Mag-log inFarhan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengambil jasnya yang terletak di sandaran kursi.
"Aku harus pulang."Nadya tidak berusaha menahannya."Hati-hati."Farhan hanya mengangguk pelan.Saat hendak membuka pintu apartemen, Nadya kembali memanggilnya."Farhan."Farhan menoleh."Terima kasih... karena setidaknya kamu tidak menyangkal tanggung jawabmu."Farhan tersenyum tipis, tetapi senyumnya dipenuhi penyesPOV NauraSatu bulan setelah putusan perceraian berkekuatan hukum tetap.Naura resmi menyandang status janda.Namun, ia tidak memiliki waktu untuk larut dalam kesedihan.Hari ini adalah awal perjuangan yang sesungguhnya.Di hadapannya berdiri gedung Pengadilan Negeri yang akan menentukan nasib perusahaan keluarganya.Mahendra menghampiri Naura yang sedang menatap gedung pengadilan."Gugup?"Naura mengembuskan napas perlahan."Sedikit.""Bukan karena takut.""Tapi karena aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun."Mahendra tersenyum tipis."Hari ini bukan hanya tentang perusahaan.""Tapi juga tentang nama baik ayahmu."Naura mengangguk mantap."Iya.""Dan aku akan memperjuangkannya sampai akhir."Tak lama kemudian, Gibran datang membawa beberapa map tebal."Semuanya sudah siap.""Hasil audit indepen
POV NauraSuasana di ruang perawatan kembali tenang setelah para penyidik selesai mengambil keterangan Ardi.Mahendra, Gibran, Naura, dan Jolina berpamitan agar Ardi dapat beristirahat."Terima kasih, Pak Ardi," ucap Naura sambil menyalami pria itu.Ardi tersenyum lemah."Jangan menyerah, Nak. Ayahmu menunggu keadilan."Naura mengangguk mantap."Saya janji."---Saat mereka keluar dari rumah sakit, ponsel Mahendra tiba-tiba berdering.Ia melihat nama asistennya, Reno.Mahendra langsung mengangkat telepon."Halo.""Pak Mahendra, kami berhasil menemukan dua orang yang selama ini kita cari."Mahendra langsung menghentikan langkahnya."Siapa?""Ibu Dewi, mantan sekretaris pribadi Pak Tomi.""Dan Pak Budi Santoso, mantan kepala bagian keuangan."Mata Mahendra langsung berbinar."Bagaimana kondisi mereka?""Ibu
POV NauraSore menjelang malam.Naura baru saja tiba di rumah Jolina setelah menjalani sidang mediasi yang menguras tenaga dan emosinya.Ia mengembuskan napas panjang begitu memasuki rumah."Ibu, Naura pulang."Jolina yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menghampiri putrinya."Bagaimana hasil mediasinya, Nak?"Naura tersenyum tipis, meski sorot matanya masih menyimpan kesedihan."Mediasinya gagal, Bu.""Farhan ingin mempertahankan pernikahan ini.""Tapi keputusan Naura tidak berubah."Jolina mengusap lembut pipi putrinya."Ibu mendukung keputusanmu.""Yang penting kamu sudah memikirkannya dengan matang."Naura mengangguk."Sudah, Bu.""Aku sudah memaafkan Farhan.""Tapi aku tidak bisa kembali hidup bersamanya."Jolina memeluk putrinya erat."Ibu bangga karena kamu memilih memaafkan tanpa harus mengorbankan
POV NauraRuangan kembali hening.Naura masih memandang Ardi Wijaya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Meskipun kondisi fisiknya terlihat menurun, sorot matanya masih menyimpan ketegasan yang sama seperti dalam rekaman video yang mereka temukan."Pak Ardi," ucap Naura pelan. "Kalau Bapak bersedia menjadi saksi, aku yakin nama Ayah bisa dibersihkan."Ardi tersenyum tipis."Itu memang alasan saya berhenti bersembunyi, Naura.""Selama lima tahun saya hidup dengan rasa bersalah.""Saya membiarkan Noel menanggung semuanya sendirian.""Tapi sekarang saya tidak akan lari lagi."Naura mengangguk sambil menahan air mata."Terima kasih, Pak."Gibran kemudian membuka buku catatannya."Pak Ardi, saya akan mengajukan permohonan agar kesaksian Bapak dicatat secara resmi. Mengingat kondisi kesehatan Bapak, kami juga akan meminta penyidik dan jaksa mengambil keterangan di rumah saki
POV FarhanFarhan masih terduduk di ruang mediasi yang kini telah kosong.Tatapannya kosong mengarah ke pintu yang baru saja ditutup oleh Naura.Ia masih bisa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu.«"Semoga kamu menjadi ayah yang baik bagi anakmu nanti."»Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Bukan karena Naura menyindirnya.Tetapi karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa wanita itu benar-benar telah melepaskannya.Kuasa hukumnya menepuk pelan bahu Farhan."Pak Farhan.""Sidangnya sudah selesai."Farhan mengangguk pelan."Iya."Namun ia belum juga beranjak dari kursinya.---Di luar ruang mediasi.Tomi berjalan menghampiri putranya."Bagaimana hasilnya?"Farhan mengangkat wajahnya."Mediasi gagal."Tomi mengembuskan napas kasar."Dasar keras kepala."Farhan langs
POV NauraSeminggu kemudian.Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Hari pertama sidang perceraian.Sejak pagi, Naura sudah bersiap. Ia mengenakan setelan blazer berwarna krem dengan kemeja putih sederhana. Wajahnya tampak tenang, meski di dalam hati masih ada rasa gugup.Jolina menghampiri putrinya."Kamu sudah siap, Nak?"Naura mengangguk."Sudah, Bu.""Insyaallah hari ini semuanya berjalan lancar."Jolina menggenggam tangan putrinya."Ibu bangga padamu.""Bukan karena kamu memilih bercerai.""Tapi karena kamu berani memperjuangkan harga dirimu."Naura tersenyum tipis."Terima kasih, Bu."Tak lama kemudian, Mahendra datang bersama Gibran."Selamat pagi.""Pagi."Gibran membawa sebuah map berisi dokumen gugatan cerai dan beberapa berkas pendukung."Semua sudah siap.""Untuk sidang hari ini fokusnya ma
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha







