بيت / Romansa / Setelah Semua Luka Pulang / 48: Drama Hidup Farin

مشاركة

48: Drama Hidup Farin

مؤلف: Lavendulaaa
last update تاريخ النشر: 2026-09-22 11:12:46

Mobil sudah terparkir indah di depan kafe bunda, aku turun bersama dengan Arlan. Pria itu menyodorkan lengannya dan aku pun menerimanya. Aku memeluk lengan kiri Arlan dan berjalan masuk ke kafe milik Bunda. Aku berdiri di depan kasir bersama Arlan. Seperti biasa, bagian kasir itu masih mengantar pesanan ke belakang untuk diproses. Aku menunggu bersama Arlan dan saat karyawan itu kembali, aku tersenyum. Aku melepas lengan Arlan saat karyawan itu ada di depanku.

“Bunda belum ke si
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Setelah Semua Luka Pulang   50: Menemui Keluarga Shania

    Dua hari berpikir tentang apa yang terjadi jika aku mengabarkan pada keluarga sahabatku itu. Aku juga masih menunggu Audrey yang memutuskan kapan aku harus mengatakan semua. Kemarin aku kembali ke rumah sakit dan seharian aku di sana. Aku menemani sahabatku dan mencoba mengajaknya berbicara, meski aku selalu mendapat respons yang sama. Diam.“Kenapa gak dimakan?” tanya Arlan yang mengejutkanku. Aku menatap piringku yang masih terdapat makanan di atasnya. Aku hanya tersenyum dan mulai memakannya. “Hari ini mau ke rumah sakit atau ke kantor?” tanya Arlan. “Kantor,” jawabku singkat. Kami makan dan segera berangkat ke kantor setelah aku membersihkan semua. Arlan memberitahu padaku bahwa asisten rumah tangga baru akan masuk besok da mereka akan tinggal bersama kami, hanya saja mereka tinggal di paviliun belakang.“Kamu masih ke pikiran sama Shania?” tanyanya membuatku menoleh.“Iya, aku bingung harus ngomong apa ke k

  • Setelah Semua Luka Pulang   49: Percobaan Bunuh Diri

    Seketika duniaku berhenti saat melihat kenyataan di depanku. Seorang wanita periang yang aku kenal, kini terdiam dan terduduk dengan pandangan kosong di brankar. Tas tanganku terjatuh, namun itu tidak mengalihkan pandangannya. Aku mendekatinya dan melihat pergelangan tangannya.“Sha, are you okay?” tanyaku, namun dia tidak meresponku. Aku menepuk pelan bahunya, tetap tidak ada respons. Aku mulai mengeluarkan bulir bening dari mataku. “Sha, kamu kenapa? Kenapa seperti ini? Apa yang membuatmu seperti ini, Sha?” tangisku yang juga tidak mendapat respon darinya.“Farin,” panggil Arlan saat berada di sampingku. Aku hanya melihatnya sebentar dengan wajahku yang sembab. “Butuh pelukan?” tanyanya yang membuatku menoleh kembali padanya. Dia hanya melihatku menunggu responku. Aku melirik sahabatku yang masih saja diam terpaku di tempat tidur rumah sakit itu. Aku memeluknya dan menangis di pelukannya.Hangat dan tenang, itu yang aku rasa

  • Setelah Semua Luka Pulang   48: Drama Hidup Farin

    Mobil sudah terparkir indah di depan kafe bunda, aku turun bersama dengan Arlan. Pria itu menyodorkan lengannya dan aku pun menerimanya. Aku memeluk lengan kiri Arlan dan berjalan masuk ke kafe milik Bunda. Aku berdiri di depan kasir bersama Arlan. Seperti biasa, bagian kasir itu masih mengantar pesanan ke belakang untuk diproses. Aku menunggu bersama Arlan dan saat karyawan itu kembali, aku tersenyum. Aku melepas lengan Arlan saat karyawan itu ada di depanku.“Bunda belum ke sini, Mbak?” tanyaku pada karyawan itu.“Tadi bilangnya sih, jam makan siang ke sini Mbak. Juga sudah bilang kok katanya ada Mbak Farin sama suaminya. Ini suaminya, Mbak?” tanya karyawan itu. Aku hanya mengangguk saja.“Mau pesan seperti biasa ya, Mbak, makan loh ya bukan dessert,” kataku pada karyawan itu.“Siap Mbak. Minumnya berarti jus melon, Mbak? Bukan amerikano?” tanyanya yang kubalas anggukan saja.“Mas, pesan apa?” tanyaku pada Arlan

  • Setelah Semua Luka Pulang   47: Romantis?

    Setelah sepuluh hari cuti, akhirnya aku masuk kembali ke kantor. Aku menata sarapan yang tadi sudah aku masak di meja makan. Aku sudah siap dengan pakaian kantor dan hari ini aku berangkat bersama Arlan karena mobilku masih berada di rumah Bunda. Aku melihat Arlan turun dengan kemeja yang sungguh pas di tubuhnya dan jas yang dia bawa. “Makanlah,” kataku saat Arlan menyampirkan jas yang dibawanya di kursi sampingnya.“Baik, terima kasih Farin,” sahutnya sambil membenarkan dasinya. Aku hanya mengangguk dan menaruh piring yang sudah aku isi dengan nasi goreng dan telor yang aku sediakan.Kami pun makan dengan tenang tanpa sebuah pembicaraan berarti. Aku membersihkan meja makan terlebih dahulu dan menaruh peralatan yang tadi kami pakai. Aku segera membersihkannya dan mengembalikannya ke rak piring. Aku keluar dari dapur dan melihat Arlan masih duduk di kursinya.“Arlan, berangkat, yuk,” kataku. Dia menganggukkan kepalanya dan mula

  • Setelah Semua Luka Pulang   46: Mulai Membaik

    Matahari sudah mulai melakukan kewajibannya dan aku pun mulai bergerak di dapur untuk membuat makanan. Tadi pagi sekali setelah subuh aku melihat kulkas yang sangat kosong membuatku berbelanja bersama dengan ibu-ibu kompleks yang juga berbelanja. Aku memilih sayur bayam dan menggoreng tempe-tahu yang tadi aku belanjakan. Aku masih tidak tahu makanan apa yang disukai oleh Arlan.Setelah semuanya siap, aku mulai naik kembali dan membangunkan pria itu. Aku melihatnya yang masih bergelut dengan selimutnya dan napasnya yang terlihat teratur. Aku menepuk pelan bahunya membangunkan pria di depanku ini.“Arlan, bangunlah. Aku sudah selesai masak, ini sudah mulai siang,” ujarku yang membangunkannya. Dia hanya menggeliat dan mengubah posisinya membelakangi diriku.“Arlan, bangunlah,” ucapku sekali lagi sambil menepuk bahunya sedikit keras. Dia mulai membuka matanya dan melihatku. “Masih pagi sekali, Farin,” katanya dengan suara seraknya

  • Setelah Semua Luka Pulang   45: Rumah Baru

    Aku terbangun sendiri tanpa Arlan. Aku memilih untuk ke kamar mandi sebelum keluar dari kamar. Aku melihat Arlan yang tertidur di sofa. Aku memasak makanan sebelum membangunkan Arlan. Setelah selesai memasak, aku membereskan sisa wine semalam. Aku melihat Arlan terbangun saat aku membereskan meja. Aku berjalan ke dapur untuk mencuci gelas. Aku melihat Arlan masih duduk saat mengeringkan gelas itu.“Bangunlah, makanan sudah siap,” kataku yang langsung dilakukan. Arlan keluar dengan wajah yang lebih segar. Aku memberikan air madu untuknya yang diterima dengan baik. Aku duduk di hadapannya dan menyodorkan makanan yang sudah kusiapkan. “Kamu mau pulang hari ini atau besok?” tanyanya membuatku sedikit terkejut.“Apa semua kepentinganmu sudah selesai?” tanyaku bingung.“Sudah,” jawabnya sambil memakan makanannya. Aku hanya melihatnya tidak berkomentar kembali. Aku bingung harus merespon seperti apa. Aku

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status