LOGINAku dan Alex ternyata sangat cocok dalam segala hal. Setelah saling menyatakan perasaan, hubungan emosional maupun fisik kami berkembang sangat pesat. Esok adalah hari pernikahan kami. Malam ini, kami mengadakan pesta melepas masa lajang masing-masing.Alex berpesan dengan cemas, "Kalau ada apa-apa, segera telepon aku."Aku tertawa dan berkata, "Memang akan ada masalah apa? Pergilah bersenang-senang."Agar semua orang bisa menikmati pesta, aku hanya menyuruh pengawal berjaga di luar.Namun, aku tidak menyangka Welly akan menyelinap masuk ke pestaku.Di pertengahan pesta, saat semua orang mulai mabuk, aku pun merasa lemas. Seseorang menyodorkan segelas air. Aku mengira itu temanku, jadi aku meminumnya beberapa teguk.Tak lama kemudian, kepalaku terasa berat dan aku pun pingsan sepenuhnya.Saat membuka mata, aku melihat wajah menjijikkan Welly."Kamu gila! Beraninya kamu menculikku! Alex nggak akan melepaskanmu!"Aku bicara dengan sisa tenaga yang ada, lalu aku melihat Kendal tertawa s
Ciuman ini terasa sangat posesif dan lama. Baru setelah aku merasa hampir kehabisan napas, Alex melepaskanku. Welly gemetar karena amarah.Alex melangkah mendekati Welly dengan penuh tekanan dan berkata, "Sepertinya bisnis Perusahaan Warha belakangan ini masih terlalu lancar, sampai Pak Welly punya waktu luang untuk mempertanyakan perasaan kami sebagai tunangan."Welly menatapnya dengan tatapan benci sekaligus takut. "Pak Alex, apa hebatnya membawa urusan bisnis ke dalam perasaan? Kalau berani, ayo kita bersaing secara adil!""Ziana, kamu nggak perlu takut. Aku hanya sedang jatuh di dunia bisnis. Beri aku waktu, aku akan kembali ke puncak dan memberimu kehidupan yang kamu inginkan."Aku menatap album foto itu tanpa menyahut. Hal itu membuat Welly semakin besar kepala dan berkata, "Pak Alex, apa gunanya bisnismu sukses? Apa gunanya menjadi orang terkaya? Kamu nggak akan pernah bisa mendapatkan hati Ziana. Ikatan perasaan di antara kami nggak bisa dibandingkan dengan apa pun!"Alex me
(Sudut Pandang Tokoh Utama)Saat pertama kali melihat Alex, aku memang merasa dia tampak sangat familiar.Begitu pandanganku jatuh pada jam tangan di pergelangan tangannya, barulah sebuah dugaan muncul di benakku. Aku berkata, "Kamu orang asing di jalan waktu itu?"Sadar aku masih merangkul lengannya, aku segera menarik tanganku. Kilatan kekecewaan melintas di wajahnya, lalu dia mengangguk pelan."Aku sangat suka jam tangan ini." "Hanya saja, mantan pacarmu sepertinya nggak akan menyerah semudah itu. Perlu bantuanku?"Aku menggeleng dan berkata, "Aku akan menyelesaikannya sendiri, hal ini nggak akan mengganggu perjodohan kita."Aku menunjuk ke arah perhiasan-perhiasan itu. "Semua ini terlalu berharga. Jam tangan yang kuberikan padamu mungkin nggak ada apa-apanya dibanding harga perhiasan ini. Sebaiknya kamu ambil kembali saja." Lagi pula, jam tangan itu kuberikan padanya secara tidak sengaja."Bulan depan kita akan menikah. Istri Alex layak mendapatkannya." "Simpan saja dengan tenan
(Sudut Pandang Orang Ketiga)Hingga tiba di rumah, Welly masih tidak mau percaya bahwa Ziana benar-benar akan menikah dengan orang lain. Apalagi orang itu adalah putra kedua Keluarga Rosvi, calon penguasa Perusahaan Rosvi di masa depan.Welly teringat betapa dominannya dia di depan Ziana dulu. Ziana selalu mencintainya dengan tulus, dan semua orang di sekitarnya menjadi saksi atas hal itu. Namun, tatapan dingin dan acuh tak acuh Ziana di toko tadi, terasa seperti bongkahan es yang menyumpal mulutnya. Sangat asing.Welly mulai menggeledah rumahnya dengan kalut, tapi dia menyadari keadaan rumah masih sama seperti sebelumnya. 'Ziana pasti hanya sedang merajuk dan menunggu untuk dibujuk,' pikirnya. Namun, Ziana adalah seorang nona besar yang tidak pernah mementingkan harta benda, dan kejadian hari ini sama sekali tidak terlihat seperti akting.Welly mengurung diri di ruang kerja dengan pikiran yang kacau. Dalam kemarahannya itu, dia menendang tempat sampah hingga terguling. Dari dalam
Suara itu terdengar rendah dan berwibawa. Para pelayan toko yang sedari tadi berisik, seketika terdiam dan membelah jalan. Mereka memberikan ruang bagi pria itu sambil membungkuk hormat. "Selamat datang, Tuan Muda!"Aku mendongak. Seorang pria tampan dengan tubuh tegap dan tinggi sedang berjalan ke arahku. Alisnya tajam, matanya bak bintang, dengan fitur wajah yang tegas dan dalam. Seluruh tubuhnya memancarkan aura dominan yang tak tertandingi.Tanpa basa-basi, dia melayangkan satu pukulan keras tepat ke wajah Welly. Setelah itu, dia berbalik dengan gerakan gesit, berdiri di sampingku, lalu menyeka tangannya dengan sapu tangan."Maaf, aku terlambat."Dia adalah pria yang dijodohkan denganku, Alex.Pria itu menjentikkan jarinya dan seketika para staf toko berbaris di hadapanku membawa baki-baki perhiasan. Kilauan berliannya nyaris membuat mataku silau.Kendal sedang memegangi Welly dan berteriak tidak terima, "Kamu pria gila! Beraninya kamu memukul Kak Welly! Apa kamu tahu siapa dia?"N
Aku belum pernah melihat Welly semarah ini. Urat-urat di lehernya menonjol, matanya merah padam seperti binatang buas yang terpojok."Minta maaf! Aku bilang, minta maaf padanya!"Aku meraba punggungku, tanganku terasa basah. Ternyata benturan tadi membuatku berdarah."Aku nggak berniat ...."Welly memotong ucapanku. Dia sama sekali tidak memedulikan lukaku dan terus memaksaku meminta maaf. Kendal yang berada di belakangnya melemparkan senyum licik ke arahku.Aku merasa seolah seluruh tenagaku telah terkuras habis, hanya menyisakan raga yang hancur berantakan. Jiwaku terasa mati rasa dan konyol saat mengikuti perintah yang sia-sia itu. Aku berkata, "Kendal, maafkan aku."Welly mendengus dingin, lalu menggendong Kendal pergi.Aku menatap album foto buatanku. Seandainya saja Welly mau melirik sedikit saja, mustahil dia tidak melihatnya. Namun sudahlah, benda ini tidak perlu dibawa pergi. Aku membuang album itu beserta sebuah flashdisk ke dalam tempat sampah....Ketika tengah malam.W







