LOGINDemi melindungi Ayah, aku disiksa oleh penculik selama sejam. Namun, Ayah malah sibuk merayakan ulang tahun putri adopsinya yang ke-18. Sebelum meninggal, aku menelepon Ayah. "Tapi, Ayah, hari ini juga ulang tahunku. Ini terakhir kalinya, Ayah. Bisa nggak Ayah mengucapkan selamat ulang tahun untukku?" "Kamu benar-benar nggak punya hati! Karena ulang tahun, kamu membunuh ibumu! Kamu masih mau merayakan ulang tahun? Kenapa kamu nggak mati saja?" Usai berbicara, dia langsung mematikan panggilan. Keesokan hari, jenazahku ditempatkan di pot bunga depan kantor polisi. Ayah bertanggung jawab atas otopsi. Dia bisa melihat bahwa pembunuhnya sangat kejam dan tidak takut pada polisi. Namun, dia sama sekali tidak tahu bahwa korban adalah putri yang paling dibencinya.
View More"Danny, is there something on your mind?" Miss Riley's voice interrupted the almost silence of the classroom.
My eyes darted to her, then down to the book I should have been reading, then where they had started -- on Raven on the other side of the classroom. "No," I lied. That's what a third grader does with their teachers when confronted about basically anything. "Wouldn't it be a really great idea to have science on your mind instead of nothing?" I shrugged, then pretended to read my science textbook, but looked at Raven out of the corner of my eye. My eyes wouldn't even focus that close, but Raven's nose almost touched the page of the book as she read. My sister's entire head moved back and forth across the page instead of just her eyes. I almost didn't see her before she disappeared around the corner of the school building. The basketball coach wanted to talk to me about why I hadn't come to the try-outs the previous day, and made me late getting outside to meet Raven. I couldn't tell if my sister struggled because the other girl led her by the hand too fast, or because Raven didn't want to be following her. "Stop it!" Raven's voice reached me as I rounded the corner where I had last seen her. I didn't see anyone, so I sprinted toward the outbuilding where they stored the groundskeeping equipment for the football field, nestled against the back of the football bleachers. I probably imagined the swish of Raven's cane as she swung it in front of her, but the grunt the older boy made as he jumped away from Raven and my shoulder met his rib cage was real. The hands that dragged me off the ninth grader under me were also real, so were the feet that kicked my ribs and the fists that followed up with punches to my face. "Fucking seventh graders, they never know their place. This is a reminder, Boy Wonder." I recognized the voice. It belonged to the ninth grader that had warned me of the consequences if I went to the basketball tryouts. I assumed the other two boys I had seen before tackling that one were also basketball players. I didn't know the girl, the one who had led Raven there, but assumed she too was a ninth grader. I probably moaned in pain. My ribs, all of them, were throbbing, I felt one eye swelling closed and I tasted blood in my mouth. "Stop touching me!" Raven demanded. The swish of her cane in the air definitely was not a figment of my imagination this time. "Rae..." I moaned. "Leave me alone!" she growled and I heard her cane cut through the air above me again. "They're gone," I coughed through my swollen lips. "Danny?" I felt the gentle nudge of her cane on my hip, then the tentative touch of her hand on my calf. "Get up, Danny. We're gonna miss the bus." I rolled to my back and tried to sit up, but the sharp pain in my sides forced me to stop. "What just happened, Rae?" "It sounded like somebody got beat up." I opened the eye that would, and looked at her. She was squatting next to me, staring under the football bleachers. Her fingertips barely rested on my shin. My sides hurt even though I held my breath and clenched my muscles, but I managed to stand without much more fuss. Raven turned her face toward mine as she straightened up to stand next to me. She looked scared. "Are you okay, Danny?" "I'm fine. Come on," I instructed her, then put her hand on my arm as I started back to the front of the school and the bus I hoped was waiting for us. "If you're fine, why are you talking funny? "What?" Raven sounded annoyed, and had stopped her fingers in the middle of the page she was reading. Even in the flickering light from the muted basketball game I was allegedly watching on the television, I knew her tone was a ploy to goad me just a little. "What what?" I asked her. "I can hear you looking at me." I had to laugh. She chose hear this time, but it was just as likely she might have chosen taste, or smell. She never said see. Everybody knew that wasn't true, and she almost never chose feel because that was the obvious choice. My favorite, no matter what, is smell. "I can smell you looking at me" is so much funnier than hear. Taste would be pretty funny, too. Honestly though, she probably could hear me looking at her. Boston's tail thumped lightly on the carpet next to her chair, just like it did whenever he was off work and thought he might possibly get my attention and a scratch behind his ear or a pat on the head. "You know I hate people staring at me. They're trying to figure out what it's like to be the poor blind girl, but you already know what that's like, so I'm asking again -- what?" I looked back at the game, our college alma mater against their archrival, and listened. Boston's tail was silent now. Three years ago I played in that game. I came off the bench to score twenty-three points and we won by ten. This game didn't look like it would be such an easy win, if we won at all. "Now you can't even look at me?" Raven accused me, but I could hear the implication of a giggle in her voice. I looked back at my sister, and Boston raised his head and started with his tail again. "I'm just trying to decide when I should tell you something that will change your mind." "I'm dying to find out what you think is going to change my mind. Now is probably as good a time as any." "You know it's time, Rae. He's old..." "Don't say it, Danny," she whimpered. Raven called me Danny when we were kids, but when we got to be teenagers she started using Dan almost exclusively. We never talked about it, but I learned that "Danny" was her safe word, only used now when she was terrified.Setelah itu, Ayah kembali ke rumah seolah-olah tidak ada yang terjadi. Saat dia tiba, Monica baru saja selesai sarapan dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ayah memintanya untuk mengambil cuti sehari."Akhir-akhir ini Ayah bersikap dingin padamu dan mungkin melukai perasaanmu. Hari ini, Ayah ingin menebusnya."Monica sangat senang mendengar itu dan segera menghubungi gurunya untuk meminta izin. Ayah memasakkan sepiring nasi goreng telur yang lezat untuknya."Ayah, kenapa Ayah nggak makan?""Ayah nggak lapar. Kamu makan saja."Monica dengan senang hati melahap seluruh nasi goreng itu hingga tidak tersisa. Namun, begitu dia selesai makan, Ayah berkata dengan nada datar, "Nasi yang baru saja kamu makan itu mengandung racun mematikan. Kamu akan segera mati."Wajah Monica langsung berubah drastis. Dengan panik, dia menyapu semua peralatan makan dari meja dan menjatuhkannya ke lantai."Ayah! Kenapa Ayah melakukan ini padaku?""Karena kamu telah membunuh Candice. Selain itu, kamu sudah me
Di ruang interogasi.Ayah duduk di satu sisi kaca, sementara "Bintang" di sisi lainnya."Bintang" mengangkat kepalanya dan memandang Ayah. Tiba-tiba dia menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak. Dia tahu bahwa hukuman mati tidak terhindarkan lagi. Namun, sebelum itu, dia ingin menyeret orang lain untuk merasakan penderitaannya.Di depan Ayah, dia mulai menceritakan detail kematianku dengan nada penuh ejekan, "Lucu sekali putrimu waktu menangis. Dia punya dua lesung pipi yang cantik seperti putriku.""Jadi, aku mengambil dua lesung pipi itu saat itu dia masih hidup, lho. Tahu nggak, dia kesakitan sampai nggak bisa menangis lagi, tapi dia masih memanggil 'Ayah'."Seorang polisi di sebelah langsung berteriak, "Diam! Jangan menyebutkan detail kasus yang dapat memicu trauma keluarga korban!Meski punggung Ayah terlihat semakin membungkuk, dia tetap meminta polisi membiarkannya berbicara."Awalnya, aku pikir wanita itu menipuku dengan memberiku orang yang salah. Aku hampir marah besar. Tapi
Lima hari kemudian, Tony menelepon. Kasus ini mendapatkan terobosan besar. Sampel darah di lokasi kejadian cocok dengan salah satu anggota keluarga kriminal Q.Tidak salah lagi, itu dia ... anak dari pembunuh berantai yang sadis lima tahun lalu. Ayah segera bergegas ke kantor polisi.Mereka mengadakan pertemuan untuk membahas kasus tersebut dan dengan cepat mengidentifikasi tersangka utama, dengan nama samaran "Bintang".Saat semua orang bersiap untuk operasi penangkapan, ponsel Ayah berbunyi, sebuah pesan MMS masuk. Di dalam pesan itu tertulis.[ Lalu kenapa kalau kalian tahu itu aku? Dasar polisi bodoh nggak berguna ]Disertai juga sebuah rekaman suara. Ayah menekan tombol play."Sialan, salah tangkap orang.""Hei, apa hubunganmu sama Dani? Kenapa keluar dari rumahnya?""Itu aku. Aku Dani." Itu adalah suaraku."Omong kosong! Baru saja kamu bilang bukan. Lagian, aku sudah selidiki. Dani itu laki-laki."Setelah itu, terdengar suara pukulan brutal yang diiringi jeritan dan tangisan kesa
Ayah termenung dengan tatapan yang hampa dan duduk di lantai sangat lama.Tiba-tiba, seolah-olah teringat sesuatu, dia bangkit dengan langkah yang terhuyung dan berlari kembali ke ruang forensik. Dia mendekati tubuhku yang hancur dengan tangan gemetaran. "Candice, apa benar ini kamu, Candice?"Suaranya serak. Saat dia menyebut namaku, air matanya mengalir deras ke tubuhku dengan tak terkendali. Ayah menangis dan tangisannya begitu menyayat hati. Apakah itu karena rasa bersalahnya terhadapku? Aku tidak tahu."Candice, kenapa kamu nggak menjawab? Bicaralah, katakan sesuatu! Ini salah Ayah, Ayah yang salah."Akhirnya, Ayah mengucapkan permintaan maafnya. Tapi, Ayah, semuanya sudah terlambat.Ayah memeluk tubuhku sambil mengatakan begitu banyak hal. Kadang dia menangis, kadang dia tertawa. Dia terlihat seperti orang gila. Pada akhirnya, Ayah pingsan dan dibawa ke rumah sakit.Begitu sadar, dia mencabut selang infusnya dan berlari keluar seperti orang kesetanan. Dia menyetir dengan kecepata
Bibi seperti terpikir akan sesuatu. Tubuhnya terhuyung. Dia terjatuh. Ayahku pun kaget dan buru-buru memapahnya.Setelah menyuruh orang menjaga Bibi, Ayah tiba-tiba berlari ke mobil polisi. Di bawah tatapan kaget semua orang, dia menginjak pedal gas dan pergi."Nggak mungkin, ini nggak mungkin." Di da
Keesokan hari, Ayah pergi ke kantor polisi. Begitu masuk, dia langsung bertanya kepada asistennya, "Apa sudah ada keluarga yang datang untuk mengambil jenazah?"Ketika mendengar jawaban asisten, Ayah sontak murka. "Keluarga macam apa ini? Anaknya disiksa sampai mati, tapi mereka diam saja? Nggak ber
Aku punya bekas luka besar di belakang telinga kiriku. Itu adalah bekas luka bakar saat kecil.Ayahku menyeka debu di telinga, berusaha untuk mencari sesuatu, tetapi tidak ada.Aku baru ingat, orang itu memotong semua bagian tubuhku yang punya bekas luka dan tahi lalat."DNA korban telah diekstraksi
Setelah dibunuh dan dimutilasi, potongan tubuhku dimasukkan ke beberapa pot bunga. Malam harinya, penculik menaruh pot bunga di depan kantor polisi.Ketika seorang polisi muda mengambil pot pertama, dia langsung berlari ke samping untuk muntah, lalu berteriak histeris.Setelah dilakukan pengujian, d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.