登入Mobil melaju membelah jalanan pagi yang masih cukup lengang. Naura duduk di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela.
Di balik kemudi, Iris sesekali melirik sahabatnya itu."Kata kamu semalam suamimu pulang," ujar Iris. "Kenapa pagi ini malah mengajakku pergi pagi-pagi sekali?"Naura tersenyum tipis.Senyum yang lebih banyak menyimpan kelelahan daripada kebahagiaan."Aku tidak mau bertengkar dengannya."Iris mengernyit."SebuPOV NauraHarsa menatap seluruh orang yang berada di ruang rapat. Namun, tanpa disadari, tatapannya berhenti sedikit lebih lama pada Naura.Ia kemudian membuka dokumen di hadapannya."Baik. Setelah melihat rancangan awal proyek ini, saya rasa kita perlu melakukan survei langsung ke beberapa lokasi.""Untuk pihak kami, saya akan mengirim enam orang perwakilan dari tim investasi dan proyek. Saya juga akan ikut dalam kunjungan tersebut."Harsa kemudian menatap Naura."Bagaimana dengan pihak Anda, Nona Naura?""Saya berharap Anda juga bisa ikut dalam kunjungan ini. Kita bisa melihat langsung beberapa lokasi yang sekiranya cocok untuk proyek kita."Naura membaca kembali dokumen yang ada di hadapannya.Ia kemudian mengangguk."Baiklah.""Saya akan mengirim enam orang dari tim saya.""Dan saya juga akan ikut dalam survei tersebut."Harsa tersenyum."Baik."
POV NauraMalam itu, setelah sampai di rumah, Naura langsung disambut oleh Jolina yang sedang duduk di ruang keluarga."Kamu baru pulang?""Iya, Bu."Naura meletakkan tasnya di sofa lalu duduk di samping ibunya."Bagaimana acara bisnis tadi?""Berjalan lancar.""Naura juga bertemu teman lama."Jolina tersenyum penasaran."Teman lama?""Iya.""Namanya Harsa.""Dulu teman sekelas waktu SMA."Jolina memperhatikan wajah putrinya."Harsa?""Iya.""Dia orang yang baik?"Naura berpikir sebentar."Menurutku iya.""Dia sopan, tenang, dan profesional.""Enak diajak berdiskusi."Jolina tersenyum kecil."Sudah lama Ibu tidak melihat kamu bercerita tentang seseorang tanpa terlihat sedih."Naura terdiam.Ia tahu maksud ibunya.Dulu hampir semua cerita dalam hidupnya selalu be
POV NauraHarsa menutup panggilan teleponnya, lalu kembali menghampiri Naura."Maaf membuatmu menunggu.""Tidak apa-apa."Naura tersenyum tipis."Urusan kantor?"Harsa mengangguk."Iya.""Cabang perusahaan di Singapura sedang mempersiapkan proyek baru.""Kadang perbedaan waktu membuat pekerjaan tidak bisa benar-benar ditinggalkan."Naura terkekeh pelan."Sepertinya kita senasib.""Bedanya, aku sering dimarahi Ayah kalau terlalu sibuk."Harsa ikut tertawa."Kalau aku dimarahi Mama."Mereka saling tersenyum.Suasana terasa ringan.Tidak canggung, tetapi juga tidak terlalu akrab.Tak lama kemudian, Noel berjalan menghampiri mereka."Maaf mengganggu.""Kalian sedang mengobrol?"Harsa langsung mengulurkan tangannya dengan sopan."Selamat sore, Pak Noel.""Saya Harsa Pratama."
POV NauraTiga hari kemudian.Ballroom sebuah hotel internasional di Jakarta tampak dipenuhi para pengusaha dari berbagai negara.Hari itu merupakan pembukaan Business Summit Asia, sebuah forum bisnis yang mempertemukan perusahaan-perusahaan besar untuk berbagi pengalaman, inovasi, dan peluang kerja sama.Naura tiba bersama Noel.Keduanya disambut oleh panitia."Selamat datang, Bu Naura. Selamat datang, Pak Noel.""Terima kasih."Setelah melakukan registrasi, mereka dipersilakan menuju ruang VIP sebelum acara dimulai.Di dalam ruangan, beberapa tokoh bisnis telah lebih dulu hadir.Noel menepuk pelan bahu putrinya."Gugup?"Naura tersenyum tipis."Sedikit.""Padahal dulu kamu berani menghadapi hakim di ruang sidang.""Sekarang malah gugup di depan para pengusaha."Naura tertawa kecil."Itu beda, Yah.""Kali ini aku membawa n
POV NauraSetelah sesi diskusi berakhir, para tamu undangan dipersilakan menikmati jamuan makan malam yang telah disiapkan oleh panitia.Suasana ballroom kembali dipenuhi obrolan hangat.Para pengusaha saling bertukar kartu nama dan membahas peluang kerja sama.Naura berdiri di dekat meja prasmanan sambil mengambil segelas jus jeruk.Baru saja ia hendak berbalik, seseorang berdiri di sampingnya."Boleh saya bergabung?"Naura menoleh.Ternyata Harsa."Tentu."Harsa mengambil segelas air mineral, lalu berdiri di samping Naura."Selamat sekali lagi atas pencapaian perusahaanmu.""Aku sempat membaca beberapa artikel tentang PT Adiguna Bangun Sejahtera.""Perkembangannya sangat pesat."Naura tersenyum sopan."Terima kasih.""Semuanya berkat kerja keras tim."Harsa terkekeh pelan."Irene benar."Naura mengernyit.
POV NauraAcara reuni pun akhirnya selesai.Satu per satu alumni mulai meninggalkan ballroom hotel.Naura berdiri di depan pintu masuk sambil menunggu mobilnya yang sedang dibawakan oleh petugas valet.Irene menghampirinya sambil membawa sebuah goodie bag berisi kenang-kenangan reuni."Nih, jangan sampai ketinggalan."Naura menerimanya sambil tersenyum."Terima kasih.""Kapan-kapan kita harus ketemu lagi, ya.""Pasti.""Tapi jangan nunggu reuni sepuluh tahun lagi."Naura terkekeh pelan."Iya, Bu Irene."Mereka kembali tertawa bersama.Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mereka.Seorang petugas turun dan menyerahkan kunci mobil kepada Naura."Terima kasih."Naura membuka pintu mobil, tetapi sebelum masuk ia kembali menoleh kepada Irene."Ren.""Hm?""Kalau nanti ketemu Harsa lagi..
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t







