Beranda / Rumah Tangga / Setelah Usai Bersamamu / Terbangun Di Ruangan Asing

Share

Terbangun Di Ruangan Asing

Penulis: Ife Bryant
last update Tanggal publikasi: 2026-09-24 21:54:09

PENYELAMAT

"A-anak saya di mana?!"

Mataku langsung terbelalak lebar, berteriak panik begitu kesadaranku ditarik kembali oleh rasa sakit yang menusuk tajam di sekujur tubuh. Bau antiseptik yang menyengat langsung menusuk hidung, menggantikan aroma hujan dan jalanan aspal dingin yang terakhir kali kurasakan.

Refleks, tanganku yang gemetar meraba perut.

Kosong.

Perut buncit yang selama tujuh bulan ini menjadi tempatku berbagi detak jantung, kini berubah rata dengan balutan perban tebal yang terasa kencang di kulit. Sensasi horor itu merayap naik ke tenggorokan, membuat nafas pendek-pendekku tersengal-sengal.

Dimana bayiku? Apakah malam jahanam itu telah merenggut nyawa darah dagingku?

"Tenanglah, jangan bergerak terlalu cepat. Jahitan operasi kamu bisa terbuka."

Suara bariton yang tenang namun tegas itu menghentikan kepanikan ku sesaat. Aku mendongak kaku, menoleh ke arah sumber suara di sudut ruangan.

Seorang pria jangkung dengan postur tegap berdiri menjaga jarak sopan di samping ranjang rumah sakit. Kemeja putihnya tampak kusut oleh guliran waktu semalam, dan jas mewah yang tersampir di sandaran kursi memperlihatkan noda bercak darah kering — darahku yang tercecer saat ia menyelamatkanku.

Wajahnya tampan dengan rahang tegas, memancarkan aura dominan yang membuatku seketika bergidik waspada.

"Anda siapa?" suaraku tercekat, air mata langsung tumpah membasahi pipi pucatku. "Kenapa saya ada di sini? Di mana anak saya?! Jawab saya!"

Pria itu mengangkat kedua tangannya pelan, sebuah gestur universal untuk menenangkan perempuan yang tengah histeris. Tatapan matanya yang tajam kini melembut, menyalurkan ketenangan yang mati-matian kucari.

"Bernafaslah perlahan," ujarnya dengan nada suara yang dalam dan berwibawa. "Anakmu selamat. Dia laki-laki. Dia lahir prematur tadi malam, dan sekarang sedang mendapatkan perawatan intensif di dalam inkubator."

Isak tangisku pecah seketika, begitu keras hingga dadaku terasa nyeri. Rasa lega yang luar biasa menghantam benteng pertahananku. Beban berat pun seolah diangkat dari pundakku.

"Alhamdulillah ya Allah... terima kasih..." bisikku gemetar, meremas seprai putih rumah sakit dengan sisa-sisa tenaga.

Pria itu bergeser sedikit untuk mendekat, mengambil segelas air putih dan menyodorkannya padaku, namun aku terlalu gemetar untuk menerimanya. Ia meletakkannya kembali ke nakas tanpa memaksa.

"Minumlah nanti jika kamu sudah tenang," ucapnya pelan. "Fokuslah pada pemulihan dirimu dahulu. Mengenai biaya rumah sakit dan semua keperluan persalinan darurat semalam, kamu tidak perlu memikirkannya."

Aku menatapnya lekat-lekat, perasaan bersalah dan bingung bergemuruh di dada. Pertemuan kami begitu asing, tapi ia menyelamatkan nyawaku dan bayiku di saat suami sahku sendiri dengan tega membuang kami ke tengah badai hujan.

"Kenapa Bapak menolong saya?" suaraku tercekat di tenggorokan. "Saya tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan Bapak. Saya perempuan malang yang baru saja diusir oleh suami saya sendiri..."

Pria itu terdiam sejenak. Sorot matanya menyiratkan kemarahan tertahan saat mendengar kata "diusir", seolah ia tahu persis betapa kejamnya dunia yang baru saja kuhadapi.

"Tidak semua hal di dunia ini harus dibalas dengan materi," jawabnya dingin namun penuh karisma. "Manusia selayaknya memang harus saling menolong."

Sebelum aku sempat membalas ucapannya, dering ponsel di saku celana pria itu bergetar. Ia melirik layar ponselnya sekilas, lalu mengangguk kecil sebelum berbalik melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota.

Dari tempatku berbaring, aku hanya bisa memperhatikan siluet punggungnya yang kokoh. Entah siapa nama pria misterius ini, dan rahasia apalagi yang sedang ia simpan di balik jas mewahnya.

Yang aku tahu pasti, malam badai itu telah meruntuhkan kehidupan lamaku, sekaligus mempertemukan aku dengan penyelamat yang kehadirannya jauh lebih menakutkan sekaligus menenangkan dari bayang-bayang Mas Andre.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Usai Bersamamu    Kemarahan Tuan Diningrat

    ​"Apakah Adrian sudah gila, Mas?! Berani-beraninya dia menentang keputusan kita demi perempuan murahan itu!"​Jeritan Nyonya Besar Diningrat memecah keheningan pagi di ruang makan utama kediaman keluarga Diningrat yang megah. Suaranya bergetar hebat, mencerminkan kepedihan dan kemarahan yang sudah di ambang batas. Buku-buku jarinya mencengkeram erat tepi meja makan yang terbuat dari marmer, menatap kosong pada kursi kosong di ujung ruangan — kursi yang biasanya ditempati oleh putra tunggal kebanggaan mereka.​Tuan Besar Diningrat duduk diam di ujung meja. Wajah paruh baya itu tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Rahangnya mengeras kaku, sementara matanya yang tajam menatap nanar segelas kopi hitam yang belum tersentuh sama sekali. Sejak semalam, rumah utama ini tidak pernah benar-benar tenang. Berita tentang Adrian yang secara terang-terangan membangkang, melepas seluruh fasilitas perusahaan, dan memilih hidup bersama seorang wanita asing yang masih berstatus istri orang telah me

  • Setelah Usai Bersamamu    KEBINASAAN

    "Kamu sudah kehilangan akal sehat, Adrian! Kartu kredit mu akan diblokir total, dan ayahmu sedang bersiap menggelar rapat darurat untuk mendepakmu dari kursi direktur utama!""Biarkan saja. Itu bukan urusanmu, Arsen. Pergi dari rumahku dan jangan campuri urusan ku lagi!."Suara bantingan pintu ruang kerja pribadi Adrian mengakhiri perdebatan panas itu. Dari balik dinding pembatas lantai dua tempatku berdiri, seluruh darahku seolah tersedot habis. Kakiku terasa lemas seketika.Berita itu menghantam dadaku bagaikan palu godam. Ayah Adrian benar-benar bertindak kejam. Seluruh fasilitas, kartu kredit, hingga posisi Adrian di perusahaan besar itu kini dipertaruhkan dan semua itu terjadi semata-mata karena pria tersebut memilih melindungiku dan bayiku.Rasa bersalah yang teramat besar langsung mencengkeram rongga dadaku, membuat napas pendek-pendek ku terasa sangat sesak.Aku adalah racun bagi Adrian.Pikiran itu berkelebat kejam di kepalaku. Sebelum malam pengusiran itu, Adrian adalah seo

  • Setelah Usai Bersamamu    Pilihan Di Ambang Kehancuran

    "Pilih sekarang, Adrian! Tetap menjadi penerus tunggal keluarga Diningrat, atau pergi secara tidak terhormat bersama perempuan buangan yang tidak jelas asal-usulnya itu?!"Gebrakan meja kaca di ruang tamu rumah peristirahatan privat milik Adrian bergetar keras. Suara Tuan Besar Diningrat menggema dingin, sarat akan amarah yang sudah mencapai puncaknya.Aku yang berdiri kaku di balik pilar lantai dua sambil memeluk Gibran erat-erat dalam dekapanku menahan napas dengan dada bergemuruh. Kedatangan orang tua Adrian bersama Fani yang tiba-tiba melacak keberadaan tempat ini berubah menjadi medan pertempuran yang paling menakutkan dalam hidupku.Adrian berdiri tegap di hadapan ayahnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, rahangnya mengeras tajam, memancarkan aura ketenangan yang begitu membekukan."Aku tidak pernah meminta tahta atau harta warisan itu, Pa," jawab Adrian dengan suara bariton yang begitu tenang namun tajam menghujam. "Kalau Papa ingin memakai kekayaan itu untuk me

  • Setelah Usai Bersamamu    Sumpah Di Atas Reruntuhan

    Suara bantingan pintu dari kepergian Tuan Besar Diningrat masih menyisakan dengung ngilu di telingaku. Napasku memburu, sementara dadaku bergemuruh hebat. Pria paruh baya tadi baru saja mengancam akan mencoret Adrian dari daftar pewaris kekayaan keluarga Diningrat —semua itu gara-gara aku dan bayiku.Adrian menarik kursi dan duduk kembali di samping ranjangku. Wajahnya tetap tenang, seolah ancaman pemecatan dari tahta keluarga konglomerat itu tidak lebih berharga dari angin lalu."Adrian..." suaraku tercekat, air mataku kembali meleleh membasahi pipi. "Kenapa... kenapa kamu harus separah ini membelaku? Kamu baru saja mempertaruhkan masa depanmu sendiri demi aku... wanita asing yang tidak punya apa-apa."Adrian menatapku lekat-lekat. Sorot matanya yang tajam melembut, menyalurkan kehangatan yang belum pernah kudapatkan seumur hidupku bahkan dari Mas Andre, pria yang dulu kusebut suami."Karena aku bukan tipe pria yang bisa diam melihat manusia lain diinjak-injak di hadapanku, Ayu," jaw

  • Setelah Usai Bersamamu    Pertentangan Keluarga Diningrat

    "Adrian! Kamu benar-benar anak yang sudah kehilangan akal sehat!"Suara bentakan Tuan Besar Diningrat menggema di seluruh sudut ruangan rawat inap yang mewah itu. Kemurkaan terpampang jelas di wajah pria paruh baya tersebut, membuat udara di sekitar kami terasa begitu menyesakkan.Aku yang baru saja siuman dari operasi darurat hanya bisa terdiam kaku di atas ranjang. Jantungku berdegup kencang, dihantui rasa takut yang luar biasa. Caci maki dan pengusiran yang kuterima dari keluarga Andre beberapa hari yang lalu seolah terulang kembali, kali ini dalam skala yang jauh lebih besar dan menakutkan. Keluarga Diningrat adalah raksasa bisnis di kota ini yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sedetik.Namun, Adrian sedikit pun tidak bergeming. Pria itu tetap berdiri kokoh di samping ranjangku, memasang badannya sebagai perisai pelindung yang tangguh."Aku sangat sadar dengan apa yang kukatakan, Pa," jawab Adrian dengan nada suara yang dingin, tenang, namun penuh keyakinan. "Ayu dan ana

  • Setelah Usai Bersamamu     Badai Di Ruang Operasi

    "Tahan sebentar, Ayu. Kamu harus kuat!" Suara bariton Adrian terdengar panik, mengiris kesadaranku yang mulai menipis akibat rasa sakit luar biasa di perut bagian bawah. Darah segar merembes begitu deras, membasahi kain seprai putih rumah sakit saat aku dibopong paksa kembali menuju ruang tindakan darurat. Di luar lorong, samar-samar kulihat bayangan Nyonya Besar Diningrat berteriak murka dan Fani yang menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Namun, ancaman mereka tidak ada apa-apanya dibanding ketakutan terbesarku saat ini: bagaimana nasib anakku jika aku mati di meja operasi? Pintu putih ruang darurat membanting tertutup. Suster dan dokter spesialis bedah langsung berlari panik, mengerubungiku yang sudah menggigil hebat. "Jahitannya robek karena pasien histeris dan memaksakan diri bergerak," seru dokter perempuan itu tegas. "Siapkan alat anestesi sekarang! Kita harus lakukan tindakan darurat kedua!" Masker oksigen dipasang menutupi wajahku. Sebelum pandanganku benar-ben

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status