로그인Aneh dan kontradiktif.Radit berpikir, dan Lilian pun tidak mendesak, sehingga ruang tamu sejenak sunyi senyap."Oke, suruh Victor mengalihkan tanah ini ke Bahtera Konstruksi. Aku akan mencari orang untuk membantu memecahkan masalah Victor Konstruksi."Lilian mengerutkan kening. "Yang kami inginkan itu proyek plaza kota.""Lupakan saja proyek plaza kota itu. Seseorang bisa menawarkan solusi yang lebih baik," kata Radit dengan datar.Lilian sepertinya teringat sesuatu dan segera bertanya."Maksudmu, minta bantuan orang hebat itu?"Radit mengangguk. "Nggak usah banyak bicara. Aku cuma punya satu permintaan. Hari ini juga, serahkan tanah Panti Asuhan Mentari ke Bahtera Konstruksi.""Oke."Lilian berdiri dan pergi ke balkon untuk menelepon.Tak lama kemudian, dia kembali dan berkata, "Oke, aku sudah bicara dengan pihak sana. Tanahnya akan segera dialihkan."Radit mengembuskan napas lega, lalu bersandar di sofa.Lilian duduk di sampingnya, membelai telinganya dengan lembut dan bertanya, "Ka
Dua hari kemudian.Radit sedang berolahraga di gym ketika Luna menghampirinya dan memberitahu bahwa Lilian sudah pulang.Saat dia keluar, dia mendapati istrinya sedang mengobrol dengan seorang pria paruh baya yang tidak dikenalnya."Ada tamu?"Radit mendorong kursi rodanya mendekat.Lilian menghampirinya dan membantunya duduk di sofa, berkata, "Ini Pak Yahya, wakil direktur Victor Konstruksi."Orang dari Victor Konstruksi?Radit mengerutkan kening, lalu menyapa tanpa keramahan, "Halo, Pak Yahya."Lilian sudah menduga reaksinya, jadi dia tidak mempermasalahkannya. Dia berkata, "Sayang, kami mau bicara soal proyek. Aku benar-benar butuh proyek plaza kota. Kamu harus membantuku.""Kalau ini masalah pribadi, aku pasti akan membantu sebisaku. Tapi soal proyek, aku sudah berkali-kali bilang, aku nggak akan membantu, jadi jangan hubungi aku."Radit berkata dengan datar, tanpa memberi ruang untuk kompromi.Lilian menghela napas panjang. Dengan raut wajah sedikit bersalah, dia berbisik, "Coba b
Lilian melanjutkan, "Kamu juga tahu soal proyek itu. Dia sekarang sudah menghasilkan 60 miliar sendiri dan beli rumah. Semua uangku sudah diinvestasikan. Kalau proyeknya gagal, aku akan rugi. Victor bersedia memberikan kompensasi yang sangat besar. Tolong bantu aku membujuknya, biar dia nggak keras kepala terus. Dia pasti mau mendengarkanmu.""Oh? Kamu benar-benar minta bantuanku! Tapi kamu salah orang. Aku mendukung semua keputusannya, sekalipun itu salah.""Kamu ... ah! Kamu juga tahu dia salah? Kalau begitu, kamu harusnya banyak menasihatinya, jangan biarkan dia terus-terusan melakukan kesalahan. Aku dan Victor nggak punya hubungan yang menyalahi moral sama sekali. Dia nggak perlu sebenci itu. Berdamai dengan dirinya sendiri akan menguntungkan bagi semua orang.""Kamu salah. Pilihannya untuk menolak membantu Victor itu menurutku nggak salah. Intinya, aku nggak bisa mengubah keputusannya. Cari orang lain saja."Setelah mendengar kata-katanya, Lilian mengepalkan tangan, lalu melepaska
Sore hari.Setelah keluar dari bioskop, Luna mendorong kursi roda Radit pulang ke rumah.Karena tidak ada pekerjaan lain, Luna memijat kaki Radit.Berbaring di sofa, Radit tertidur tanpa sadar.Saat itu, Lilian membuka pintu dan masuk.Luna sedang membantu Radit membalikkan badan agar dia bisa tidur nyaman, lalu dia juga mengatur suhu AC."Dia barusan tidur, pelankan suaramu, jangan bangunkan dia."Saat Lilian masuk, Luna membuat isyarat 'ssst'.Lilian agak tidak senang. Gerakan Luna saat merawat Radit tadi terlalu lembut, seakan-akan dia seorang istri. Apalagi tatapan matanya, membuatnya merasa malu dan kesal.Hatinya sedikit gelisah, seolah-olah posisinya telah digantikan oleh orang lain.Setelah melepas sepatu, Lilian duduk di sofa dan memutuskan untuk bicara serius. Dengan wajah dingin, dia berkata, "Luna, kamu nggak mau pergi? Apa kamu mau menghabiskan sisa hidupmu bersama suamiku? Jujur saja, ini nggak baik. Kamu harus tahu diri, seperti beberapa tahun yang lalu."Luna mengerutka
Radit berpikir sejenak. "Mungkin ratusan miliar."Mata Aurel membelalak. Astaga, pria ini seorang miliarder?Dia lalu berkata, "Kalau begitu, nilai sekolahmu dulu pasti bagus, 'kan? Teman sekelasku bilang ayahnya lulus SD, tapi sekarang mendirikan perusahaan, dan lulusan perguruan tinggi justru jadi bawahan ayahnya."Inilah contoh klasik dari argumen 'kuliah tidak berguna'. Intinya, ada cerita tentang seseorang yang tidak pintar di sekolah dan tidak kuliah tapi tetap sukses.Radit hanya mengangkat bahu, karena sejak zaman dulu hingga kini, pendidikan tetaplah jalan terbaik untuk mengubah nasib.Ketika ditanya pertanyaan ini, Radit tersenyum dan berkata, "Nilaiku lumayan bagus, dan aku kuliah."Luna yang berdiri di belakangnya menambahkan dengan senyum kecil, "Dia meraih nilai 709 dalam ujian masuk perguruan tinggi di Kota Selanta."Setelah mendengarkan, Aurel benar-benar terkejut. Paman ini ternyata sangat hebat!Setelah diantar ke asrama, Aurel berganti pakaian, lalu berdua pergi ke g
"Halo, Pak Kurnia dari Bangun Persada?"Radit segera bicara setelah telepon tersambung.Tommy terkejut. Mendengar nama 'Pak Kurnia', dia merasakan firasat buruk."Benar. Siapa ini?""Saya Radit, ketua dewan direksi Bahtera Konstruksi. Saya sedang ada masalah dengan Tommy dari perusahaan Bapak. Untuk menghindari terganggunya kerja sama antara dua perusahaan, saya ingin meminta Pak Kurnia menangani masalah ini."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Tommy terkejut. Ketua Bahtera Konstruksi? Pikirannya kacau. Dia menggertakkan giginya dan berkata, "Kamu ingin memberi tekanan padaku? Perusahaan kami nggak punya hubungan bisnis dengan Bahtera Konstruksi ...."Radit tersenyum dingin, dalam hati berkata, kamu sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kekuatan uang.Memangnya kenapa jika tidak ada hubungan bisnis? Semua orang tahu Bahtera Konstruksi baru saja mendapatkan dua proyek besar. Sekadar memberi remah-remah saja sudah bisa membuat Bangun Persada kenyang.Dia bahkan bisa m







