LOGINDari langkah pertama Caelan—yang maju, bukan mundur, ketika Shen berlari ke arahnya dengan Kutukan Kegelapan Abadi aktif penuh. Tidak ada yang waras yang melakukan itu. Mundur, menyamping, memberi ruang—itu yang paling masuk akal. Tapi Caelan maju, satu langkah, dan pedangnya terangkat bukan untuk menyerang secara umum tapi untuk satu titik spesifik.Dan di situlah yang menarik.Kutukan Kegelapan Abadi membuat posisi yang terlihat dan posisi yang sebenarnya berbeda. Itu inti dari teknik itu—membuat lawan membaca posisi yang salah. Teknik ini hampir tidak tertandingi dalam situasi pertarungan normal, karena bahkan lawan yang sudah tahu tentang teknik itu tetap tidak bisa memercayai penglihatannya sendiri.Tapi Caelan tidak menargetkan tubuh Shen.Dia menargetkan tekniknya.Bukan "dimana Shen berada" tapi "kemana energi Shen mengalir."Lengan kanan adalah pusat distribusi Kutukan Kegelapan Abadi. Itu tidak berubah, tidak peduli seberapa menipu proyeksi bayangannya. Dan satu titik di len
Wuhen Lianhun akhirnya berdiri.Bukan gerakan yang besar. Bukan sesuatu yang dramatis. Hanya seseorang yang bangkit dari kursinya dengan cara yang menunjukkan bahwa dia sudah memutuskan sesuatu, dan sekarang tinggal mengatakannya."Mo Xuan."Suaranya memenuhi arena. Tegas, bersih, tanpa ruang untuk interpretasi lain."Menang."Dua kata, tapi berat yang ada di baliknya bukan dua kata. Ktu adalah pengakuan dari seseorang yang tidak terbiasa memberikan pengakuan, diucapkan dengan cara yang membuat semua orang tahu bahwa ini bukan basa-basi atau formalitas.Dan di sudut bibirnya—tipis, hampir tidak terlihat—ada senyum.Bukan senyum sopan. Bukan senyum dari seseorang yang menjalankan tugasnya. Ini senyum dari seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang layak dilihat, dan merasa puas karena datang untuk melihatnya.Dia sudah mengakui Caelan.Semua orang di arena itu bisa melihatnya. Senyum itu lebih berbicara dari kalimat panjang mana pun yang bisa dia ucapkan.Tapi arena itu masih hening
Shen berlari.Kutukan Kegelapan Abadi sudah sepenuhnya aktif—energi spiritual yang membanjiri seluruh tubuhnya, bayangan yang tidak lagi mengikuti tubuhnya dengan cara yang bisa dibaca, niat membunuh yang sudah tidak punya lapisan di atasnya.Serangan pertama belum diluncurkan, tapi sudah bisa dirasakan. Seperti petir yang belum turun tapi sudah ada di awan, seperti tekanan yang sudah berubah sebelum suaranya sampai.Caelan bergerak lebih dulu.Bukan mundur. Bukan ke samping.Dia maju.Satu langkah—hanya satu—dan pedangnya sudah terangkat dalam gerakan yang paling tidak dramatis yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini.Bukan ayunan lebar. Bukan tebasan yang memerlukan momentum untuk menjadi berbahaya. Ini sesuatu yang berbeda—gerakan dari seseorang yang sudah memutuskan sebelum Shen menyelesaikan langkah ketiganya bahwa pertarungan ini akan berakhir di sini, dan sekarang hanya perlu menempatkan ujung bilahnya di satu titik yang tepat.Satu titik.Titik Jianliao.Sendi bahu kanan
Beberapa detik berlalu.Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Hanya dua orang berdiri di ujung arena yang berlawanan, dengan jarak dan darah di antara mereka—satu tetes yang belum mengering di lantai batu di antara Shen dan posisinya sekarang.Caelan yang berbicara pertama."Masih ingin lanjut?"Mendengar pertanyaan yang seperti penghinaan itu, Shen menggertakkan giginya."Kau pikir aku sudah kalah?!"Suaranya keluar lebih keras dari yang dia rencanakan—amarah yang sudah terlalu penuh untuk dikontrol dengan sempurna. "Tidak, bajingan! Aku belum mengeluarkan semua yang kupunya!"Caelan menatapnya sebentar."Begitu pula denganku."Jeda singkat."Perlukah aku sedikit lebih serius untuk mengakhiri ini?"Satu kalimat itu mendarat di telinga Shen dengan cara yang tidak bisa diabaikan. Bukan karena diucapkan dengan keras, tapi justru karena tidak.Itu ringan. Datar. Seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan opsi, bukan menyampaikan ancaman.Dan itu yang membuatnya lebih bur
KRINGG.Caelan menangkis bilah aslinya, tapi bayangan di belakangnya sudah bergerak, memeluk sekitar sisi yang tidak tertutup.Caelan memutar pergelangan, memotong sudut kedua. Bukan dengan pedang, tapi dengan lengan bawahnya, membelokkan bayangan itu sebelum punya cukup kerapatan untuk menjadi nyata sepenuhnya.Shen tidak berhenti.Ayunan kedua, ketiga, keempat—berkelanjutan, tidak memberi ruang di antara satu serangan dan berikutnya. Setiap bilah asli diikuti bayangan yang mengisi ruang seolah tahu ke mana Caelan akan bergerak.Arena mulai terlihat seperti tempat lain—lantai batu yang sama, tapi dipenuhi garis-garis gelap yang tertinggal dari setiap lintasan pedang, sisa-sisa energi yang belum sepenuhnya hilang.Caelan bergerak di dalam semua itu.Bukan menghindari dengan berlari, lebih seperti menggeser. Satu langkah ke kiri untuk membiarkan bayangan lewat di sisi kanan. Satu miringan kepala untuk membiarkan ujung bilah asli melewati bahu. Satu rotasi kecil untuk memposisikan dirin
Untuk pertama kalinya sejak Caelan menginjakkan kaki di Sekte Jiwa Hitam, Wuhen Lianhun menatapnya dengan serius.Tidak seperti sebelumnya, yang seperti seseorang yang sedang mengkonfirmasi apa yang sudah disimpulkan. Yang ini berbeda. Ada sesuatu di balik mata tua itu yang baru saja bergerak, seperti seseorang yang sedang merevisi sesuatu di dalam kerangka berpikirnya dan belum selesai melakukannya.Dia memutar kembali apa yang baru saja terjadi.Caelan tidak menghindari serangan itu—dia memiringkan pedangnya. Bukan untuk menangkis secara penuh, tapi untuk membelokkan sudut benturan.Shen mendorong lebih keras, dan mendorong lebih keras adalah respons yang benar jika kamu berhadapan dengan seseorang yang sedang menahan beban penuh. Tapi itu bukan yang sedang terjadi. Caelan tidak menahan—dia mengarahkan. Setiap ounce tekanan yang Shen masukkan malah menjadi bahan bakar yang membantu Shen berjalan lebih jauh ke arah yang tidak seharusnya.Dia membuka punggungnya sendiri.Dan kemudian—
Kembali ke Aurelian Hospital Velmont, Caelan sudah menuju pintu keluar di lobby ketika suara itu menghentikannya."Tunggu, Dokter."Dia berbalik dan menemukan Dorian melangkah cepat, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu."Ada hal lain yang kau butuhkan?" tanya Caelan.Dorian berhenti di
Caelan menatap Dorian sembari jatuh ke dalam pikirannya. Keluarga Ashford adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Kota Velmont. Seharusnya mereka bisa membantunya, bukan?"Satu hal saja." kata Caelan akhirnya. "Bantu saya mendapatkan kembali lisensi praktik saya dan posisi sebagai dokter d
Kurang dari sepuluh menit, perawat itu kembali.Nampan steril diletakkan di sisi meja. Lima jarum akupuntur berkilau di bawah lampu operasi. Di sampingnya, tiga bahan tersusun rapi—vial ekstrak Danshen berwarna merah tua, bubuk Huanglian kuning pekat, dan cangkir seduhan Maidong yang masih mengepul
Lima belas menit berlalu tepat waktu.Pria itu muncul dari lift dengan langkah santai yang tidak terburu-buru. Usianya sekitar empat puluhan, rambut sedikit beruban di pelipis, wajahnya hangat dengan kerutan tawa di sudut matanya. Bukan wajah birokrat. Lebih mirip wajah seseorang yang benar-benar m







