LOGINPOV Orang di Dalam Mobil
Mobil hitam itu berhenti di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus.Seorang pria paruh baya turun sambil mengenakan topi dan kacamata hitam.Ia memasuki ruang VIP yang telah dipesan sebelumnya.Di dalam ruangan telah menunggu seseorang."Bagaimana?"Pria itu duduk tanpa melepas kacamatanya."Naura mulai kembali beraktivitas.""Dia kuliah seperti biasa.""Lalu?""Dia juga beberapPOV NauraSuasana di ruang perawatan kembali tenang setelah para penyidik selesai mengambil keterangan Ardi.Mahendra, Gibran, Naura, dan Jolina berpamitan agar Ardi dapat beristirahat."Terima kasih, Pak Ardi," ucap Naura sambil menyalami pria itu.Ardi tersenyum lemah."Jangan menyerah, Nak. Ayahmu menunggu keadilan."Naura mengangguk mantap."Saya janji."---Saat mereka keluar dari rumah sakit, ponsel Mahendra tiba-tiba berdering.Ia melihat nama asistennya, Reno.Mahendra langsung mengangkat telepon."Halo.""Pak Mahendra, kami berhasil menemukan dua orang yang selama ini kita cari."Mahendra langsung menghentikan langkahnya."Siapa?""Ibu Dewi, mantan sekretaris pribadi Pak Tomi.""Dan Pak Budi Santoso, mantan kepala bagian keuangan."Mata Mahendra langsung berbinar."Bagaimana kondisi mereka?""Ibu
POV NauraSore menjelang malam.Naura baru saja tiba di rumah Jolina setelah menjalani sidang mediasi yang menguras tenaga dan emosinya.Ia mengembuskan napas panjang begitu memasuki rumah."Ibu, Naura pulang."Jolina yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menghampiri putrinya."Bagaimana hasil mediasinya, Nak?"Naura tersenyum tipis, meski sorot matanya masih menyimpan kesedihan."Mediasinya gagal, Bu.""Farhan ingin mempertahankan pernikahan ini.""Tapi keputusan Naura tidak berubah."Jolina mengusap lembut pipi putrinya."Ibu mendukung keputusanmu.""Yang penting kamu sudah memikirkannya dengan matang."Naura mengangguk."Sudah, Bu.""Aku sudah memaafkan Farhan.""Tapi aku tidak bisa kembali hidup bersamanya."Jolina memeluk putrinya erat."Ibu bangga karena kamu memilih memaafkan tanpa harus mengorbankan
POV NauraRuangan kembali hening.Naura masih memandang Ardi Wijaya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Meskipun kondisi fisiknya terlihat menurun, sorot matanya masih menyimpan ketegasan yang sama seperti dalam rekaman video yang mereka temukan."Pak Ardi," ucap Naura pelan. "Kalau Bapak bersedia menjadi saksi, aku yakin nama Ayah bisa dibersihkan."Ardi tersenyum tipis."Itu memang alasan saya berhenti bersembunyi, Naura.""Selama lima tahun saya hidup dengan rasa bersalah.""Saya membiarkan Noel menanggung semuanya sendirian.""Tapi sekarang saya tidak akan lari lagi."Naura mengangguk sambil menahan air mata."Terima kasih, Pak."Gibran kemudian membuka buku catatannya."Pak Ardi, saya akan mengajukan permohonan agar kesaksian Bapak dicatat secara resmi. Mengingat kondisi kesehatan Bapak, kami juga akan meminta penyidik dan jaksa mengambil keterangan di rumah saki
POV FarhanFarhan masih terduduk di ruang mediasi yang kini telah kosong.Tatapannya kosong mengarah ke pintu yang baru saja ditutup oleh Naura.Ia masih bisa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu.«"Semoga kamu menjadi ayah yang baik bagi anakmu nanti."»Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Bukan karena Naura menyindirnya.Tetapi karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa wanita itu benar-benar telah melepaskannya.Kuasa hukumnya menepuk pelan bahu Farhan."Pak Farhan.""Sidangnya sudah selesai."Farhan mengangguk pelan."Iya."Namun ia belum juga beranjak dari kursinya.---Di luar ruang mediasi.Tomi berjalan menghampiri putranya."Bagaimana hasilnya?"Farhan mengangkat wajahnya."Mediasi gagal."Tomi mengembuskan napas kasar."Dasar keras kepala."Farhan langs
POV NauraSeminggu kemudian.Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Hari pertama sidang perceraian.Sejak pagi, Naura sudah bersiap. Ia mengenakan setelan blazer berwarna krem dengan kemeja putih sederhana. Wajahnya tampak tenang, meski di dalam hati masih ada rasa gugup.Jolina menghampiri putrinya."Kamu sudah siap, Nak?"Naura mengangguk."Sudah, Bu.""Insyaallah hari ini semuanya berjalan lancar."Jolina menggenggam tangan putrinya."Ibu bangga padamu.""Bukan karena kamu memilih bercerai.""Tapi karena kamu berani memperjuangkan harga dirimu."Naura tersenyum tipis."Terima kasih, Bu."Tak lama kemudian, Mahendra datang bersama Gibran."Selamat pagi.""Pagi."Gibran membawa sebuah map berisi dokumen gugatan cerai dan beberapa berkas pendukung."Semua sudah siap.""Untuk sidang hari ini fokusnya ma
POV NauraNaura mengembuskan napas panjang. Setelah melihat seluruh bukti dan mendengar penjelasan dari video Ardi Wijaya, hatinya terasa jauh lebih tenang.Ia menatap Gibran dengan penuh keyakinan."Pak Gibran."Gibran mengangkat kepalanya."Iya, Naura.""Aku menunjuk Bapak sebagai kuasa hukumnya keluargaku.""Tolong wakili aku untuk menyerahkan seluruh bukti, dokumen, dan saksi kepada pihak yang berwenang.""Aku ingin semua diproses sesuai hukum."Gibran mengangguk mantap."Baik.""Saya akan menyiapkan seluruh laporan dan memastikan setiap bukti memiliki rantai penyimpanan yang jelas agar dapat digunakan dalam proses hukum."Naura mengembuskan napas lega.Ia kemudian menoleh kepada Mahendra.Sorot matanya dipenuhi rasa syukur."Kalau bukan karena kamu, Mahendra.""Dan bantuan Pak Gibran.""Mungkin aku hanya akan fokus mengurus per
Pintu ruang kerja terbuka cukup keras hingga membuat Farhan langsung mengangkat kepalanya. Tatapannya berubah tajam begitu melihat Nadya masuk dengan wajah tenang seolah tidak terjadi apa - apa."Kamu dari mana?" bentak Farhan pelan namun penuh emosi. "Kenapa yang datang malah wakilmu?"
Naura berdiam diri di ruang tamu pagi itu. Pandangannya terpaku pada jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Rumah terasa begitu sunyi, hanya suara detak jarum jam yang terdengar memenuhi ruangan.“Kenapa Mas Farhan belum pulang juga? Apa dia sibuk sekali atau jangan - jangan dia
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme







