Home / Rumah Tangga / Setelah Usai Bersamamu / Badai Di Ruang Operasi

Share

Badai Di Ruang Operasi

Author: Ife Bryant
last update publish date: 2026-09-27 13:42:23

"Tahan sebentar, Ayu. Kamu harus kuat!"

Suara bariton Adrian terdengar panik, mengiris kesadaranku yang mulai menipis akibat rasa sakit luar biasa di perut bagian bawah. Darah segar merembes begitu deras, membasahi kain seprai putih rumah sakit saat aku dibopong paksa kembali menuju ruang tindakan darurat.

Di luar lorong, samar-samar kulihat bayangan Nyonya Besar Diningrat berteriak murka dan Fani yang menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Namun, ancaman mereka tidak ada apa-apanya dibanding ketakutan terbesarku saat ini: bagaimana nasib anakku jika aku mati di meja operasi?

Pintu putih ruang darurat membanting tertutup. Suster dan dokter spesialis bedah langsung berlari panik, mengerubungiku yang sudah menggigil hebat.

"Jahitannya robek karena pasien histeris dan memaksakan diri bergerak," seru dokter perempuan itu tegas. "Siapkan alat anestesi sekarang! Kita harus lakukan tindakan darurat kedua!"

Masker oksigen dipasang menutupi wajahku. Sebelum pandanganku benar-benar gelap dan terbius total oleh obat bius, bayangan wajah mungil anakku di inkubator berkelebat di kepalaku, diiringi suara desisan dingin Adrian yang berjanji akan melindungiku.

Tolong... selamatkan anakku...

Waktu terasa berjalan begitu lambat, atau mungkin aku telah tertidur selama berabad-abad. Ketika kelopak mataku perlahan mengerjap, cahaya lampu ruangan yang temaram menyambut penglihatanku. Bau khas rumah sakit kembali menusuk indra penciumanku.

Kali ini, rasa sakit di perutku terasa sepuluh kali lipat lebih menyiksa. Setiap tarikan napas rasanya seperti menghujam tajam di bekas jahitan yang baru saja diperbaiki.

"Kamu sudah sadar?"

Sebuah suara serak dan berat menyambutku. Aku menolehkan kepala dengan kaku ke arah sisi ranjang. Adrian duduk di sana. Jas mewahnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku. Wajahnya tampak lelah, guratan cemas masih tercetak jelas di garis rahangnya yang tegas, dan matanya sedikit memerah.

"A-Anak... anak saya..." tanyaku terbata-bata, napasku tersengat rasa sakit.

"Dia baik-baik saja," potong Adrian cepat, suaranya melembut menenangkan. "Bayimu masih dalam pengawasan ketat di ruang NICU, dan operasimu berjalan lancar. Kamu tidak perlu khawatir soal apa pun."

Air mataku langsung menetes di sudut mata, jatuh membasahi bantal. Rasa lega menyelimuti rongga dadaku yang sesak. "Terima kasih, Adrian... Terima kasih banyak..."

Adrian terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu, lalu perlahan mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Sentuhan itu begitu hangat, membuat hatiku yang rapuh mendadak bergetar hebat. Tidak pernah sekalipun Mas Andre memperlakukanku dengan kelembutan seperti ini—bahkan saat kami baru menikah.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Pintu kamar rawat mendadak terbuka dengan kasar.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam elegan dan aura kekuasaan yang pekat melangkah masuk. Tatapannya tajam setajam elang, menghujam lurus ke arah Adrian, lalu beralih menatapku penuh intimidasi.

Tuan Besar Diningrat—ayah Adrian sendiri.

"Adrian! Apa yang sudah kamu perbuat?!" suara menggelegar itu membuat sekujur tubuhku merinding seketika. "Kamu mempermalukan keluarga besar kita demi perempuan pembawa sial ini?!"

Deg!

Jantungku seperti berhenti berdetak. Belum habis trauma pengusiranku dari rumah Andre, kini aku harus menghadapi kemurkaan keluarga konglomerat paling berpengaruh di negeri ini.

Adrian bangkit berdiri secara perlahan. Ia tidak gentar sedikit pun menghadapi tatapan membunuh dari ayahnya sendiri. Pria itu melangkah maju, memasang tubuhnya sebagai perisai pelindung tepat di hadapan ranjangku.

"Aku tidak pernah mempermalukan keluarga, Pa," jawab Adrian dingin, suaranya menggetarkan seisi ruangan. "Aku hanya sedang menyelamatkan nyawa manusia yang hampir dibunuh oleh kebiadaban orang lain. Dan mulai detik ini, hidup Ayu dan anaknya adalah tanggung jawabku sepenuhnya."

Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong. Bukan hanya Tuan Diningrat yang terperanjat kaget, aku pun yang mendengarnya langsung menahan napas.

Apa maksud Adrian? Tanggung jawab sepenuhnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Usai Bersamamu    Kemarahan Tuan Diningrat

    ​"Apakah Adrian sudah gila, Mas?! Berani-beraninya dia menentang keputusan kita demi perempuan murahan itu!"​Jeritan Nyonya Besar Diningrat memecah keheningan pagi di ruang makan utama kediaman keluarga Diningrat yang megah. Suaranya bergetar hebat, mencerminkan kepedihan dan kemarahan yang sudah di ambang batas. Buku-buku jarinya mencengkeram erat tepi meja makan yang terbuat dari marmer, menatap kosong pada kursi kosong di ujung ruangan — kursi yang biasanya ditempati oleh putra tunggal kebanggaan mereka.​Tuan Besar Diningrat duduk diam di ujung meja. Wajah paruh baya itu tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Rahangnya mengeras kaku, sementara matanya yang tajam menatap nanar segelas kopi hitam yang belum tersentuh sama sekali. Sejak semalam, rumah utama ini tidak pernah benar-benar tenang. Berita tentang Adrian yang secara terang-terangan membangkang, melepas seluruh fasilitas perusahaan, dan memilih hidup bersama seorang wanita asing yang masih berstatus istri orang telah me

  • Setelah Usai Bersamamu    KEBINASAAN

    "Kamu sudah kehilangan akal sehat, Adrian! Kartu kredit mu akan diblokir total, dan ayahmu sedang bersiap menggelar rapat darurat untuk mendepakmu dari kursi direktur utama!""Biarkan saja. Itu bukan urusanmu, Arsen. Pergi dari rumahku dan jangan campuri urusan ku lagi!."Suara bantingan pintu ruang kerja pribadi Adrian mengakhiri perdebatan panas itu. Dari balik dinding pembatas lantai dua tempatku berdiri, seluruh darahku seolah tersedot habis. Kakiku terasa lemas seketika.Berita itu menghantam dadaku bagaikan palu godam. Ayah Adrian benar-benar bertindak kejam. Seluruh fasilitas, kartu kredit, hingga posisi Adrian di perusahaan besar itu kini dipertaruhkan dan semua itu terjadi semata-mata karena pria tersebut memilih melindungiku dan bayiku.Rasa bersalah yang teramat besar langsung mencengkeram rongga dadaku, membuat napas pendek-pendek ku terasa sangat sesak.Aku adalah racun bagi Adrian.Pikiran itu berkelebat kejam di kepalaku. Sebelum malam pengusiran itu, Adrian adalah seo

  • Setelah Usai Bersamamu    Pilihan Di Ambang Kehancuran

    "Pilih sekarang, Adrian! Tetap menjadi penerus tunggal keluarga Diningrat, atau pergi secara tidak terhormat bersama perempuan buangan yang tidak jelas asal-usulnya itu?!"Gebrakan meja kaca di ruang tamu rumah peristirahatan privat milik Adrian bergetar keras. Suara Tuan Besar Diningrat menggema dingin, sarat akan amarah yang sudah mencapai puncaknya.Aku yang berdiri kaku di balik pilar lantai dua sambil memeluk Gibran erat-erat dalam dekapanku menahan napas dengan dada bergemuruh. Kedatangan orang tua Adrian bersama Fani yang tiba-tiba melacak keberadaan tempat ini berubah menjadi medan pertempuran yang paling menakutkan dalam hidupku.Adrian berdiri tegap di hadapan ayahnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, rahangnya mengeras tajam, memancarkan aura ketenangan yang begitu membekukan."Aku tidak pernah meminta tahta atau harta warisan itu, Pa," jawab Adrian dengan suara bariton yang begitu tenang namun tajam menghujam. "Kalau Papa ingin memakai kekayaan itu untuk me

  • Setelah Usai Bersamamu    Sumpah Di Atas Reruntuhan

    Suara bantingan pintu dari kepergian Tuan Besar Diningrat masih menyisakan dengung ngilu di telingaku. Napasku memburu, sementara dadaku bergemuruh hebat. Pria paruh baya tadi baru saja mengancam akan mencoret Adrian dari daftar pewaris kekayaan keluarga Diningrat —semua itu gara-gara aku dan bayiku.Adrian menarik kursi dan duduk kembali di samping ranjangku. Wajahnya tetap tenang, seolah ancaman pemecatan dari tahta keluarga konglomerat itu tidak lebih berharga dari angin lalu."Adrian..." suaraku tercekat, air mataku kembali meleleh membasahi pipi. "Kenapa... kenapa kamu harus separah ini membelaku? Kamu baru saja mempertaruhkan masa depanmu sendiri demi aku... wanita asing yang tidak punya apa-apa."Adrian menatapku lekat-lekat. Sorot matanya yang tajam melembut, menyalurkan kehangatan yang belum pernah kudapatkan seumur hidupku bahkan dari Mas Andre, pria yang dulu kusebut suami."Karena aku bukan tipe pria yang bisa diam melihat manusia lain diinjak-injak di hadapanku, Ayu," jaw

  • Setelah Usai Bersamamu    Pertentangan Keluarga Diningrat

    "Adrian! Kamu benar-benar anak yang sudah kehilangan akal sehat!"Suara bentakan Tuan Besar Diningrat menggema di seluruh sudut ruangan rawat inap yang mewah itu. Kemurkaan terpampang jelas di wajah pria paruh baya tersebut, membuat udara di sekitar kami terasa begitu menyesakkan.Aku yang baru saja siuman dari operasi darurat hanya bisa terdiam kaku di atas ranjang. Jantungku berdegup kencang, dihantui rasa takut yang luar biasa. Caci maki dan pengusiran yang kuterima dari keluarga Andre beberapa hari yang lalu seolah terulang kembali, kali ini dalam skala yang jauh lebih besar dan menakutkan. Keluarga Diningrat adalah raksasa bisnis di kota ini yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sedetik.Namun, Adrian sedikit pun tidak bergeming. Pria itu tetap berdiri kokoh di samping ranjangku, memasang badannya sebagai perisai pelindung yang tangguh."Aku sangat sadar dengan apa yang kukatakan, Pa," jawab Adrian dengan nada suara yang dingin, tenang, namun penuh keyakinan. "Ayu dan ana

  • Setelah Usai Bersamamu     Badai Di Ruang Operasi

    "Tahan sebentar, Ayu. Kamu harus kuat!" Suara bariton Adrian terdengar panik, mengiris kesadaranku yang mulai menipis akibat rasa sakit luar biasa di perut bagian bawah. Darah segar merembes begitu deras, membasahi kain seprai putih rumah sakit saat aku dibopong paksa kembali menuju ruang tindakan darurat. Di luar lorong, samar-samar kulihat bayangan Nyonya Besar Diningrat berteriak murka dan Fani yang menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Namun, ancaman mereka tidak ada apa-apanya dibanding ketakutan terbesarku saat ini: bagaimana nasib anakku jika aku mati di meja operasi? Pintu putih ruang darurat membanting tertutup. Suster dan dokter spesialis bedah langsung berlari panik, mengerubungiku yang sudah menggigil hebat. "Jahitannya robek karena pasien histeris dan memaksakan diri bergerak," seru dokter perempuan itu tegas. "Siapkan alat anestesi sekarang! Kita harus lakukan tindakan darurat kedua!" Masker oksigen dipasang menutupi wajahku. Sebelum pandanganku benar-ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status