerikan berupa garis rahang yang tegas, bentuk hidung yang mancung, bahkan tahi lalat kecil di bawah telinga kiri yang hanya Lia yang tahu.Tapi matanya... mata itu tertutup kelopak silikon. Kosong dan juga mati."Kau..." suara Lia tercekat, nyaris tak terdengar. "Kau menjijikkan, Arlan."Arlan mendengus geli. Dia

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 56 hadiah pernikahan

    "Ya. Anak kita," Arlan mendongak, matanya berbinar penuh harap. Dia meraih tangan Lia, mengecup telapak tangannya berkali-kali. "Malam ini... biarkan aku membuktikan padamu bahwa aku lebih baik. Bukan dengan paksaan. Tapi dengan cinta. Aku akan melayanimu, Lia. Aku akan menyembahmu di tempat tidur sampai kau meneriakkan namaku."Malam semakin larut. Arlan menepati janjinya untuk tidak memaksa Lia. Tapi apa yang dilakukannya justru terasa lebih menyiksa secara psikologis. Dia ingin bercinta. Dia ingin koneksi emosional yang tidak dimiliki Lia untuknya.Di ranjang besar itu, Lia berbaring memunggungi Arlan. Dia mengenakan gaun tidur satin yang sopan pilihan Arlan untuk menunjukkan bahwa dia menghormati Lia malam ini.Arlan memeluknya dari belakang. Tubuhnya panas menempel di punggung dingin Lia. Tangan Arlan melingkar di perut Lia, jari-jarinya bertautan dengan jari Lia, memaksa genggaman tangan yang romantis."Nyaman?" bisik Arlan di belakang telinga Lia."Hmm," jawab Lia singkat. Dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status