공유

Bab 7

작가: Kariana
last update 게시일: 2026-11-07 18:26:41

"Tahu semuanya apa maksud kamu?" Suara Rama terdengar tegang. Ia menatap Nadine lekat-lekat, seolah berharap perempuan itu akan menarik kembali ucapannya.

Nadine tidak mengalihkan pandangan. Tangannya terlipat rapi di depan tubuh, sementara jantungnya berdegup lebih cepat di dalam sana. Namun, ia sudah terlalu lama memikirkan semua ini untuk membiarkan rasa sakitnya mengambil alih.

"Aku tahu kamu punya perempuan lain di luar sana," jawabnya tenang. "Bahkan hari ini, aku tahu kamu pergi dengannya."

Di samping mereka, Laras memandang putranya tak percaya. Tatapannya berpindah kepada Nadine, mencari penjelasan yang belum juga ia dapatkan.

Rama terdiam sesaat. Wajahnya menegang, lalu ia mengembuskan napas panjang, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan keadaan.

"Semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Nadine. Aku bisa jelaskan." Ia mengangkat kedua tangan sedikit, meminta Nadine mendengarkan. "Tolong, jangan langsung menyimpulkan."

Nadine merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Ada bagian dari dirinya yang ingin bertanya sejak kapan Rama mulai berbohong, sejak kapan ia begitu mudah pulang dan menatapnya seolah tak ada apa-apa. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu sudah tak lagi penting.

"Jelaskan apa lagi, Ram?" tanyanya, tetap dengan suara datar. "Aku melihat kalian dengan mata kepalaku sendiri."

Rama menggeleng cepat. "Perempuan itu bukan siapa-siapa. Dia adik partner bisnis aku. Aku cuma bantu dia, itu saja. Nggak ada hubungan apa-apa di antara kami."

Ia bicara makin cepat, seakan setiap kalimat baru bisa menutup celah pada kalimat sebelumnya. Nadine memperhatikan gerak bibirnya, bahunya yang kaku, dan matanya yang sesekali menghindar. Dulu, ia mungkin akan mempercayai setiap penjelasan itu, memilih percaya karena lebih mudah daripada membayangkan dikhianati. Tapi malam ini, ia hanya merasa lelah.

"Partner bisnis macam apa yang pergi berduaan seperti itu?" Nadine bertanya tanpa meninggikan suara.

"Aku sudah bilang, itu bukan seperti yang kamu lihat." Rama merapatkan rahangnya. "Kamu salah paham. Aku nggak akan melakukan hal seperti itu ke kamu."

"Nadine," sela Laras. Nada suaranya mengandung teguran. Sejak tadi ia mengikuti pertengkaran itu dengan kebingungan yang berubah menjadi kesal. "Kamu dengar dulu penjelasan suamimu. Jangan menuduh sembarangan."

Nadine menoleh sebentar kepada ibu mertuanya. Ia tak membantah, tak pula menyahut dengan nada tinggi. Telapak tangannya hanya terangkat perlahan, memberi isyarat agar Laras menunggu.

"Ibu, jangan dulu. Aku sedang bicara sama Rama."

Sikap tenang Nadine membuat Laras akhirnya kehilangan kesabarannya. Ia mencondongkan tubuh, sorot matanya sedikit menajam, seolah ketenangan menantunya itu adalah tantangan yang sengaja dilemparkan kepadanya. “Kamu bisa nggak, sih, menunjukkan sedikit saja perasaanmu? Dari tadi kamu bicara datar terus. Ibu jadi nggak tahu kamu ini benar-benar terluka atau cuma mau membuat Rama merasa bersalah!”

Nadine menahan napas. Jemarinya menekan pelan sisi kursi roda, satu-satunya gerakan kecil yang membuktikan betapa keras ia sedang berusaha menjaga dirinya tetap utuh. “Aku tidak sedang berusaha membuat siapa pun merasa bersalah, Bu.”

“Lalu kenapa sikapmu seperti ini?” Laras membalas cepat. Suaranya tiba-tiba meninggi, penuh kejengkelan yang sejak tadi ia tahan. “Rama sudah mencoba menjelaskan, tapi kamu diam saja dengan wajah begitu. Kalau kamu marah, katakan marah! Kalau kamu kecewa, katakan kecewa! Jangan duduk tenang seolah-olah kami semua sedang diadili olehmu.”

Ucapan itu menusuk,membuat Nadine terlonjak. Karena untuk pertama kalinya, Laras berbicara seperti itu.

Tetapi Nadine tetap menahan dirinya, ia memahami bahwa Laras menginginkan reaksi yang bisa ia baca seperti, tangis, bentakan, atau setidaknya suara bergetar. Ketenangannya justru membuat perempuan itu merasa diabaikan dan disalahkan. Namun Nadine tak ingin membuat keributan. Bukan karena ia tak terluka, melainkan karena ia sudah terlalu lama menangis dalam hati dan kini ia tidak ingin semua rencana nya goyah.

Rama melangkah mendekat. Ekspresinya berubah sendu, suaranya melembut seolah ia kembali menjadi lelaki yang dulu membuat Nadine merasa aman.

"Nadine..." Ia berhenti beberapa langkah darinya. "Kamu udah nggak percaya sama aku?"

Nadine memalingkan wajah sesaat. Bukan karena tak sanggup menatap Rama, melainkan karena ia tahu tatapan itu mungkin akan mengingatkannya pada masa-masa yang pernah ia sayangi. Ia tak ingin kenangan lama mengaburkan kenyataan pahit yang berdiri tepat di hadapannya.

"Aku cuma menyampaikan apa yang aku tahu," katanya. "Soal percaya atau nggak, kamu bisa tanya sama diri kamu sendiri."

Rama mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aku udah jelaskan semuanya. Nggak ada yang aku tutupi. Kenapa kamu masih bersikap kayak gini?"

Nadine menarik napas perlahan. Dadanya terasa sesak, tetapi ia menjaga suaranya tetap stabil. Di balik ketenangan itu, ada kesedihan yang belum sempat ia tangisi. Bukan cuma karena perempuan lain, melainkan karena ia akhirnya harus menerima bahwa rumah tangga yang ia pertahankan mungkin hanya berarti baginya seorang.

"Terus, aku harus bagaimana, Rama?" tanyanya lirih.

"Aku nggak punya perempuan lain selain kamu." Rama menggeleng, berusaha meyakinkan Nadine dan mungkin juga dirinya sendiri. "Aku nggak berkhianat di belakangmu. Kamu istriku. Aku sayang sama kamu."

Nadine menatapnya kembali. Kata-kata itu pernah menjadi tempatnya bersandar dulu. Namun sekarang, semuanya terdengar seperti sesuatu yang diucapkan demi mempertahankan keadaan. Demi mencegah Nadine pergi, bukan demi mengakui luka yang sudah telanjur ia buat.

Ia merasa getir, tetapi tidak terkejut. Keputusan yang telah ia siapkan terasa semakin mantap di dalam dirinya. Rama boleh terus membela diri. Laras boleh memarahinya karena tidak menunjukkan amarah yang mereka harapkan. Nadine tak perlu berteriak untuk membuktikan bahwa ia terluka.

Senyum tipis terbit di bibirnya, itu senyum kepedihan yang ia sembunyikan dalam ketenangan. "Aku dengar semua yang kamu bilang, Ram," ucapnya. "Tapi mendengar bukan berarti aku harus percaya."

Untuk sesaat tak seorang pun menjawab. Nadine membiarkan hening itu tinggal di antara mereka. Ia menghela nafasnya pelan.

"Aku akan kemasi semua barang-barangku. " Ucap Nadine percaya diri. Ia membelokkan kursi rodanya dan berlalu dari sana.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 8

    Nadine mendorong kursi rodanya mendekati lemari. Tangannya bergerak mengeluarkan semua bajunya dari dalam.“Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Nadine,” ujar Rama dengan napas terengah. Alisnya bertaut, tidak setuju saat melihat Nadine yang sedang mengemasi barangnya.“Bukankah aku hanya beban bagimu, Rama?” tanya Nadine pelan tanpa menoleh.“Aku pikir, dengan kepergianku ini, kamu bisa bebas,” tambahnya.Rama menggeleng. Kakinya melangkah mendekati Nadine, lalu berjongkok di depan kursi rodanya. Ia berusaha menggenggam tangan wanita itu, tetapi segera ditepis.“Tolong, percaya sama aku. Aku sudah menjelaskan semuanya padamu,” ucapnya memohon.Nadine tidak memedulikannya. Tangannya terus sibuk mengemasi baju.“Sayang... aku mohon, jangan seperti ini,” lirih Rama. Kepalanya menunduk, menatap tangan Nadine yang enggan digenggam.Selesai mengemasi baju, Nadine meraih koper itu. Namun, tangan Rama dengan cepat menahannya.“Nadine!” panggil Rama dengan suara meninggi. “Oke, kalau kamu kukuh

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 7

    "Tahu semuanya apa maksud kamu?" Suara Rama terdengar tegang. Ia menatap Nadine lekat-lekat, seolah berharap perempuan itu akan menarik kembali ucapannya.Nadine tidak mengalihkan pandangan. Tangannya terlipat rapi di depan tubuh, sementara jantungnya berdegup lebih cepat di dalam sana. Namun, ia sudah terlalu lama memikirkan semua ini untuk membiarkan rasa sakitnya mengambil alih."Aku tahu kamu punya perempuan lain di luar sana," jawabnya tenang. "Bahkan hari ini, aku tahu kamu pergi dengannya."Di samping mereka, Laras memandang putranya tak percaya. Tatapannya berpindah kepada Nadine, mencari penjelasan yang belum juga ia dapatkan.Rama terdiam sesaat. Wajahnya menegang, lalu ia mengembuskan napas panjang, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan keadaan."Semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Nadine. Aku bisa jelaskan." Ia mengangkat kedua tangan sedikit, meminta Nadine mendengarkan. "Tolong, jangan langsung menyimpulkan."Nadine merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 6

    Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 5

    “Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 4

    “Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 3

    “Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status