แชร์

Bab 27 Raja tanpa nama

ผู้เขียน: Penulis Hoki
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-12 00:17:24

Setelah ledakan data di Kuil Keheningan, Lia terbangun di ranjang besarnya di Istana Aridonia. Suasana kamar terasa sangat sunyi. Tidak ada suara denting pedang Kael di depan pintu, tidak ada aura protektif yang biasanya menyelimuti ruangan itu.

Lia duduk dengan tubuh gemetar. Dia meraba lehernya. Tanda merah dari Kael masih ada, tapi kini terasa dingin, seolah-olah pemberi tanda itu berada jutaan mil jauhnya.

"Kael..." bisik Lia, suaranya pecah.

Pintu kamar terbuka dengan bantingan keras. Julian masuk dengan langkah angkuh, mengenakan jubah kebesaran yang jauh lebih mewah dari sebelumnya. Wajahnya bukan lagi proyeksi digital, dia tampak nyata, seolah-olah dia telah berhasil mengonsumsi sebagian kekuatan Inti untuk memperkuat eksistensinya di simulasi ini.

"Bangun, Sayang," ucap Julian dengan senyum kemenangan yang memuakkan. "Jendralmu sudah jadi sampah data. Dia tidak akan kembali."

Lia menatap Julian dengan mata yang bengkak tapi penuh kebencian. "Kau pikir kau sudah menang, Arlan?
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 27 Raja tanpa nama

    Setelah ledakan data di Kuil Keheningan, Lia terbangun di ranjang besarnya di Istana Aridonia. Suasana kamar terasa sangat sunyi. Tidak ada suara denting pedang Kael di depan pintu, tidak ada aura protektif yang biasanya menyelimuti ruangan itu.Lia duduk dengan tubuh gemetar. Dia meraba lehernya. Tanda merah dari Kael masih ada, tapi kini terasa dingin, seolah-olah pemberi tanda itu berada jutaan mil jauhnya."Kael..." bisik Lia, suaranya pecah.Pintu kamar terbuka dengan bantingan keras. Julian masuk dengan langkah angkuh, mengenakan jubah kebesaran yang jauh lebih mewah dari sebelumnya. Wajahnya bukan lagi proyeksi digital, dia tampak nyata, seolah-olah dia telah berhasil mengonsumsi sebagian kekuatan Inti untuk memperkuat eksistensinya di simulasi ini."Bangun, Sayang," ucap Julian dengan senyum kemenangan yang memuakkan. "Jendralmu sudah jadi sampah data. Dia tidak akan kembali."Lia menatap Julian dengan mata yang bengkak tapi penuh kebencian. "Kau pikir kau sudah menang, Arlan?

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 26 Penghianat

    Lia menarik tangannya dari konsol utama. Cahaya merah yang tadinya mau meledak, perlahan meredup karena Lia berhasil menahan protokol self-destruct Julian."Aku tidak akan menghancurkan tempat ini sekarang," desis Lia, menoleh pada proyeksi Julian yang mulai bergetar. "Karena jika aku menghancurkannya, kau akan mati dengan terlalu mudah, Arlan. Aku ingin kau melihat bagaimana aku mengambil alih seluruh duniamu ini."Kael, yang tadi sempat terlihat transparan, kini kembali padat. Dia terengah, keringat dingin membasahi dahinya. Dia langsung menarik Lia ke dalam pelukannya, memastikan wanita itu masih ada di sana."Kau gila, Lia," bisik Kael, suaranya parau. "Kau hampir saja terjebak di sini selamanya demi aku.""Aku memang gila, Kael. Dan kau harus terbiasa dengan itu," jawab Lia.Tiba-tiba, Lucian yang sedari tadi diam di belakang, melangkah maju. Matanya tidak lagi menatap peta, tapi menatap Inti Emas itu dengan tatapan lapar."Yang Mulia... jika Anda tidak menghancurkannya, berarti

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 25 Jantung aridonia

    Kapal pesiar kekaisaran yang megah itu kini terombang-ambing di tengah Laut Utara yang mengamuk. Langit tidak lagi berwarna hitam mendung, melainkan ungu gelap dengan garis-garis kode hijau yang sesekali menyambar seperti petir tanda bahwa simulasi Aridonia sudah mulai retak parah.Di atas geladak, Kael sedang berteriak memberikan instruksi kepada para awak kapal. Tubuhnya basah kuyup oleh air laut, otot-ototnya menegang saat dia membantu menarik tali tambat yang hampir putus. Dia terlalu sibuk menahan kapal agar tidak karam oleh serangan Tentakel Kode yang muncul dari dasar laut.Lia berdiri di ambang pintu kabin, memperhatikan kekacauan itu dengan cemas. Tiba-tiba, sebuah tangan yang lembut namun kuat menariknya masuk ke dalam kegelapan kabin pribadi.Itu Alaric.Kabin itu hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang bergoyang hebat. Aroma dupa cendana yang tenang di sini sangat kontras dengan bau garam dan karat di luar."Yang Mulia, di luar terlalu berbahaya untuk Anda," bisik Ala

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 24 Puas, jendral?

    Kael menyentuh tanda merah di leher Lia yang mulai memudar, lalu dia menggigitnya kembali di tempat yang sama, lebih dalam dari sebelumnya, membuat Lia memekik kecil.“Akhh... shhh,” rintih Lia."Tanda ini milikku," bisik Kael di kulit Lia. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu tidur. Aku akan memastikan bahwa besok, saat Lucian atau Alaric melihatmu, mereka akan tahu bahwa kau tidak akan pernah bisa mereka miliki."Aula Barat yang luas itu kini terasa sangat sempit dan menyesakkan. Kael tidak memberikan celah sedikit pun bagi Lia untuk menghirup udara bebas. Setelah membanting gelas anggur itu, Kael merangsek maju dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh seorang prajurit tingkat tinggi.Dia mencengkeram pinggang Lia dengan kedua tangan besarnya, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah dan mendudukkannya di atas meja jamuan yang panjang. Piring-piring perak dan kristal bergeser nyaring, beberapa terjatuh ke lantai marmer, tapi Kael tidak peduli.Kael masuk ke sela-sela paha Lia, m

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 23 Audit kesetiaan

    Lia tidak ingin membuang waktu. Efek kafein dari kopi pertamanya membuat otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Dia ingin segera memisahkan mana pria yang benar-benar tunduk padanya, dan mana yang masih menjadi duri dalam daging."Kael, siapkan Aula Barat malam ini. Aku ingin jamuan makan malam privat," perintah Lia sambil meletakkan cangkir emasnya. "Hanya untuk sepuluh selir. Tidak ada pelayan dan tidak ada pengawal di dalam ruangan, hanya kitaKael mengerutkan kening, tangannya mengepal di gagang pedang. "Itu berbahaya, Lia. Sepuluh pria dalam satu ruangan tanpa pengawasan? Beberapa dari mereka masih dalam sistem pada Julian."Lia mendekati Kael, merapikan kerah baju zirahnya, lalu berbisik cukup keras agar didengar oleh Alaric dan Lucian. "Justru itu poinnya, Jenderal. Aku ingin melihat siapa yang akan mencoba menusukku, dan siapa yang akan mencoba memujaku. Lagipula... aku punya kau yang menjagaku dari balik bayangan, kan?"Kael menghela napas pasrah, namun tatapannya tetap taja

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 22 Permainan mental

    Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, suasana kamar langsung berubah drastis. Kael tidak menunggu lama. Dia membalikkan tubuh Lia dengan satu gerakan cepat, menekan punggung Lia ke pintu hingga terdengar bunyi debum halus. Kedua tangan Kael mengunci di sisi kepala Lia, mengurungnya sepenuhnya.Lia mendongak, napasnya memburu. Bukannya takut, dia justru menyeringai tipis, tangannya merayap naik ke leher baju zirah Kael yang dingin. "Dan apakah itu berhasil, Jenderalku? Apakah kau sudah gila sekarang?""Aku sudah gila sejak pertama kali melihatmu di laboratorium itu, Lia!" geram Kael.Kael merunduk, mencium leher Lia dengan sangat posesif. Bukan ciuman lembut, melainkan ciuman yang menuntut, menghisap kulit tipis Lia di sana hingga meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok—sebuah klaim mutlak bahwa Ratu ini sudah ada yang punya."Akhh... Kael," Lia mendesah, kepalanya tertengadah ke belakang. "Pelan sedikit...""Tidak ada kata pelan untuk pengkhianat kecil sepertimu," bisi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status