LOGINFlashback On (Satu hari sebelum hari pernikahan)
Langit mulai berwarna abu-abu. Aroma tanah basah bercampur wangi bunga dari dekorasi pelaminan yang baru saja Zoe atur sendiri. Tangannya masih penuh serpihan daun melati dan pita putih — simbol kesucian cinta yang besok akan diikrarkan. Tapi entah kenapa, dada Zoe terasa berat. Ada sesuatu yang tidak beres. “Asher nggak datang dari pagi...” gumamnya pelan, menatap ponselnya yang sunyi. Tadi pagi mereka sempat berselisih. Hal kecil sebenarnya tentang siapa yang seharusnya memutuskan lokasi bulan madu. Tapi perdebatan itu melebar, seperti api kecil yang tiba-tiba membakar jembatan komunikasi mereka. “Kenapa semua harus kamu yang atur, Zoe? Ini pernikahan kita, bukan proyek kerjamu!” ujar Asher menjelaskan perasaan nya. “Karena aku tahu apa yang terbaik. Aku udah rancang semuanya dari awal, Sher. Kamu tinggal datang dan bilang ‘iya’.” Kalimat itu tajam. Terlalu tajam untuk diucapkan pada seseorang yang mencintai dengan sepenuh hati. Asher diam cukup lama sebelum akhirnya hanya berkata lirih: “Kadang aku rindu Zoe yang dulu. Yang bukan cuma sibuk membuat segalanya sempurna… tapi juga bahagia.” *** Kini, Zoe berdiri di tengah aula pesta yang nyaris selesai di dekor. Segalanya terlihat megah, tapi terasa kosong. Ia menatap mawar putih di tangannya bunga kesukaan Asher dan sesuatu di hatinya memberontak. “Sher...” suaranya serak, “kalau kamu nggak datang ke tempat itu, kita mungkin nggak akan baikan lagi.” Ia mengambil ponsel, mengetik pesan singkat. “Datang ke taman tempat pertama kali kita ketemu. Aku tunggu jam tiga. Aku ingin kita mulai dari awal.” Satu pesan, satu keputusan. Ia tak tahu bahwa pesan itu akan menjadi penyesalan seumur hidupnya. *** Pukul tiga lewat sepuluh. Hujan turun perlahan, seperti air mata langit yang enggan jatuh seluruhnya. Zoe menunggu di taman itu di bawah pohon besar yang dulu menaungi pertemuan pertama mereka. Ia memegang payung hitam, tapi tak sempat memperhatikan langit yang mulai gelap. Hatinya berdebar keras setiap kali ada mobil lewat. “Ayo, Sher… cepat datang. Aku capek marah. Aku cuma mau kamu,” bisiknya dengan suara gemetar. Ia melirik jam tangan. Pukul 3.26. Masih belum ada tanda-tanda. Tiba -tiba telepon berdering. Nama Asher muncul di layar. Zoe tersenyum lega, “Sher, kamu di mana? Aku di sini, di taman. Jangan—” “Aku udah di jalan. Hujan gede banget, tapi aku bakal datang. Kamu jangan kemana-mana, oke?” jawabnya di sebrang, suara nya di sertai deru mesin. “Jangan ngebut, Sher. Jalanan licin.” Asher tertawa kecil, “Aku nggak akan. Aku cuma... pengen lihat kamu lagi sebelum segalanya mulai.” Sambungan terputus oleh suara petir. Zoe menatap langit, lalu jalan. Ia berjalan ke tepi trotoar, mencari arah mobil Asher datang. Jalanan mulai sepi. Genangan air semakin tinggi. Beberapa menit kemudian, ia melihat lampu mobil putih mendekat dari kejauhan. Zoe tersenyum. “Itu dia...” gumamnya. Namun senyum itu lenyap dalam hitungan detik. Seekor kucing tiba-tiba berlari dari sisi jalan. Asher membanting setir, mobilnya oleng — dan dalam sekejap, suara dentuman keras memecah udara. Zoe menjerit. “ASHER!!!” Ia menjatuhkan payungnya dan berlari tanpa memedulikan hujan. Langkahnya tergesa, air hujan menampar wajahnya. Mobil Asher menabrak pohon besar di ujung jalan ringsek parah, asap keluar dari kap depan. “Sher! Asher, buka pintunya!” Ia mencoba menarik gagang mobil yang sudah penyok, tapi gagal. Tangannya berdarah oleh serpihan kaca, tapi ia terus mencoba. “Sher! Ini aku, Zoe!” Dari balik kaca depan yang retak, Zoe melihatnya. Asher menatapnya wajahnya pucat, darah menetes dari pelipis, tapi senyum kecil masih tersisa di bibirnya. “Kamu... beneran datang…” Zoe menangis keras,“Diam dulu! Aku panggil bantuan, Sher! Jangan ngomong dulu!" “Aku... hampir sampai... seperti janji kita dulu... aku datang...” ujar lirihnya. Zoe mengguncang pintu dengan sekuat tenaga, tapi logam mobil tak bergeming. Ia menangis, menjerit, menampar kaca, hingga akhirnya pintu berhasil terbuka sebagian. Ia meraih tangan Asher dingin, basah oleh darah dan air hujan. Seluruh badan Zoe bergetar hebat melihat keadaan calon suaminya seperti ini, “Kamu bodoh, kenapa engga nolak datang di hujan kayak gini?” Asher tersenyum lemah,“Karena kamu yang nyuruh… aku nggak mau kamu nunggu sendirian.” Zoe menatapnya tak percaya. Air matanya bercampur hujan, suaranya parau. “Jangan ngomong kayak gitu! Aku mohon, Sher… jangan tutup mata!” Asher mendesis pelan, “Kamu tahu... aku nggak pernah marah... aku cuma pengen lihat kamu tersenyum lagi... di pelaminan" Zoe mengangguk cepat, “Kita masih bisa! Kita bisa besok, Sher! Kita masih punya besok!” “Besok... indah... kalau kamu bahagia...” Matanya perlahan menutup, jemarinya terlepas dari genggaman Zoe. Zoe mengguncangkan tubuh Asher dengan kuat, tapi Asher tetap tidak ada respon balik. Seketika itu perasaan Zoe semakin tidak karuan saat merasakan tidak ada lagi nafas yang ia hembuskan. Zoe berteriak sekencang yang ia bisa, menunduk, memeluk tubuh Asher yang sudah tak bernyawa. Hujan turun semakin deras, mengguyur mereka berdua menutupi suara tangis, menelan janji yang belum sempat ditepati. *** Beberapa jam kemudian, langit mulai menggelap sepenuhnya. Ambulans datang, sirine meraung. Tapi Zoe tetap berlutut di sana, menatap tubuh yang baru saja kehilangan jiwa. “Kalau saja aku nggak suruh dia datang... kalau saja aku nggak kirim pesan itu...” Ia menatap ponselnya yang masih menyala di tanah, layar retak menampilkan pesan terakhir: “Aku akan datang, tunggu aku" Zoe menggenggam ponsel itu erat, seolah bisa mengembalikan waktu. Namun waktu tetap berjalan, dan janur di tempat pernikahan mereka mulai layu, sebelum sempat berdiri. Flashback OffSiang merambat pelan di pemakaman itu, seperti enggan mengusik kesunyian yang sedang dipeluk Kenzo. Angin menggerakkan kelopak bunga di atas tanah yang masih lembap. Nama di nisan itu tak pernah berubah, tapi setiap kali ia membacanya, rasanya selalu berbeda kadang seperti luka lama yang mengering, kadang seperti pisau yang baru diasah. Kenzo mengusap wajahnya, menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia tak menunggu sampai dadanya benar-benar tenang. Ada hal-hal yang lebih aman ditinggalkan setengah selesai seperti tangis, seperti doa yang terlalu jujur. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi, membawa beban yang tak ia ceritakan pada siapa pun. *** Zoe menghabiskan sore dengan membenahi catatan. Ia memindahkan deadline, menandai risiko, dan menyusun ulang prioritas. Kepalanya jernih, tangannya sigap. Beginilah caranya bertahan: fokus. Ia menolak membiarkan ruang kosong di pikirannya diisi hal-hal yang tak produktif. Namun menjelang magrib, saat cahaya meredup dan rumah kembali suny
Malam itu Zoe tidak benar-benar tidur lama. Pagi datang dengan kepala berat dan dada yang masih sesak, tapi pikirannya sudah lebih jernih. Ia bangun lebih awal, menyeduh kopi, lalu membuka laptop di meja makan. Angka-angka, jadwal, dan sisa kontrak klien memenuhi layar. Zosta belum mati belum. Zoe hari ini memastikan kemajuan Zosta hanya di rumah saja, dan dia juga menghindari sesuatu yang tak ingin terjadi seperti sebelumnya. Ketukan pelan di pintu terdengar sekitar satu jam kemudian. Kenzo berdiri di luar, kali ini rapi, tanpa hujan, membawa map tipis. Tidak ada basa-basi. Ia masuk setelah Zoe menggeser pintu sedikit, lalu langsung meletakkan map di meja. “Itu draft kerja sama. Timeline, anggaran, dan exposure media,” katanya singkat. Zoe mengangguk, membuka map, membaca. Matanya bergerak cepat. Ini masuk akal. Terlalu masuk akal untuk ditolak begitu saja. Kampanye amal otomotif, wajah publik yang positif, dan sorotan media yang terkontrol. Bukan penyelamat ajaib, tapi cukup
“Bu Zoe! Investor utama sudah di ruang meeting!” seru Tania tergesa, napasnya tersengal. Zoe berbalik pelan. “Semua sudah datang?” Tania menunduk. “Sebagian, Bu. Tapi mereka… sepertinya tidak datang untuk bicara baik-baik.” Zoe menghela napas panjang. “Baik. Siapkan proyektor, saya akan ke sana.” Ia menegakkan bahu, dan melangkah keluar dengan langkah yang tegas. Langkah sepatunya terdengar mantap di lantai marmer, menggema di koridor panjang. Begitu pintu ruang meeting terbuka, ruangan langsung hening. Tiga investor utama Zosta duduk di sana wajah mereka tegang, beberapa dengan tangan terlipat, sebagian menatap tajam ke arah Zoe. Suasana terasa seperti ruang sidang, bukan rapat bisnis. “Selamat siang.” Suara Zoe tenang, meski nadanya sedikit serak. Pak Raymond, investor tertua, menatap tajam. “Ini bukan masalah sepele, Bu Zoe. Tapi reputasi perusahaan ini itu masalah besar.” Zoe berjalan ke depan meja, meletakkan laptop, menatap mereka satu per satu. “Saya tahu isu
Pagi itu matahari terbit terlalu lambat, seolah enggan menampakkan diri di langit yang muram. Zoe menatap pantulan dirinya di dinding kaca besar kantor Zosta Wedding Organizer, perusahaannya yang dulu selalu penuh tawa, kini sepi bagai ruang rawat luka. Bias cahaya matahari menembus tirai, jatuh di wajahnya yang terlihat tegar namun letih. Di tangan kirinya, cangkir kopi sudah dingin sejak satu jam lalu. Di tangan kanan, ponsel yang terus bergetar tak henti. Notifikasi demi notifikasi masuk dari portal berita, media gosip, sampai pesan pribadi yang tak berani ia buka. “Calon Suami Meninggal, CEO Zosta Diduga Penyebabnya?” “Asher Hartono Tewas Karena Tantangan Tunangannya Sendiri?” “Tragedi Cinta di Balik Janur Gugur.” Zoe menggigit bibirnya, menahan gemetar di ujung jari. Ia menatap tajam layar ponsel itu, lalu mematikannya. Suara detik jam dinding terasa memekakkan di ruang kosong. “Biarkan mereka bicara…” gumamnya lirih, suaranya serak tapi dingin. “Gue nggak akan sembu
Jam telah menunjukkan pukul 22.00, tapi Zoe masih tetap berkutat di depan leptop tanpa mengenal lelah. Deringan ponselnya berbunyi. Nama Kenzo tertera di layar handphonenya. Satu kali dan dua kali tidak dia jawab, sambungan ketiga kalinya membuatnya pasrah untuk mengangkat telponnya. "Kamu masih kerja?" tanya Kenzo di sebrang. "Hem" Helaan nafas terdengar dari sebrang, "Udah jam segini, besok lagi kerjanya." Zoe melihat arloji di tangannya. Dan dia baru tersadar sekarang sudah mulai larut malam. Dia berjalan ke luar ruangannya, dan tidak ada satupun karyawannya yang tersisa dan hanya tertinggal dirinya. "Hem, Gue pulang" Zoe mematikan sambungan teleponnya. Ia segera membereskan semua berkas dan merapikannya dengan cepat. Setelah semuanya selesai, Ia segera keluar dari kantor nya. "Iss seharusnya gue bawa motor aja. Engga ada pula ojol malam malam begini," keluhnya menyesal tidak membawa motornya. Zoe terus gelisah melihat handphonenya yang tidak ada ojek di daerah temp
Zoe tersadar dari lamunan nya disaat Kenzo mengetuk kamarnya berulang kali. Ia segera bangkit untuk membukakan pintu nya. Terpampang wajah Kenzo yang mulai mengantuk, dengan tangan ia ulurkan meminta sesuatu pada gadis itu. "Aku minta selimut sama bantal" ujarnya. Zoe hanya mengangguk saja, kemudian ia mengambilkannya lalu menyerahkannya dengan cepat. "Oh ya, besok pasti banyak yang tanya tentang pernikahan gue. Jadi pernikahan ini jangan sampai terbongkar di hadapan mereka semua terutama teman - teman gue." Orang - orang hanya tau bahwa Zoe gagal menikah di karenakan pengantin pria nya telah meninggal dunia. Pernikahan Zoe dan Kenzo hanya di ketahui oleh keluarga mereka saja, tidak untuk orang luar. Karena Zoe masih belum menerima dengan pernikahan ini dan kemungkinan besarnya Kenzo juga sependapat dengan pemikiran Zoe. *** Pagi di kota itu masih basah oleh sisa hujan semalam. Langit kelabu seakan tak mau memberi Zoe kesempatan untuk melupakan. Namun ia tetap melangkah he







